Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Puisi: Secangkir Teh Panas (Karya Arifin C. Noer)

|
Secangkir Teh Panas


Secangkir teh panas pada suatu senja
telah menyempurnakan panorama
dalam istirah, setelah lepas dan beban timbunan kerja

— Terimakasih, isteriku
  Cinta yang dengan setia kau sajikan
  dalam asap wedang yang menghangatkan badan

Seberkas awan di atas atap ditembus seekor burung kelana
Diteras terangguk-angguk memandangnya
seorang laki-laki tua, pensiunan pegawai negeri
Di atas tanah berserakan bougenville
yang berguguran dari tahun ke tahun
Di atas kursi rotan tergetar memandangnya
seorang laki-laki tua dengan seorang perempuan tua

— Teguklah, akang
  Racun-racun cinta yang memabukkan
  kucampurkan ke dalamnya
  Semoga nanti kau pingsan
  dan selalu pingsan
  dalam pelukanku

Empat bola mata yang bergetaran bulu-bulunya
bercakap-cakap dengan akrabnya. Angin halus
mengusap rambut kelabu dan terberailah
Sehelai uban lepas dan melayang dan rebah
di tanah. Meski begitu, di balik pipinya yang lembek
bulan tak henti-hentinya menyinari dari dalam
dan merahlah warnanya. Mawar-mawar yang bergayutan
menggeleng-geleng pada tangkainya. Jendela pun mengatupkan
daunnya, tersipu, kala sepasang jaka dan dara
dalam fantasi mereka, berpelukan dengan mesra

— Aku tak pernah membawa pulang
  oleh-oleh. Tak pernah sekalipun hadiah
  pada hari-ulang-tahunmu kusampaikan, sayang!

— Tapi kau tak henti-hentinya
  mencubit pipiku. Dengan sayang
  kau suguhkan segenap semangat
  untuk menjalani kehidupan
  dalam jalinan-jalinan nasib yang ruwet
  Tapi kau tak henti-hentinya
  membelai rambutku. Dan kau selalu memberikan
  semuanya. Apa saja

— Tapi gajiku tak lebih cuma nestapa
  pada minggu kedua

— Tapi Tuhan menaburkan benih rizki
  pada minggu ketiga
  dan minggu seterusnya

— Memang

— Memang. Tak patut sesalan
  Lampau dan lalu tak berarti apa-apa
  kecuali sebagai bacaan-bacaan
  yang bermutu. Namun sesalan
  tak diharapkannya, melainkan semangat
  akan dibantunya. Tidak begitu akang?

— Memang

— Memang

Ini adalah senja tatkala umurnya delapanpuluh
dan tujuhpuluh lima usia isterinya. Ini adalah senja
serupa senja-senja yang telah banyak silam dan senja-senja
yang hendak berdatangan.
Dan mereka duduk berdua. Seekor ayam betina
berkotek-kotek mencari anaknya. Kepalanya
yang gundul bergerak-gerak oleh rasa khawatirnya. Ayam itu
masuk dan terjun ke dalam lubang tempat sampah
Ayam itu menemukan anaknya. Bernyanyi mereka
Bernyanyi tiada habis-habisnya seraya makanan dipatuknya
tiada henti-hentinya

— Akang

— Sayang

— Kemana dia?

— Siapa?

— Anak lanang

— Anak satu-satunya?

— Bulan cuma satu
  Surya cuma satu

— Cuma satu, sayang

— Dan hilang!

— Sayang

— Boneka kita direnggutkan perang

— Hentikan sayang
  amarah itu. Kita sudah tua
  niscaya bertambah tua
  Sedih sudah duka pun sudah
  Tak usahlah segalanya berlipat-ganda

— Tonggak rumah kita patah
  dan pot-bunga paling indah pecah
  Kasur malam pertama yang tersia!

— Tapi diam-diam Tuhan penuh rahmat
  mendirikan banyak tonggak
  tanpa bisa kita lihat

— Memang

— Memang. Seekor ayam jantan
  yang telah bertarung dan tak pernah pulang
  tidak bermakna nasib malang
  Seekor ayam jantan yang menetas
  dari percintaan kita telah membuat tonggak-tonggak
  untuk tanah-air kita
  rumah kita yang agung dan mulia

— Memang

— Memang

Perempuan itu pun mengangguk
dan terpandanglah tanah
hari-hari dan harapan yang masih tersimpan

Laki-laki itupun mengangguk
dan terpandanglah kakinya
betapa ketat tangan anaknya menahannya

Mereka dengan tawakal menjalani amanat penghabisan
Mereka lengkapi rumahnya yang sederhana
dengan kerajinan dan kesabaran. Seikat cahaya
menalikan keduanya.

Ini adalah senja tatkala umurnya delapanpuluh
dan tujuhpuluh lima usia isterinya. Ini adalah senja
serupa senja-senja yang telah banyak silam dan senja-senja
yang hendak berdatangan

— Minumlah, akang
  Sebelum racun-racun itu gaib sihirnya

Bibir yang pecah itu tersenyum
Sumur tua yang teduh, di tengah rumpun bambu yang rimbun!

— Terimakasih, sayang

Keduanya tersenyum, bagai dua batang beringin
yang sangat lebat daunnya. Dua matang beringin
di bawah sulapan warna-warna senja.



Sumber: Horison (Desember, 1966)


Puisi Arifin C. Noer
Puisi: Secangkir Teh Panas
Karya: Arifin C. Noer

Biodata Arifin C. Noer:
  • Arifin C. Noer (nama lengkapnya adalah Arifin Chairin Noer) lahir pada tanggal 10 Maret 1941 di kota Cirebon, Jawa Barat.
  • Arifin C. Noer meninggal dunia pada tanggal 28 Mei 1995 di Jakarta.
  • Arifin C. Noer adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.

Bacaan Menarik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar