Puisi M. Aan Mansyur

Puisi: Menikmati Akhir Pekan (Karya M. Aan Mansyur)

Menikmati Akhir Pekan Aku benci berada di antara orang- orang yang bahagia. Mereka bicara tentang segala sesuatu, tapi kata- kata mereka tidak mengat…

Puisi: Tentang Sepasang Kekasih yang Melintas Bergandengan Tangan (Karya M. Aan Mansyur)

Tentang Sepasang Kekasih Yang Melintas Bergandengan Tangan Kelak aku seorang asing bagimu. Wajahku gunung, tidak tampak puncaknya karena tertutup kab…

Puisi: Ketidakmampuan (Karya M. Aan Mansyur)

Ketidakmampuan Mereka yang asing dan tidak mengenal namaku adalah kekasihku—termasuk langit, bunga- bunga, buku-buku tua, pagi, segelas kopi, dan ana…

Puisi: Kepada Kesedihan (Karya M. Aan Mansyur)

Kepada Kesedihan Pada siang hari, aku tidak bisa melihat kesedihan. Tapi, pada malam hari, aku merasa kesedihan selalu mampu menampakkan diri dan mem…

Puisi: Menenangkan Rindu (Karya M. Aan Mansyur)

Menenangkan Rindu Bumi tidak butuh banyak bulan. Bulan sendiri, pandai, dan kekanak-kanakan. Dia bisa jadi pisang ambon, mangkuk pecah ibumu, atau ma…

Puisi: Menyeberang Jembatan (Karya M. Aan Mansyur)

Menyeberang Jembatan Aku ingin mampu menceritakan apa yang kurasakan ketika berjalan sendirian di jembatan. Ibuku penasaran kenapa aku senang melakuk…

Puisi: Menonton Film (Karya M. Aan Mansyur)

Menonton Film Semesta di mana orang-orang bijak mabuk mengelilingi meja kayu besi sambil membahas masa depan kita. Udara terbuat dari asap. Aku dan k…

Puisi: Laut Berparuh Merah (Karya M. Aan Mansyur)

Laut Berparuh Merah Akan kuhentikan tahun-tahun diamku demi mengatakan kau cantik. Setelah itu, aku bunuh diri. Atau memintamu menjadi seekor gagak y…

Puisi: Belajar Berenang (Karya M. Aan Mansyur)

Belajar Berenang Kau nyala langit yang biru pada pangkal April dan awan yang menolak warna selain putih. Kau setapak berundak- undak di belakang ruma…

Puisi: Kisah Seorang Penjual Kafan (Karya M. Aan Mansyur)

Kisah Seorang Penjual Kafan Tak seperti di kiri dan di kanan tokonya selalu sepi pelanggan meski ia juga menju…

Puisi: Surat Pendek buat Ibu di Kampung (Karya M. Aan Mansyur)

Surat Pendek buat Ibu di Kampung Aku memilih tinggal di kota dan itu adalah hukuman. Jangan pernah mengunjungiku, agar aku bisa tiba- tiba merindukan…
© Sepenuhnya. All rights reserved.