Puisi: Stamboel Dewi (Karya Wahyu Prasetya)

Stamboel Dewi

Jaman yang kini meminta museum untuk dikenang, mengubur
Seribu gramofon dan babak tonil dalam dunia. Saat asia
Meluncur dalam iklan serta lipstick untuk merangsangku,
Kamu terus tergoda oleh tarian yang melindungi kegagalan.

Tak henti-henti untuk melukiskan sesuatu yang tak perlu
Melahirkan arti. Karena sebagaimana anak-anak kita yang
Tiba-tiba menghardik dengan bahasa peradaban sekarang.
Memukuli apa saja sebagai musik. Memenuhi setiap ruangan
Dan gerak kota yang gemuruh. Lalu kita bergegas untuk
saling berdusta, agar gairah menjelma dalam kemaluan yang
selalu menegang,
untuk mengirimkan salam yang jujur saja teramat sulitnya,
katamu. Dan akupun sedang mengarang syair lagu pop bagi
kemajuan teknologi dan harga diri sekarang. Meski harus
membungkam ibu bapak dalam busa deterjen.

Jaman yang kini menciptakan pil, kontrasepsi serta senjata,
Membawaku sebagai binatang yang menunggu mangsa.
Menelan kemanusiaan maupun alam. Sampai tak kuat
perut dan syahwat,
Sampai terlampau jemu aku mengunyah orang.
Tapi tetap saja gelisah. Manakala hari-hari menggedor dalam
Ingatan, bahwa sejauh ini cuma kepada angin aku berdoa.
Memuja kursi, meja, kamar hotel, rumah makan
dan perempuan.
Sejenak saja ingin rasanya kita bermain dengan hati yang
Tulus terjaga. Namun jaman tak punya ketulusan. Jaman kini
Adalah merebut atau direbut.

Tak henti melagukan, dalam diskusi, seminar bahkan dalam
Dongeng, semua menjadi gosip di perkampungan.
Semua menjadi hafalan di bangku pendidikan.
Semua menjadi celoteh di stasiun, pelabuhan dan
lokalisasi. Semua menjadi malam hari!
Hingga tak lagi memimpikan, aku di mana
kamu di mana saat ini,
karena di antara benda-benda yang kita miliki, bayang-bayang
Itupun seolah setia mengancam.

Puisi: Stamboel Dewi
Puisi: Stamboel Dewi
Karya: Wahyu Prasetya

Catatan:
  • Eko Susetyo Wahyu Ispurwanto lahir pada tanggal 5 Februari 1957 di Malang, Jawa Timur.
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar