Puisi: Testamen Afrizal, Secangkir yang Lalu (Karya Kurnia Effendi)

Testamen Afrizal, Secangkir yang Lalu

Pagi meledak, sebelum pukul dua. Pagi yang kutunggu sejak halaman pertama. Sebuah lagu lama terlunta. Kusebut nama ibu dengan bibir membeku. Jauh aku dibawa kelu, radio yang menyiarkan almarhum biduan tanpa lagu baru.

Kuraba Rabu, secangkir yang lalu. Kegelisahan kusimpan dalam cermin waktu,  tumbuh seperti kuping terwelu. Bau kopi melucuti pagi yang melangkah telanjang dengan bom sebelum pukul dua. Tidak ada yang bunuh diri seperti yang sering kualami.

Kutulis Kamis sebagai testamen. Ibu adalah pewaris tunggal kecemasanku. Risau yang memilih hari libur tanpa matahari. Di sebuah toserba kucari makanan kaleng dan banyak minuman. Hari-hari akan menyenangkan sebelum menemukan kematian.

Di kamar dingin penuh debu, secangkir yang lalu. Aku menjadi piatu dalam berita Koran maya. Kuingat seseorang membakar testamen. Kuterbitkan pesan sebelum pagi lantak. Kesempatan kutunggu di laci Ibu. Rumah batu yang ditemani tumpukan abu. Di luar rencana, aku sudah jadi piatu. Sekali lagi sebuah lagu lama dari almarhum biduan, giat menumbuhkan pagi baru.

Jakarta, 2018
Puisi: Testamen Afrizal, Secangkir yang Lalu
Puisi: Testamen Afrizal, Secangkir yang Lalu
Karya: Kurnia Effendi

Catatan:
  • Kurnia Effendi lahir di Tegal, Jawa Tengah, pada tanggal 20 Oktober 1960.
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar