TRENDING NOW

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku Bercerita Kepada Malam

Aku bercerita kepada malam
Tentang kisah yang tertambat di dermaga jiwa
Dicampakkan angin yang berpaling ke lain arah.

Aku bercerita kepada malam
Tentang perjalanan yang tertunda di belantara hati
Dihadang kabut yang merenggut indah dari pandang.

Aku bercerita kepada malam
Karena hanya ia yang sudi menadah keluh kesah
Para pecinta yang menderita....

"Puisi Sam Haidy"
Puisi: Aku Bercerita Kepada Malam
Karya: Sam Haidy

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Kepergian

Malam berderap seperti kaki gelap
melangkah pergi
dan kamu nikmati tangis tak pedih
bangunlah dan ucapkan selamat malam
meski serupa tikam kuterima lapang.

Sebab ini dekonstruksi
lebih dari menanggung berat besi
 
Dan aku pasti menemukan selainmu
yang sepertimu malam ini juga.

Sebab jiwaku lebih luas ketimbang dunia.

21 Mei 2013
"Puisi Raedu Basha"
Puisi: Catatan Kepergian
Karya: Raedu Basha

Baca juga: Puisi Perjuangan
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tatkala Cinta Tak Berarti Memiliki

Di bawah bayang-bayang garis cahaya bulan
kupintal hasrat-hasrat tanpa harap
menyanyi lagu-lagu sumbang
sambil tengadah ke langit kosong
tidaklah mungkin lagu tercipta dari sebuah nada
dan segenggam pasir tak mungkin menjadi sebuah
rumah
bahkan segala kenangan pun pergi
tinggalkan ‘ku dalam kesendirian yang sempurna.

1992
"Puisi Medy Loekito"
Puisi: Tatkala Cinta Tak Berarti Memiliki
Karya: Medy Loekito

Baca juga: Puisi 17 Agustus
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Hanyut Aku

Hanyut aku, kekasihku!
Hanyut aku!
Ulurkan tanganmu, tolong aku.
Sunyinya sekelilingku!
Tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati,
tiada air menolak ngelak.
Dahagakan kasihmu, hauskan bisikmu, mati aku
sebabkan diammu.
Langit menyerkap, air berlepas tangan, aku tenggelam.
      
Tenggelam dalam malam,
air di atas menindih keras
bumi di bawah menolak ke atas
mati aku, kekasihku, mati aku!

"Puisi: Hanyut Aku (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Hanyut Aku
Karya: Amir Hamzah
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Lain

'ku guratkan namamu
dalam gelisah
antara dua gelombang
yang menjilatnya
kemudian:
rata.

yang tinggal hanya buih
diserap pasir
basah.

Tanjung Balai Karimun, 1977
"Puisi: Sajak Lain (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Sajak Lain
Karya: Aldian Aripin
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Melukis Cuaca

Kadang aku ingin sembunyi
Dalam semak belukar dan ilalang
Yang tumbuh lebat di alis matamu
Gelisah ini telah melahirkan sunyi

Di ujung musim
Telah aku lukis hujan dan cuaca
Membasahi ketiak dan kelangkang masa silam
Menenggelamkan anyir keringat yang tak terbaca

Pernahkah aku melintas di aortamu
Menarikan gelombang tsunami
Membangunkanmu dari mimpi-mimpi purba
Dalam kegelapan malam yang memuncak

Jakarta, Juni 2000
Puisi: Melukis Cuaca
Puisi: Melukis Cuaca
Karya: Dianing Widya Yudhistira

Catatan:
  • Dianing Widya Yudhistira adalah seorang sastrawati Indonesia.
  • Dianing Widya Yudhistira lahir di Batang, Jawa Tengah, pada tanggal 6 April 1974.
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Senja

Hening di luar bersama rintik hujan
menyisakan gigil yang ngungun
Ada sekian percakapan antara kita
yang lahir dari sapa hujan dan udara

Dan wajah bulan dari balik kaca
seperti menyiratkan makna-makna
Rentang waktu yang berjalan
Menambat usia merangkak pulang

Aku terpana dalam sepi menekan
Sapa angin dan pori-pori daun
Mengabarkan nama dan alamat
tentang ombak yang mendaki pantai

Jakarta, Mei 2000
Puisi: Senja
Puisi: Senja
Karya: Dianing Widya Yudhistira

Catatan:
  • Dianing Widya Yudhistira adalah seorang sastrawati Indonesia.
  • Dianing Widya Yudhistira lahir di Batang, Jawa Tengah, pada tanggal 6 April 1974.
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tersesat

Kabut itu masih saja tebal
biar pun disapu hujan
lelah angin dan udara menyapa
masih saja legam.

Tubuhku keberatan pamrih
bermandikan hasrat dan pujian
lalu wajah di cermin itu …
adakah ia aku?

Depok, April 2012
Puisi: Tersesat
Puisi: Tersesat
Karya: Dianing Widya Yudhistira

Catatan:
  • Dianing Widya Yudhistira adalah seorang sastrawati Indonesia.
  • Dianing Widya Yudhistira lahir di Batang, Jawa Tengah, pada tanggal 6 April 1974.
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di ujung Malam

Jangan matikan lampu sebelum aku tidur – katamu
sementara malaikat mengintipmu di lubang kunci
seperti bulan kehilangan malam
kau berharap masih ada pagi esok hari

Matahari telah lama — runtuh di tubuhmu
ribuan pelangi ditinggalkan bidadari

Ngarai itu seperti berjalan di pembuluh darahmu
dan doa kita merangkak gagal sejak dini

Tak akan ada ujung tanpa pangkal
kau ciptakan sendiri — racun dalam nadimu
mengapa kini engkau kecut saat harus pulang

Percayalah tak ada yang sia-sia di setiap kehidupan

Depok, Februari 2003
Puisi: Di ujung Malam
Puisi: Di ujung Malam
Karya: Dianing Widya Yudhistira

Catatan:
  • Dianing Widya Yudhistira adalah seorang sastrawati Indonesia.
  • Dianing Widya Yudhistira lahir di Batang, Jawa Tengah, pada tanggal 6 April 1974.
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pertemuan

Mengapa kau kirim aku
bunga mawar yang tak sempurna
Kelopaknya berguguran di musim semi
seperti upacara senja yang sengit

Coba kau baca
Grafiti di sepanjang tubuhku
akan kau lihat tatap sengit burung hantu
jerit kelelawar serta lolong serigala

Mengapa kau tawarkan aku
sawah ladang serta kebun yang tandus
Padahal hasratku seperti mimpi bulan pada matahari
tak pernah letih meski tahu — sia-sia

Depok, Januari 2003
Puisi: Pertemuan
Puisi: Pertemuan
Karya: Dianing Widya Yudhistira

Catatan:
  • Dianing Widya Yudhistira adalah seorang sastrawati Indonesia.
  • Dianing Widya Yudhistira lahir di Batang, Jawa Tengah, pada tanggal 6 April 1974.