--> Sepenuhnya | Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Sepenuhnya

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Puisi: Catatan Senja (Karya Ahmadun Yosi Herfanda)

Puisi: Catatan Senja (Karya Ahmadun Yosi Herfanda)

Catatan Senja
(Di negeri kota: Singapura)

Senja rebah di atap tampenis plaza
langit mengatup, mendekap negeri kota
dalam remang cahaya. Gerimis jatuh
dan kau tiba-tiba berkata,

- bergegaslah, hai, pengembara.
Saat pemberangkatan segera tiba, ke negeri jauh
tempat sejarah melintas dan bermula.

Dalam tergesa, aku jadi lupa
memungut dua helai rambutmu
yang tersisa di lipatan jendela plaza
(dengan mulut bau pizza, tadi sempat
kukecup keningmu di balik temboknya)

Tak kuduga, harum parfummu terbawa juga
melintas benua, ke pelataran ayasophia
tapi, siapa aku mesti memanggilmu nanti
ketika langkahku sampai ke negerimu lagi
Mei Hwa, Clara, atau Aisah saja?

Dalam dirimu, Tionghoa, Melayu, dan Eropa
menyatu jadi bangsa yang begitu
menghargai makna kerja.

Singapura, 1997/1999

Puisi: Catatan Senja
Puisi: Catatan Senja
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Puisi: Sembahyang Rumputan (Karya Ahmadun Yosi Herfanda)

Puisi: Sembahyang Rumputan (Karya Ahmadun Yosi Herfanda)

Sembahyang Rumputan

Walau kaubungkam suara azan
walau kaugusur rumah-rumah Tuhan
aku rumputan takkan berhenti sembahyang
: Inna shalaati wa nusuki
wa mahyaaya wa mamaati
lillahi rabbil 'alamin.

Topan menyapu luas padang
tubuhku bergoyang-goyang
tapi tetap teguh dalam sembahyang
akarku yang mengurat di bumi
tak berhenti mengucap shalawat nabi.

Sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan jiwa dan badan
yang rindu berbaring di pangkuan Tuhan
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan habis-habisan.

Walau kautebang aku
akan tumbuh sebagai rumput baru
walau kaubakar daun-daunku
akan bersemi melebihi dulu
aku rumputan
kekasih Tuhan
di kota-kota disingkirkan
alam memeliharaku subur di hutan.

Aku rumputan
tak pernah lupa sembahyang
: sesungguhnya shalatku dan ibadahku
hidupku dan matiku hanyalah
bagi Allah tuhan sekalian alam.

Pada kambing dan kerbau
daun-daun hijau kupersembahkan
pada tanah akar kupertahankan
agar tak kehilangan asal keberadaan
di bumi terendah aku berada
tapi zikirku menggema
menggetarkan jagat raya
: la ilaaha illalah
muhammadar rasululah.

Aku rumputan kekasih Tuhan
seluruh gerakku adalah sembahyang.

1992

Puisi: Sembahyang Rumputan
Puisi: Sembahyang Rumputan
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Puisi: Doa Pembuka (Karya Ahmadun Yosi Herfanda)

Puisi: Doa Pembuka (Karya Ahmadun Yosi Herfanda)

Doa Pembuka

Hanya milik-Mu cahaya pagi hingga senja
dan rahasia kegelapan ketika malam tiba
pada Muhammad Kauanugerahkan kemuliaan
pada Sulaiman Kaulimpahkan keberadaan
Kau tunjukkan keindahanmu melalui Yusuf
dan cinta kasih-Mu melalui Isa
di hati kekasih-Mu sejati pun Kautanam
rahasia kemakrifatan.

Kaujadikan perut burung-burung
kenyang ketika petang
dan lapar kembali ketika pagi
hingga terdengar selalu kicaunya
menghiasi kelompok hari yang terjaga.

Kaujadikan bintang-bintang
selalu bertasbih pada-Mu
Kauciptakan pohon-pohonan
selalu berzikir pada-Mu
O, Allah, anugerahi aku kesetiaan
tanganku menjadi tangan-Mu
kakiku menjadi kaki-Mu
lidahku menjadi lidah-Mu
mataku menjadi mata-Mu
telingaku menjadi telinga-Mu
hatiku menjadi istana-Mu
: bumi dan langit tak mengandungku
tapi hamba berimanku mengandungku.

1989

Puisi: Doa Pembuka
Puisi: Doa Pembuka
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Puisi: Obsesi Futurista (Karya Ahmadun Yosi Herfanda)

Puisi: Obsesi Futurista (Karya Ahmadun Yosi Herfanda)

Obsesi Futurista

Manusia masa depan berdiri tegak di layar
Komputerku. Di tangan kanannya jaringan internet
Di tangan kirinya hutan lebat menghijau
Rambutnya mengkilat tanpa shampo
Giginya kristal-kristal cahaya, mata kanannya
Radar, kirinya antena parabola, otaknya Einstein
Hatinya Sunan Kalijaga. Ia simpan kitab kuning
Dalam disket, filsafat di saku baju
Sejarah ia lipat dalam sepatu.

Manusia masa depan mencipta badai dengan
Tuts piano, mencipta gelombang dalam lagu sangsai
Mencipta hutan di kota-kota beton dan baja, ombak
Laut ia tampung dalam katub jantungku. Manusia masa depan
Tak takut kehilangan kursi dalam syairmu
Manusia masa depan membangun sejarahnya sendiri
Yang merdeka dari rencanamu hari ini.

1989

Puisi: Obsesi Futurista
Puisi: Obsesi Futurista
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Puisi: Catatan Dini Hari (Karya Ahmadun Yosi Herfanda)

Puisi: Catatan Dini Hari (Karya Ahmadun Yosi Herfanda)

Catatan Dini Hari
(Labuhan Bilik, Riau)

Debur ombak dan goyang perahu
Bermain sendiri dalam sepi
Semua yang hidup tertidur
Melipat diri dalam mimpi

Bintang berkaca dalam sunyi
Sebait bulan yang menemaniku
Pun hendak undur diri

Bersama angin dini hari
Kucoba untuk bernyanyi
Mengirim rindu termanis
Sebelum bunuh diri

Bulan pun pergi
Dan perahu nelayan
Tak pernah kembali.

Rokan Hilir, Maret 2007

Puisi: Catatan Dini Hari
Puisi: Catatan Dini Hari
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Puisi: Pada Suatu Hari Nanti (Karya Sapardi Djoko Damono)

Puisi: Pada Suatu Hari Nanti (Karya Sapardi Djoko Damono)

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi...
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri...

Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi...
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati...

Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi...
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari...

Puisi: Pada Suatu Hari Nanti
Puisi: Pada Suatu Hari Nanti
Karya: Sapardi Djoko Damono
Puisi: Terbangnya Burung (Karya Sapardi Djoko Damono)

Puisi: Terbangnya Burung (Karya Sapardi Djoko Damono)

Terbangnya Burung

Terbangnya burung
hanya bisa dijelaskan
dengan bahasa batu
bahkan cericitnya
yang rajin memanggil fajar
yang suka menyapa hujan
yang melukis sayap kupu-kupu
yang menaruh embun di daun
yang menggoda kelopak bunga
yang paham gelagat cuaca
hanya bisa disadur
ke dalam bahasa batu
yang tak berkosa kata
dan tak bernahu
lebih luas dari fajar
lebih dalam dari langit
lebih pasti dari makna
sudah usai sebelum dimulai
dan sepenuhnya abadi
tanpa diucapkan sama sekali.

1994
Puisi: Terbangnya Burung
Puisi: Terbangnya Burung
Karya: Sapardi Djoko Damono
Puisi: Para Pembakar (Karya Kriapur)

Puisi: Para Pembakar (Karya Kriapur)

Para Pembakar

Pembakar-pembakar berjalan dari kampung
menuju kota yang bersimpah luka
lalu membakar harta, membakar rumah-rumah
membakar angin dan jam.

daun-daun putih
mencatat pohon-pohon, hujan mencatat
kota-kota
pengembara dalam kabut bangsa-bangsa
dari kampung pembakar-pembakar melempar batu
melempar api.

pembakar-pembakar berjalan
menuju kota
berterompah sangsai
menuju arena lapar
membakar darah
membakar lukanya sendiri.

Solo, 1980

Puisi: Para Pembakar
Puisi: Para Pembakar
Karya: Kriapur
Puisi: Natal bagi Musuh-Musuhku (Karya Kriapur)

Puisi: Natal bagi Musuh-Musuhku (Karya Kriapur)

Natal bagi Musuh-Musuhku

Aku tak mampu membeli daun-daun
ini fajar dengan bangunan dari air biru
membebaskan ketaklukan diriku
dan mereka yang terus mencari kematianku
kuterima dengan doa
dan bukan lagi musuhku.
 
Solo, 1986

Puisi: Natal bagi Musuh-Musuhku
Puisi: Natal bagi Musuh-Musuhku
Karya: Kriapur
Puisi: Jalan (Karya Kriapur)

Puisi: Jalan (Karya Kriapur)

Jalan

Dalam tidur terbentang sebuah jalan
di luar jendela yang kupandang
angin gagal mencapai puncak
lalu matahari luruh seperti gerimis.

Tak ada yang bisa datang
atau pergi malam ini
bangun lebih parah
dan awan yang bergantung pada daun
kemana bakal pulang?
 
Solo, 1983

Puisi: Jalan
Puisi: Jalan
Karya: Kriapur