Sepenuhnya

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Puisi: Malam (Karya Laeli Nurfadilah)

Puisi: Malam (Karya Laeli Nurfadilah)

Malam


Aku malam
Memberi begitu banyak perhatian
Memberi mereka pelukan nyaman
Memberi ruang untuk mereka bercerita
Memberi ketenangan untuk mereka yang lara

Aku malam
Selalu mendengar suara tangisan
Segala keluh seorang hamba
Dengan harapan hidup bahagia

Aku malam
Hidup bagi penikmat kesunyian
Ruang untuk mereka bernostalgia
Bersama kenangan dan harapan


2022


Laeli Nurfadilah
Puisi: Malam
Karya: Laeli Nurfadilah

Biodata Laeli Nurfadilah:
  • Laeli Nurfadilah saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Puisi: Senjaku (Karya Laeli Nurfadilah)

Puisi: Senjaku (Karya Laeli Nurfadilah)

Senjaku


Jangan salahkan aku
Jika aku memilihmu sebagai senjaku
Dimana aku hanya menatapmu
Dalam pertemuan singkat pergantian waktu

Kurasa kau juga tahu
Dalam pertemuan yang memastikanku
Bahwa aku akan merindukanmu


2022


Laeli Nurfadilah
Puisi: Senjaku
Karya: Laeli Nurfadilah

Biodata Laeli Nurfadilah:
  • Laeli Nurfadilah saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Puisi: Arah Pulang (Karya Laeli Nurfadilah)

Puisi: Arah Pulang (Karya Laeli Nurfadilah)

Arah Pulang


Sudah terlalu jauh
Kaki ini melangkah hilang arah
Sampai tak kuasa lagi
Menopangkan tubuh tuk terus melangkah

Di situ aku terus mengingat-Mu
Kulangkahkan kaki menuju surau
Guna memenuhi panggilan adzan-Mu
Memenuhi kewajibanku sebagai hamba-Mu


2022


Laeli Nurfadilah
Puisi: Arah Pulang
Karya: Laeli Nurfadilah

Biodata Laeli Nurfadilah:
  • Laeli Nurfadilah saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Puisi: Semesta (Karya Laeli Nurfadilah)

Puisi: Semesta (Karya Laeli Nurfadilah)

Semesta


Sang surya mulai tenggelam
Kini bulan menggantikannya bersinar
Semesta begitu sunyi malam ini
Membuat suara di kepala
Terdengar berisik amat jelas

Hai semesta
Biarkan aku beristirahat
Sambil mendengar dongeng sang jangkrik dan burung hantu
Hilangkan rasa lelah dalam lelapku


2022


Laeli Nurfadilah
Puisi: Semesta
Karya: Laeli Nurfadilah

Biodata Laeli Nurfadilah:
  • Laeli Nurfadilah saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Puisi: Sujudku (Karya Laeli Nurfadilah)

Puisi: Sujudku (Karya Laeli Nurfadilah)

Sujudku


Untuk ke sekian kalinya
Kurasa aku baru saja mendengar
Detupan lirih detakan jantungku
Pelan mengikuti hembusan nafasku

Ketenangan seakan menyelimuti
Merenggut segala lelah dan letihku
Kupanjatkan doa-doaku di situ
Memohon ampunan kepada-Mu
Dalam setiap sujudku


2022


Laeli Nurfadilah
Puisi: Sujudku
Karya: Laeli Nurfadilah

Biodata Laeli Nurfadilah:
  • Laeli Nurfadilah saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Puisi: Jiwa yang Layu (Karya Laeli Nurfadilah)

Puisi: Jiwa yang Layu (Karya Laeli Nurfadilah)

Jiwa yang Layu


Sambutan hangat sang mentari
Memberi beribu-ribu harap tanpa henti
Atas kekecewaan yang berujung lara
Menuai derita dan nestapa

Segelas minuman sepahit kehilangan
Satu tegukannya memberi ketenangan
Tuk bebas menentukan pilihan
Dan beranjak dari ketidakpastian


2022


Laeli Nurfadilah
Puisi: Jiwa yang Layu
Karya: Laeli Nurfadilah

Biodata Laeli Nurfadilah:
  • Laeli Nurfadilah saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Puisi: Sahabat (Karya Laeli Nurfadilah)

Puisi: Sahabat (Karya Laeli Nurfadilah)

Sahabat


Sudah lama kita tak bertemu
Sekedar bergurau berbagi rindu
Kini kau sudah kembali
Akan ada tawa yang menemani

Sahabat kemarilah
Sudah lama kau tak bertamu
Guna menggugurkan rindu
Dengan pertemuan dan tawamu

Di desa kita
Ruang masa kecil bercerita
Tentang waktu yang hampir terlupakan

Berjalanlah bersamaku kawan
Langit biru menunggu kita
Untuk merajut pelangi masa depan

2022


Laeli Nurfadilah
Puisi: Sahabat
Karya: Laeli Nurfadilah

Biodata Laeli Nurfadilah:
  • Laeli Nurfadilah saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Kamu, Tetap Menjadi Alasanku Menunggu

Kamu, Tetap Menjadi Alasanku Menunggu

“Hana ayo pulang, sebentar lagi akan turun hujan” pinta Mama kepada Hanna.

“Sebentar Ma, sebentar aja lagi sampai senja habis” kata Hanna.

“Kamu masih saja menunggu orang itu datang Hanna?” tanya Ibu kepada Hanna.

“Iya, Hanna yakin kok Bu, dia pasti datang” ucap Hanna dengan senyum meyakinkannya.

“Tapi ini mau hujan Hanna, dia gak mungkin datang!” ucap ibu Hanna.

“Enggak Bu, dia udah bilang ke Hanna akan datang di waktu sekarang sebelum senja habis” jawab Hanna dengan sedikit berteriak kepada ibunya.

Hanna, gadis cantik yang baru saja memasuki bangku SMA di Jakarta. Ia gadis dengan segudang prestasi dalam berbagai bidang. Kehidupan dia berubah sejak ia bertemu dengan seorang cowok dingin yang menyita perhatiannya.

Setiap hari ia berusaha untuk mendekati cowok tersebut, namun berkali-kali gagal, dan ia baru saja mendapatkan cowok itu dimasa akhir kelas 9 SMP. Kesehariannya ia isi bersama cowok tersebut.

Bayu, cowok yang berhasil membuat Hanna menyukainya.

“Apa yang membuat kamu suka sama aku?” tanya Bayu kepada Hanna sambil terus memegang tangannya.

“Hmmm, sebenarnya kamu biasa aja sih, tapi aku seperti tertantang dengan sikapmu yang dingin itu, dan aku suka dengan orang yang dingin, pasti orang dingin tuh jarang punya cewek, hahaa” kata Hanna dengan tawanya di akhir ucapan.

“Bisa aja kamu, misal aku pergi dari kamu, kamu bakal benci aku enggak?” kata Bayu.

“Enggak, misal kamu pergi pasti datang lagi ke aku, kan kamu pernah janji dulu enggak bakal ninggalin aku.” ucap Hanna dengan senyum manisnya.

Sedangkan Bayu hanya bisa senyum terpaksa mendengar penuturan Hanna tadi. Ia merasa bersalah telah berucap seperti itu kepada Hanna. Ia tidak mungkin bisa membohongi Hanna, tapi untuk hal ini ia tidak bisa, karena rasa takutnya.

Bayu tidak diperbolehkan oleh sang ayahnya bersekolah yang sama dengan Hanna, ia harus melanjutkan di luar negeri tempat ayahnya bekerja. Pilihan Bayu tinggal satu, yaitu kabur dari masalah ini, ia harus meninggalkan Hanna, karena tidak mungkin ia membantah ayahnya. Ia berharap dengan pilihannya itu, Hanna akan lupa dengan dia.

“Hanna, aku mau pergi ke luar negeri besok, tenang aja hanya sebulan kok, nanti aku kembali” ucap Bayu kepada Hanna dengan terus menunjukkan keyakinannya kepada Hanna.

“Enggak mau, aku enggak mau ditinggal pergi sama kamu, nanti aku sendirian, gak ada yang nemenin ke sana kemari.” ucap Hanna sambil menahan air matanya yang sudah menumpuk di kelopak matanya.

“Tenang aja ya sayang, aku pasti balik kok, tenang aja. Tunggu aja aku di stasiun sebulan lagi, pasti aku kembali. Kalau aku enggak kembali tepat waktu, kamu boleh kok marahin aku sepuasnya. Ya udah Hanna sayangku, aku pergi ya. Jaga diri baik-baik, kalau kangen telepon aha. Maaf ya beritahunya dadakan, karena kemarin aku juga baru dikasih tau sama ayah. Dah cantik, jangan nangis” ucap Bayu sambil melambaikan tangannya untuk bergegas pergi.

“Hati-hati” Hanya itu yang mampu Hanna ucapkan kepada Bayu, karena ia sudah tidak tahan lagi ingin menangis sekeras-kerasnya.

Setiap hari, ia selalu mengabari Bayu. Bertelepon sampai begadang, Video Call, ataupun bertukar pesan. Sampai di hari-hari menuju satu bulan kepergiannya, ia susah dihubungi. Sudah berpuluh-puluh sampai beratus-ratus kali Hanna menghubungi Bayu, namun tidak satu pun yang dijawab olehnya.

Hanna hanya bisa berpositive thinking bahwa Bayu sedang sibuk, dan tidak bisa menghubunginya. Sampai di saat hari itu datang.

“Bayu mana sih, katanya satu bulan lagi dia bakal dateng lagi jam 3 sore, tapi mana, udah mau habis senjanya.” ucap Hanna dalam hati.

Lama sudah Hanna menunggu Bayu datang, namun nihil. Ia sudah berkali-kali menelepon Bayu namun tidak satu pun terjawab. Hanna sudah lelah menunggu karena senja sudah menghilang, namun ia tetap berjanji kepada dirinya sendiri, bahwa besok ia akan ke tempat ini lagi.

Di waktu yang sama, Hanna mengunjungi stasiun lagi, namun berujung nihil kembali dan hasil nihil itu ia dapatkan berkali-kali. Namun ia tetap tidak putus asa, ia tetap mengunjungi tempat itu sampai orang yang ia cari bertemu dengannya kembali.


Kamu, Tetap Menjadi Alasanku Menunggu


Tiga tahun kemudian.

Sampai saat ini, Hanna masih saja menunggu di stasiun dengan keadaan melamun. Tapi, rasanya ada sedikit perasaan yang berbeda untuk kali ini. Hanna sangat yakin bila hari ini Bayu akan kembali lagi.

Di saat Hanna sedang memainkan teleponnya, tanpa sengaja ada orang yang menabrak punggung tubuhnya, dan berakhir Hanna sedikit terdorong ke arah orang tersebut. Hanna mendongak, dan ia tercengang melihat siapa yang menabraknya.

“Kamu kembali, aku seneng banget, akhirnya menungguku membuahkan hasil” ucap Hanna dengan senyum manisnya.

“Kamu masih menunggu aku Han, kamu gak benci aku, aku udah ninggalin kamu tiga tahun Han.” ucap Bayu dengan menahan tangisnya.

“Enggak, aku gak benci sama kamu, kan kamu pernah bilang gak akan tinggalin aku, dan kamu menepati itu dengan kamu kembali sekarang, walaupun aku harus menunggu di tempat ini beberapa tahun.” ucap Hanna sambil tersenyum meyakinkan.

“Maafin aku Hanna, aku udah membuatmu menunggu selama ini, kamu berhak kok benci aku, marahin aku, hukum aku, aku ikhlas Han.” ucap Bayu sambil memeluk erat Hanna.

“Iya Bay, udah aku maafin. Gak ada yang namanya aku benci kamu, mungkin hanya sedikit rasa kecewa aja sama kamu, tapi gak papa. I'm fine ok!” ucap Hanna meyakinkan Bayu.

“Mendingan sekarang kita pulang, kasihan kamu pasti capek” kata Hanna mengalihkan pembicaraan.


Tentang Penulis:

Mukhashofatul Imtiyaazah saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN Prof. K. H Saifuddin Zuhri.

Puisi: Sedekah (Karya Joko Pinurbo)

Puisi: Sedekah (Karya Joko Pinurbo)

Sedekah


Ibu tua itu tewas sehabis berjuang keras mendapatkan
sedekah dari seorang juragan yang amat pemurah.
Ia terjatuh terinjak-injak sewaktu berdesak-desakan,
sesaat setelah diterima oleh uang dua puluh ribu rupiah.

“Hanya demi uang sialan itu ia harus setor nyawa,”
cetus seorang pelayat. “Jangan-jangan itu uang haram.”
Uang berkata, “Maafkan saya, Bu. Saya tidak sengaja.”

Toh ibu kita yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci
pakaian itu wajahnya bersih bercahaya seperti habis dicuci
dengan sabun terbaik yang terbuat dari serbuk airmata.
Sesal dan tangis hanya menambah kecantikannya.

“Sudahlah. Dengan dua puluh ribu rupiah ibu ini bisa beli
tiket kereta api ekspres. Beliau akan mudik dengan sukses,”
ujar seorang penyair yang oleh teman-temannya dipanggil
Plato karena nun di jidatnya terdapat sebuah tato.

Kereta hampir berangkat. Uang yang naas tampak ikhlas
dan pasrah dalam genggaman tangan almarhumah.
Uang yang tak seberapa ini kemudian disimpan baik-baik
oleh cucu ibu yang gigih itu dan kelak akan ia berikan
kepada entah siapa yang pantas menerimanya.

2003

Puisi: Sedekah
Puisi: Sedekah
Karya: Joko Pinurbo
Puisi: Ranjang Ibu (Karya Joko Pinurbo)

Puisi: Ranjang Ibu (Karya Joko Pinurbo)

Ranjang Ibu


Ia gemetar naik ke ranjang
sebab menginjak ranjang serasa menginjak
rangka tubuh ibunya yang sedang sembahyang.
Dan bila sesekali ranjang berderak atau berderit,
serasa terdengar gemeretak tulang
ibunya yang sedang terbaring sakit.


2004


Puisi Ranjang Ibu
Puisi: Ranjang Ibu
Karya: Joko Pinurbo