Puisi: Kecambah (Karya Sutan Iwan Soekri Munaf)

Kecambah

Kecambah luka itu tumbuh
menganga di antara waktu yang membasuh
rindu untuk bertemu
Rindu pun meruyak bunga sepi
bermandikan hari dalam kata beku
Ketika buah hati
membasahi luka yang dalam,
huruf-huruf saling memakan minggu
hingga bulan rontok sebelum
musim salju tiba
Rindu
bukan lagi kalimat mengayu
yang berenang setiap tahun datang
Dan pertemuan bukan lagi pesemaian
yang bakal ditunggu kedatangannya

Kecambah luka selalu tumbuh
di antara rindu yang dihanyutkan waktu
Kini windu ditanam dalam
ruyak luka untuk membuka
abad dan menunggu
bunga sepi menjadi buah hati
Barangkali
kata tidak lagi penting
setelah huruf cerai berai
dihanyutkan hujan rindu
ke dalam buhul waktu

Dan akulah luka!
Dan akulah rindu!
Dan akulah waktu yang enggan menunggu!

Kecambah luka itu tumbuh
menganga dan meranggas mencari
mentari jiwa
Luka itu membesar dan mengayu
dalam buhul waktu
Bersama rindu
tak lagi kata membasahi
hati yang gersang

Akulah huruf yang membuahi kata!
Akulah kata yang membongkar makna dalam waktu!
Kembalilah! Tak!
Waktu terus berjalan!

Kecambah luka itu kini tumbuh
menjadi pohon dendam
yang ingin menggapai mentari cinta!

Prabumulih, 2007

Puisi: Kecambah
Puisi: Kecambah
Karya: Sutan Iwan Soekri Munaf

Catatan:
  • Nama Sebenarnya adalah Drs. Sutan Roedy Irawan Syafrullah.
  • Sutan Iwan Soekri Munaf adalah nama pena.
  • Sutan Iwan Soekri Munaf lahir di Medan pada tanggal 4 Desember 1957.
  • Sutan Iwan Soekri Munaf meninggal dunia di Rumah Sakit Galaxy, Bekasi, Jawa Barat pada hari Selasa tanggal 24 April 2018.

Baca juga: Situs Kesehatan
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar