TRENDING NOW

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ini Malam

ini malam
rinduku menggantikan kehadiranku
mengajakmu menatap hitamnya langit
dan menjejaki sepi

ini malam
kuharap bayangmu datang
menemaniku menghitung sepi
dan menunggu datangnya matahari

Puisi: Ini Malam
Puisi: Ini Malam
Karya: Karsono H. Saputra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kuda Merah (Versi 1)

kuda merah musim buru, berapa kemarau panjang maumu
jantung yang akan terbakar hangus, satu cambuk api lagi
peluki padang anak angin dan batu gunungku purba
melulur bayang-bayang di pasir : rahasia cinta

Sumber: Majalah CAK, edisi No. 1/1994



Kuda Merah (Versi 2)

kuda merah musim buru, berapa kemarau panjang maumu
jantung yang akan terus terbakar, satu baris puisi lagi
peluki padang anak angin dan batu gunungku purbani
melulur bayang-bayang cintaku di pasir waktu rahasia cintaku

Sumber: Majalah Kolong, No.3, Thn I, 1996
NUSA, 10 Agustus 1997



Kuda Merah (Versi 3)

kuda merah musim buru,
                berapa kemarau panjang maumu
jantung yang akan terbakar hangus,
                satu cambuk api lagi
peluki padang anak angin
               dan batu gunungku purba
melulur bayang-bayang di pasir waktu :
                               rahasia cinta

Puisi: Kuda Merah
Puisi: Kuda Merah
Karya: Umbu Landu Paranggi


Catatan:
  • Umbu Landu Paranggi lahir di Kananggar, Paberiwai, Sumba Timur, 10 Agustus 1943.
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kuburan Dosa

bila kutakar dosaku
mungkin aku bakal lelah
menghitung beratnya

bila kutakar amal-ibadahku
mungkin amat ringan
menghitung jumlahnya

bisakah kukuburkan dosa
lalu kutimbuni amal saleh

Jakarta, 23 Juli 2010
Puisi: Kuburan Dosa
Puisi: Kuburan Dosa
Karya: Aspar Paturusi

Catatan:
  • Nama asli Aspar Paturusi adalah Andi Sopyan Paturusi.
  • Aspar Paturusi lahir pada tanggal 10 April 1943 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Baca juga: Puisi Lucu-lucuan
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sia-sia

lumut-lumut cintaku
menyatu dengan waktu
perlukah kau tahu?
sebab, rindu
pun sudah tertindih debu

titik-titik cintamu
fatamorgana di rentang waktu
mungkinkah kutapaki?
sedang angin
pun tak mendesir lagi

Puisi: Sia-sia
Puisi: Sia-sia
Karya: Karsono H. Saputra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bingkai Waktu

waktu
terus berlalu
saksi segala yang terjadi
yang tumbuh yang luhur
yang lahir yang berakhir
yang bahagia yang duka
yang kasih yang tersisih
yang bercinta yang merana
yang merdeka yang terpenjara
yang
terbebas
dari bingkai waktu
cuma dia yang tanpa awal tanpa akhir

Puisi: Bingkai Waktu
Puisi: Bingkai Waktu
Karya: Karsono H. Saputra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Simponi Kota Besar

Ada di tengah hiruk pikuk lalu-lintas
Lewat jendela bus kota terpampang wajahmu beringas
Yang perlahan menyusup di lipatan kardus bekas
Di tanganmu tergenggam bangkai unggas
Akulah pewaris bangsa! Ujarmu tandas
Di antara rel kereta api yang membelah kota
Dan lambaian jemuran kain kumal
Kau pandang matahari warna tembaga
Langit pun terbungkus jelaga mengental
Anak-anak bertelanjang dada berlarian
Membongkar waktu mencari kebebasan
Tapi di manakah letaknya keadilan?
Karena kau tetap saja kelaparan
Dan teriakanmu masih terdengar: kugauli kejahatan!

Puisi: Simponi Kota Besar
Puisi: Simponi Kota Besar
Karya: Juniarso Ridwan


Catatan:
  • Juniarso Ridwan lahir di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 10 Juni 1955.
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Puisi Kasih

kutulis puisi kasih di lengkung langit
    agar kau bisa selalu melihat dan membaca
    meski tak harus menerima
kutulis puisi kasih di awan
    agar selalu bergerak mengikuti ke mana pun
    langkahmu terayun
kutulis puisi kasih di bulan
    agar pendar sinarnya menjaga nyenyak tidurmu
    di sepi malam
kutulis puisi kasih, untukmu
    karena cuma itu yang aku bisa

Puisi: Puisi Kasih
Puisi: Puisi Kasih
Karya: Karsono H. Saputra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Syak

buat apa bicara cinta, jika
    pelangi sudah tidak memantulkan warna
    dan angin selalu menebarkan bau busuk ketidakpercayaan
bukankah cinta itu panjang dan sabar dan setara
bukankah cinta itu rentangan tali yang selalu bergetar
    dan bergerak sementara kita berada di antara
    kedua ujungnya
memang, cinta tak selamanya putih. kadang jingga
    kadang temaram kadang tawar. tapi kita
    sepakat matahari tak harus membakar malam
    dan bulan tak harus meniti pelangi

Puisi: Syak
Puisi: Syak
Karya: Karsono H. Saputra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Melati untuk Bunda

kupetik melati di sudut taman
kusuntingkan di sanggul bunda
sebagai pengganti mutiara hatinya
saat menuntut ilmu di sekolah

Puisi: Melati untuk Bunda
Puisi: Melati untuk Bunda
Karya: Karsono H. Saputra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Waktu

Engkau dibunuh waktu
Sekali lupa mengucap selamat pagi
tiba-tiba engkau sudah bukan engkau lagi
Waktu membantai bajingan dan para nabi
kerajaan-kerajaan kitab suci
peradaban di buku sejarah
Semua harus menyerah.

Engkau sibuk memuji namanya
selagi ia berusaha menghinakanmu
memendammu di bawah batu-batu
(Engkau tak bisa berteriak
ia juga melahirkan koor yang berisik dan keras)

Seperti singa lapar
ia duduk di meja
sudah mencakarmu
selagi engkau bersantap

Ssst, pikirkanlah
bagaimana engkau bisa membunuhnya
sebelum sempat ia menerkammu.

Puisi: Waktu
Puisi: Waktu
Karya: Kuntowijoyo


Catatan:
  • Prof. Dr. Kuntowijoyo, M.A.
  • Kuntowijoyo lahir di Sanden, Bantul, Yogyakarta, pada tanggal 18 September 1943.
  • Kuntowijoyo meninggal dunia pada tanggal 22 Februari 2005 (pada umur 61 tahun).