Puisi: Metamorfose Kekosongan (Karya Dorothea Rosa Herliany)

Metamorfose Kekosongan

Seperti inilah, aku letakkan ranjang dalam dadamu.
kujadikan rongga-rongga sempit itu kamar cintaku.
suatu hari nanti, akan berjejal lagu-lagu dan tangisan.
rintihan kecil dan jeritan tiba-tiba. dan kaukirim aku
ke tanah asing: dengan dentum dan suara angin dari
nafasmu.

Seperti inilah, aku letakkan tempat sampah dalam
otakmu. kujadikan gumpalan zat itu sudut tak berguna.
suatu hari nanti, akan berjejal entah apa. telah sesak 
ruang sempit itu oleh rencana-rencana dan bencana.

Tadi, kita telah berkhianat dengan cinta. kau ledakkan 
aku dengan zakarmu. kuletakkan ulat-ulat di sana.
sampai
saatnya nanti, siap memangkas daun hatimu.

Seperti inilah kita: merenda kemungkinan-kemungkinan.
suatu hari nanti -dalam otakmu, dalam dadamu,
dalam perutmu- kutanami bangkai-bangkai ulat. suatu
hari nanti, akan kaupanen kupu-kupu.

1993

Puisi: Metamorfose Kekosongan
Puisi: Metamorfose Kekosongan
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Read more

Puisi: 30 Tahun Kemudian (Karya Goenawan Mohamad)

30 Tahun Kemudian

30 tahun kemudian mereka bertemu di restoran dekat danau.

Hujan dan kenangan berhimpitan, berbareng,
seperti lalulintas yang langgeng.

Terkadang badai meracau,
langit kian dekat, dan dari tebing dingin berjalin dengan basah
pucuk andilau

ketika mereka duduk berlima,
dengan tuak putih tua,

bertukar cerita tentang lelucon angka tahun
dan rasa asing pensiun,

mengeluhkan anak yang pergi dari tiap bandar
dan percakapan-percakapan sebentar.

Terkadang mereka seakan-akan dengarkan teriak trompet dari
kanal seperti jerit malaikat yang kesal

dan mereka tertawa. Sehabis sloki ketiga,
waktu pun berubah seperti pergantian prisma:

masa lalu adalah huruf yang ditinggalkan musim pada
marmar makam Cina.
Kerakap memberinya warna. Kematian memberinya kata.

Dan pada sloki ke-4 dan ke-5 mereka dengarkan angin susul
menyusul, seakan seorang orang tua bersiul

dengan suara kisut
ke bulan yang berlumut.

Pada sloki ke-6 mereka menunggu malam singgah dalam
topeng Habsi. Dan tuhan dalam baju besi.

30 tahun kemudian mereka tak akan bertemu lagi di sini.

1996
Puisi: 30 Tahun Kemudian
Puisi: 30 Tahun Kemudian
Karya: Goenawan Mohamad
Read more

Puisi: Nuh (Karya Goenawan Mohamad)

Nuh

Pada hari Ahad kedua, kota tua itu tumpas. Curah hujan
tak lagi deras, meskipun angkasa masih ungu, dan hari gusar.
Rumah-rumah runtuh, seluruh permukaan rumpang, dan
tamasya mati bunyi, kecuali gemuruh air. Memang ada jerit
terakhir, yakni teriak seorang anak.

"Ia jatuh," kata laporan yang disampaikan kepada Nakhoda.
"Dari sebuah atap yang bongkah. Air bah menyeretnya
Kakinya memang lumpuh sebelah. Dengan cepat ia pun
tenggelam, seperti yang lain-lain: neneknya, ibu-bapaknya,
saudara-saudaranya sekandung. Ia tenggelam, seraya memekik,
begitu juga seluruh kota."

Nakhoda itu tersenyum. Segera diberitakannya kabar terakhir itu
kepada Nuh yang sedang berdoa di kamarnya dalam bahtera.
Orang alim itu terdiam sebentar, lalu bangun dan berjalan ke
buritan. Ia ingin menyaksikan sendiri benarkah gelombang telah
selesai membunuh.

Memang: banjir itu tak lagi ganas, seakan-akan naga yang
kenyang bangkai.

Dan di sisa kota itu ia lihat mayat, terapung, menggelembung,
hampir hitam, beribu-ribu, seperti menantikan sesuatu.
Ia lihat gagak dan burung-burung marabou, bertengger di atas
perempuan-perempuan tua yang terserak busuk. Di permukaan
air itu bahkan hutan-hutan takluk dan senja seakan terbalik,
seperti pagi. Nuh pun berbisik, "Kaum yang musyrik, yang tak
dikehendaki ..."

Ia menghela napas, lalu kembali ke anjungan. Bau bacin
menyusup dari cuaca, bahkan sampai ke ruang doa, dan ia
merasa kota itu akan segara jadi payau. Maka tatkala langit
teduh, Nuh segera meminta agar bahtera diarahkan ke sebuah
dataran tinggi yang masih utuh, di utara. Ia berkata, "Keadilan,
perkara besar itu, telah dibereskan Tuhan." Dan ia mendarat.

Lepas dari air, ia merunduk di tepian itu dan diucapkannya
syukur. Lalu segera disuruhnya persiapkan korban hewan di
kaki bukit. Harum daging bakar pun sampai ke langit, dan
membuat surga berbahagia. "Ya, Maha Dasar, tak ada lagi yang
bisa keluar," begitulah sembah yang diucapkannya, ketika hari jadi
terang dan jemaat berdoa untuk kota-kota yang akan datang,
yang kukuh, patuh. Kota-kota Nuh.

1998

Puisi: Nuh
Puisi: Nuh
Karya: Goenawan Mohamad
Read more

Puisi: Perempuan Berdosa (Karya Dorothea Rosa Herliany)

Perempuan Berdosa

Perempuan itu memikul dosa sendirian, seringan jeritannya
yang rahasia: berlari di antara sekelebatan rusa yang diburu segerombolan serigala.
kautulis igaunya yang hitam, mengendap di bayang dinding
tak memantulkan cahaya.

Perempuan itu melukis dosa yang tak terjemahkan
ia tulis rahasia puisi yang perih dendam dalam gesekan rebab.
lalu ia hentakkan tumit penari indian yang gelap dan mistis.

Segerombolan lelaki melata di atas perutnya.
mengukur berapa leleh keringat pendakian itu.
sebelum mereka mengepalkan tinjunya
ke langit. dan membusungkan dadanya yang kosong:
mulutnya yang busuk menumpahkan ribuan belatung dan ulat-ulat.

Perempuan itu membangun surga dalam genangan air mata.
menciptakan sungai sejarah: sepanjang abad!

Februari, 2000

Puisi: Perempuan Berdosa
Puisi: Perempuan Berdosa
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Read more

Puisi: Mimpi Kucing Jadi Hujan (Karya Kurniawan Junaedhie)

Mimpi Kucing Jadi Hujan

Kucing itu bermimpi jadi hujan. Hujan yang bisa meloncat-loncat seperti katak. Agar dia tidak perlu mengeong bila melihat anjing. Mungkin cukup menjerit, atau melengking. Dia juga merasa tak perlu bergelung di balik keset, dan berjemur di genting kalau udara dingin. Ia hanya ingin melingkarkan ekornya dalam kabut. Ia hanya ingin hidungnya mengendus pohon. Ia hanya ingin kakinya bisa melompat ke atas meja, lalu tangannya menyentuh langit. Ia merasa, hujan itu eksotis dan sengit. Seperti Tuhan sedang memainkan benang jahit. Ia begitu terpesona pada impiannya. Maka ia menggelembungkan impiannya jadi kenyataan. Ia menjadi hujan sungguhan. Ia pun menderas sungguhan dan melompat-lompat sungguhan. Seperti sajak tentang seekor kucing.

2010

Puisi: Mimpi Kucing Jadi Hujan
Puisi: Mimpi Kucing Jadi Hujan
Karya: Kurniawan Junaedhie
Read more

Puisi: Lagu Laut (Karya D. Zawawi Imron)

Lagu Laut

Sampaikan salamku, wahai kecipak laut!
Pada bumi Bugisku yang hangat
Perahuku teramat jauh kini berlayar
Kutembangkan siul di tengah jerit lautan.

Dan langit
tempat melukis hati gadisku
di mana saja sama birunya
Karena kesetiaan perlu diuji
oleh jarak, topan dan cakrawala.

Semua gelombang biarkan terus menggebu
Paling-paling jadi gambar tenun sarungku
Dan sekian karang
bisa dihindar dengan kemudi.

Ibu, alangkah jauhnya Sinjai
Meski tanpa tali temali
Engkau tetap tambatan
Dan kalau malang perahuku karam
Kuyakin hatimu, ibu,
adalah kuburku yang sebenarnya.

Puisi Lagu Laut
Puisi: Lagu Laut
Karya: D. Zawawi Imron
Read more

Puisi: Pagi (Karya Goenawan Mohamad)

Pagi

Gerimis seperti jarum-jarum jatuh.
Pada seng dan subuh,
seribu gugur dari sebuah jam yang jauh.

Kelelawar pun menjerit luka;
tertusuk pada matanya.
Aku telah lihat darahnya.

Dan bayang pada lari
meskipun tak ada tempat sembunyi.
Meskipun tak ada tempat sembunyi.

1976

Puisi: Pagi
Puisi: Pagi
Karya: Goenawan Mohamad
Read more

Puisi: Segalanya (Karya Sapardi Djoko Damono)

Segalanya

Segalanya masih akan bersamamu: awan yang suka
terserak, warna senja yang selalu baru, wajah telaga di
belakang rumah, bahkan angin, yang tak pernah kausapa
tetapi yang suka menyombongkan diri sebagai yang paling
setia selama ini, duduk di pangkuanmu (jangan ganggu!)
setelah capek menempuh samudra, perbukitan, dan kembali
agar bisa didengarnya kata-katamu yang bahkan aku dengan
susah payah bisa memahaminya.

Kalau nanti aku, alhamdulillah, harus pergi semua
masih akan tetap tinggal bersamamu; ketika kau batuk-
batuk dan buru-buru mencari OBH, ketika kau mengecilkan
volume ampli ingat tetangga sebelah sedang sakit,
ketika kau mendengar jerit air mendidih dan buru-buru
menuangkannya ke dalam ember untuk mandi pagi; ya,
semua itu masih akan bersamamu ketika aku tak lagi di
rumah ini.

Kursi kamar tamu yang dicakar-cakar kucing, lukisan
Bali yang miring lagi begitu diluruskan, buku-buku yang
bertebaran (seperti sampah!), meja makan rotan yang sudah
bosan politur, tempat sepatu yang penuh bekas bungkus
plastik, lemari es yang dengan sabar bertahan belasan
tahun, cangkir kopi dan mangkuk untuk sarapan bubur,
jam dinding yang detaknya tak kedengaran, kasur, bantal,
guling, seprei, pesawat telepon di dekat tempat tidur,
telepon selular yang biasanya aku bawa ke mana-mana:
semua masih akan bersamamu, sayang padamu.

Puisi: Segalanya
Puisi: Segalanya
Karya: Sapardi Djoko Damono
Read more

Puisi: Toilet (Karya Joko Pinurbo)

Toilet

(1)

Ia mencintai toilet lebih dari bagian-bagian lain
rumahnya. Ruang tamu boleh kelihatan suram,
ruang tidur boleh sedikit berantakan, ruang keluarga
boleh agak acak-acakan, tapi toilet harus
dijaga betul keindahan dan kenyamanannya.
Toilet adalah cermin jiwa, ruang suci, tempat
merayakan yang serba sakral dan serba misteri.

Bertahun-tahun kita mengembara mencari
wajah asli kita, padahal kita dapat dengan mudah
menemukannya, yakni saat bertahta di atas
lubang toilet. Karena itulah, barangkali, kita mudah
merasa was-was dan terancam bila melihat
atau mendengar kelebat orang dekat toilet
karena kita memang tidak ingin ada orang lain
mengintip wajah kita yang sebenarnya.

Demikianlah, ketika saya bertandang
ke rumahnya, tanpa saya tanya ia langsung berkata,
“Kalau mau ke toilet, terus saja lurus ke belakang,
putar sedikit ke kiri, kemudian belok kanan.”

Mungkin ia bermaksud memamerkan toiletnya
yang mewah. Begitu saya keluar dari toilet,
ia bertanya, “Dapat berapa butir?” Butir apa?

(2)

Nah, ia terbangun dari tidurnya yang murung
dan gelisah. Dengan bersungut-sungut ia berjalan
tergopoh-gopoh ke toilet. Keluar dari toilet,
wajahnya tampak sumringah, langkahnya santai,
matanya cerah: “Merdeka!” Sambil senyum-senyum
ia kembali tidur. Tidurnya damai dan pasrah.

Terus terang saya suka membayangkan
yang bukan-bukan kalau ia berlama-lama di toilet.
Apalagi tengah malam. Apalagi mendengar ia
terengah, mengerang, mengaduh, sesekali menjerit
lalu berseru, “Edan!” Seperti sedang
melepaskan rasa sakit yang tak tertahankan.

O ternyata ia sedang bertelur. Dan ia rajin ke toilet
malam-malam untuk mengerami telur-telurnya.
Bertahun-tahun ia bolak-balik antara kamar tidur
dan toilet untuk melihat apakah telur-telur
mimpinya dan telur-telur mautnya sudah menetas.

1999

Puisi: Toilet
Puisi: Toilet
Karya: Joko Pinurbo
Read more

Puisi: Kota Sunyi (Karya Joshua Igho)

Kota Sunyi

Kota tua, sunyi tak berpenghuni
sepenuh hari adalah temaram
sesekali tampak sekelebat bayangan
di bawah pendar cahaya
lalu menghilang di simpang jalan
sesekali terdengar suara-suara aneh
dari gudang samping kedai kopi
serupa tarikan nafas orang sekarat

dari kejauhan muncul kuda jantan
perempuan muda penunggangnya
berhenti di depan kedai kopi
perempuan itu masuk
tak lama kemudian
terdengar suara jeritan, lalu sunyi

teropongku masih tertuju ke arah itu
tiga pria bertubuh besar
datang berjaga di depan kedai kopi
dua orang bersenjata lengkap
berdiri tegap
seorang lagi hanya mondar-mandir
setiap orang yang datang
langsung diseret ke dalam
lalu terdengar jeritan, lalu sunyi

aku semakin gemetar memegang teropongku
nafasku melaju, seperti hendak menarik
sepenuh ragaku
tapi tiba-tiba lengan kiriku ada yang menarik
tubuhku terpental ke belakang
pria bertubuh besar itu menyeretku
turun, lalu masuk ke kedai kopi itu
kulihat puluhan mayat beku berserakan
darah berceceran di mana-mana
"jangan.. jangan bunuh aku" rontaku
pria itu mencambukku, dan terus mencambukku
"jangan.. jangan bunuh aku" pintaku
"tidak, karena sesungguhnya kau telah mati" katanya.

2014

Puisi: Kota Sunyi
Puisi: Kota Sunyi
Karya: Joshua Igho
Read more