Tips Agar Pakaian Tetap Harum Selama Ramadhan

Bau pakaian yang wangi akan menambah percaya diri kepada yang mengenakannya. Pakaian dengan bau yang apek akan membuat kita tak nyaman. Ingin agar pakaian yang kamu gunakan jadi wangi dan segar lebih lama? Ternyata, tidak perlu repot-repot membawanya ke laudry.

Tips Agar Pakaian Tetap Harum

Kamu bisa melakukannya di rumah dengan mengikuti tips di bawah ini.


1. Rendam pakaian pada waktu yang cukup

Agar pakaianmu memiliki wangi yang sempurna, sebaiknya tidak merendam pakaian terlalu lama. Lakukan proses pencucian yang dimulai dari merendam pakaian selama kurang lebih 10 menit saja.

Lalu jangan lupa mengganti airnya untuk mencuci, membilas, dan merendam dengan pelembut pakaian yang sebaiknya menggunakan air berbeda.

Hal ini dilakukan untuk menghindarkan sisa kotoran yang terbawa dari cucian.


2. Peras pakaian yang telah dicuci agar kotoran tidak menempel kembali di pakaian

Setelah melakukan proses mencuci pakaian telah selesai, sebaiknya segera memeras pakaian tersebut dan jangan dibiarkan begitu saja dengan busa kotor.

Setelah diperas, barulah melanjutkan proses merendam pakaian dengan cairan pewangi khusus.


3. Segera jemur pakaian yang sudah dikeringkan agar bakteri tidak menempel

Jika kamu sudah selesai mengeringkan pakaian, langkah selanjutnya adalah segeralah menjemur pakaian. Hindari terlalu lama mendiamkan pakaian yang sudah dibilas di dalam ember atau mesin cuci, hal tersebut bisa membuat bakteri tak kasat mata mulai berkembang dan menimbulkan bau tak sedap.

Hindari menjemur pakaian di bawah terik matahari langsung, jadi jemurlah pakaian dengan cara diangin-anginkan di tempat teduh dengan sirkulasi udara yang baik agar pakaian tetap harum.


4. Menyetrika dengan menggunakan pelicin pakaian agar lebih wangi

Jika ingin pakaianmu tetap wangi sepanjang hari dan awet dalam waktu yang lama, sebaiknya melakukan proses menyetrika dengan menggunakan pelembut pakaian royale soklin. Penggunaan royale soklin dapat membuat baju jadi lebih wangi lagi dan aroma pakaian yang dilipat akan terjaga keharumannya.

Jangan lupa memberi pengharum lemari agar pakaianmu terbebas dari jamur dan terjaga kelembapannya. Jadi setelah pakaian selesai disetrika, semprotkan pewangi royale dalam keadaan pakaian yang sudah dingin.

Kamu bisa menyemprotkannya dengan jarak kurang lebih 30 cm dari pakaian, sehingga semprotan pewangi akan maksimal.


Tips di atas wajib dilakukan, untuk menjaga kebersihan dan kelembutan pakaian dengan Royale dan sedikit sentuhan so klin royale parfume collection agar Ramadhan Anda terasa lebih fresh.

Read more

Puisi: Pantun Dari Jauh Kapalmu Datang (Karya Marah Roesli)

Pantun Dari Jauh Kapalmu Datang
(Pantun Berbalas)

Sitti Nurbaya:

Dari jauh kapalmu datang,
pasang bendera atas kemudi.
Dari jauh adikmu datang,
melihat Kakanda yang baik budi.

Samsulbahri:

Selasih di kampung Batak,
perawan luka tentang kaki.
Terima kasih banyak-banyak,
sudi datang melihati.

Sitti Nurbaya:

Sultan Iskandar raja Sikilang,
raja Barus pegang tongkatnya.
Tidak disesal badanku hilang,
sudah harus pada tempatnya.

Samsulbahri:

Sukar membilang buah kelapa,
burung pipit terbang sekawan.
Biar hilang tidak mengapa,
asal bersama dengan Tuan.

Puisi Pantun Dari Jauh Kapalmu Datang
Puisi: Pantun Dari Jauh Kapalmu Datang
Karya: Marah Roesli

CATATAN:
  • Marah Roesli (dieja Marah Rusli) lahir di Padang, Sumatra Barat, pada tanggal 7 Agustus 1889.
  • Marah Roesli meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 17 Januari 1968 (pada usia 78 tahun).
  • Marah Roesli adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka.
  • Pantun di atas merupakan bagian dari buku Sitti Nurbaya (1920).

Baca juga: Puisi Terdalam
Read more

Puisi: Sajak Hitam (Karya Soni Farid Maulana)

Sajak Hitam

Janin dalam rahimmu
kenapa digugurkan?
kenapa tak kau biarkan tumbuh 
hingga lahir dari rahimmu,
dan kelak ia bisa membaca dan menulis,
bisa pula bicara alif adalah alif 
dengan suara yang merdu

Apa karena malu
dengan kenyataan hidup
yang muram, kau gugurkan
bayi yang kau kandung? Betapa
di berbagai pelosok bumi
banyak ibu merindukan bayi
dalam pangkuannya.

Aku tak habis mengeti
dengan semua itu. Majalah
dan Koran ramai sudah
dan kau nyaris mati demi
menimbun aib di hatimu
yang semua itu tak bisa
kau hapus dengan 
apa pun itu!

1997

Puisi: Sajak Hitam
Puisi: Sajak Hitam
Karya: Soni Farid Maulana

Catatan:
  • Soni Farid Maulana lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada tanggal 19 Februari 1962.

Baca juga: Puisi Gundah Hati
Read more

Puisi: Sea Food Kaki Lima (Karya Soni Farid Maulana)

Sea Food Kaki Lima

Cumi-cumi goreng kecap manis di piringku
217 kilometer yang lalu masih hidup di kedalaman
laut biru. Maut memang tak bisa diduga:
menjaringnya. Tujuh nelayan lalu mengirim hasil  

tangkapannya, yang diperan dalam segentong es balok
ke kedai ini. Kini perutku jadi kuburan mewah
bagi seporsi cumi-cumi goreng kecap manis. Tak ada
ombak laut di situ, ganggang merah, udang, dan rajungan:

walau gelombang hasrat senantiasa berdebur dan berdebur
di batu karang hatiku, merindu dirimu. “Aku suka oseng
kangkung cumi-cumi,” katamu, suatu hari. Cuaca

malam berkarat hujan. “Tuan, mau tambah lagi
satu porsi?” tanya sang pelayan. Sayang, kau tak ada
di sampingku: selagi cumiku ingin bercumi-cumi
dengan cumimu yang merah jambon

2006

Puisi: Sea Food Kaki Lima
Puisi: Sea Food Kaki Lima
Karya: Soni Farid Maulana

Catatan:
  • Soni Farid Maulana lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada tanggal 19 Februari 1962.

Read more

Puisi: Sebuah Potret Dunia Ketiga (Karya Soni Farid Maulana)

Sebuah Potret Dunia Ketiga

Benar. Pemandangan di sini cukup mendebarkan
yang dulu menenangkan pikiran dan perasaan,
kini memusingkan kepala; bagai ulah
perempuan telanjang, menjemur diri di pantai. Kakinya
yang indah, sekali-kali dijilat ombak
di bawah matahari yang berkobar meludahi dunia
teramat tua berputar di atas punggung kerbau.

Haruskah aku mengucap selamat tinggal
pada laut dan garam yang lengket di tubuh mungil itu.
Pada neraka hijau yang berkilauan di teteknya yang gembur
aku temukan jiwaku yang bengkok seperti sekop butut,
tergolek di gudang tua yang pengap, kotor, dan berdebu.

Aku sapa burung-burung yang terbang
mencari pohon kehidupan.
Hutan yang datang hutan yang pergi
berubah warna dan rupa. Sungai bukan lagi
tempatku bercengkrama dengan ikan-ikan. Alirannya,
mengaduh pedih disilet limbah industri;
bagai jerit petani yang melelang dagangannya
dengan harga teramat murah tanpa perhitungan
biaya produksi di tengah-tengah 
arus zaman yang suram oleh esok hari.

Matahari terasa dingin dalam kalbuku,
aku menggigil dan beku oleh cuaca tropika
yang sari madunya dihisap habis
perempuan telanjang, berbaring di pantai,
menawarkan pesona dunia pertama. Menggoda
setiap kalbu yang dilimpahi cahaya Muhammad.
Kini dengan alif-Nya
yang merasuki akal sehatku: aku tentang
kehendak hitam perempuan telanjang yang buas
menatap alam hijau. Menelannya pelan-pelan.
O pesona dunia ketiga diam-diam hangus sudah
dibakar nyala api peradaban dunia pertama
yang liar dan bengis.

1987

Puisi: Sebuah Potret Dunia Ketiga
Puisi: Sebuah Potret Dunia Ketiga
Karya: Soni Farid Maulana

Catatan:
  • Soni Farid Maulana lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada tanggal 19 Februari 1962.

Read more

Puisi: Prosa Cinta (Karya Soni Farid Maulana)

Prosa Cinta
– Nina Dianawati

Aku mendengarkan percakapan burung-burung
Di dahan hatimu. Embun yang bening dalam sebuah pagi
Mengabarkan dunia yang tak ada padaku
Setelah kerling matamu menyungkup langit jiwaku. Ah, matahari
Yang berkobar. Waktu yang melenggang lewat. Senja yang padat
Oleh guguran daun. Malam. Bintang-bintang. Suara-suara alam
Mengalir dalam keheningan semestaku. Mengaji kehadiranmu.
Setiap saat menyanyikan gairah kehidupan.
Tapi pada hening mata ular, cintaku. Kenangan menjulang!

1984

Puisi: Prosa Cinta
Puisi: Prosa Cinta
Karya: Soni Farid Maulana

Catatan:
  • Soni Farid Maulana lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada tanggal 19 Februari 1962.

Baca juga: Puisi - Misal
Read more

Puisi: Pantun Lurus Jalan ke Payakumbuh (Karya Marah Roesli)

Pantun Lurus Jalan ke Payakumbuh
(Pantun Sitti Nurbaya)

Lurus jalan ke Payakumbuh,
bersimpang lalu ke Kinali.
Jika hati sama sungguh,
kering lautan dapat dinanti.


Puisi: Pantun Lurus Jalan ke Payakumbuh
Puisi: Pantun Lurus Jalan ke Payakumbuh
Karya: Marah Roesli

CATATAN:
  • Marah Roesli (dieja Marah Rusli) lahir di Padang, Sumatra Barat, pada tanggal 7 Agustus 1889.
  • Marah Roesli meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 17 Januari 1968 (pada usia 78 tahun).
  • Marah Roesli adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka.
  • Pantun di atas merupakan bagian dari buku Sitti Nurbaya (1920).
Read more

Puisi: Memakan Sepi (Karya Sutan Iwan Soekri Munaf)

Memakan Sepi

Setelah waktu memakan sepiku di antara bayang-bayang semangkok huruf dan segelas makna yang terhampar di meja hidupku. Kini, waktu – lewat anak-anaknya: detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun – menghisap sisa rindu yang mengalir deras dalam darahku. Mereka telah mengunyah-lumat seluruh langkah untuk kembali padamu.

Di meja ini, tak ada lagi perjamuan: Detik berdiri dari kursinya dan bergegas menampar lengangku yang datang berulang. Menit menangkap, lalu membanting penungguanku yang sia-sia. Jam menghujamkan kegetiran pada setiap tanda-tanda. Hari memberangus mimpi dan membenamkan hidupku dalam lubang kenyataan. Minggu membelenggu keinginan menapak ke bukit-bukit. Bulan membiarkan hiruk-pikuk dan buncah-kerak dalam setiap langkah yang kulewati. Tahun tak pernah lagi memberikan kado, karena rindu sudah terbelah-belah.

Dan sepi adalah es krim yang meleleh. Aku hanya menonton dengan air liur yang dikulum. Tanpa berbuat apa-apa. Waktu memakan sepiku!

Palembang, Juni 2009

Puisi: Memakan Sepi
Puisi: Memakan Sepi
Karya: Sutan Iwan Soekri Munaf

Catatan:
  • Nama Sebenarnya adalah Drs. Sutan Roedy Irawan Syafrullah.
  • Sutan Iwan Soekri Munaf adalah nama pena.
  • Sutan Iwan Soekri Munaf lahir di Medan pada tanggal 4 Desember 1957.
  • Sutan Iwan Soekri Munaf meninggal dunia di Rumah Sakit Galaxy, Bekasi, Jawa Barat pada hari Selasa tanggal 24 April 2018.

Read more

Puisi: Pada Sebuah Malam (Karya Soni Farid Maulana)

Pada Sebuah Malam

Pada sebuah malam
aku mendengar suara ribuan bayi
mengguncang semesta:

“Ibu mengapa kau hancurkan
taman sorga di kakimu
kau usir aku dari rahimmu?

Ibu bagaimana kelak
aku mengenali wajahmu
bila kau berpaling dariku?”

Tubuhku bergetar mendengarnya.
Ibu aku merindukanmu. Aku
bukan Malin Kundang.

1997

Puisi: Pada Sebuah Malam
Puisi: Pada Sebuah Malam
Karya: Soni Farid Maulana

Catatan:
  • Soni Farid Maulana lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada tanggal 19 Februari 1962.

Read more

Puisi: Improvisasi dalam Hujan (Karya Soni Farid Maulana)

Improvisasi dalam Hujan

Pecahan air yang melenting dari atas genting
Saat hujan turun bikin komposisi dingin bersambung
Dingin dan angin bolak-balik menyisir pepohonan
Membaca jengkal demi jengkal jejak hujan yang hilang
Di titik pandang. Dengarlah suara gemuruh

Yang lambat dan pasti menyapu permukaan bumi
Suara itu adalah suara hujan menimpa beton
Yang nyaring berteriak mencari pepohonan
Dan dingin selalu bersambung dengan dingin
Bertumpuk-tumpuk bagai mentega melapisi kulit,
Daging, tulang juga sumsum. Kau dan aku

Saat itu basah dalam hujan yang bergemuruh
Memanggil pepohonan juga rumputan

Yang bertumbuhan di balik hari

1996

Puisi: Improvisasi dalam Hujan
Puisi: Improvisasi dalam Hujan
Karya: Soni Farid Maulana

Catatan:
  • Soni Farid Maulana lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada tanggal 19 Februari 1962.

Read more