Puisi: Sepasang Barista (Karya Kurnia Effendi)

Sepasang Barista

Sepasang barista bercumbu di meja kafe yang
baru saja menutup pintu. Setengah jumlah lampu telah dipadamkan
tak terdengar lagi dengung lembut mesin pendingin udara. Tamu terakhir membawa mobilnya
pergi dengan sisa patah hati yang  masih dirasakan hingga matanya perih. Seekor cicak melata
kencang di dinding yang tegak, di antara dua poster penyanyi jazz legendaris,
berebut nasib dengan nyamuk yang mabuk. Aroma kopi arabika melayang perlahan, seperti bibir yang menyusuri ujung dagu, jenjang leher, dan bukit payudara.

Sepasang barista menyelesaikan percintaan dengan letupan di sana-sini. Peluh dari pori-pori
melekat ke serat kayu meja menyatu dengan tetes kopi yang
belum dilap satu setengah silam. Jarum waktu bergeser menjauh, melentingkan detik yang
malas. Tiada lagi bunyi kesibukan jalan raya selain seruan pedagang sate yang kemalaman,
menjajakan sisa daging sambil jalan pulang. Saatnya mengunci lagi, mencabut kabel listrik,
mematikan lampu di pantri, dan mengemasi busana yang berserak di lantai. Kecup perpisahan
di bawah tatapan bulan.

Jakarta, 2 Januari 2017
Puisi: Sepasang Barista
Puisi: Sepasang Barista
Karya: Kurnia Effendi

Catatan:
  • Kurnia Effendi lahir di Tegal, Jawa Tengah, pada tanggal 20 Oktober 1960.
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar