Tidak setengah-setengah.

Perbandingan antara Metode Agile dan Waterfall

|

Ada banyak Metode Manajemen Proyek yang bisa digunakan untuk mengerjakan sebuah Proyek. Beberapa contoh di antaranya adalah: Metode Agile, Metode Waterfall, Metode Fountain, Metode Prototyping, Metode Spiral, Metode Incremental, dan lain sebagainya.

Dengan mempertimbangkan Tim Pengerjaan Proyek, Sumber Daya, Batasan Anggaran, Ruang Lingkup Pekerjaan dan Waktu Pengerjaan. Maka metode yang cocok untuk digunakan pada setiap Proyek bisa berbeda-beda.

Perbandingan antara Metode Agile dan Waterfall

Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas dua metode paling umum yang sering digunakan akhir-akhir ini, yaitu Metode Agile dan Metode Waterfall. Lingkup pembahasan kali ini adalah perbandingan antara Metode Agile dan Waterfall - tanpa melibatkan metode lain.


Perbandingan antara Metode Agile dan Waterfall


Apa itu Metode Agile?

Metode Agile adalah Metode Manajemen Proyek yang dilakukan secara bersamaan; semua fase/tahap diproses secara bersamaan oleh Tim Pengerjaan Proyek.

Proyek yang dikerjakan akan dipecah menjadi beberapa Bagian; Tim Pengerjaan Proyek akan dibagi menjadi beberapa grup (atau perorangan) untuk mengerjakan Bagian masing-masing. Setiap tim harus memiliki keahlian masing-masing.

Proses Pengerjaan Proyek dilakukan secara berulang-ulang (terus-menerus), dengan tujuan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Oleh karena itu, agar Proyek sukses, komitmen tim harus benar-benar baik dari awal sampai akhir.

Dalam Metode Agile, Uji Proyek akan terus dilakukan selama Proyek dikerjakan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Agar Proyek tetap terstruktur dan terorganisir, sembari Proyek dikerjakan, Tim Pengerjaan Proyek dengan leluasa akan mendiskusikan Pengerjaan Proyek dengan Pelanggan, Manajer dan juga Penguji.

Dalam Metode Agile, komunikasi adalah kunci keberhasilan Proyek. Komunikasi - antar Tim Pengerjaan Proyek, Pelanggan, Manajer, dan Penguji - akan terus dilakukan dari awal Proyek sampai akhir Proyek.

Metode Agile tidak cocok untuk dikerjakan oleh skala tim yang besar (lebih dari 20 orang). Model Waterfall juga tidak cocok digunakan untuk Proyek yang memiliki anggaran kecil.


Apa itu Metode Waterfall?

Metode Waterfall (Metode Air Terjun) adalah Metode Manajemen Proyek yang dilakukan secara berurutan dan sistematis; Tim Pengerjaan Proyek hanya akan melanjutkan ke fase/tahap berikutnya jika langkah sebelumnya sudah ditinjau dan berhasil diselesaikan.

Proses pengerjaan Proyek menggunakan Metode Waterfall berbeda dengan Metode Agile, yang mana seluruh Tim Pengerjaan Proyek akan bekerjasama sebagai satu tim dari awal sampai akhir untuk mengerjakan semuanya bersama; tidak dibagi grup.

Metode Waterfall harus memiliki perencanaan (persyaratan dan segala macam kesepakatan) yang benar-benar matang di awal. Karena metode ini tidak memungkinkan perubahan rencana jika Proyek sudah mulai dikerjakan.

Oleh karena itu, semua hal - mengenai Tim Pengerjaan Proyek, Sumber Daya, Batasan Anggaran, Ruang Lingkup Pekerjaan dan Waktu Pengerjaan - harus ditentukan di awal.

Berbeda dengan Metode Agile, dalam Metode Waterfall, Uji Proyek lebih sering dilakukan di akhir atau setelah Proyek selesai dikerjakan.


Mana Metode yang Lebih Baik antara Agile dan Waterfall?

Perbedaan agile dan waterfall sudah sangat jelas, bukan? Ini bukan mengenai mana metode yang lebih baik atau mana metode yang lebih buruk untuk digunakan, tapi ini mengenai mana metode yang lebih cocok atau mana metode yang lebih tidak cocok untuk digunakan pada suatu Proyek.

Dan dalam upaya mempertimbangkan dan memilih mana metode yang cocok, kita bisa memperhatikan beberapa hal:

  1. Jika memiliki anggaran besar, maka Metode Agile adalah pilihan yang lebih ideal.
  2. Jika anggaran yang akan dikeluarkan sudah ditetapkan, maka Metode Waterfall adalah pilihan yang lebih ideal.
  3. Jika menginginkan Proyek selesai tepat waktu, maka Metode Waterfall adalah pilihan yang lebih ideal.
  4. Jika tidak punya masalah dengan tenggat waktu, maka Metode Agile adalah pilihan yang lebih ideal.
  5. Jika tidak ada perubahan rencana lagi atau rencana sudah benar-benar matang, maka Metode Waterfall adalah pilihan yang lebih ideal.
  6. Jika tidak memiliki rencana yang matang atau memungkin terjadi perubahan rencana, maka Metode Agile adalah pilihan yang lebih ideal.
  7. Jika ingin melibatkan pelanggan dalam proses pengerjaan Proyek, maka Metode Agile adalah pilihan yang lebih ideal.
  8. Jika target pelanggan sudah jelas, maka Metode Waterfall adalah pilihan yang lebih ideal.

Dari perbandingan antara Metode Agile dan Waterfall di atas, kita bisa melihat bahwa kedua metode tersebut memiliki ciri khas masing-masing, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan dalam beberapa hal saling bertolak belakang. Namun bukan karena salah satu lebih baik, tapi hanya masalah kecocokan.

Bacaan Menarik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar