Tidak setengah-setengah.

Puisi: Sajak Ular (Karya Yuswadi Saliya)

|
Sajak Ular


Lapar mengendap di dasar usus perut yang kian kusut,
kian mengkerut seperti kulit buah jeruk,
waktu menjalar rendah atas tanah,
licin, berkilat dan bahkan berpendar
menerangi sela-sela rumput kota dan bandar;
lapar menjalar, mendatar, hambar bagai warta berita.

kalau angin bertiup, kalau tingkap mulai menutup,
luka siang hari pun mengatup, menyimpan nanah,
seperti susu yang tertidur dalam relung gelas;
kibasan nafas yang mengalun penuh pertanda,
irama yang menimbulkan pertanyaan dan iba;
semuanya menggejala, berkepanjangan seperti ular;
sadar waktu, sadar lampu, sadar baju,
dan sadar tanah.
Di mana-mana tanah menganga, tebingnya curam bagai vagina.
jendela kesepian, berpintu hitam tapa warna.

Semuanya menjalar rendah, lepas tanah,
bebas bunyi tapi berirama
anak basah, lembah dengan keniscayaan
bebas sangsi tapi tanpa keputusan
sangat lanjut mengalir bagai takberakhir,
ular kobra, meminta korban, meminta jubah:
Waktu baru saja meludah.

Merdeka!


1972

Sumber: Horison (Maret, 1975)


Yuswadi Saliya
Puisi: Sajak Ular
Karya: Yuswadi Saliya

Biodata Yuswadi Saliya:
Juswadi Saliya lahir pada tanggal 15 Juni 1938 di Bandung. Sejak SMA ia sudah mulai menulis, mula-mula pada lembaran-lembaran remaja lalu pada majalah-majalah kebudayaan seperti Basis.

Ia tamat sebagai sarjana arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1966 dan direkrut sebagai staff di ITB pada saat itu. Kemudian mengajar Sejarah Arsitektur dan Ilmu-Ilmu Sosial. Ia mendapat gelar master dari University of Hawaii pada tahun 1975.

Bacaan Menarik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar