Sepenuhnya

Tidak setengah-setengah.

Puisi: Tidur yang Panjang (Karya Emha Ainun Nadjib)

Puisi: Tidur yang Panjang (Karya Emha Ainun Nadjib)

Tidur yang Panjang (1)



aku takut Kautingalkan sendiri
di kamar ini, Kekasih

jika Kau pergi
tak hilang bayang di mataku

jika Kau berlalu
jika pun padam lampu-lampu


makin mendesak ke kasihku
makin menenggelamkan kalbu

Kekasih,
jangan pergi

aku takut terganggu sunyi
oleh bunyi nafasku

Kekasih,
tentukanlah nasibku

aku takut menempatkan diri
takut duduk, berdiri
ngeri memijak lantai

Kekasih,
genggamlah aku

takut aku bersentuhan
dengan apapun —


Tidur yang Panjang (2)



jangan ada suara
yang lirih pun
agar Sunyi terjaga

jangan ada suara
jangan seorang pun menyapa

segala percakapan
segala pertemuan, berlangsung
dalam diam

jangan ada suara, sungguh —
jangan ada bisikan apa-apa

kubaringkan tubuhku yang letih
kupejamkan mataku
yang kotor dan tak jernih

bertahan pada Sunyi, Kekasih
di tepi ranjang ini
kuingin Kau berjaga

membelai.


Tidur yang Panjang (3)



tak seorang pun akan menemukan kembali
sesudah perjalanan ke Dalam
tak bisa lagi dielakkan

cakrawala senantiasa membentang
bagai langit kelam dan gemintang
menyimpan gemuruh rindu dendam

aku memandangMu dari kejauhan
sambil terus berjalan
ingin memelihara seusap kebahagiaan

tapi bayangan bagai tak terkejar, bayangan
membuatku terus merasa lapar
dan bangun kembali setiap kali terkapar

selamat tinggal, kerabat-kerabat sedikit sekali kesempatan
untuk berpandang-pandangan, mengurus
kaki yang rusuh dan seribu keserakahan

tak seorang pun akan menemukanku kembali
tidak juga sejarah yang panjang
kecuali Bayangan yang kudambakan


Tidur yang Panjang (4)



bilik ini terbangun secara tak sengaja
hanya Engkau yang tahu, sebab aku
berkawan dengan para keledai

jika datang bertiup angin
yang kotor dan menyakitkan
aku berlindung di dalamnya

jika aku kangen saudaraku di luar
kusibakkan sedikit pintu
dan kuintip dengan pilu

tapi alangkah pedih mataku, setiap kali
melakukannya, tubuhku sakit-sakit ditimpa
udara buruk, dan lagi bilik ini berlobang-lobang kini

tolonglah, Kekasih
dari bilik ini kuingin langsung
— tanpa melewati udara sekeliling —

sampai ke rumahMu.


Tidur yang Panjang (5)



peristiwa-peristiwa sekarat di siang hari
kupujikan — meledaklah matahari
menggempur bumi

tapi senyap pepohonan, yang dihembus
angin malam hari, melemparkanku
ke haribaan-Mu

kini kutidur sepanjang hari
sepanjang kawan-kawanku berlupa diri

dan bila kehidupan itu sedikit berhenti
dan bila keserakahan istirah
di malam hari

kupenuhi rinduku padaMu
percaya pada kesenyapan
dan warna remang-remang


Tidur yang Panjang (6)



baiklah kita rahasiakan pertemuan ini, Kekasih
jendela kututup, selambu dan pintu-pintu
kini harus berani aku menolak tamu

di ranjang, terbujur
hari-hariku yang panjang
rusuh dan meletihkan

siapa berbisik-bisik di luar itu? — tidak,
tidak, tidak mungkin lagi aku percaya
pada segala yang nampak

matahari yang benderang adalah ejekan bagimu
kegelapan hati, persahabatan yang balau

kemunduran perasaan, batu-batu
sekali aku akan datang berada di tengahmu
tapi jangan salahkan kegaguanku
kebosanan dan sorot mata yang bisu

Kekasih, bisakah kekal pertemuan ini
sebab khawatir di tengah hiruk-pikuk ini
luput kembali bayanganMu.


Tidur yang Panjang (7)



— buat nasib yang koyak
tak ada lelaki sejati

hanya Kau!

maka, kuberlari ke luar rumah menuja ke timur dan menyongsong matahari yang bangkit, menatapnya dalam-dalam tepat di pusat matanya

impian-impian sesaat telah menjemukanku, tipuan-tipuan sikap dan kebijaksanaan teknis untuk menyelaraskan perjalanan tak lagi merupakan lelucon yang kubutuhkan, keyakinan sesobek-sesobek, fragmen-fragmen, dan kepercayaan yang senantiasa goyah terhadap kerja keras, tidur sekilas, minuman-minuman memabukkan atau sepotong sajak, kini telah sampai pada wujudnya sebagai keletihan yang sia-sia

maka kutatap matahari, tepat di pusat matanya!

matahari adalah pusat kehidupan, maka kubayangkanlah aku menatap bola mataMu, setidak-tidaknya memasuki goaMu

panas dan pedih menyergapku dan air mata mengucur deras, alangkah menggelegak jiwaku: ia adalah ongkos yang harus kubayarkan untuk bisa menghindarkan diri dari kepedihan dan dosa hidup sekelilingku

pohon-pohon bagai bergetaran dan awan bergeser ke tepian, jika ada yang menanyakan kemana aku akan pergi, katakan bahwa rasa panas dan sakit di mata bukanlah apa-apa

katakan bahwa aku kini berada dalam ruang yang tak terbatas dan cahaya amat cemerlang yang asing tapi terasa menghidupkanku kembali

perlahan-lahan warna ilu kemudian semakin meremang, meremang, dan akhirnya gelap sama sekali

tapi tidak padam! sebab cahaya benderang itu hanya dipindahkan dari lensa mataku, masuk ke dalam dasar jiwaku

mataku telah buta sama sekali
tapi makin erat Engkau
mendekapku

selamat tinggal
warna-warna kotor!

aku tinggal menunggu beberapa saat
untuk lenyap sama sekali dari daerah ini

— sebab buat nasib yang koyak
tak ada lelaki sejati,

hanya Kau!



Tidur yang Panjang (8)



impian-impian tak pernah berhenti
impian-impian bagai buih-buih awan meninggi
langit di ujungnya: langit kerinduan maya

impian-impian mendesak setiap dada
impian tentang kehidupan fana, gemerlap bunga-bunga
tapi impianku amatlah sederhana:

"Kekasih, jadikanlah aku keledai yang selalu gembira
dan tak ingat apa-apa

jika mautlah jalan yang bijaksana
kuharap segera Kau menentukannya

kurindukan tidur yang panjang di sorga".


Tidur yang Panjang (9)



ingin kulupakan kamu
kulupakan segala sesuatu
dalam tidur panjangku

ingin kupejamkan mata
dan kututup jendela-jendela
dan kupadamkan segala nyata

ingin kulupakan kamu
ingin sunyi dan beku
ingin sediam batu-batu

ingin kulupakan kamu
kulenyapkan dari ingatanku
dan kutindas dari ruangku

ingin kulupakan kamu
ingin kutolak semua tamu
ingin jadi keledai yang dungu.


Tidur yang Panjang (10)


(bisakah kali ini, Kau
tak membuntutiku
tak membuntutiku
dan tak mencegat langkahku?)

tapi di luar pintu, Kekasih
jagalah tidurku

Tidur Panjangku.


Sumber: Horison (September, 1978)

Emha Ainun Nadjib
Puisi: Tidur yang Panjang
Karya: Emha Ainun Nadjib

Biodata Emha Ainun Nadjib:
  • Muhammad Ainun Nadjib (Emha Ainun Nadjib atau kerap disapa Cak Nun atau Mbah Nun) lahir pada tanggal 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur, Indonesia.
Puisi: Ulat (Karya Emha Ainun Nadjib)

Puisi: Ulat (Karya Emha Ainun Nadjib)

Ulat (1)



aku bermimpi seekor ulat yang lunak tubuhnya bergeletar-geletar di permukaan kulit lengan kiriku menuju ke leher, hingga seluruh bulu-buluku berdiri karena putik kelembutanku diraba-raba olehnya

kuambil potongan kayu kecil untuk menjentiknya agar terlempar, tapi tak bisa, bahkan tiba-tiba seekor ulat lain yang bentuknya lentik dan penuh rambut halus menggeriap di permukaan kulit lengan kananku menuju ke leher

aku tersentak dan bangun — aku bergembira setengah mati karena kejadian itu hanya mimpi, tapi aku tak mau dalam ingatanku ulat itu masih menempel di kulitku dan aku tak mau ulat itu terseret mengusik-usik dan menggores kenanganku

aku ingin tidur lagi dan bermimpi menjentik ulat itu agar terlempar dan tak berjalan menuju tempat persembunyianKu, tapi tak bisa, setiap jari tanganku dengan potongan kayu kecil itu hendak menjentiknya, ribuan kaki-kakinya sang berbaris menempel erat-erat ke kulitku hingga terasa juga di rongga dadaku

maka terpaksa kupotong lengan kiriku dan lengan kananku dan darah mengucur deras, mengucur terus dan tak kunjung tuntas, tapi dari arah dadaku mendadak muncul seekor ulat yang warnanya menggeriapkanku sehingga kulit-kulitku tak berani bersentuhan dengan apapun, bahkan kedua telapak kakiku ingin meloncat dan terbang saja agar tidak menyentuh tanah

tapi celaka, dan arah ubunku, keningku, pipiku, terasa ulat-ulat berjalan mengoles-oleskan kelembutannya, semua menuju ke leher! — aku tak mau maka kuiris pipiku, kucungkil ubunku dan kusayat-sayat dadaku, aku tak mau ulat-ulat itu diam-diam berduyun-duyun menuju lubang gelap persembunyianKu dan mengancamku, tapi wahai, di leherku tiba-tiba telah berkerumun menempel ulat-ulat itu menggeriap kulit tubuhku, mengkesiap nyawaku dan mencelupkanku ke dalam cairan lenderMu! — yang membuatku takut bergerak dan tak berani tidak bergerak, yang membuat jantungku takut berdenyut dan tak berani tidak berdenyut . . .


Ulat (2)



ulat-ulat bergantungan di meja, di jendela, di pintu, di kursi, di gantungan pakaian, di buku-buku, di langit-langit bilikku, ulat-ulat melata di setiap helai rambutku, di alisku, di hidungku, di telingaku, di tanganku, di tiap jari kakiku, ulat-ulat bergelantungan dan melata di sekujur tubuhku ulat-ulat bergelantungan dan melata di batinku hingga penuh tolong sirnakan aku sebab aku takut bertempat dan menempatkan diri . . .


1976

Sumber: Horison (September, 1978)

Emha Ainun Nadjib
Puisi: Ulat
Karya: Emha Ainun Nadjib

Biodata Emha Ainun Nadjib:
  • Muhammad Ainun Nadjib (Emha Ainun Nadjib atau kerap disapa Cak Nun atau Mbah Nun) lahir pada tanggal 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur, Indonesia.
Puisi: Solitude (Karya Emha Ainun Nadjib)

Puisi: Solitude (Karya Emha Ainun Nadjib)

Solitude (1)



(1)


lewat daun jendela yang kubuka angin melompat masuk,
        menyapu bulu-bulu seluruh tubuhku
ia pun bergayut roboh karenanya dan sentuhan ujung
        bulu-bulu itu di kulitku terasa menggeremang
        sesuatu yang lebih dalam di rongga jiwaku

"aku menyesal kenapa kubuka jendela itu."


(2)


dingin yang dibawanya tanpa setahuku tiba-tiba memba-
        ringkan bayangan yang asing di sisiku
aku tak perduli dan lantas duduk tapi jelas tak bisa kusem-
        bunyikan tubuhku yang menggigil diam-diam

"siapakah engkau yang seakan bermaksud menemaniku
        tidur malam bagai seorang kenalan yang setiap
        kali datang dan setiap kali menghilang?"


(3)


kututup jendela itu rapat-rapat — selamat malam dan
        tidurlah bulan yang sunyi, langit kelam dan pe-
        pohonan yang bergoyang-goyang
selamat tinggal segala kehidupan di luar jendela, segala
        kenangan tentang handai tolan serta impian-
        impian masa datang

"kuharap tak seorang pun mengetuk pintu atau berteriak-
teriak mengganggu"


(4)


namun dengan cara apakah, Tuhan, kuraba-rabakan ta-
        nganku sehingga tangan di dalam batinku bisa
        berpegangan
aku tak mengerti untuk apa kau selenggarakan waktu,
        ruang dan segala kefanaan yang terikat olehnya
buku-buku di depanku, pisau, kalender, gelas minuman
        dan sepatu kotor yang makin memperpanjang
        perjalanan dan memencilkan cintaku padaMu dan
        kasihMu padaku


(5)


aku takut, sungguh aku takut, Tuhan, amat berbahaya
        permainan ini
jika terbaring, tidur, itulah saat terbaik

"Tuhan, bebaskan aku dari mimpi, keinginan-keinginan
        dan siuman di pagi hari"


Sumber: Horison (September, 1978)

Emha Ainun Nadjib
Puisi: Solitude
Karya: Emha Ainun Nadjib

Biodata Emha Ainun Nadjib:
  • Muhammad Ainun Nadjib (Emha Ainun Nadjib atau kerap disapa Cak Nun atau Mbah Nun) lahir pada tanggal 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur, Indonesia.
Puisi: Sabana (Karya Emha Ainun Nadjib)

Puisi: Sabana (Karya Emha Ainun Nadjib)

Sabana (2)



sabana
    di bukit kemarau
sabana
    bangkitkan rinduku

senyap wajahMu memejam selipu salju
penyap sukmaku lebur di atas mimpiku

sabana
    gembala anganku
sabana
    ranumlah risauku

langit biru mencabik segenap cintaku
musim tak selesai menggiring kasihMu


Januari, 1974

Sumber: Horison (Mei, 1975)

Emha Ainun Nadjib
Puisi: Sabana
Karya: Emha Ainun Nadjib

Biodata Emha Ainun Nadjib:
  • Muhammad Ainun Nadjib (Emha Ainun Nadjib atau kerap disapa Cak Nun atau Mbah Nun) lahir pada tanggal 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur, Indonesia.
Puisi: Sajak Jatuh Cinta (Karya Emha Ainun Nadjib)

Puisi: Sajak Jatuh Cinta (Karya Emha Ainun Nadjib)

Sajak Jatuh Cinta



Kerna ini bunga
Maka ciumlah dengan bening jiwa

Kerna ini sajak
Maka terimalah dengan mripat kanak-kanak

    Gugusan mendung yang ranum!
        Menggugurkan hujan ke bumi
            Dari langit jauh Engkau bagai telah turun
                Pada air. Pada tanah. Dan pada sunyi

                Kemudian senyap sesaat
            Tuhan melintaskan syafaat
        Kemudian daun-daun bersijingkat
    Dalam pesona memikat

Kerna ini bunga, dik
Maka ciumlah dengan bening jiwa

Kerna ini sajak, dik
Maka terimalah dengan mripat kanak-kanak.


Sumber: Bulak Sumur - Malioboro (1975)

Emha Ainun Nadjib
Puisi: Sajak Jatuh Cinta
Karya: Emha Ainun Nadjib

Biodata Emha Ainun Nadjib:
  • Muhammad Ainun Nadjib (Emha Ainun Nadjib atau kerap disapa Cak Nun atau Mbah Nun) lahir pada tanggal 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur, Indonesia.
Puisi: Bulan Sekerat (Karya Handrawan Nadesul)

Puisi: Bulan Sekerat (Karya Handrawan Nadesul)

Bulan Sekerat di Marpangat 468

Sebuah elegi buat pak piek


Duduk di beranda rumah tua
Kursi, taplak meja, potret dinding
Termangu sendiri
Seperti masih menyimpan angin
Kicau burung, suara daun,
Dan hati yang lama
Adakah tersisa di situ
Getar-getar lagu yang dulu
Dulu sekali
Ketika kita sama-sama pernah menyanyi
Ingin rasanya itu kini kembali

    Tapi hari-hari tak bisa ditarik lagi
    Jauh angin dari kenangan
    Setelah sebegitu lama kita terbang
    Dan selalu pernah ada waktu bertemu
    Rasanya ingin kita ulang bayang-bayang
    Saat-saat kita bersama tertawa
    Saat kita bicarakan bintang
    Kita lukis wangi bunga
    Kita pahat bulatnya bulan
    Tenang langit, gemericik sungai, suara lautan
    Atau apa saja yang pernah kita risaukan
    Dan sekarang tinggal catatan

Lembaran-lembaran lama yang panjang itu
Biar sekarang kita balik-balik kembali
Ingat Marpangat ingat sekerat bulan
Jangan sampai keratan hidup itu
Terhapus dari lukisan milik siapa-siapa
Yang sedang mengenangkannya
Di sini
Saat angin, kicau burung, suara daun
Masih juga terasa seperti yang dulu
Hari ketika kita sedang sama-sama menunggu
Ternyata tinggal bayang-bayang.


Catatan:
Puisi ini masih tergantung pada dinding depan pintu masuk Rumah Sastra Gang Marpangat 468 (sekarang Jalan Ciremei) Tegal kediaman, base camp Piek Ardijanto Soeprijadi tempat mampir banyak pecinta sastra dari segala penjuru nusantara.

Handrawan Nadesul
Puisi: Bulan Sekerat di Marpangat 468
Karya: Handrawan Nadesul

Biodata Handrawan Nadesul:
  • Dr. Handrawan Nadesul (Gouw Han Goan) lahir pada tanggal 31 Desember 1948 di Karawang, Jawa Barat.
Puisi: Buku-Buku (Karya Bakdi Soemanto)

Puisi: Buku-Buku (Karya Bakdi Soemanto)

Buku-Buku


Buku-buku memberi santapan pikiran
saya berharap:
pikiran lantas terbuka
kepada kehidupan.

Buku-buku memberi santapan jiwa
saya berharap:
jiwa menjadi luas
untuk menampung duka.

Buku-buku memberi santapan sukma
saya berharap:
sukma melimpahkan ampun
bagi sesama yang telah melukai kita.

Buku-buku memberi petunjuk-petunjuk
saya berharap:
petunjuk-petunjuk tidak usah menjadi mutlak
karena itu hanya sekedar suatu kemungkinan.

Buku-buku adalah cakrawala
yang terbuka kepada kita
karena pikiran dan sukma
sedia dibuka
dan terbuka
terhadap setiap kemungkinan;
juga
terhadap rahasia-rahasia
nurani alam semesta.


Yogya, 11 Februari 1975

Sumber: Bulak Sumur - Malioboro (1975)

Bakdi Soemanto
Puisi: Buku-Buku
Karya: Bakdi Soemanto

Biodata Bakdi Soemanto:
  • Prof. Dr. Christophorus Soebakdi Soemanto, S.U lahir pada tanggal 29 Oktober 1941 di Solo, Jawa Tengah.
  • Prof. Dr. Christophorus Soebakdi Soemanto, S.U meninggal dunia pada tanggal 11 Oktober 2014 (pada umur 72 tahun) di Yogyakarta.
Puisi: Seekor Kupu-Kupu Menggelepar di Jalan Raya (Karya Adri Darmadji Woko)

Puisi: Seekor Kupu-Kupu Menggelepar di Jalan Raya (Karya Adri Darmadji Woko)

Seekor Kupu-Kupu

Menggelepar di Jalan Raya



Menggelepar di jalan raya
seekor kupu-kupu
ketika hari siang. Udara
membasahkan baju.

Seekor kupu-kupu menggelepar.
Daun-daun pun melambaikan
kenangan. Tersadar!
Rindu tak lagi kesampaian.

Di sini: bersama bayang-bayang
tak kenal lelah. Demikian panjang
harap kian tersia. Hingga di sini
matahari semakin membelakangi.


1973

Sumber: Horison (Oktober, 1974)

Adri Darmadji Woko
Puisi: Seekor Kupu-Kupu Menggelepar di Jalan Raya
Karya: Adri Darmadji Woko

Biodata Adri Darmadji Woko:
  • Adri Darmadji Woko lahir pada tanggal 28 Juni 1951 di Yogyakarta.
Puisi: Nyanyian Malam (Karya Rita Oetoro)

Puisi: Nyanyian Malam (Karya Rita Oetoro)

Nyanyian Malam



terbaring kita dalam kehampaan ruang
dan waktu, nyalang memandang taburan
cahaya gemintang

tidak juga lelap mimpi menenggelamkan
gelora sukma, mengajuk
angan kita dengan kemesraan yang
penghabisan



1992

Sumber: Sangkakala (1996)

Rita Oetoro
Puisi: Nyanyian Malam
Karya: Rita Oetoro

Biodata Rita Oetoro:
  • Rita Oetoro (Rita Cascia Saraswati atau Rita Oey) lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, pada tanggal 6 Desember 1943.
Puisi: Embun yang Turun (Karya Landung Simatupang)

Puisi: Embun yang Turun (Karya Landung Simatupang)

Embun yang Turun



embun yang turun
mengejangkan rambutmu malam ini
sepi januari telah tiba
aneh, seperti mega
yang mengembang tanpa suara
serasa mengancam meski tak meminta

ah betapa bisa kita menuliskan usia
kisah mimpi-mimpi kita
kemenangan-kemenangan yang pada waktunya
kalah dan menyerah juga

risau januari telah terhirup
ketika di jendela aku melihatmu
bersatu dengan kabut

betapa kita jauh dari percakapan
dan selalu gagal memelihara kebisuan



1975

Sumber: Bulak Sumur Malioboro (Antologi Puisi, 1975)

Landung Simatupang
Puisi: Embun yang Turun
Karya: Landung Simatupang

Biodata Landung Simatupang:
  • Yohanes Rusyanto Landung Laksono Simatuandung Simatupang lahir pada tanggal 25 November 1951 di Yogyakarta.
Ini Cara dan Syarat yang Harus Diperhatikan untuk Membuka Rekening BRI secara Online

Ini Cara dan Syarat yang Harus Diperhatikan untuk Membuka Rekening BRI secara Online

Siapa yang dekat-dekat ini berencana untuk membuka rekening bank? Jika ada, kamu bisa mulai pertimbangkan untuk membuka rekening di bank BRI. Bank BRI sebagai salah satu bank milik pemerintah yang terbesar di Indonesia selalu menanamkan nilai jujur dan dapat dipercaya oleh para nasabah.

Di sisi lain, bank BRI selalu memberikan kemudahan bagi para nasabahnya dengan beragam fasilitas, salah satunya adalah BRI mobile banking. Layanan tersebut memudahkan nasabah dalam melakukan beragam transaksi, seperti pembelian token listrik, pulsa, tiket KAI, hingga melakukan transaksi di e-commerce.


buka rekening bri online


Tidak hanya itu saja, BRI juga menyediakan Fitur Buka Rekening Digital Saving, buka rekening jaman now, di mana calon nasabah dapat membuka rekening BRI melalui online tanpa perlu pergi ke kantor cabang BRI terdekat.

Nah, bagi calon nasabah yang kebingungan ingin membuka rekening BRI secara online, dalam artikel ini akan menjelaskan syarat dan cara membuka rekening via online lewat website. Sebelum melangkah ke pembahasan tata cara pendaftaran, berikut ada syarat-syarat yang harus kamu persiapkan:

  • Foto KTP.
  • NPWP.
  • Data diri.

Setelah persyaratan di atas sudah dipenuhi, berikut cara membuka rekening secara online:

  • Buka situs www.bukarekening.bri.co.id.
  • Tekan “Buka Rekening” di bagian home.
  • Klik lagi menu “Buka Rekening” di bagian bawah layar baru.
  • Pilih salah satu produk tabungan BRI (BritAma, Britama X, BritAma Bisnis), lalu baca persyaratannya.
  • Kemudian, klik menu “Pilih Rekening”.
  • Tuliskan pilihan kantor cabang BRI di kolom, lalu tekan Enter.
  • Klik lokasi kantor cabang BRI yang dipilih.
  • Lengkapi persyaratan dokumen seperti foto KTP, NPWP opsional, beserta data diri.
  • Setelah itu, lakukan video recording untuk verifikasi diri.
  • Mulai siapkan uang setoran awal untuk mengaktifkan rekening BRI.
  • Selesai! Kamu tinggal mengunduh aplikasi BRImo dan melakukan pendaftaran lewat ATM atau kantor cabang BRI terdekat.

Buka rekening jaman now dari BRI memang memudahkan calon nasabah untuk membuka rekening baru BRI. Pasalnya, fitur tersebut sangat menghemat waktu calon nasabah yang tidak sempat ke kantor cabang BRI terdekat untuk membuka rekening.

Selain itu, kamu juga tidak perlu capek mengantri di bank. Menarik, bukan? Yuk, segera buka rekening BRI-mu lewat online sekarang juga!

Cuaca di Indonesia Akhir-Akhir Ini

Cuaca di Indonesia Akhir-Akhir Ini

Menurut bmkg "Wilayah yang diprakirakan mengalami hujan kategori tinggi-sangat tinggi (>150 mm/dasarian): Pada Okt III meliputi Sebagian Aceh, Sebagian Sumatera Utara, Sumatera Barat bagian utara, Jambi bagian barat, Sebagian Bengkulu, Sumatera Selatan bagian tengah, Sebagian Bangka Belitung, Banten bagian timur, Sebagian besar Jawa Barat, Sebagian Jawa Tengah, Sebagian Jawa Timur, Sebagian Bali, Sebagian NTT, Sebagian Kalimantan Barat, Sebagian Kalimantan Utara, dan Sebagian Sulawesi Barat."

Hujan yang terjadi hampir merata di seluruh Indonesia menyebabkan banyak terjadinya bencana alam.

Cuaca yang buruk di Indonesia seperti hujan yang berkepanjangan tidak lepas dari bencana alam yang sering terjadi. Banjir dan tanah longsor merupakan bencana alam yang menjadi bulan-bulanan setiap tahunnya di Indonesia.

Akhir-akhir ini salah satu tempat wisata terindah di Indonesia yaitu Bali juga ikut terendam banjir, ada enam titik di daerah Bali yang terendam banjir, dan pada akhirnya banyak warga, wisatawan bahkan turis yang harus dievakuasi dari tempat kejadian banjir dengan menggunakan perahu.


Cuaca di Indonesia Akhir-Akhir Ini
balipost.com


Ini semua disebabkan akibat alih fungsi lahan yang massif dan proyek infrastuktur yang kurang memperhatikan daya dukung lingkungan.

Tidak hanya banjir, tanah longsor juga banyak terjadi di tempat-tempat tinggi yang bahkan menelan banyak korban jiwa. Banyak warga cemas karena cuaca yang tidak baik ini karena terkadang hujan disertai angin bahkan angin puting beliung bisa menyebabkan banyak rumah/ruko yang rusak berantakan.

Diperkirakannya iklim yang buruk hingga beberapa bulan ini banyak anak-anak kecil, orang dewasa bahkan orang tua yang daya tahan tubuhnya menurun akibat perubahan cuaca ini.

Jadi, marilah kita warga Indonesia yang cinta akan tanah air ini menjaga, merawat dan melindungi negara ini dengan baik.

Jadikan bangsa Indonesia bangsa yang memiliki segenap keindahan ini tertata rapi. Jangan merusak alam yang indah ini dengan keegoisan semata, keegoisan yang bisa merugikan banyak kalangan.

Mari kita sebagai warga negara Indonesia yang adil dan makmur saling menjaga satu dengan yang lainnya.


Profil Penulis:

Nuzulul Miftahul Janah, lahir dan menetap di Karanganyar. Sedang menempuh pendidikan S1 di Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dapat dihubungi melalui nomor telepon (08985325520) dan surel [email protected]

Mitos atau Fakta: Parasetamol Obat Pereda Stres?

Mitos atau Fakta: Parasetamol Obat Pereda Stres?

Sudah banyak beredar di media sosial, kasus penggunaan parasetamol untuk meredakan stres. Padahal pada dasarnya kegunaan dari parasetamol adalah sebagai obat pereda panas ataupun nyeri. Akan tetapi, para pemuda zaman sekarang menyalahgunakannya sebagai penghilang stres dan penenang pikiran yang sedang penuh akan masalah.

Dikutip dari postingan pada salah satu base di Twitter yang berisi status WhatsApp dari teman pengirim postingan tersebut, "Mending jedotin kepala atau minum Parasetamol?". Postingan tersebut menunjukkan betapa frustasinya pemuda itu.

Dari postingan tersebut juga muncul berbagai komentar dari netizen, banyak yang berusaha mendukung dan menasehatinya supaya tidak melakukan hal yang tidak diinginkan, banyak pula yang julid karena penggunaan parasetamol sebagai obat penenang. "Kok orang-orang makin aneh aja ya, yang gue tau parasetamol buat penurun panas, ternyata buat penurun stres juga ya wkwk," begitu kira-kira isi komentar tersebut.

Sebenarnya kenapa sih parasetamol mereka jadikan obat penenang saat pikiran mereka sedang kalut?

Ternyata setelah ditemui dari berbagai balasan orang yang mengonsumsinya juga, mereka mengatakan bahwa penyebab mereka mengonsumsinya karena efek samping dari obat tersebut yang dapat membuat kita mudah untuk tidur dan merilekskan pikiran.

Mereka bahkan mengonsumsinya dalam beberapa hari berturut-turut, yang mana hal itu membuat sebuah rasa ketergantungan.

Mereka yang sudah kecanduan obat parasetamol, ketika sedang pusing atau banyak pikiran pasti langsung meminumnya.


Parasetamol Obat Pereda Stres


Pada masa itu, gue lagi stres dan penat, lalu coba untuk mengonsumsi parasetamol, eh ringan dan penat juga serasa ilang dong, jadinya penat dikit, ambil obat, penat dikit ambil obat, dan berulang terus, tanggapan salah satu pengguna Twitter yang sadar kalau dirinya ketagihan parsetamol dan alhamdulillah-nya sekarang sudah tidak seperti itu lagi.

Pasti banyak yang berpikir, "Kenapa enggak beli obat tidur aja ya?"

Ya, hal itu terserah mereka yang mau mengonsumsi, menurut saya pribadi, mungkin saja parasetamol lebih mudah dicari dan dijual bebas di warung obat ataupun apotek tanpa adanya resep dokter. Parasetamol juga terlihat lebih "waras" untuk dikonsumsi dibandingkan dengan obat penenang lain.

Nah, sebenarnya mengonsumsi parasetamol sebagai pereda stres itu baik atau tidak sih?

Tak sedikit orang yang mengonsumsi parasetamol sebagai obat penenang saat stres, bahkan banyak pula yang ingin mencoba cara tersebut atau istilah lainnya "termotivasi" untuk ikut mengonsumsi parasetamol saat keadaan stres, tidak demam ataupun nyeri seperti guna parasetamol yang seharusnya. (Mungkin saja nyeri hati, hehehe.)

Sebenarnya, baru-baru ini saja ada berita hangat mengenai kandungan sirup parasetamol yang sering dikonsumsi anak-anak tidak baik bagi kesehatan ginjal. Bahkan, hal ini sudah disoroti dari berbagai badan yang mengurusi tentang obat-obatan yang telah beredar seperti BPOM dan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).

Meskipun yang menjadi sorotan adalah sirup parasetamol, tidak menutup kemungkinan bahwa parasetamol dengan bentuk lain juga aman dikonsumsi, apalagi tanpa adanya resep dokter dan mengonsumsinya dengan kadar yang tinggi.

Dikutip dari salah satu artikel di website Alodokter, jika menggunakan parasetamol secara berlebihan dapat muncul beberapa efek samping berikut:

  1. Sakit kepala;
  2. Mual atau muntah;
  3. Sulit tidur;
  4. Perut bagian atas terasa sakit;
  5. Urin berwarna gelap;
  6. Lelah yang tidak biasa;
  7. Penyakit kuning:

Maka dari itu, kita dapat menilai sendiri baik atau tidaknya mengonsumsi parasetamol sebagai obat penenang bagi tubuh kita. Baik anak-anak ataupun orang dewasa, tetap saja tidak baik, apalagi hal ini sudah termasuk penyalahgunaan obat-obatan.

Menurut pandangan saya, orang-orang yang mengonsumsi parasetamol sebagai obat penenang dapat disamakan dengan orang-orang yang melampiaskan emosinya atau kesehatan mentalnya sedang terganggu dan memilih menyakiti dirinya sendiri seperti self-harming.

Mungkin mereka yang mengonsumsi parasetamol melampiaskan atau mengalihkannya dengan efek dari obat tersebut, dibandingkan jika harus menyakiti dirinya sendiri secara langsung. Mereka yang melakukan self-harm juga menyakiti dirinya dengan sengaja untuk meredakan rasa sakitnya yang lain.

Lalu apakah berarti mengonsumsi parasetamol dibenarkan daripada self-harm? Tentu saja tidak, karena dengan mengonsumsi parasetamol berlebih juga sama saja dengan menyakiti diri sendiri, hanya saja proses dan modelnya saja yang berbeda.

Meskipun dampak dari parasetamol tidak langsung dirasakan, tetapi dampaknya akan berjangka panjang dan berakibat fatal, misalnya kerusakan liver dan ginjal, sesak napas, kurang darah atau anemia, dan bahkan mengalami kematian jika overdosis.

Jadi, berhati-hatilah dalam mengonsumsi sesuatu walaupun sudah terbukti aman, kita tidak tahu jika berlebihan, apakah akan tetap aman?

Jangan begitu ya Readers, karena mau bagaimana pun segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Daripada kalian mencari pelampiasan, mending cerita ke teman-teman terdekatmu untuk mengurangi beban yang kalian pikirkan. Kalian juga bisa mengadukannya kepada Tuhan dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, percayalah nanti pasti akan diberi jalan kok, tenang aja.

Mau merilekskan pikiran? Mendingan kamu coba mendengarkan musik atau mendengarkan suara-suara alam yang menenangkan sambil tutup mata, dijamin akan cepat mengantarmu ke alam mimpi.

Semoga mimpimu indah terus, see you.


Biodata Penulis:

Amelia Nur Fadhila lahir pada tanggal 28 April 2002 di Cilacap. Saat ini ia sedang menempuh jenjang S1 Pendidikan Kimia di Universitas Sebelas Maret Surakarta.