Wisata Keruh

pada sela-sela desah sebenarnya banyak yang terlupa
seperti orang-orang kian tegang oleh suasana kota
benih-tunas putus asa
amat lain dengan segala ketentraman yang ada: puncak
gunung
berselimut kabut, misteri hidup
tertinggal di sudut-sudut nyawa dan kehidupan
bagai setumpuk sampah kian membusuk dan terlingkup

pada sela-sela degup jantung ini, kian terasa
masih begitu panjang jalan belum tertempuh
sedang mangu hati berhenti di banyak simpang
membayang tujuan jalur-jalur nyata asing
maka menggelindinglah sukma dengan rasa kering

Saudara, pastilah jalur yang dikenal
tak berujung pada alam lain, jadikan kurang laku
dengan getar tiada kenal gegar setiap radar
memperkaya dan memperpintar seluruh indera, seluruh
bagian tubuh bila kelak masing-masing menghadapi ragam
tanya
sedang yang tunggal serba jujur, tak mau selain benar


pada sela-sela tiap langkah, sebelum jantung pecah
menuju sentral segala sembah, karena tak lagi tertampung
sekian desah: susutkan nafsu, bagai kali keruh
yang di kaki gunung sejuk serba hijau tanpa daun luruh
Lihatlah, betapa bening, betapa jernih bagai kasih

Saudara, bentangkan setiap indera, betapa hidup penuh keruh
tak seperti sebelum bentukan nafsu kian tumbuh

Puisi: Wisata Keruh
Puisi: Wisata Keruh
Karya: Kuswahyo S.S. Rahardjo

Baca Juga: Puisi Sore
Loading...

Post A Comment:

0 comments: