Sepenuhnya

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Puisi: Pintu (Karya Sandy Tyas)

Puisi: Pintu (Karya Sandy Tyas)

Pintu


sebuah pintu rapuh
dalam dekorasi
modern
tanpa kunci
terbuka selalu
bagi siapa saja
debu, angin
ditampungnya
ia lebih baik
dari manusia
matanya tak kenal
warna
hitam, putih, kuning, coklat
sama nilainya
dalam puisi ini
pintu rapuh ini
tak dikatakan sebagai
pelacur


24 Desember 1968

Sumber: Horison (September, 1974)


Puisi: Pintu
Puisi: Pintu
Karya: Sandy Tyas

Catatan:
  • Sandy Tyas lahir di Semarang pada tanggal 17 April 1939.
  • Sandy Tyas meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 1 Maret 2009 (umur 69 tahun).
Puisi: Kemarilah (Karya Sandy Tyas)

Puisi: Kemarilah (Karya Sandy Tyas)

Kemarilah


wahai lelaki
jangan menunduk ke tanah
di tanah hanya ada salju
atau kau kepulkan
asap rokok
menutup mukamu
kenapa mesti tersipu
kalau kami pun
telah membuka kartu
padamu:
telanjang
tanpa baju
datanglah ke mari
kami layani
seperlunya
kebutuhanmu
kita tukar
kehormatan wanita
dengan uang kertas
atau logam
kemarilah


14 Januari 1969

Sumber: Horison (September, 1974)


Puisi: Kemarilah
Puisi: Kemarilah
Karya: Sandy Tyas

Catatan:
  • Sandy Tyas lahir di Semarang pada tanggal 17 April 1939.
  • Sandy Tyas meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 1 Maret 2009 (umur 69 tahun).
Baca juga: Puisi Sedih tentang Indonesia
Puisi: Orang-Orang Kecil (Karya Sandy Tyas)

Puisi: Orang-Orang Kecil (Karya Sandy Tyas)

Orang-Orang Kecil


orang-orang kecil
adalah bidak-bidak catur
benda permainan
tanpa jiwa
tanpa martabat
mereka bukanlah
mahluk Tuhan
yang bernama manusia

diperlakukan
bagai lembu
ditimbang
bagai arang batu
dikocok bagai dadu
diputar bagai rolet

benda-benda yang tak memiliki
hak-hak azasi
cuma bisa menyimpan suara
sebab tak berhak bicara

pada akhirnya
suara pun hilang
dari kerongkongannya
sebab kehabisan
tenaga


3 Desember 1967

Sumber: Horison (Agustus, 1977)


Puisi: Orang-Orang Kecil
Puisi: Orang-Orang Kecil
Karya: Sandy Tyas

Catatan:
  • Sandy Tyas lahir di Semarang pada tanggal 17 April 1939.
  • Sandy Tyas meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 1 Maret 2009 (umur 69 tahun).
Puisi: Sylvia Tua Menyanyi (Karya Sandy Tyas)

Puisi: Sylvia Tua Menyanyi (Karya Sandy Tyas)

Sylvia Tua Menyanyi


kau pergi berlalu
jangan dengarkan tanyaku
lihatlah airmataku
bukan pada mukaku
kau pergi berlalu
matamu pada yang lain
demikian bagai daun-daun melayang
kau pergi berlalu
jangan noleh kembali
bagiku
hanya satu bayangan kebahagiaan
masih tinggal kini
dan sekarang kutahu
tak ada jalan kembali


Sumber: Horison (Juli, 1971)


Puisi: Sylvia Tua Menyanyi
Puisi: Sylvia Tua Menyanyi
Karya: Sandy Tyas

Catatan:
  • Sandy Tyas lahir di Semarang pada tanggal 17 April 1939.
  • Sandy Tyas meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 1 Maret 2009 (umur 69 tahun).
Puisi: Surat Kecil bagi Charlie (Karya Sandy Tyas)

Puisi: Surat Kecil bagi Charlie (Karya Sandy Tyas)

Surat Kecil bagi Charlie


charlie yang baik
ingatkah kau masih
malam cocktail di ruang konperensi lokstedt?
ceritamu yang lancar dan agak falsafi
telah kulihat sendiri kini
berlin!
jantung eropa pada jamannya
kota metropol dunia
impian itu masih menggoda agaknya
bagi sementara warga kota

    "berlin adalah serba warna
    hari panjang di sini
    keindahan bagai masa muda
    kemana hari ini pergi"

ya, kemana?
gerbang brandenburg?
tembok 13 agustus 61?
atau ke sektor-sektor
amerika, inggris, prancis, russia?
ya, kemana?
sebuah illusi charlie
sebuah elegi!


Sumber: Horison (Juli, 1971)


Puisi: Surat Kecil bagi Charlie
Puisi: Surat Kecil bagi Charlie
Karya: Sandy Tyas

Catatan:
  • Sandy Tyas lahir di Semarang pada tanggal 17 April 1939.
  • Sandy Tyas meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 1 Maret 2009 (umur 69 tahun).
Puisi: Hati Nurani (Karya Sandy Tyas)

Puisi: Hati Nurani (Karya Sandy Tyas)

Hati Nurani


entah, sudah berapa lama saudara, sudah berapa lama
kita senantiasa diam, senantiasa diam
terkadang campur aduk pengertian
apa ini kebijaksanaan atau penyerahan
hati pun bertambah sakit dan sakit
jiwa bertambah tersiksa dan tersiksa
bahwa kita sebagai warganegara merdeka
yang punya presiden, pemerintahan dan undang-undang
hakim, jaksa dan pengadilan
semacam tersisih tak punya arti apa-apa
kita adalah warganegara yang diejek
di atas poster dan karikatur
dalam slogan dan semboyan menipu
dalam coreng moreng tulisan dan sikap
dan kita harus diam, harus membungkam
kekuasaan telah menawarkan tekanan dan pemerasan
apakah arti yang murni dari kejahatan
bila kejujuran diputar balikkan
ditegakkan sendiri kesimpulan-kesimpulan subjektip
tanpa mata tanpa hati
kemudian dipaksakan tanpa malu
seolah hukum masyarakat yang berlaku
dan kita harus menerima tanpa syarat
tanpa protes tanpa tantangan
hakekat manusia telah diperkosa
pribadi akan dihancurkan
jiwa akan dibinasakan
tetapi hati nurani ini, hati nurani ini
yang terlalu diinjak-injak
meledaklah ia meledak
maka pecahlah kaca-kaca jendela
gedung-gedung runtuh porak-poranda
api menjalar di angkasa
tembok-tembok penuh kata
dan jiwa dipertaruhkan untuk mati
tak bisa, tak bisa kompromi
hati nurani dengan kejahatan
dasar paling dalam dari suara hati manusia
tak bisa dibujuk dengan kata
tak bisa diancam dengan kekerasan
tak bisa ditipu dengan semboyan
hati nurani yang mewakili kebenaran
tetap menuju sasaran
biar maut menghadang di moncong bedil
di dalam meriam panser dan tank baja
di mata bayonet dan kelewang
di balik barikade dan kawat berduri
tak ada yang kuasa menundukkan
tak ada yang bisa membinasakan


Sumber: Horison (November, 1966)


Puisi: Hati Nurani
Puisi: Hati Nurani
Karya: Sandy Tyas

Catatan:
  • Sandy Tyas lahir di Semarang pada tanggal 17 April 1939.
  • Sandy Tyas meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 1 Maret 2009 (umur 69 tahun).
Puisi: Cicuruk (Karya Sandy Tyas)

Puisi: Cicuruk (Karya Sandy Tyas)

Cicuruk


hidup yang indah
ialah ini hari
di mana para lelaki
masih sempat
mengerti kesetiaan bini
di mana para bayi
sempat merapatkan mulut
di susu bundanya
dengan mata bahagia
dan anak-anak
yang bermata hening
terpesona memandang orang tua
kerabat sewarga
masih saling bertemu
pula para kekasih
yang senantiasa gelisah
dalam bercumbu

palawija di sawah
dan di kebun
kembang-kembang di pekarangan
dan pelataran
lumbung padi
dan rumah-rumah tercinta
satu hewan disayang
masih memberi arti

hidup yang indah
ialah ini hari
ini hari!

semua dalam keutuhan
sebelum terjadi penjarahan
pembakaran dan perampokan
penculikan dan pembunuhan

cicuruk
yang selalu mendung
dan mendung
bumi hijau
molek di mata
rapuh jantungnya

cicuruk
dengan letih jiwa
mempertanyakan nasib
pada para prajurit
dan bapak-bapak kita
di jakarta
kapan merdeka
tak ada perang saudara!


Sumber: Horison (November, 1966)


Puisi: Cicuruk
Puisi: Cicuruk
Karya: Sandy Tyas

Catatan:
  • Sandy Tyas lahir di Semarang pada tanggal 17 April 1939.
  • Sandy Tyas meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 1 Maret 2009 (umur 69 tahun).
Baca juga: Puisi Cinta Sedih
Puisi: Nyonya Küger (Karya Sandy Tyas)

Puisi: Nyonya Küger (Karya Sandy Tyas)

Nyonya Küger


sungai mains yang panjang
memisahkan dua jalanan
di depan mata, rumah-rumah tua, gereja lama
pohonan gundul, motor boat
jembatan besi
dan orang-orang mandi matahari

sebuah bangku kayu bercat hijau
di mana kami duduk
bersama wanita keriput
ialah nyonya küger
adalah sebuah komposisi

frankfurt baru saja membuka cahaya
dengan mataharinya yang lunak
sungai mains pun ombak-ombaknya bergerak

sambil makan buah apel
sebuah pertanyaan: apakah anda sendiri?
ya! jawab saya. saya sendiri di dunia ini!
suamiku mati dalam perang
persis laksana pelor polandia
dikembalikan dari larasnya
lepas dan tak pernah kembali
polandia terus menyerbu
dan terusirlah aku ke sini:
frankfurt.

bagaimana nasib anda sekarang?
ya! negara memberikan sokongan 150 mark
sebulan
untuk nyawa suamiku tercinta
tapi rumahku bagus
ada listrik, kamar mandi, tempat tidur
bagaimana pun alangkah sepinya
sendiri di dunia ini
anak laki-laki kebanggaanku
tingginya dua meter
persis ayahnya
namun tak pernah di sisi saya
ia pastur
mungkin sekarang di pakistan
barangkali di indonesia
atau amerika
atau mungkin juga di deutschland
saya tak mengerti

nyonya küger kemudian
membukakan kenangan lama
foto-foto almarhum suaminya
anak kebanggaannya
dan küger remaja

nyonya küger
sukakah foto bersama kami?

oh! maaf!
rambutku sangat buruk
bertudung setangan kertas
dan pakaianku tak pantas

pucuk bangunan gereja
tersembul diantara rumah-rumah kuno
di depannya kami berdiri
lewat lensa
satu kenangan tersimpan

terika kasih nyonya küger!
Auf wiedersehen!

tangan putih berotot
melambai gemetar
dari mulut yang keriput
suarapun gemetar
auf wiedersehen!

(perpisahan ini terasa menghancurkannya)


Saarbrücken, 1968

Sumber: Horison (Januari, 1969)


Puisi: Nyonya Küger
Puisi: Nyonya Küger
Karya: Sandy Tyas

Catatan:
  • Sandy Tyas lahir di Semarang pada tanggal 17 April 1939.
  • Sandy Tyas meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 1 Maret 2009 (umur 69 tahun).
Baca juga: Puisi Cinta Sedih
Puisi: Cinta (Karya Gunoto Saparie)

Puisi: Cinta (Karya Gunoto Saparie)

Cinta



benarkah cinta begitu kuat menyatukan 
tubuh dan ruh kita?
benarkah cinta begitu dahsyat menenggelamkan
raga dan jiwa kita?

ketika kata-kata kehabisan arti
ketika kita tak mampu melukiskannya
ketika puisi dan lagu kehilangan makna
ketika asmara dan berahi berbicara sendiri

benarkah cinta begitu kuat menyatukan
dua insan fana berlainan?
namun siapakah sebenarnya kita
selain mengikuti arus sungai ke samudera?



2020

Puisi Gunoto Saparie
Puisi: Cinta
Karya: Gunoto Saparie


BIODATA GUNOTO SAPARIE

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.

Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri.
Puisi: Buron (Karya Gunoto Saparie)

Puisi: Buron (Karya Gunoto Saparie)

Buron


di bawah sinar bulan ia berjalan
melewati jalan terjal banyak tikungan
melintasi sungai lebar dan hutan lebat
bayangan pintu dan terali besi itu pun berkelebat...


2020


Puisi Gunoto Saparie
Puisi: Buron
Karya: Gunoto Saparie


BIODATA GUNOTO SAPARIE

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.

Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri.