Puisi: Proscenium (Karya Kurnia Effendi)

Proscenium
: Nungky Kusumastuti

Mimpi itu berakhir. gugur di luar panggung Ketika selendang dilipat dan kembali disimpan Rias yang leleh bersama peluh, membercak di jari kaki Musik pun berhenti. Terusir dari ruangan Lampu-lampu seperti bintang yang letih menjelang pagi Kini terasa, kenyataan menambah perih luka Jam yang takluk, detiknya runtuh Saatnya bergabung dengan yang lain: yang menertawakan, yang mengulurkan tangan, yang lewat saja Penonton dengan sisa tepuk tangan, mulai beranjak pergi Mengingat sedikit yang terjadi di sini Atau langsung melupakan karena waktu terus mendesak Mereka pun sebenarnya orang-orang kalah Mimpi itu berakhir: serupa dengan layar yang ditutup Warna suram, sekali lagi, menguasai ruang Menguasai hati. Menguasai petak-petak sunyi peristiwa Ada keinginan bernyanyi, menghibur laki-laki yang sibuk menyapu di antara kursi-kursi Dan tak sengaja menendang kaleng minuman Gema panjang suaranya memanggil nyaring Tapi, rasa riang itu betul-betul sembunyi Adakah malam yang lain lebih baik dari ini?

Sehingga sepasang kekasih sanggup mengenang dan saling menuang cinta bertubi-tubi Adakah?

Jakarta, 19 November 1997
Puisi: Proscenium
Puisi: Proscenium
Karya: Kurnia Effendi

Catatan:
  • Kurnia Effendi lahir di Tegal, Jawa Tengah, pada tanggal 20 Oktober 1960.
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar