Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rumah di Beranda

rumah di beranda,
pengemis tidur di pintu,
aku mengucap kata sayang,
pada diriku yang bukan aku,
itu yang mampu yang bukan
aku yang melakukan,
masa silam
dalam serbuk kayu pintu.

Padang, 2011
Puisi: Rumah di Beranda
Puisi: Rumah di Beranda
Karya: Alizar Tanjung

Baca Juga: Lagu Indonesia Paling Romantis
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kidung Bayi
menjelang kelahiran

belajarlah dari tangis bayi
saat mulutnya mengulum sepi
dan nafasnya menghardik matahari
: berikan takdirmu!

mata bayi yang hijau
tempat segala roh ditiupkan warna
dari pelupuk bola mata itu engkau akan melihat
dunia yang hiruk pikuk ini hanyalah sepotong
wajah keriput yang diremas waktu.

- warnamu tak bisa kau pilih sendiri, nak
walau telah ku usap ubun-ubunmu
juga telah kutiup seribu jampi dan mantra di lubang telingamu.
berjalanlah sendiri karena ada yang diam-diam memahatkan 
rajah di kedua telapak tangan dan kakimu.
kuusap punggungmu
dan aku hanya sanggup membekalimu api
yang kupungut dari paruh-paruh ababil
juga separuh tubuh yang kupinjamkan
agar kau kelak perkasa melukai setiap rasa takut.
rajah di kedua telapak tangan-kakimu
takkan pernah bisa menaklukanmu
karena kau nafas api.
perjalanan betapa jauhnya
tak akan pernah sanggup menjadikan lelah 
karena angin telah berumah di dadamu.
jangan bermimpi tentang surga, nak
kalau engkau tak merebutnya
dalam setiap ladang pertempuran
yang harus engkau taklukkan.
tanganmu pasti kelak perkasa,
meneteskan darah para lelaki
atau menampung tangis para perawan.

darah bapamu ini juga merah
namun tak segarang warnamu
tiupkan lamunan tinggi-tinggi 
menembus waktu, membuka ruang
hingga matahari ngeri sendiri
menatap cahaya ubun-ubunmu.

garangnya warnamu
menyediakan cawan tempat engkau
menampung segenap pertanyaan dan jawaban
warna yang akan meludahi rajah di kedua telapak tangan-kakimu
mulailah menyanyi saban pagi atau saat senja dibangkitkan
mulailah melengking-lengking pada siapa saja
jangan pernah engkau pikirkan bahwa segalanya akan tua
carilah segala huruf sajak-sajak para pujangga, kata-kata para penguasa,
serta segenap sabda firman para nabi
: jadikan mantramu!

Ngawi, 2007
Puisi Kidung Bayi
Puisi: Kidung Bayi
Karya: Tjahjono Widarmanto

Baca Juga: Blog tentang Wisata Kuliner
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Habib

1/
Ahlan!
Serak berat bebatukan
Sepanjang kampung Arab
Pagar tinggi
Pintu mengatup sepanjang siang
Para wanita mengintip
Memastikan tamu
Dari balik jeruji jendela
Mata-mata bulat
Menukik pada sasaran
Hidung-hidung seperti lengkung gunung
Mengisap semua debu kematian
Para baksil Betawi rajin memarut tenggorokan mereka

2/
Ahlan!
(Suara dari goa faring kering)
Sang Habib sarungan
Duduk di kursi rotan
Secangkir gahwe jahe mengepul
Di tengah meja marmer segi delapan
Tasbih kecil terus berotasi di jari kiti
Tangan kanan menyangga kepalanya
yang beruban
Segumpalan awan menggantung di atasnya:

3/
Sejak umur 21 tahun
Terakhir melihat wadi gurun
Dari Aden menuju Betawi
Setelah muntah di dek kapal Inggris
Matanya menghijau royo
Tanah yang dipijak gembur-subur
Baik ditanam hadis dan fikih
Yang mengakar di setiap sel otaknya

4/
Wan mau ke mane wan?
Mau ke Pekojan
Wan mau jual ape wan?
Mau jual merjan

Sang habib membawa jadam menuju Kampung Bandan
Membawa kitab menuju maktab
Menebarkan wewangian di rumah
dan di madrasah.
Sepuluh tahun sekali menanggalkan jubah
Menuju Makah melempar jumrah…
Selama 46 tahun
Benih yang ditanam
Menyebar di pelosok Betawi
Dan Habib rindu kepingin pulang!

5/
Sepanjang kampung Arab
Dehem dan sengau keledai bersautan
Mereka tak dapat sembunyi dari para penagih
Dan baksil Betawi terus mengejar,
Menggerogoti tenggorokan serta paru-paru
mereka.

Ba’da Ashar,
Pintu-pintu mulai terbuka
Sebagian Arab di pangkalan istirahat
Duduk di bale-bale
Sambil mengisap Hoge

Ahlan… Bib!
Gahwenya sudah dingin
Saat beduk Maghrib,
Gerakan jarinya berhenti
Tasbihnya jatuh
Tangannya terkulai
Menyentuh lantai
Yang tak berpasir…

1999
Puisi Habib
Puisi: Habib
Karya: Zeffry J. Alkatiri

Baca Juga: Kumpulan Semua Lagu Monica Karina
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dongeng dari Langit

ketika kau lahir dari rahim tanpa jiwa
aku melihat matahari menumpahkan seluruh cahayanya
pada kelahiranmu
kau menggeliat dan menangkap setiap cahaya
tidak ingin satu tetes bau tubuhmu menyentuh tanah

aku berkata pada bundamu
memahat pertumbuhanmu
aku merasa menjadi ibu
yang turut membentuk kelahiranmu

daun-daun berputar lewat tangan para leluhur
kau lupa
perempuan apa yang pernah meminjamkan rumahnya untukmu
bundamu mengajari persentuhan baru
kau berputar patah-patah
kau hafal silsilah
kaulupakan tanah leluhur
bundamu meminjamkan kau rumah baru
"bermainlah sepuasnya, Matahariku!"
bundamu berteriak
kau tak boleh menyentuh cahaya lain
selain cahaya yang dipintalnya

kelahiranmu
membentukku jadi manusia setengah binatang
kau mulai mengintipku
kaurentangkan kedua tangan
kauhitung waktu yang memutarmu

"anakku, kau harus punya rumah sendiri
kau harus jadi ratu sendiri
aprodite selalu berkaca di sungai
kau harus menjelma dia
buatkan bundamu dunia baru
tunjukkan pada langit
pada para dewa tubuhku yang membusuk
pegang erat tanganku
rasakan kita seperti ujung tombak
yang lupa nama pemiliknya"

1992-1993
Puisi Dongeng dari Langit
Puisi: Dongeng dari Langit
Karya: Oka Rusmini

Baca Juga: Contoh Judul Artikel yang Menarik
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Penyair Tintamu Habis

Penyair, tintamu habis untuk menulis tapi puisi-puisi tak terbaca
tak ada api di puisimu, tak ada yang sanggup membakar tanpa akhir
tak ada air di puisimu, tak ada sumur yang lunaskan dahaga
tak ada batu di puisimu, tak mungkin jadi candi atau menara untuk mengintai langit

penyair, matamu cemas tak sanggup menafsir dan menaksir bahasa
yang mengeras jadi fosil seperti lelaki tua bongkok yang disesatkan
ke dalam rimbun etalase-etalase yang rumit, resah dan berjejal-jejal

penyair, puisimu telah jadi tali gantungan menjerat lehermu
bagai narapidana putus asa dieksekusi mati

2019
Puisi Penyair Tintamu Habis
Puisi: Penyair Tintamu Habis
Karya: Tjahjono Widarmanto

Baca Juga: Blog Otomotif Terbaru
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mata Dadu

seperti senyum belati ia menatapmu
memindahkan warna merah api pada tapak tanganmu
siapa yang bisa tahan pada lambaiannya?

telah dipindahkan rasa lapar pada gairah merah  seorang  pelahap 
yang terampil mengasah pisau dan menusukkan garpu
melahap tandas kerat-kerat daging dan gumpalan roti hingga remah terakhir
- Drupadi, tak ada kasta pada pesta perjamuan ini!
semua orang akan berebut menanggalkan jubah dan mantelnya di meja makan ini
bersama sejarah yang mengabur dan ingatan menjelma jejak sembab pantai amis yang kelabu
di jantungmu bayang-bayang akan meledak bersama taifun di dasar kebisuan 

setelah pesta usai kau akan membangun monumen di matamu
bersama bunyi geluduk yang tak henti-henti mencacah musim 
bukit-bukit akan hancur bergiliran dan dosa-dosa menjadi karam
bumi menggigil dalam ketelanjanganmu yang mengutuki sunyi
yang lebih sepi dari seribu kematian membusuk bersama salju
dan kembali sejarah menjadi kabur menunggu nyala api

Ngawi, 2012
Puisi Mata Dadu
Puisi: Mata Dadu
Karya: Tjahjono Widarmanto

Baca Juga: Lifestyle Blog Guest Post
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Requim Hujan

saban gerimis tiba
kau selalu berkata
segala waktu segera rapuh,
tangis tak lagi mampu memberi arti
segalanya jadi buta
sesuram lorong gua manusia purba

saban gerimis tiba
kau selalu ingatkan
kita musyafir yang berangkat tua
melangkah gontai seperti seekor unta
terengah-engah seberangi jazirah-jazirah,
terkantuk-kantuk tapaki jalan-jalan rumpil,
penuh berserak batu dan duri.

inilah tempat yang kita tuju! teriakmu
(jarimu menuding ke atas cakrawala,
entah melihat ketinggian apa)
inilah tempat terakhir meletakkan sujud,
isak penghabisan, dan secuil kebanggaan
barangkali bisa menjadi legenda buat anak cucu
yang kelak akan segera mewarisi tangis yang serupa

gerimis pun lebat
tak hanya saat senja
namun juga saban pagi
memaksa kita segera bersedekap jari.

Ngawi, 28/04/06
Puisi Requim Hujan
Puisi: Requim Hujan
Karya: Tjahjono Widarmanto

Baca Juga: Gaya Hidup Sehat Remaja
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Hujan Membaca Cinta

menghitung rambutmu berlepasan sehelai-helai seperti menyimak perjalanan penuh reportase di antara bisik lampu taman dan bangku semen asing membeku debu dan keringat bermuara pada riwayak kelopak mata melahirkan sungai: menderas-deras, gericiknya sampai ke hulu nadi menikam waktu meronta minta kembali tempat yang dulu pernah disinggahi seperti syahwat Musa mengintip tuhannya

kini tak ada dermaga untuk mengulangnya kembali kecuali sekedar mengingat setangkai warna bunga yang dulu pernah kukirim tak sampai-sampai. juga surat cinta yang terus menggigil kehilangan sampul tempat alamat dipahat: aroma purba menguap bersama desir almanak rontok diterbangkan cuaca bersama pelaut ditakdir tak bosan berlayar mencumbu taufan lalu pecah di ceruk karang

menunggui musim berbiak membutuhkan kesabaran air kali menghayut hingga kelak samodra memilinnya menjadi sepasang kekasih seorang bocah telanjang kaki dan dada bertanya-tanya dimana letak kubur ibu bapa tempat alamat ditulis dimana mereka kembali bisa bercinta sampai kelak waktu membisikinya dengan bijaksana:

tak ada yang akan mati untuk merampungkan percakapan

Ngawi, Mei 2006
Puisi Hujan Membaca Cinta
Puisi: Hujan Membaca Cinta
Karya: Tjahjono Widarmanto

Baca Juga: Blog Gaya Hidup
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Depan Ka’bah

seperti pemula dalam panggung yang gagal
aku mabuk memimpikan pengunjung yang
setia memberikan tepuk tangannya.
yang kulihat cuma kenangan-kenangan tua, beruban.
menyendiri menunggui cintanya yang hilang sia-sia

kenapa kau seret aku seperti darwis dilanda mabuk tak tuntas-tuntas
sedang aku tak pandai menari?
setelah kau jeret laherku dan rontokkan tulang-tulangku
tak ada lagi yang bisa kubagi, tinggal asin keringat
yang dapat kau peras sebagai maharku untukmu
dan sebelum kau copot biji mataku
biarkan aku mencakar-cakarmu

2007
Puisi Depan Ka’bah
Puisi: Depan Ka’bah
Karya: Tjahjono Widarmanto

Baca Juga: Makanan yang Lagi Booming
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Percakapan dan Maut yang Berkedip-kedip

percakapan itu ditandai jari-jari yang merapat
lantas terurai menunjuk-nunjuk kenangan abu-abu
yang berhamburan di angkasa seperti remah roti diterbangkan beliung

di kejauhan segala mercu suar telah padamkan lampu
gereja-gereja menurunkan loncengnya
beduk-beduk di masjid surau tiba-tiba bolong melompong
segala kitab dan sabda kehilangan firmannya

ah, maut itu telah mengedip-kedipkan lampu
dan membunyikan klakson keras berulang-ulang
tak sabar menunggu di mulut gang

percakapan kita tak pernah tuntas
jari-jari mengejang kaku seperti syahwat ereksi
malam-malam tak pernah sampai subuh
segala kedai telah menutup pintu rapat-rapat

“jam ini usai sudah. waktu habis
sajak dan percakapan itu menggantung putus asa!”

Puisi Percakapan dan Maut yang Berkedip-kedip
Puisi: Percakapan dan Maut yang Berkedip-kedip
Karya: Tjahjono Widarmanto

Baca Juga: Puisi Cinta di Bulan Agustus