Puisi: Wanita, Siapakah Engkau (Karya L.K. Ara)

Wanita, Siapakah Engkau

wanita, siapakah engkau
yang melengos memandang ke arahku
dia yang tidur
di pelataran Masjidil Haram
antara tempat sa'i
dan tempat mancur air zamzam

wanita, siapakah engkau
yang berwajah pucat
memandang dengan sayu kepadaku
dia yang lelah
rebah di atas kardus bekas
di pelataran Masjidil Haram
dan tempat mancur air zamzam

wanita, siapakah engkau
yang dibangunkan orang berpakaian ihram
lalu meraih uang satu real
kemudian engkau runduk
dan rebah lagi ke atas kardus bekas
di pelataran Masjidil Haram
dekat tempat sa'i dan air zamzam

wanita, siapakah engkau
yang tak pernah lagi perduli padaku
tak memandang tak melengos
badan rebah
berupa seonggok tubuh lelah
dan tidur dengan pulas

wanita, kucari engkau dalam diriku
dan kutemu
wanita engkaulah itu
engkaulah yang berwajah pucat engkaulah yang bermata sayu
wanita engkaulah itu
yang ketika aku masih kecil
kau izinkan kupetik ketimun dari
kebunmu
lalu kujual untuk biaya sekolahku
wanita, engkaulah itu
yang sebelum meninggal dulu
sempat bergurau denganku
kau minta dibayarkan resep obatmu
wanita, engkaulah itu
engkau adalah adik ibuku
yang telah lama pergi
dipanggil Illahi Rabbi

Makkah, 4 Juni 1993

Puisi: Wanita, Siapakah Engkau
Puisi: Wanita, Siapakah Engkau
Karya: L.K. Ara

Catatan:
  • Nama lengkap L.K. Ara adalah Lesik Keti Ara.
  • L.K. Ara lahir di Kutelintang, Takengon, Aceh Tengah, 12 November 1937.

Baca juga: Puisi tentang Bulan Februari
Read more

Puisi: Bandul Dunia Baru (Karya Raudal Tanjung Banua)

Bandul Dunia Baru
(dan Bali sebagai Asumsi dalam Dua Adaptasi)

(1)

Tanah-kepulauan atau benua baru
yang dulu hitam, kini kelabu
hidup di antara dua bandul
yang bergerak berayun:
satu berusaha nyaring dan yang lain
bersuara garang
lintasan kenangan dan impian.

Bandul waktu itu bertangan. Ia menggamit
masa silam dan memunculkan layar pucat
yang terguncang-guncang
di balik gelombang, kenangan mendayung
di antara dua karang
“Kita mungkin berperang,” suara itu
nyaring gemanya seirama
bayang-bayang memanjang di laut
- sepanjang lintasan kapal-kapal
dan awan dan koral

Maka laut dan pantai pun dihujani
tembakan, gelegar meriam. Amis darah
dan belerang. Tapi benteng dan parit
teguh memendam
impian akan tahta dunia baru,
barangkali, sorga.
Ribuan gugur di laut menjadi santapan hiu
namanya larut seperti garam yang berkilau
di bawah sinar matahari
Tapi nakhoda dan mualim itu pandai
menghibur diri, sorga itu, katanya
bukanlah pantai yang landai, tapi
sungai, rawa-rawa dan hutan yang purba.

Maka sebagian menyusur hulu sungai
menerobos masuk hutan, membuka huma
mendirikan pondok-ladang dan menugalkan benih kesuburan
sepilihan bijian yang asing mereka dapatkan
dari sekerat paruh burung, di mana terikat seuntai firman:
Tradisi. Tradisi pedalaman!

Barangkali Tuhan mengirim malaikat-Nya, barangkali dewa
turun pada setangkai malai untuk memulai
percintaan baru: kampung-kampung di pedalaman
yang bersusun batu-batu memantulkan warna ungu
waktu malam

Maka tradisi pedalaman lahir dari upacara
kampung halaman, di lumbung-lumbung
di bubung rumah
Buah pujinya keperkasaan dan kesuburan
Kelahiran dan keberangkatan:
Malam-malam duduk melingkar. Seperti ular
memandang rasi bintang
memotong ari-ari dengan sembilu dan kulit kayu,
menggantungnya di akar, di dahan
di pohon-pohon. Setangkup kulit ari,
dupa dan menyan
membubungkan pinta musim: cinta-kasih
buah permohonan
tak putuslah ikatan di bumi berpenghidupan

Di malam-malam lain yang lebih dingin
mereka menabuh tambur
mengenang ruh
gugur di laut. Membikin peti bujur sangkar
sambil mengingat pantai yang tak landai
lalu mereka bakar beramai-ramai
dengan menari di pinggir sungai
semua berlangsung di bawah nyala obor
koor cak-cak-cak
dan gemercik tuak
dalam bumbung. Ada juga seorang tua berkata,
“Ini pertanda baik bagi kita semua.
Padi tak digara, tanah rindu minta digaru. Ketela tumbuh
tanpa diganggu babi dan hama. Beginilah seharusnya
Kanak-kanak yang lahir biar belajar
kesabaran dari leluhur. Keperkasaan menjaga
warna tanah. Ini kasta yang kita warisi buat mereta
Mereka memang masih muda
Dan bila mereka pergi jangan ada yang menangis.”

(2)

Begitulah, anak-anak yang berangkat dewasa
Separoh usia kanaknya dihabiskan
menyerap upacara
dan mantram tanah. Malam-malam
sehabis membakar peti
atau mengundang dewi padi
mereka seperti tak diijinkan lelap
hingga menjelang pagi
Cerita dan buah tutur silih-berganti
jadi pitutur, jadi sulur, dalam tidur yang singkat
tiba-tiba mereka merasa cepat dewasa
menjaring ruh
Sebab bila mereka menyentuh gantang tuak pada bambu
tak ada yang bisa mencegah karena larangan,
“Jangan sentuh!”
menambah gelegak pada darah.

Bahkan ketika mereka putuskan
mengusap dupa
di wajah mereka yang penghabisan
lalu turun tangga
dan bersumpah di halaman akan mencari leluhurnya,
tak seorang pun dapat mencegah
“Sampai ujung dunia,” kata mereka.

Bahkan seorang orang tua,
seorang sepuh yang dulu tukang berkata-kata
hanya sanggup mencabut keris kebesarannya
dan berkata dengan kecemasan yang sukar dilukiskan,
“Seperi kataku, jangan ada yang menangis.
Sudah kuduga akan lahir dari sini juru-mudi,
menggelegak darahnya merindukan
lautan. Aku tak menangis, karena kita
berasal dari lautan yang sama
ke sana kita akan kembali, ke sana
mereka akan pergi
Tapi, Dewa yang Agung,
adakah di antara mereka
juru-peta? Kami lupa mengajarnya,
tradisi kami
tradisi pedalaman yang penuh percintaan
ketimbang penaklukkan
kami hidup dari lisan, mantra dan upacara,
dan membangun rasi sendiri
di bumi, gugusan masyarakat
wiracarita...”

Ia lalu menikam dadanya yang sebelah kiri
dan darah mengalir seperti mata air
yang baru disapih
memberi warna lain
pada tanah di bumi

Beberapa orang masih sempat menatapnya di pembaringan
dan memejamkan mata dengan  khusuk di sisi ranjang;
Ia juga merindukan laut, maka ke sana ia akan pergi,
kata seorang lain, juga menjelang tua
Di tangannya amis darah dan belerang
Matanya kuda jalang yang memendam impian akan darah
dan kasta biru, tatanan keindahan yang direngkuh,
barangkali dari sorga.

Setelah itu, para perindu itu berangkat juga akhirnya,
hanya separoh dari upacara pembakaran mayat dalam peti
mereka ikuti. Seorang tua telah mati,
tak kuasa mencegah yang pergi
Maka ratapan perempuan kuyup air mata seakan arak lain
yang menggelegakkan keperkasaan di dada mereka
“Begitulah perempuan, selagi muda menjadi tukang goda,
tua sedikit menjadi ibu yang gampang menangis,
tua dan sepuh menjadi tukang cerita!”

“Aduh, anak, cerca kami sepuasmu
demi alasan kembangkan layar
tundukkan lautan sekuasamu
perahumu karapan dalam impian!”

Tapi bumi tak pipih atau panjang seperti tali,
bumi lingkar, berputar, tak berujung, tak berbatas
malam dan siang
Kecuali sepotong tanjung atau pantai karang
yang mempertemukan mereka  dengan laut dan gelombang
selebihnya benar-benar perairan sunyi,
yang tak jinak yang tak mereka ketahui namanya
tanpa tepi. Menjadi begitu sukar ditaklukkan dan diseberangi
bahkan dalam imaji:
“Barangkali kita harus memberi nama
tempat ini tapi sangsi apakah
di sorga masih perlu nama.”

“Barangkali ini ujung dunia yang kita buru,” kata yang lain
yang merasa telah sampai, mencapai, “Tetapi mengapa selalu ada
ujung lain yang mengharu-biru?”

“Kita tak membutuhkan nama tampaknya,” seseorang,
kawan atau lawan, sekutu atau seteru, menggebu,
“Yang kita butuhkan cuma perahu,
sampan atau apa, entah mengapa
imajinasiku bekerja bahwa di seberang sana
masih ada dunia, ya, mungkin sorga yang sebenarnya
tapi tunggu sebentar, biar aku ingat sesuatu, ah, celaka!
Aku lupa cara membuat perahu dan dayungnya, lupa
rancangan benda-benda, bahkan bentuknya!”

“Terkutuklah engkau yang tidak mempunyai nama
tapi butuh benda-benda. Bukankah
benda-benda bersumber dari nama - ilham dan kata-kata
ibu bapak kita?”

“Biarlah keduanya ada dan tumbuh
peduli akhir dan dulu, barangkali kita sama butuhnya!”
sahut yang lain, agak bungsu, tapi pandai menghibur:
Katanya, “Kita pastikan saja, di seberang sana, sorga
Leluhur kita ada di sana. Tapi jangan bertandang
biarkan mereka istirah.”
(Barangkali mereka bukan pengembara
tapi petualang yang mencemaskan sorga - yang purba,
antara ada dan tiada)

Lihat, mereka surut. Tapi ombak tak surut dan pasang
tak susut. Laut yang tenang
diam-diam menyeret tulang-belulang, bangkai kapal,
manik-manik terhantar begitu menakjubkan di pantai
Ada yang mengumpet pasir kemudian. Mengelupas
kulit kerang. Mengikis lumut dan bebatuan
seperti tak percaya pada ketakjubannya sendiri:
“Alangkah indah. Ini seperti sebuah mimpi
Bila terjaga, undanglah tamu-tamu
beritahu siapa saja bahwa ada juga sorga
eksotik, angin dan kersik, aroma tropik
di tanah kita. Tuhan memberi kita dunia baru,
sorga penciptaan. Lupakan ibu
Mumpung terjaga
semuanya harus bernama, harus diberi sebutan.”

Begitulah asal-muasal kelahiran
peta dunia baru. Tetapi bukan itu pangkal kegelisahan
penyair seribu tahun kesunyian ini. Suara itu masih nyaring
gemanya dan dekat pada kematian

Maka bandul waktu harus bergerak berayun dengan garang
agar semua terbangun
dari selubung impian yang tercipta atau diciptakan

Aku bandul. Maka aku bergerak
melintasi waktu, musim-musim membatu, hantu-jisim
siang-malam dan mimpimu
mengelupaskan garis maya
tata dunia baru; yang memberi nama dan sebutan
pada tanah kepulauan, benua,
segenap daratan

Aku bandul kekinian, harus garang
meneriakkan kesadaran baru
bukan impian akan dunia baru!

Denpasar-Yogyakarta, 1999

Puisi Bandul Dunia Baru
Puisi: Bandul Dunia Baru
Karya: Raudal Tanjung Banua

Baca juga: Kumpulan Sajak Indah tentang Cinta
Read more

Puisi: 22 Tahun Kemudian (Karya Taufiq Ismail)

22 Tahun Kemudian

Ya anakku. Saya telah menuliskannya untukmu
22 tahun yang lalu saya tuliskan ini untuk kalian
Ayahmu, waktu itu, pada suatu musim hujan
Ketika itu tanpa kerja-tetap dan gelandangan
Di sebuah kamar yang pengap di ibukota
Duduk dan mencoba mencatat sajak ini

Ayah harus menuliskan ini. Harus
Walaupun saya belum tahu, apakah saya
Kelak akan mempunyai seorang Dayat
Dan seorang Ina yang bermata-jeli
Atau tidak punya anak sama sekali
Tapi saya harus menuliskan ini. Harus.

(Di luar jam malam telah jatuh
Ada catatan-catatan kecil di atas meja
Derai-derai gerimis mulai meluruh
Di antara deru patroli kota)

Apakah yang pertama harus dituliskan
Bila begitu banyak yang tiada terucapkan?
Di atas meja, catatan-catatan kecil kawanku yang setia
Menggapai-gapai dalam angin dari jendela

Dari tingkap, menjulur piramid dan tugu-tugu
Kota slogan dan menara, kotamu dulu
Tanah gunung-api dan hama, tanahmu dulu
Pedesaan yang malang, kuli-kuli pelabuhan yang tersemu

Dalam pidato-pidato seribu jam dari seribu mimbar
Dalam pawai-pawai genderang dan slogan berkibar-kibar
Bertuliskan sepatah kata: Tirani

Ya anakku. Tirani dengan t besar
Kenistaan dengan panjinya tinggi
22 tahun yang lalu. Sungguh tak terpikirkan
Bagi kalian saat ini
Terbayangkan, apa pula
Nyeri perjuangan yang dinistakan

(Di luar jam malam telah jauh
Saya lanjutkan catatan-catatan ini buat kalian
Ketika tetesan embun mulai jatuh
Tanpa suara, perlahan-lahan)

Berpikir ganda. Apa yang diucapkan
Berlawan dengan suara hati
Rencana-rencana besar, kemewahan dan perempuan
Dipersanjungkan dalam pesta-pesta ingkar insani
Pengejaran, penahanan tanpa pengadilan
Penindasan dan perang saudara
Berbunuh-bunuhan
(Hadirin diminta berdiri, karena akan masuk ruangan:
Penjilat-penjilat dan pelayan-pelayan besar)
Keangkuhan disebar bagai api hutan terbakar
Diatas tanah yang dibelah-belah dan diadu sesamanya!
(Arwah lelaki itu tersenyum, Machiavelli namanya)
Berjuta-juta kami berdiri. Lesu dan lunglai
Sehabis rapat besar dan pawai-pawai
Yang tidak memikirkan pemborosan dan wabah penyakit
Tidak membicarakan harga-harga dan nestapa kemiskinan

Pemborosan? Siapa peduli itu
Harga? Harga apa? Apa harga diri kau?
Hafalkan singkatan-singkatan ini. Berteriaklah
Dengan dengki dan acungkan tangan terkepal
Tengadahlah. Pandang panji-panji ini “Hormati!”
Bertuliskan sepatah kata: Tirani

Ya anakku. Tirani dengan t besar
Bagi kalian saat ini, sungguh tak terpikirkan
Tapi apa yang kau nikmati hari ini
Kebebasan. Kebebasan dengan k besar
Nikmatilah, nikmatilah.

Dan Ia
Bukanlah jatuh dari awan gemawan
Tapi ia lahir dari duka perjuangan
Ia lahir melalui cercaan nista
Melalui kertas-kertas stensil dari tangan ke tangan
Melalui tembok-tembok kota yang sabar
Dilumuri seribu kaleng cat
Rapat-rapat serta seribu isyarat
Di bawah ancaman laras kekuasaan
Yang dibidikkan ke tengkukmu
Ia lahir dari teriakan-teriakan mahasiswa
Dalam pawai-pawai perkasa
Sungguh tak terpikirkan
Bila kita tidak bersama Tuhan
Bagi kalian sungguh tak terpikirkan kini
Juga bagi ayah (22 tahun yang lalu), ketika
Menuliskan sajak ini
Di kamar yang sepi
Sendiri

(Di luar jam malam hampir berakhir
Sementara ayah sudahi catatan-catatan ini
Ketika subuh dan fajar di langit mengalir
Dan harus berkemas untuk berjalan lagi)

1966

Puisi 22 Tahun Kemudian
Puisi: 22 Tahun Kemudian
Karya: Taufiq Ismail
Read more

Puisi: Kamar 1105 (Karya Joko Pinurbo)

Kamar 1105

Pada akhir pekan saya menyepi di sebuah hotel tua
di pinggiran kota. Petugas hotel mengantar saya
ke kamar nomor 1105. “Sudah lama kamar ini
tidak dihuni. Tak ada yang berani menginap di sini.”

Kamar itu lumayan besar, dilengkapi empat
meja bundar. Saya bersiap lembur,
menunaikan kerja menggambar.

Di meja-1 jokpin-1 menyulut sebatang rokok,
melamun sebentar, kemudian mulai menggambar
mobil jenazah. Supaya tidak tampak seram,
mobil jenazah itu diberi warna biru langit
dan dikasih tulisan “Mati untuk Hidup Abadi”.

Di meja-2 jokpin-2 sibuk menggambar sopir
mobil jenazah sambil dengan khidmat
menyedot rokok. Sopir mobil jenazah itu berusia
sekitar 55 tahun, kulitnya hitam manis, berkopiah,
berbaju batik, dan bersepatu sendal. Ia sopir
yang lugu dan sopan. Ia punya cara khas
untuk menghormat jenazah yang diantar masuk
ke dalam mobilnya: membungkuk, terpejam,
menempelkan telapak tangan kanan ke dada.

Di meja-3 jokpin-3 suntuk menggambar peti jenazah
sambil sesekali mempermainkan asap rokok.
Peti jenazah bikinannya sederhana saja,
tanpa ukiran dan hiasan. Ia tidak ingin
peti jenazah itu tampak lebih mewah
dari jenazah yang akan ditidurkan di dalamnya.

Di meja-4 jokpin-4 bertugas menggambar jenazah.
Ia tampak sangat gelisah sampai-sampai tanpa sadar
dimatikannya rokok yang baru separuh dihisapnya.
Berkali-kali ia membuat sketsa, tak ada satu pun
yang jadi. Ia ingin jenazah buatannya terlihat
tenang dan riang seperti orang habis mandi.
Lebih bagus lagi jika jenazah itu terbaring
damai sambil mendekap sebuah buku puisi.

Menjelang dinihari saya dikagetkan suara
kecipak air di kamar mandi. Dengan waspada
saya buka pintu kamar mandi. Kulihat jokpin kecil
sedang mandiri (mandi sendiri) sambil bermain
telepon genggam. Telepon genggam mainan.

Jokpin-1, jokpin-2, dan jokpin-3 tertidur di kursi,
sementara jokpin-4 masih terlihat bingung
dan pusing, jidatnya seperti puisi setengah jadi.

Pagi-pagi petugas hotel mengetuk pintu,
memberitahukan ada seorang tamu berkopiah,
berbaju batik, bersepatu sendal menunggu saya
di lobi. “Dia bilang mobil jenazahnya sudah siap.”

Jokpin-4 bangkit berdiri: “Katakan kepada sopir
mobil jenazah itu bahwa jenazahnya belum jadi.
Tolong persilakan dia pergi.”

Suatu malam saya diundang pesta puisi
di balai kota. Di halaman gedung pertunjukan
saya melihat mobil jenazah berwarna biru langit
terparkir di antara mobil-mobil lain yang tentu saja
bukan mobil jenazah namun bila diamati
dengan mata ketiga sebenarnya mirip
mobil jenazah juga. Sopir mobil jenazah
tahu-tahu sudah berdiri di hadapan saya.

Dengan hormat ia membungkuk, terpejam
sambil menempelkan telapak tangan kanan di dada.
Saya tarik lengannya: “Hai, aku masih hidup, tahu?”
Ia cuma tersenyum: “Maaf, tuan, maaf, tuan.”

Di lorong remang menuju kamar mandi
saya dihadang seorang wartawan: “Seperti apa
rasanya menulis puisi?” Saya teringat jokpin-4
yang menggambar jenazah tak jadi-jadi.

Saat saya menunggu taksi untuk pulang,
sopir mobil jenazah mendekati saya lagi.
“Taksinya mogok. Mari ikut mobil saya saja.”
Dengan halus saya menolak tawarannya
dan mempersilakannya pergi. Saya tak ingin
melihat mobil jenazahnya lagi. Biarlah
saya dengar jerit sirenenya saja di malam sunyi.

Puisi ini belum jadi mesti diakhiri sebab saya
harus segera menerima telepon dari sopir
mobil jenazah itu. Ia mengabarkan dirinya
baru saja dapat lotere. Nomornya tembus.

“Memang kamu pasang nomor berapa?” tanya saya.
Dari seberang ia menjawab riang, “Nomor 1105.”

2010

Puisi Kamar 1105
Puisi: Kamar 1105
Karya: Joko Pinurbo
Read more

Puisi: Percakapan Telapak Sepatu Berlumuran Lumpur Kuburan (Karya Taufiq Ismail)

Percakapan Telapak Sepatu Berlumuran Lumpur Kuburan

(1)

Sepasang sepatu, kiri dan kanan
Sedang memperbincangkan keluhan
Terlalu banyak bertambah muatan
Tanah yang lekat jadi beban
Sehabis acara mengantar jenazah ke kuburan
Ketika hari rintik-rintik hujan

Tetapi aku yang punya sepatu
Tak mendengar percakapan itu

Bukan kepalang riang perasaan
Dua butir tanah dasar kuburan
Yang di telapak sepatuku ikut melekat
“Sudah dua ratus tahun bertugas di liang lahat
Kinilah baru terbawa naik ke atas
Lama benar tidak menatap matahari
Di tempat bertugas sehari-hari
Menemani mayat yang terbaring sendiri
Yang pelahan jadi tulang-tulang berantakan
Akulah tempat melintas bakteri, serangga dan reptilia
Yang bergilir membongkar onderdil kendaraan roh ini
Bermilyar-milyar mereka bergerak, merayap dan meresap
Mereka kerja diapit kelam dinding bercat tinta Hindia
Dan setelah berakhir penyerbuan pasukan bakteri pembusukan
Tak ada lagi otot, sususan syaraf,  pembuluh darah dan jeroan
Semua diserap bumi melalui kimia penghancuran
Sempurna dihimpit, sempit, dalam fisika kepadatan
Dua ratus tahun aku bertugas dalam kelam
Dan sore ini, aku mengalami mutasi.”

Tapi yang berlumur lumpur
Yaitu sang sepatu
Tak mendengar omongan itu

(2)

Gerimis sudah agak mereda, sesekali angin terasa
Menjelang pintu gerbang masih banyak orang-orang
Mencapai trotoar aspal, kuringankan beban sepatuku
Kugosokkan telapak bergantian kiri dan kanan
Kini terasa agak lumayan
Walau ada bagian yang bandel dan kukuh bertahannya
Berikut tiga helai rumput yang melekat dengan eratnya

Sesama rumput tersebut ternyata berkata pula
Sambil membenahi akar yang terbawa sempurna
“Mudah-mudahan kita dapat bumi yang sunyi
Tempat kita tumbuh menyebar dan menutup tanah
Memberi warna hijau dan menguapkan zat asam
Menyiapkan pucuk untuk dikutip hewan ternak
Bercanda dengan kumbang dan alang-alang
Menangkap angin yang mengibarkan sepi
Di atas bagian bumi yang agak sunyi
Cukuplah pengalaman menumbuhi pekuburan
Tempat yang paling bising di atas dunia
Betapa hiruk-pikuk tak pernah diam
Terguncang-guncang bagai lindu berketerusan
Pernah suara seperti teriakan orang-orang di stadion bola
Digilas seratus mesin giling bersama-sama
Sekawanan kerbau yang sedang memamah-biak
Tegak terperanjat, mengibaskan telinga
Lalu lari tunggang-langgang
Kadang-kadang kudengar jeritan massal hinggar-bingar
Para perempuan yang dibebat gurita kawat berduri
Sehingga induk-induk ayam tegak terpaku
Lalu berkotek-kotek tak ada putusnya
Tungku raksasa apa yang ada di bawah pusara
Mengambang panasnya ke atas
Memanggang putik-putik daun
Kuali penggorengan mayat yang luarbiasa busuk
Yang percikan uapnya membunuh bunga-bunga kamboja
Yang menjerit kesakitan
Sesudah diusap oleh warna kekuningan
Daun-daun itu gugur keletihan
Mudah-mudahan kita dapat bumi yang sunyi
Tempat kita menumbuhkan hijau daun yang teduh
Jauh dari gelegar kubur tak berkeputusan
Tapi heran aku. Lihatlah yang punya sepatu ini
Tertawa-tawa saja sesudah acara mayat masuk kuburan
Dia berkelakar terus dengan teman-temannya
Seperti dia tidak mendengar hingar-bingar
Kamar-kamar algojo di bawah sana
Betapa sempurna
Kedua telinga
Tulinya dia.”

Tanah pusara yang melekat di telapak sepatu
Tak mendengar kata-kata rumput itu

(3)

Aku memutar kunci penyala mesin kendaraan
Roda-roda menggelinding pelahan di musim hujan
Di sela rimba lalu-lintas yang penuh kemacetan
Dengan hati-hati kutekan dan kulepas pedal gas ini
Sebutir tanah dasar kuburan
Yang lekat di bawah telapak sepatuku kanan
Ditanyai teman-temannya, lumpur aspal jalanan
Dan menjawablah dia:
“Pengalamanku yang paling kukenang
Selama bermukim di bawah sana
Ialah menyaksikan hancurnya kain kafan
Kemudian runtuh membusuknya kulit dan daging
Lumatnya organ jeroan
Berserakannya rambut dan kuku
Melelehnya lemak dan kelenjar
Menerawangnya tulang-tulang rusuk
Termenungnya tengkorak
Menganganya rahang
Berlubangnya rongga pernafasan
Cerai-berainya persendian
Tapi, di sudut rongga mata kirinya
Sisa bola matanya masih menggelantung sipi
Nyaris terjatuh
Dan aneh
Di sudut bola mata membusuk keriput itu
Setetes air mata menggantung pula
Lama tersangkutnya
Seperti enggan jatuh
Antara gugur dan menggantung
Tapi tak juga luruh-luruh
Kemudian
Dari air mata itu
Yang berkilat dalam gelap
Meneteslah setitik air

tes

Jatuh di dekatku
Bertanya aku padanya
‘Siapa kamu’
Menjawablah dia
‘Aku air mata dari air mata’
Aku bingung
‘Maksudmu bagaimana’
‘Aku air mata. Dari air mata
Aku menitik berkepanjangan
Di bawah tanah
Karena sumberku, air mata sebenarnya
Tertahan menetes
Selama di atas tanah’
Aku tidak paham
Mungkin aku tak perlu paham”
Begitulah cerita butir tanah kuburan itu.

(4)

Pedal gas yang kini berlumuran tanah liat itu
Tak mendengar kata-kata tanah kuburan tadi
Rumput yang tiga helai berikut akarnya
Tak mendengar pula kata-katanya
Sepatu yang membawa semua
Tak mendengar kata rumput dan tanah
Aku yang menginjak dan memasuki kedua sepatu itu
Tak menyimak kata-kata sepatu.

1988
Puisi Percakapan Telapak Sepatu Berlumuran Lumpur Kuburan
Puisi: Percakapan Telapak Sepatu Berlumuran Lumpur Kuburan
Karya: Taufiq Ismail
Read more

Puisi: Kita (Karya Tri Astoto Kodarie)

Kita

kita adalah tawanan dari nafsu
saat dunia menyodorkan kegetiran
terhambur teka-teki

kita adalah para musafir dari padang merah
yang selalu menanyakan arah
jarak dan kehidupan

kita adalah sekumpulan pemberontak
yang menyandang bedil-bedil kelicikan
lalu menembakannya pada harga diri sendiri

kita adalah arus sungai di lembah peradaban
mengalir sungsang di antara kotoran-kotoran
anyir dan memualkan.

1987

Puisi: Kita
Puisi: Kita
Karya: Tri Astoto Kodarie

CATATAN:
  • Tri Astoto Kodarie lahir di Jakarta, pada tanggal 29 Maret 1961.
Read more

Puisi: Gerimis Panjang Malam Tua Sepanjang Jalan-jalan Yogya (Karya Munawar Syamsuddin)

Gerimis Panjang Malam Tua
Sepanjang Jalan-jalan Yogya

Gerimis panjang malam tua sepanjang jalan-jalan Yogya
segalanya hanya basah menyeret kereta gundah
adakah akan padam bara api dalam sekam yang kelam
yang tampak diam dan diam-diam engkau bakarkan
tatkala malam itu kita saling kehabisan kata dan kemungkinan
adakah sirna segala makna dan kenangan impian kemesraan
untuk bertaut hati sebagai perahu putus tali tonggak pantai
terbantun-bantun pusaran tak bisa rapat dengan daratan

Gerimis sepanjang malam kuta sejauh lengang kota
udara basah mengucuri daun-daun trembesi berjalan jauh
dan mati
ada cericit burung alit dan renta dari langit muram durja
cericit burung tua tak dipedulikan betina sarangnya teritis
angin menepis tanpa arah sesaat terjawab lolongan anjing
menjauh
menggema di relung kuta kuyup berlumut dukana tak
bersambut
kelam hilang di buritan nanap kabur di kejauhan
sepasang tepian kuta kenangan sepanjang jalan percintaan
tenggelam
kini hanya gerimis berkepanjangan sendiri dan kesepian

Gerimis renyah sebaiknya aku betah di rumah namun tak
terusir gelisah
kaca arloji basah gemetarnya jarum-jarum kian tua sejauh
gemuruh dingin
mengibaskan mahkota memutih lampu-lampu merkuri
gemetar kabut
mobil menyipratkan genangan lampu bara mengambang
aspal tenggelam terjebak di tikungan
masih juga sayup ada suara gamelan di balik kisi-kisi terkunci
toko-toko cina berjajar mengunci kerahasiaannya tak satu pun
terbuka
O! Di ujung hidup kain putih bergelantungan kabut cendana
keluarga duka di perantauan sementara aku kehabisan

Gerimis menyusut cakrawala berat jejak berlumpur kenangan
gerimis berdekatan sesayup atap malioboro sejauh kota
tenggelam cakar-cakar
perunggu kotaku terengah meredup
seperti menyembunyikan keganjilan di mana-mana wasangka
meraba-raba
tapak-tapak kuda sangsi bernapas salju terjulai
tapak-tapak gelisah menyeret kereta lentera satu
seret beban tertatih-tatih napas sais letih
ke manakah perjalanan tersua warung lelap
lagu dan gamelan lepas dari jauh, sayup-sayup radio kepagian

Gerimis sepanjang malam luka sejauh tak tidur tak terjaga
terserap langit rimbun desau angin cemara luruh
boulevard menguncikan kota di ufuk fajar tanpa rona
dinding kampus biru menatap gunung berbercak lampu
penghabisan
gerimis sepanjang gumam rindu tiada kepastian waktu
menghela jarum degubnya mencari terminal rohku
bagai usiaku terkapar dijaring malam dan siang
terkapar bayang-bayang itu
hanya kesangsian waktu kuduga matahari angan-angan
cahayanya yang memesona tak kuasa membujuk gerimis usai
dengan puisi tua aku mungkin bisa menorehkan rindu
adalah gerimis bernyanyian sepanjang sia-sia waktu
adalah penyesalan meluncur lembah cinta yang indah
yang aku abaikan demi berburuan darah dan daging
sekuntum sumber mencahari jalan sungai ke muara abadi
dan terus kususuri gerimis menjauh
sepanjang malam tua sepanjang jalan-jalan penyesalan juga
sepanjang luka-luka yang membuka

1979

Puisi Gerimis Panjang Malam Tua Sepanjang Jalan-jalan Yogya
Puisi: Gerimis Panjang Malam Tua Sepanjang Jalan-jalan Yogya
Karya: Munawar Syamsuddin

Baca Juga: Puisi tentang Bahasa
Read more

Puisi: Menyusuri Jakarta Tengah Malam (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Menyusuri Jakarta Tengah Malam

tak ada lagi yang bisa selamatkan kita
menghindari malam yang makin buram
mari susuri saja jalan ini
sejauh mana kita mampu berjalan

letih hanya milik waktu
dan ragu akan segera berlalu
dari sendu matamu

lampu-lampu kota
makin tua cahyanya
namun wajahmu yang belia
membayang di setiap warna iklan
senantiasa menggoda

di mana kita mesti singgah
untuk sekedar istirah
menghentikan langkah
rumah terlalu jauh
dan losmen murah hanya sisa keluh
mungkin juga sejumput lenguh

mengapa cemas pada selimut tipis
yang menutup kawasan rawan tubuhmu
selimut yang serupa selaput itu
mungkin terlalu rapuh
tapi yang suci adalah hati, kekasih

“dan yang setia adalah perjalanan,” gumammu

kau gagu
meraba wajahku
aku kelu menduga kilau
airmata di pelupukmu
seperti embun
di lembah subuh

2005

Puisi: Menyusuri Jakarta Tengah Malam
Puisi: Menyusuri Jakarta Tengah Malam
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Baca Juga: Puisi W.S. Rendra - Kangen
Read more

Puisi: Nyanyian Ibunda (Karya Tri Astoto Kodarie)

Nyanyian Ibunda

dan alam pun membuka diri bagi hidup
saat adzan subuh mengetuk pintu-pintu
ada suaramu melarut dalam alunan, ibunda
aku pun kemudian menjemputnya

dan seperti tetes embun pada asal mulanya
menetes pada ranting-ranting dan daun-daun sederhana
sesederhana sapa dan laku hidupmu
hingga lahirlah kesederhanaan dari rahimmu
bersama sajak-sajak

ibunda, suara adzan kadang menggugurkan embun-embun
dari proses alam yang memancarkan segala hidup
dengan kemelut dan kegelisahan
bersama kesederhanaanmu, ibunda
aku menapaki kebekuan bilik mesjid.

1987

Puisi: Nyanyian Ibunda
Puisi: Nyanyian Ibunda
Karya: Tri Astoto Kodarie

CATATAN:
  • Tri Astoto Kodarie lahir di Jakarta, pada tanggal 29 Maret 1961.
Read more

Puisi: Sajak Bulan Purnama (Karya W.S. Rendra)

Sajak Bulan Purnama

Bulan terbit dari lautan.
Rambutnya yang tergerai ia kibaskan.
Dan menjelang tengah malam,
wajahnya yang bundar,
menyinari gubuk-gubuk kaum gelandangan
kota Jakarta.

Langit sangat cerah.
Para pencuri bermain gitar,
dan kaum pelacur naik penghasilannya.
Malam yang permai
anugerah bagi supir taksi.
Pertanda nasib baik
bagi tukang kopi di kaki lima.

Bulan purnama duduk di sanggul babu.
Dan cahayanya yang kemilau
membuat tuannya gemetaran:

"Kemari, kamu!" kata tuannya.
"Tidak, tuan, aku takut nyonya!"
Karena sudah penasaran,
oleh cahaya rembulan,
maka tuannya bertindak masuk dapur
dan langsung menerkamnya.

Bulan purnama raya masuk ke perut babu.
Lalu naik ke ubun-ubun
menjadi mimpi yang gemilang.
Menjelang pukul dua,
rembulan turun di jalan raya,
dengan rok satin putih,
dan parfum yang tajam baunya.
Ia disambar petugas keamanan,
lalu disuguhkan kepada tamu negara
yang haus akan hiburan.

Yogya, 22 oktober 1976

Puisi Sajak Bulan Purnama
Puisi: Sajak Bulan Purnama
Karya: W.S. Rendra
Read more