TRENDING NOW

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Berpeluk Erat Wewangian

lamat-lamat aku gedor pusar bunda jiwa cair
merobek hati tanah: belpeluk erat wewangian
rambati telapak kaki semut, nisan ibu bergolak
berselempang bunga mengacung badai, aku goncang
berjibaku ke amsal alamat yang sekarang semarak
dituntun peta perjalanan dekat rahim dan ari-ari
membaca batas peralihan antara rahasia-rahasia

kembali menggigil di mata-air sejati. pelukanku
rahmat bersarang, mengepung pikiran beranjak tua
pancaindra menyunting segala Tuan, sampai
akar tauhid corong cakrawala; menjadi bibit
rinduku? sarat pembisuan layar keabadian, abadi
dan dekat pusar taufan aku pamit, sejahtera.

Puisi: Berpeluk Erat Wewangian
Puisi: Berpeluk Erat Wewangian
Karya: Pudwianto Arisanto

Catatan:
  • Pudwianto Arisanto adalah penyair kelahiran Pasuruan.
  • Pudwianto Arisanto lahir pada tanggal 25 Juni 1955.
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surat Seorang Penyair kepada Kekasihnya

dekapan purnama
ladang terbuka
jemari di tanah subur
lembut lenyap baur
sepasang burung di ranting
flamboyan
melepas sunyi

perahu menepi
pelabuhan sepi
ditambatkan abadi
semoga Tuhan
semogalah Tuhan!
rakhmat harapan

burung beterbangan
apa mereka punya sekarang
petani setia di kaki bukit
miskin terpencil di gubug mungil
cinta membara
pusaka ibu-bapa

manisku, manisku sayang
rumah berteduh puisi telanjang
humor berkelakar membuat sabar prihatin
sederhana tanpa pangkat jabatan
senangkah menerima kehadirannya
terbentang lepas padang tegalannya
suka, awan bayang-bayang
gaib lama bertahan
sengsara kuda tungganganku berkejaran
kepunyaan penghabisan kematian
milik abadi bertahan

hidup bertahan membangun harapan
teduhnya bintang di malam kelam
buat apakah hadir?
mereguk rasa pahit sebelum terakhir
pedih menjadi manis
kita bercinta
penuh silih meminta
menyandang kegairahan
cermin mengenal diri
bayang-bayang tak pernah mati

puisi mengajarku jantan bersabar
diam mengenal siapa bermain di atas layar
mengajarku pemberontakan
kutujukan protes, dan
keruntuhan selalu tiba bagi
siapa saja menipu kalbunya sendiri
mengajarku beribadah
sujud segenap diri kumal karatan
aku pun bukan milikku, ibu-bapa
bayangan menjalankan papa
papa bukanlah untuk menyerah
cinta bergairah malam purnama
meniup layar perahu lautan
bulan matahari berangkulan
melangsungkan perkawinan
membakar kegairahan
terimalah
terimalah manisku
segala miskin kepapaanku
dungu bertahan karena-Nya

Denpasar, 1972
Puisi: Surat Seorang Penyair kepada Kekasihnya
Puisi: Surat Seorang Penyair kepada Kekasihnya
Karya: Ngurah Parsua


Catatan:
  • Ngurah Parsua memiliki nama lengkap I Gusti Ngurah Parsua.
  • Ngurah Parsua lahir di Bondalem, Singaraja, Buleleng.
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak dari Laut

Laut bergelombang buas
tapi, lebih buas hati manusia
Hari demi hari
meruntuhkan alam manusia kami

Dan ombak berbisik
menandai lagu nestapa

Bintang yang jauh
menghancurkan cinta kami
menyihir dunia kami
Dan menjebak
setelah kami kalah berjudi

Kami jadi enggan berbicara tentang rindu
yang senantiasa menyaksikan gemuruh ini
begitu sekarat

Puisi: Sajak dari Laut
Puisi: Sajak dari Laut
Karya: Bambang Darto


Catatan:
  • Bambang Darto lahir di Nganjuk, pada tanggal 26 Februari 1950.
  • Bambang Darto meninggal dunia di Yogyakarta pada tanggal 20 Januari 2018.
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dalam Kesunyian Panjang

terkadang; air mata bicara pada nurani, rambut, kening, ibu
mitos langit, rembulan, denting jam, komposisi waktu atau
harum tubuh lelaki, hangat kekasih, bibir dalam rangkulan
sejumlah investasi hati, juga silsilah pilihan dalam kalbu

dan luka-luka menggeronjal dasar benih, saat hening rahim-ku
tercemar, dalam lukisan noda hitam berlatar potret diri

puing-puing agung itu sinyal ribuan gen aids, sapaan otot-otot langit
tidur nyenyak sejak muara senyum datang lewat kesunyian panjang
lantas, menjejak degup dengan erangan suci mengayun samodra
menggelontor saudara seperanakan yang gugur kembali asal

Pasuruan 18/4/2002
Puisi: Dalam Kesunyian Panjang
Puisi: Dalam Kesunyian Panjang
Karya: Pudwianto Arisanto

Catatan:
  • Pudwianto Arisanto adalah penyair kelahiran Pasuruan.
  • Pudwianto Arisanto lahir pada tanggal 25 Juni 1955.
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pada Upacara Penguburan
- Popo Iskandar

dalam gerimis siang kendaraan beriringan
seperti semut ke luar sarang memburu remah roti,
di antara raung sirine kereta jenazah merayap
membelah kota diam membeku.

di Wanaraja penantian itu menjelma
di tengah kerimbunan pohon petai dan rumpun pisang,
tiba-tiba keriuhan do’a itu terhenti:
hanya gundukan tanah basah bertabur bunga
serta kelembaban udara membisu.

impian itu terus berlari, tahun-tahun tak pernah kembali
demikian juga bayangan kucing dan ayam jago kesayanganmu
setelah semuanya diam, berarti pula akhir pengembaraan
dan hanya kenangan menghampiri malam berbintang

kini goresan kata-kata tampak di kaca-kaca jendela,
bagaikan embun memintal ruang berlumut,
dan hanya kenangan menghampar panjang,
sebagai pijakan untuk memahami arti sebuah kearifan.

2000
Puisi: Pada Upacara Penguburan
Puisi: Pada Upacara Penguburan
Karya: Juniarso Ridwan


Catatan:
  • Juniarso Ridwan lahir di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 10 Juni 1955.
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bila Saja Selembar Daun
(ecological suicide)

hamparan pikiran telah terkoyak-koyak,
membuat denah-denah jalan keinginan,
mengikuti bisikan-bisikan gaib kalkulator:
bukit-bukit berguguran,
lembah-lembah merebah,
hanya tiang-tiang beton tumbuh subur,
ujung kaitnya menusuk langit.

bila saja selembar daun, ringkih melayang,
mencari pijakan di ranting-ranting kehidupan,
di sana tanah kehilangan ikatan hidup, *)
karena petak-petak yang terbentuk,
tak pernah memberi kesempatan daun singgah.

rumah-rumah seperti melayang di udara berabu,
kantor-kantor dan toko-toko bergelayutan di tepi pagi,
orang-orang sibuk menimbang umur,
sedangkan liang lahat menjadi benda asing yang langka:

para penggali kubur telah lama tersesat di butik-butik
pusat kota.

2004


*) Di lingkungan masyarakat adat Sunda dikenal pembagian bidang tanah menurut urutan Tritangtu, atau di Bali dikenal juga Tri Hita Karana.
Puisi: Bila Saja Selembar Daun
Puisi: Bila Saja Selembar Daun
Karya: Juniarso Ridwan


Catatan:
  • Juniarso Ridwan lahir di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 10 Juni 1955.
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dalam Molekul-molekul

aku bangkai pabrik dalam molekul-molekul pabrik
piaran pupuk, kuli panggul pasar, jerit lampion, pusar
rumah, impian, kuburan; bias bias begawan masa kini

gejolak dibumbui manik-manik yang berseliweran
sedang riwayat gusi mencium endrem, jor-joran pilu
kejang; menyita renungan yang terdepak dari internet

detak berjingkrak, aku turun naik simbar, ruku’ lagi
dan ruas rusuk; airmata, kampanye bugil, nyidam opium
membunuh bau-bauan, pekarangan, bumbu sedap itu

Puisi: Dalam Molekul-molekul
Puisi: Dalam Molekul-molekul
Karya: Pudwianto Arisanto

Catatan:
  • Pudwianto Arisanto adalah penyair kelahiran Pasuruan.
  • Pudwianto Arisanto lahir pada tanggal 25 Juni 1955.
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perjalanan yang Tiada Terselesaikan

Ada jalan dan barisan panjang menempuhnya
melalui abad-abad datang dan abad-abad lalu
ada semacam kerinduan menemaniku di sana
sebuah perjalanan yang tentram dan laju

Melalui segala tanah rata dan bukit terjal tandus
perjalanan yang kudus tak henti-hentinya menembus
perasaanku pada perjalanan yang tiada terselesaikan
ialah perjalanan persahabatan sesama insan.

1975
"Eka Budianta"
Puisi: Perjalanan yang Tiada Terselesaikan
Karya: Eka Budianta

Baca juga: Kumpulan Puisi D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Malam Teluk

Malam di teluk
menyuruk ke kelam
Dan bulan yang tinggal rusuk
Padam keabuan

Ratusan gagak
Berteriak
Terbang menuju kota

Akankah nelayan kembali dari pelayaran panjang
Yang sia-sia? Dan kembali
Dengan wajah masai
Sebelum akhirnya badai
Mengatup pantai?

Muara sempit
Dan kapal-kapal menyingkir
Dan gonggong anjing
Mencari sisa sepi

Aku berjalan pada tepi
Pada batas
Mencari

Tak ada pelaut bisa datang
Dan nelayan bisa kembali
Aku terhempas di batu karang
Dan luka diri.

1971
Puisi: Malam Teluk
Puisi: Malam Teluk
Karya: Abdul Hadi WM

Baca juga: Kumpulan Puisi tentang Kedua Orang Tua
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kupu-kupu di dalam Buku

Ketika duduk di stasiun bis, di gerbong kereta api,
di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,
di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku
dan cahaya lampunya terang benderang,
kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua
sibuk membaca dan menuliskan catatan,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika bertandang di sebuah toko,
warna-warni produk yang dipajang terbentang,
orang-orang memborong itu barang
dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,
dan aku bertanya di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika singgah di sebuah rumah,
kulihat ada anak kecil bertanya pada mamanya,
dan mamanya tak bisa menjawab keinginan-tahu puterinya,
kemudian katanya,
"tunggu, tunggu, mama buka ensiklopedia dulu,
yang tahu tentang kupu-kupu,"
dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,

Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,
di setasiun bis dan ruang tunggu kereta-api negeri ini buku dibaca,
di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca,
di tempat penjualan buku laris dibeli,
dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu
tidak berselimut debu
karena memang dibaca.

1996
Puisi Kupu-kupu di dalam Buku
Puisi: Kupu-kupu di dalam Buku
Karya: Taufiq Ismail