Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ibu

tak perlu kau risau, ibu
jejak langkah cintaku telah terhenti di sini
selalu saja ada bagian dari keheninganku
yang lindap

ibu, dengan kasih apa kau asuh aku
belajar paham akan cinta bumi
yang mempersembahkan ketulusan hati
bagi mereka yang selalu merasa lapar

jalan mana lagi mesti kutempuh
sebagai pecinta sekaligus pesakitan
aku telah merasa paham
sebagai bagian dari semesta alam

biarlah aku di sini, ibu
tak perlu kau risaukan lagi aku

1996
Puisi: Ibu
Puisi: Ibu
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Baca Juga: Puisi untuk Nenek
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Buahbatu, Bandung

di Buahbatu kutemukan diriku
menyapih jejak silam
berceloteh anggur merah
mereguk malam hingga sumsum

di Buahbatu
para sahabat menggurat namaku
di tembok-tembok kafe kampus
seakan mengekalkan kenangan
dalam gemuruh kota

di Buahbatu
petikan kecapi dan nyanyian perkusi
mengiringi jiwaku
silaturahmi dengan jiwamu

di Buahbatu
akik, anggur merah, arak
dan wajah Tuhan yang pucat
merasuki malam laknat

di Buahbatu
waktu seperti beludru
menghampar lembut rindu
pertemuan…

Puisi: Di Buahbatu, Bandung
Puisi: Di Buahbatu, Bandung
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Baca Juga: Puisi tentang Pelangi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pedawa, Buleleng

dari jantungmu
cinta jatuh
kabut memungutnya
perlahan

aku ingin kau putih bunga kopi
atau penuh kasih serupa kabut
yang menghayati rindu
dari kejauhan

di relung batin kau
menyekap kemarau
keheningan macam inikah
yang kita kangeni

pepohonan melepas kering daunnya
kembali ke pembaringan waktu

ke asal diri
sunyi menjelma tetes air
julangan karang cadas
dalam jiwaku penuh lubang
air cinta siapa menggerusnya
hingga aku menjadi lumpur
hanyut ke muara yang jauh

1997
Puisi Pedawa, Buleleng
Puisi: Pedawa, Buleleng
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Baca Juga: Puisi untuk Gebetan
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Dago Tea House

cahaya senja menerpa wajah
hujan telah lama reda
di reranting cemara rapuh
di atap-atap sirap pendapa

seulas senyum
tiba di muka pintu
secerah tatap mata
yang coba padamkan senja

tapi senja tak pernah padam

“kau samar dalam mimpiku,” serumu

dan senja kembali paripurna

mengapa kau tak percaya
kata milik pengembara
mampu hangat
sekaligus laknat

“karena aku menggenggam udara,” tukasmu

tapi kau pergi
tanpa kata-kata janji
tapi aku pergi
tanpa pamit pada puisi

lalu kau ramu serpih-serpih kenang
di ujung senja yang hampir lekang

dan suara hujan telah henti
sedari tadi

Juli, 2005
Puisi: Di Dago Tea House
Puisi: Di Dago Tea House
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Baca Juga: Puisi Menyesal
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Segala Letih Kita

setelah kau rajah dada kiriku
dengan duri itu, jadilah kesunyianku
gambar mawarku

apalah daya. segala letih kita
telah tercatat di setiap peristiwa
hingga sayatan demi sayatan luka
mengembun

kita telah jenuh dengan segala kesabaran
mesti asah belati
tikamkan bertubi-tubi
pada setiap wajah
topeng-topeng yang datang
silih berganti mengantar nyawa kita
ke tubuh letih ini

rajahlah lagi sebelah dadaku
dengan duri mawar beracun itu
biarkan aku tandas

1997
Puisi: Segala Letih Kita
Puisi: Segala Letih Kita
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Baca Juga: Puisi tentang Ziarah
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perempuan dan Kupu-kupu

perempuan tua itu menjelma kupu-kupu
lalu membelit menjadi ular. lalu
menguap jadi embun. lalu
tumbuh menjelma bunga. lalu…

gadis mungil memetik bunga
dulu ia seorang nenek renta

dari tepi sungai kulihat perempuan muda
mencuci kenangan. membelai ranum payudara
dan samun turun membungkus tubuhnya

hanya puisi di sini. hanya
samun. perempuan tua itu
bicara padaku perihal kupu-kupu
yang tumbuh menjelma bunga

1997
Puisi: Perempuan dan Kupu-kupu
Puisi: Perempuan dan Kupu-kupu
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Baca Juga: Puisi tentang Wayang
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Hutan Cemara

hanya ular di rerimbun
daun cemara. mendesis
pun kabut di hati kita. mendesis

"tuangkan desis itu lekas
ke dalam hausku!"
rintihmu

kita peluk kabut
cemara menggumam: khuldi! khuldi!
kau lelap. tidurmu masih
memeram gelora gairah
yang kuhembus dari rusukku

bila kau cemara dari beribu cemara
akulah pokok purba
yang membawamu sampai puncak

pendakian nyaris sempurna
selebihnya: malam yang cemas
kabut yang sesat

1997
Puisi: Hutan Cemara
Puisi: Hutan Cemara
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Baca Juga: Puisi tentang Ulat
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Situs Candi Gunung Kawi

Bayangan candi:
wujud masa silam yang meleleh
ke dalam genang kenangan seorang bocah gembala
Penggalan kepala patung terjatuh
Menilik senja
Menebar pesona wangi yang aneh
Menjalar dalam alir nadiku
Sungguh terasa sunyi
Menelusuri jalan setapak berliku,
setapak masa silam
yang meranggaskan aku ke bumi
beribu ribu kali
Seperti penggalan kepala patung itu,
menjelma Brahmana, Ksatria, Waisya,
Sudra, bahkan Paria. Kulakoni semua itu
Hingga tiba pada sebuah telaga,
aliran tiga mata air dewa
ke situ Kau tuntun aku
bagai keledai dungu
Membasuh wajah, tangan, kaki. Melebur jiwa
dalam wangi bunga, harum dupa, hening tirta
Hingga mite Mayadenawa, dewa dewi, bianglala
menguap bersama gemerincing uang kepeng dan
taburan dolar para peziarah
Sungguh terasa sunyi
Sendiri menciumi wangi tubuhmu, Batu Padas
Pahatan purba yang bangkitkan sayup sayup kenangan
Nelangsa doa:
aku asing di mataMu
Kau asing di mataku
Namun selalu kita saling belit
Serupa sepasang Naga kasmaran
Tunggal
Hening

Di antara gurat dan retak candi
Bayang bayang tubuhMu meleleh
Di sebuah jalan setapak
Menjelma embun
Memisahkan dunia gaib kita
Satu hal yang mutlak:
Aku terperangkap dalam ruang dalam waktu
karena karma
karena punarbhawa
Tak paham kapan awal kapan akhir letih ini
Tapi yakin,
kerinduan kepada Ibu,
mula denyut waktu
Lebih suci dari beribu sajen beribu upacara
yang menuntaskan wujudmu,
O, candi candi tua
Arca arca dewa
Semua meleleh bagai cairan darah tabuh rah
Meleleh ke palung paling kasih
dari hidupku.

1997
Puisi: Situs Candi Gunung Kawi
Puisi: Situs Candi Gunung Kawi
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Baca Juga: Puisi tentang Tumbal
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Taman yang Kau Impikan

rahasia yang semayam
dalam taman
beri aku seteguk waktu
untuk memahami adamu
saat cahaya bulan
mendedah tubuhku

letih aku menggapaimu
hari-hari berlari
seperti amis darah sendiri

pada punggung bebukitan
rambut legam menjuntai
dan matamu adalah sumber air
rasa haru pada wajah langit
kau adalah rahasia
dari sekelumit perjalanan
di akhir waktu

pengembara akan mati dalam kesepiannya
sebab ragu pada rumah
atau mencerca tanya pada persinggahan
aku memilih celah paling kelam dari malam
duduk mengenang hari-hari lalu
atau tawar menawar dengan sisa-sisa waktu
untuk sebuah kemungkinan makna

kau adalah keutuhan bagi rusukku
mengalir menjadi darah dalam nadi
menangislah selalu
di taman yang kau impikan

1999
Puisi: Taman yang Kau Impikan
Puisi: Taman yang Kau Impikan
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Baca Juga: Puisi tentang Tidur
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Haya

kugambar parasmu pada pasir
suara harmonika, laju perahu
ke arah senja mengalir

angin garam
meniup usia diam diam
waktu, apakah aku?

senja surut
kabut susut
perahu luput

hanya angin
melambai lamban
di pucuk pandan

2000
Puisi: Haya
Puisi: Haya
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Baca Juga: Puisi tentang Telepon