Sepenuhnya

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Puisi: Katakan, Kalau (Karya Hijaz Yamani)

Puisi: Katakan, Kalau (Karya Hijaz Yamani)

Katakan, Kalau


Katakan, kalau keluar dari sini
Bukan mimpi
Katakan, kalau toh kita bermimpi
Bukan sendiri
Katakan, kalau terusir dari sini
Kita di sebuah dunia gua-guanya menganga
Atau kita berteduh dari hujan gerimis

Tapi katakan, sebenarnya katakan
Aku dan kau setia terbaring
di ranjang panas
Atau sal yang dingin seketika
Kita mengigau dalam tatapan kejang hampa

Katakan, yang paling benar, katakan
Begitu dekat, oh dekat sekali
Langit dan apar-apar
Dalam bayangan serba kuning dan gemetar
Dunia kia terbengkalai


1971

Sumber: Horison (April, 1973)


Hijaz Yamani
Puisi: Katakan, Kalau
Karya: Hijaz Yamani

Biodata Hijaz Yamani:
  • Hijaz Yamani lahir pada tanggal 23 Maret 1933 di Banjarmasin.
  • Hijaz Yamani meninggal dunia pada tanggal 17 Desember 2001 (pada umur 68 tahun) dan dimakamkan di Taman Makam Bahagia di Kota Banjarbaru.
Puisi: Kwatrin Seorang Wartawan (Karya Gunoto Saparie)

Puisi: Kwatrin Seorang Wartawan (Karya Gunoto Saparie)

Kwatrin Seorang Wartawan


kutulis reportase dan berita
tentang orang-orang terdepak ke pinggiran
kutulis opini dan tajuk akhir pekan
kulupakan gaji sedikit tapi tetap bergaya

2019

Gunoto Saparie
Puisi: Kwatrin Seorang Wartawan
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri. Tinggal di Jalan Taman Karonsih 654, Ngaliyan, Semarang.
Puisi: Sang Penyair (Karya Gunoto Saparie)

Puisi: Sang Penyair (Karya Gunoto Saparie)

Sang Penyair


ketika penyair memboroskan kata-kata
apakah guna puisi bagimu?
ketika penyair membuang-buang waktu
apakah guna bait dan kata-kata?

hidup bukan sekadar puisi
namun juga bukan sekadar nasi
apakah guna puisi-puisi lahir
ketika hanya tema sepi tanpa akhir?

tiap hari lahir ribuan puisi
dari tangan makelar dan politisi
tiap hari lahir ribuan slogan 
justru dari rahim pendakwah bayaran

apakah guna puisi dipelajari
pada tiap semester perkuliahan? 
ketika antara ada-tiada honorarium puisi 
penyair makhluk langka bahkan terus bertahan


2020

Gunoto Saparie
Puisi: Sang Penyair
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri. Tinggal di Jalan Taman Karonsih 654, Ngaliyan, Semarang.
Puisi: Seribu Kunang-Kunang (Karya Gunoto Saparie)

Puisi: Seribu Kunang-Kunang (Karya Gunoto Saparie)

Seribu Kunang-Kunang


di bentangan persawahan sepi 
udara pun mendingin di malam hari
ada seribu kunang-kunang
ada seribu kerdip nyala bintang

lalu ada sejuta kisah di pematang
mencari katak dengan obor penerang
sampai kentongan subuh berbunyi
menggoreskan awal fajar sunyi

di bentangan persawahan sepi
aku pun berhenti sejenak, mencarimu
di antara rerumputan dan jerami
ketika kenangan serta rindu mengharu biru


2019


Gunoto Saparie
Puisi: Seribu Kunang-Kunang
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri. Tinggal di Jalan Taman Karonsih 654, Ngaliyan, Semarang.
Puisi: Yang Terlepas (Karya A. Munandar)

Puisi: Yang Terlepas (Karya A. Munandar)

Yang Terlepas


"Aku mencoba menyelamatkan rindu
tapi tak sanggup melunasi penyesalan"

Siang malam diperas keadaan
lagi-lagi terpaksa menahan
Yang tersisa dari mimpi
hanyalah keharusan membuka mata

Siang malam diperas perasaan
menyita kenangan dari hujan
Yang terkikis dari hati
adalah keinginan untuk bertahan

Walau tentu, aku ingin tahu:
apa yang dulu membuatmu memilihku?!


2022


Puisi A. Munandar
Puisi: Yang Terlepas
Karya: A. Munandar
Puisi: Buku Membebaskan Kita (Karya Melki Deni)

Puisi: Buku Membebaskan Kita (Karya Melki Deni)

Buku Membebaskan Kita


Sudah kuduga anak-anak
yang mengerubungi perpustakaan itu
tidak membaca atau meminjam buku. Seperti biasa,
mereka menceritakan kembali alur film,
kemenangan tim sepak bola Eropa,
dosen-dosen yang membosankan,
tugas-tugas kuliah yang meletihkan,
mabuk arak yang membahagiakan,
petualangan yang mengasyikkan,
dan hubungan asmara yang berjalan datar.

Sudah kuduga buku pun enggan menjejali kepala,
dan lorong nasib mereka.

Mereka lupa hari-hari buku menebaskan kegelapan,
dan membantai bayang-bayang ketidaktentuan zaman!


Ledalero, 16/02/2022


Puisi Melki Deni
Puisi: Buku Membebaskan Kita
Karya: Melki Deni

Biodata Melki Deni:
  • Melki Deni adalah mahasiswa STFK Ledalero, Maumere, Flores, NTT.
  • Melki Deni menjuarai beberapa lomba penulisan karya sastra, musikalisasi puisi, dan sayembara karya ilmiah baik lokal maupun tingkat nasional.
  • Buku Antologi Puisi pertamanya berjudul TikTok. Aku Tidak Klik Maka Aku Paceklik (Yogyakarta: Moya Zam Zam, 2022).
Puisi: Sang Maya (Karya Astri Wijaya Fitria)

Puisi: Sang Maya (Karya Astri Wijaya Fitria)

Sang Maya


Selaksa terang rembulan malam berpendar
Dinginnya hawa merasuk tulang rangka
Netra terpejam turut bersandiwara
Menerawang senyap ke angkasa
Meraba langit amat kentara
Mengais jejak bayang sang Maya
Gelisah lubuk terdalam tiada terkira
Lisan terapal doa
Daksa tak mampu meronta
Dalam pejam hampa
Hamba mengharap hadirnya



Purwokerto, 9 April 2022


Astri Wijaya Fitria
Puisi: Sang Maya
Karya: Astri Wijaya Fitria

Biodata Astri Wijaya Fitria:
  • Astri Wijaya Fitria lahir pada tanggal 31 Juli 2003 di kota Kebumen.
Puisi: Bara Pengancai (Karya Astri Wijaya Fitria)

Puisi: Bara Pengancai (Karya Astri Wijaya Fitria)

Bara Pengancai


Gelap malam larut dalam bisu
Menggumpal halimun benci
Mata beradu kelam
Membakar habis ciut nyali

Mengelabu lolongan dusta
Mengguncang segala hening
Mengalir deras tak mengenal tabu
Membungkam kemelut dasamuka



Purwokerto, 20 April 2022


Astri Wijaya Fitria
Puisi: Bara Pengancai
Karya: Astri Wijaya Fitria

Biodata Astri Wijaya Fitria:
  • Astri Wijaya Fitria lahir pada tanggal 31 Juli 2003 di kota Kebumen.
Puisi: Aritmetika Substansi (Karya Astri Wijaya Fitria)

Puisi: Aritmetika Substansi (Karya Astri Wijaya Fitria)

Aritmetika Substansi


Garis takdir membentang gamang
Terbias dalam lembaran semu
Membentuk gradien penyimpang
Ditempuh dalam gema cibiran
Terhampar tekanan idealis
Menyembah timpangnya ambisi
Terpendam dinginnya inkarnasi
Membujur dalam rantai kekang ilusi
Beriak dalam abu pesakitan
Binasa jiwa raga dalam patah arang



Purwokerto, 7 Mei 2022


Astri Wijaya Fitria
Puisi: Aritmetika Substansi
Karya: Astri Wijaya Fitria

Biodata Astri Wijaya Fitria:
  • Astri Wijaya Fitria lahir pada tanggal 31 Juli 2003 di kota Kebumen.
Puisi: Nostalgia Hitam (Karya Astri Wijaya Fitria)

Puisi: Nostalgia Hitam (Karya Astri Wijaya Fitria)

Nostalgia Hitam


Gelap malam larut dalam bisu
Beriak dalam kekalutan batin
Remang sang Purnama malam
Menyapu kabut halusinasi
Heningnya membawa lara dalam sukma
Pekat hitam melukis bayang semu
Hadirnya membawa dusta dalam tawa
Jelaga menyala rupa
Memaksa bertuan ruang kosong lubuk sana 
Tetapi, amat gesit menjulang ke angkasa
Mencecar diantara sampah prestisie
Melebur sekejap tanpa suara



Purwokerto, 15 April 2022


Astri Wijaya Fitria
Puisi: Nostalgia Hitam
Karya: Astri Wijaya Fitria

Biodata Astri Wijaya Fitria:
  • Astri Wijaya Fitria lahir pada tanggal 31 Juli 2003 di kota Kebumen.