Puisi: Sinanggar Tullo (Karya Kurnia Effendi)

Sinanggar Tullo

Aku yang tak mahir berenang lebih mencintai air
ketimbang padang pasir. Kutenggelamkan tubuh dalam-dalam
memeluk karang Danau Toba. Tiada arak di sana, tapi aku
mabuk membayangkan jadi seekor bintang. Di dasar langit
hijau tua, berkelip memanggil juru mudi kapal yang bengal.

“Mari santap hidangan ganggang hangat, agar
ia tumbuh kekal dalam lambungmu.”

Memandang gulungan air tersibak
menjadi anak-anak ombak yang jinak
Sejumlah pusaran pergi menyendiri dan mengirim pesan
dari kekasih: putri nelayan yang kesepian

“Sudah kudendangkan sinanggar tullo berulang-ulang,
siang dan malam, menyambut rindu.
Namun yang kuterima melulu pilu.”

Kami sempat membenci deru mesin perahu. Mengingatkan gemuruh
perang melawan pasukan mangmang. Kami pernah sembunyi di
celah bukit terendam lantaran takut mati
Angin mengikis batu gantung
jadi belahan jantung. Putih perih dalam kilatan sinar mentari muda.

“Berhimpun di bahtera ini. Jangkar berakar sudah
ke lembah danau. Tempat memanjat ikan paling renta,
nenek moyang kita semua.”

Samosir-Toba, 2014
Puisi: Sinanggar Tullo
Puisi: Sinanggar Tullo
Karya: Kurnia Effendi

Catatan:
  • Kurnia Effendi lahir di Tegal, Jawa Tengah, pada tanggal 20 Oktober 1960.
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar