Puisi: Dari Beberapa Bagian Karya: Iyut Fitra
Dari Beberapa Bagian

1. Datang Malam
Di luar musik jazz mulai dimainkan. Gerombolan lagu lama atau mungkin seorang kulit hitam menjeritkan birahi malam di teras, seekor capung terluka baling-baling kipas angin sedemikian panjangkah waktu atau justru sangat singkat malam mulai merambat. Mulai lesat.

2. Larut Malam
Jangan kauduga itu suara ketitiran atau pipit sawah. Hanya hempas ombak yang ramah. Dari waktu ke waktu kita senantiasa mengulang kata pergi dan pulang. Kini kau terhampar di ranjang mimpi apa yang kau inginkan?

Jangan kausebut ini sepi atau segerombolan laron yang tercampak di trotoar. Barangkali detak nadimu sendiri yang bergetar seolah bunyi sitar. Menggiring galau pada ujung yang kauusung: kau menaiki kereta yang nyinyir.

3. Telah Pagi
Bunyi yang satu ini seperti uir-uir. (Kuingat kampung halaman tatkala melintasi tebing menuju sawah. Sebatang pimping melukai jari tanganku). Ah, barangkali serupa dendang yang dilantunkan gadis kecil di anak tangga. Kampuang den jauah di mato... lalu matahari yang menyapamu. Adakah kaupahami makna rantau bagi lelaki.

4. Terik Siang
Bayang-bayang tak mau tinggal, benarkah itu kesetiaan yang berceceran sepanjang jalan. Atau...

5. Menjelang dan Sesudah Senja
Kaulihat awan berkemas. Setelah upacara dengan matahari ia tinggalkan. Waktu tergolek pasrah. Alangkah banyak mimpi berkunjung ke dalam hidup. Tapi kita tak bisa meraih semuanya. Sungguh tak bisa! "Lalu begitu setiakah kita dengan luka? Begitu tak berdayakah kita digiring bayang-bayang ke tempat-tempat semu semata?" teriakmu sebelum orang-orang mulai menutup jendela dan pintu.

Senja lepas sudah. Aku tak melihatmu lagi di antara pasir, capung-capung dan debur laut. Hanya sedikit pesan yang kau tinggalkan di sebuah surat kabar sore: waktu tak selalu ada sebagai hitungan.

2010
Puisi: Dari Beberapa Bagian
Puisi: Dari Beberapa Bagian
Karya: Iyut Fitra

Baca juga: Kumpulan Contoh Puisi tentang Ibu Singkat

Post A Comment:

0 comments: