Sepenuhnya

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Puisi: Kado Ulang Tahun (Karya Dimas Arika Mihardja)

Puisi: Kado Ulang Tahun (Karya Dimas Arika Mihardja)

Kado Ulang Tahun
(Buat Korrie Layun Rampan)


(17 Agustus ialah hari kelahiran
hari kemerdekaan menghirup kehidupan)

Padang  perburuan, padang perbukuan
Ladang pengabdian, pandang menjanjikan
semua tumbuh subur di lahan-lahan garapan

Di lahan-lahan harapan, kusimpan puisi kehidupan
kupersembahkan kepada Pujangga Sejati - Allah
ke nama pun kaki melangkah semua mengarah

Ke mana pun doa melesat semua jadi berkah
ke manapun mengalir, satu muaranya: cinta
korrie berkayuh di atas perahu kayu
mengalir dari tepian Mahakam menuju Jakarta
korrie bersimpuh di muka makam menjelang senja

Menjelang senja kuuntai doa
semoga bahagia dan sejahtera.

Jambi, 1994

Puisi Dimas Arika Mihardja
Puisi: Kado Ulang Tahun
Karya: Dimas Arika Mihardja
Puisi: Matahari (Karya Arif Bagus Prasetyo)

Puisi: Matahari (Karya Arif Bagus Prasetyo)

Matahari
(- Uluwatu, upacara)


Bila nanti
matahari telah angslup
dalam darah;
apakah ia akan redup
atau makin parah
menikam jantung?

Dan apabila burung hitam di nadimu
menjerit lirih
seperti setangkai daun yang tak sengaja
terinjak karet sepatumu (sore hari ini):
Apakah yang sesungguhnya
tengah kaumengerti
di sini
selain laut, Maut
dan ketinggian?

Di pucuk tebing, pada puncak keheningannya
Kelak akan kausaksikan orangorang suci membagi
darah, menabur matahari silam yang kian asing dan
kecoklatan (di pelupukmu); yang hampir gaib
tersihir setangkai daun jatuh jadi mantra jadi
cuaca jadi jeritan panjang yang tak hentihenti
membuat geraham bunga di telapakmu
tiba-tiba terbuka

“Betapa ingin aku loloskan matahari itu,”
kenangmu, “dari setiap gerak jantungku,
dari segala ketukan gelap yang menunggunya
di balik pintu.”

1994

Puisi: Matahari
Puisi: Matahari
Karya: Arif Bagus Prasetyo
Puisi: Hospital in Meditation (Karya Arif Bagus Prasetyo)

Puisi: Hospital in Meditation (Karya Arif Bagus Prasetyo)

Hospital in Meditation


Jangan lagi sakitmu.
sementara limbah cair yang kulahirkan setiap waktu, yang selalu
begitu deras menggerus dasar parit-paritmu
tak bosan-bosan membiusi kefanaanku.

Sudah, sudah kusebut: jangan!
biarkanlah aku, rumah-sakit itu, mengejamu kembali:
lorong-lorong putih, kamar berpendingin, pisau bedah,
atau apa saja...

asal jangan sakitmu
: mengintaiku.


1994

Puisi: Hospital in Meditation
Puisi: Hospital in Meditation
Karya: Arif Bagus Prasetyo
Puisi: Timor Timur (Karya F. Rahardi)

Puisi: Timor Timur (Karya F. Rahardi)

Timor Timur (1)


Seorang gadis Portugis menangis
air matanya tumpah di jalanan
debu menggumpal
batu pecah, retak-retak dan berdarah

Seorang wartawan Australia tertawa
kameranya batuk-batuk,
meludah dan pingsan di halaman gereja

Seorang tentara Indonesia masukangin
lalu mencret dan muntah-muntah
bedil-bedil yang dipeluknya
menggigil, pusing
dan ikut memuntahkan pelurunya

Dan seorang perjaka Timor Timur termenung
dia bingung memikirkan rambutnya
yang keriting
dia sedih melihat kulitnya yang hitam
dia sangat sedih dan bingung
tapi sulit menangis
dia pusing
tapi tak berani meludah, tak berani batuk,
mencret
atau muntah-muntah.


Jakarta, 1987


Timor Timur (2)


Timor Timur tidak selalu harus peluru
tidak selalu harus darah
head line koran
dan warta berita TIVI
bekas koloni Portugal itu
juga bisa berarti kayu cendana
kopi arabika dan batu akik

Cendana Timor Timur itu harum
kayunya bisa diukir-ukir jadi patung
digergaji jadi kipas
dan serbuknya dapat disuling
jadi minyak sandal wood
yang bernilai tinggi
sebagai komoditas ekspor nonmigas
penghasil devisa negara
ampas cendana itu bisa dibuat hio
dan dibakar oleh penganut Kong Hu Cu
untuk mendatangkan suasana surgawi
yang mistis

Meskipun baunya harum
sosok kayu cendana sangat sederhana
mirip kayu bakar biasa
dan para pejabat dari Jakarta
biasa menentengnya sebagai suvenir
sepulang dari tugas ke Timor Timur

Kadang-kadang pada potongan
kayu cendana itu
ada bebeapa lubang kecil
berwarna hitam
mirip liang kumbang
namun kalau lubang itu
dikorek dan dibuka
di empelur kayu yang keras itu
terperam sebutir peluru
M 16.


Jakarta, 1991


Puisi Timor Timur
Puisi: Timor Timur
Karya: F. Rahardi
Puisi: Apa Ya Sebabnya, Apa (Karya F. Rahardi)

Puisi: Apa Ya Sebabnya, Apa (Karya F. Rahardi)

Apa Ya Sebabnya, Apa


apa ya sebabnya
kata-kata itu kok penting
dikumpulkan dan dibundel jadi kamus
begitu aku bertanya pada yang ahli
tidak pernah dijawab
aku pun kemudian pulang dan dingin

apa to sebabnya
malang ayam kok dipukuli
apa to salahnya
sopir oplet kok dicacimaki
begitu tanyaku pada yang berwajib
aku dijawab
lalu pulang dan ngantuk

sebabnya apa to
he, sebabnya apa
aku kok selalu takut
was-was saja
akan ada kejadiankah
aku tidak bertanya pada siapa-siapa
dan bersetubuh

tuli semua
orang-orang ini
apakah rusak kupingnya
yang kiri
apakah terganggu
yang kanan
tidak bisa dipakai
aduh oom, aku cinta

yang bersangkutan harap hadir
yang berkepentingan supaya maklum
yang bertanggungjawab siapa sih
ada kejadian kok diam
apakah sulit berkata
atau sedih
begitu aku menuduh khalayak ramai
semua ramai dan semrawut

memang sulit hidup bersama
di asrama misalnya
tidur malam jam sepuluh
di penjara misalnya
mereka main bal
dan aku sebenarnya ingin sekali bertanya
atau ke surga atau ke neraka ya
aku ini kelak kalau mati
dijawab tegas
aku letih dan rematik
apa sebabnya, apa sebabnya
jawablah
mengapa matahari terlambat
mengapa kata-kata
kalau dibandel menjadi kamus
rahasia apa gerangan
yang tersimpan di sana
rahasia gaibkah
aku bertanya-tanya begitu pada diriku
tidak dijawab
aku mencret di sawah
dan tersenyum

apa ya sebabnya
apa to yang sebenarnya
telah terjadi pada diriku
selama ini
jawablah

sebabnya saja
aku ingin tahu
ini kok begini
ini kok begitu
sedang yang lain kok
tidak sama
begitu aku bertanya pada yang tahu
dijawab
tapi lucu dan tidak masuk akal
aku meringis

maka akhirnya aku bertanya
pada yang maha tahu
apa to sebabnya diriku ini
kok begini
dan tidak begitu
hanya sepi
maka aku pun kesepian
dan
muntah-muntah.

3 Februari 1975
Pernah dimuat di Majalah Horison, Juli 1977

Puisi Apa Ya Sebabnya, Apa
Puisi: Apa Ya Sebabnya, Apa
Karya: F. Rahardi
Puisi: Sajak Mati (Karya Tjahjono Widarmanto)

Puisi: Sajak Mati (Karya Tjahjono Widarmanto)

Sajak Mati


sajak itu sekadar potongan
notasi sebuah simponi
mungkin, serpih lagu-lagu kenangan
yang dulu pernah kau dengar
sekadar notasi segera lenyap
bersama hilangnya mimpi-mimpimu
nada yang berubah diam
seperti abadinya sunyi
: membuatmu meringkuk
di sudut rumah kerangmu!

itulah masa lalu
tempat kita pernah bertukar janji
pada debu dan detak penanda waktu

Dan, janji itu ditagihnya kini.

Ngawi, 2007

Puisi Sajak Mati
Puisi: Sajak Mati
Karya: Tjahjono Widarmanto
Puisi: Suatu Hari di Bulan Januari (Karya F. Rahardi)

Puisi: Suatu Hari di Bulan Januari (Karya F. Rahardi)

Suatu Hari di Bulan Januari


seratus ton kapas yang putih dan ringan
dihalau angin dari pohonnya
dan diterbangkannya ke langit
berbondong-bondong

seratus ekor gagak yang hitam dan gelap
melayang-layang di langit
mengikuti arak-arakan kapas
sambil menjerit-jerit

langit pun menjadi pucat dan gelap
karena angin
arak-arakan kapas
dan gagak.

26 Januari 1974
Pernah dimuat di harian Kompas, 6/1/1974
Puisi Suatu Hari di Bulan Januari
Puisi: Suatu Hari di Bulan Januari
Karya: F. Rahardi
Puisi: Kisah Sebutir Debu di Trotoar Jalan Salemba Raya Jakarta (Karya F. Rahardi)

Puisi: Kisah Sebutir Debu di Trotoar Jalan Salemba Raya Jakarta (Karya F. Rahardi)

Kisah Sebutir Debu
di Trotoar
Jalan Salemba Raya Jakarta


Sebutir debu kedinginan di trotoar
Jalan Salemba Raya
“Kalau saja hari lekas jadi siang,” kata debu itu
“Aku ingin matahari itu segera memanaskan
badanku
lalu angin yang kencang akan menerbangkan
diriku tinggi-tinggi
lalu hinggap di pipi seorang mahasiswi
aku ingin ikut masuk ke ruang kuliah
mendengarkan pelajaran biologi,
ikut praktek di laboratorium
dan makan siang di kantin
aku ingin sekali menggugah nyali
para mahasiswa itu
agar tidak melempem
dan berani berak di meja dosen
lalu kencing di kantor rektor
aku ingin sekali begitu
tapi aku sadar
aku hanyalah sebutir debu di atas trotoar
yang malam ini diinjak-injak Hansip
dan diludahi maling.”

Sebutir debu tergeletak tak berdaya
di trotoar jalan Salemba
angin dan hujan dan matahari dan sandal jepit
dan sepatu lars
menggencet-gencet tubuhnya sampai gepeng
dan lengket
menempel di aspal

“Kalau saja kesempatan itu lekas datang
kalau saja aku bisa melompat ke mobil menteri
yang melaju
dengan kencang itu
aku ingin sekali masuk ke dalam mobilnya
yang bagus
menempel di baju safarinya
lalu ikut sidang kabinet di Bina Graha
aku ingin tahu, apa sajakah yang dibicarakan
dalam sidang kabinet itu
soal konflik Kamboja, harga minyak,
lemak babi, lele dumbo
mungkinkah soal lagu-lagu cengeng
yang kasetnya laris itu
dibahas pula di sana?
aku ingin sekali bertengger di lencana menteri
itu
lalu mencoba membujuknya
agar mobilnya mau melaju lebih pelan
hingga orang-orang yang mau menyeberang
jalan
tidak kerepotan
tapi aku sadar
aku hanyalah debu yang terlantar
di jalan Salemba
dikencingi tukang sapu
dan diberaki anjing.”

Sebutir debu kelenger di jalan Salemba Raya
sudah berhari-hari, sudah berminggu-minggu,
berbulan-bulan
bahkan bertahun-tahun dia tergeletak di sana
ditendang, digebuk, disapu, disikat dari sepatu
dan dikibaskan dari lengan baju
“Aku ingin sekali
aku ingin sekali nasib itu berpihak padaku
aku ingin ada pastur yang sudi datang kemari
lalu mengizinkan diriku hinggap di jubahnya
yang putih
aku ingin ikut masuk ke dalam gereja dan
mendengarkan khotbah
ikut mendengarkan orang-orang menyanyi
dan berdoa memuliakan Tuhan
aku ingin menempel pada roti dan anggur
yang akan ditelan para jemaat dan pastur itu
lalu masuk ke dalam perutnya
menyusup ke dalam urat syarafnya
aku ingin sekali tinggal dalam dada para pastur
agar mereka senantiasa ingat
untuk membuka pintu gereja
pada saat orang-orang memerlukannya
tapi aku sadar
aku hanyalah debu
jubah pastur itu pasti akan segera kotor
kalau kutempeli
lalu akan dikibaskan, disikat, dicuci
dan diseterika
sampai licin mengkilap
tak ada lagi tempat tersisa untukku
tak ada lagi tempat untuk sebutir debu.

Sebutir debu menangis kesepian
di trotoar jalan Salemba Raya
“Kalau saja ada bintang film lewat
dengan mobilnya yang bagus
aku ingin sekali melompat lalu bergelayutan
di rambutnya yang rapi itu
aku ingin ikut disorot kamera
lalu ditonton orang banyak
aku ingin sekali ikut muncul di TIVI
ikut dimuat di koran
agar orang banyak juga tahu
bahwa pipi bintang film mereka yang mulus
dan suka dicium-cium itu

juga dapat kotor
aku ingin mengajak teman-temanku
beramai-ramai menempel di pipi bintang film
lalu mengeras jadi daki
tapi aku ingat
aku hanyalah debu
yang kalau hujan tiba
akan hanyut masuk got
campur tinja, bangkai kodok, sampah plastik
dan ceceran oli
aku memang hanya debu.”

Sebutir debu menggeliat di trotoar
jalan Salemba
“Karena aku tak bisa ikut menteri
ikut mahasiswa, ikut pastur, ikut bintang film
aku ingin menempel di kening tentara
atau jidat polisi
aku ingin tentara-tentara dan polisi-polisi itu
tidak hanya berani menempeleng maling
dan menembak burung gagak
aku ingin tentara dan polisi itu
berani menampar jenderal mereka yang korup
lalu menyeretnya ke penjara
tapi itu susah bukan?
aku hanya debu
kalau aku sulit masuk ke moncong meriam
kalau aku sulit menempel di gagang pestol
aku akan mencoba bergabung dengan para
gelandangan
mengais-ngais sampah
daripada terlantar di atas trotoar
aku ingin ikut siapa saja
kemana saja.”

Sebutir debu tak lagi berada
di trotoar jalan Salemba Raya
seorang tukang sapu telah menyeroknya
dengan sekop
lalu melemparkannya ke truk sampah
dan truk itu pergi
entah kemana
entah sampai kapan

Sebutir debu tak lagi ada
di trotoar jalan Salemba
dan sampai sekarang tak ketahuan
berada dimana
dan jadi apa.

Jakarta, 1989

Puisi Kisah Sebutir Debu di Trotoar Jalan Salemba Raya Jakarta
Puisi: Kisah Sebutir Debu di Trotoar Jalan Salemba Raya Jakarta
Karya: F. Rahardi
Puisi: Ziarah (Karya Arif Bagus Prasetyo)

Puisi: Ziarah (Karya Arif Bagus Prasetyo)

Ziarah
(- Spillville - Effigy Mounds)


Enam batu ke Meskwaki.
Enam cambuk air mancur
Menggeletar pada altar musim gugur.

Siang mengerang.
Angin mengayunkan kapak ke prairi.
Gerimis menangkis.

Rumah-rumah tak berpenghuni.
Koloni hantu dengan nama-nama martir
Di sebuah simpang tugu.

Mungkin dusun telah jatuh.
Dingin meresap sedalam iman
Terserap urat-urat legam kayu oak.

Jam-jam patung yang dikhianati waktu.
Paras Dua Belas Rasul tersuruk pilu
Memasuki mulut patung.

Lamat-lamat litani mereka masih terdengar.
Berdengungan seperti hama hutan merah
Yang berarak menuruni lereng-lereng perbukitan

Dan menggenangi kubah gereja ratusan tahun,
Harmonium hitam Dvorak yang teronggok pada loteng,
Hamparan salib batu nisan imigran Slav di halaman.

Tak ada misa hari ini.
Cahaya sembunyi.
Udara terkunci dalam peti.

Para jemaat telah berangkat ke timur laut,
Terseok-seok mendaki setapak jalan bukit,
Kembali ke haribaan Mississippi.

Tubir air yang terkubur bayang-bayang.
Gundukan kubur-kubur keramat.
Katedral roh beruang dan burung elang.

Sang Penebus yang tersesat disalibkan di altarnya.


2003

Puisi: Ziarah
Puisi: Ziarah
Karya: Arif Bagus Prasetyo
Puisi: Fantasma Aquarel (Karya Arif Bagus Prasetyo)

Puisi: Fantasma Aquarel (Karya Arif Bagus Prasetyo)

Fantasma Aquarel


Liat dan telanjang
lebih ringan dari burung
ia turun.

Kolam gemetar. Cahaya gentar.
Seakan jam tergelincir
memasuki mulut air.

Sisa sayap dari lilin
mengirimkan harum tamarin
ke tidur hutan terbius hujan.

Hutan hujan. Di jantungnya aku belajar
membenci hidup. Berlumur lumpur mengintai mangsa.
Menunggu. Berlumut. Sekarat di habitat yang terendam.

Sesekali langit iba dan menggugurkan
bintang-bintangnya. Sosok sintal itu turun
menabur fosfor ke perairan.

Cahaya berdebur memuntir
ganggang-ganggang gasang dan meriang.
Siul siluman dan kelakar ular-ularnya.

Tunggu. Sesaat lagi ia menghilang.
Arus mendenguskan pusar. Buih memerah
dan rahangku akan rengat

merenggutnya.
Riak menghapuskan akhir.
Jam tertidur dalam air.

2002

Puisi: Fantasma Aquarel
Puisi: Fantasma Aquarel
Karya: Arif Bagus Prasetyo