Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Laki-Laki Itu Amar, Dia Ayahmu

|

Sudah seminggu ini mataku sembab. Dadaku juga masih terasa sesaknya. Kata-katamu sehidup sesurga bersamaku kala itu masih terukir jelas dalam ingatanku. Bahkan aku masih bisa merasakan kehangatan yang selalu kamu berikan bagi tiap-tiap manusia yang ada di dekatmu. Kamu adalah cahaya bagiku, Ibu dan Arina, adik perempuanmu.

Perutku terasa mual, kepalaku sakit, persis seperti yang aku rasakan saat kamu meninggalkan kami. Aku menepis rasa itu, mencoba untuk biasa saja. Karena ibu dan adikmu membutuhkan perhatian lebih dariku. Ibu selalu menolak masakanku sejak itu. Seolah aku adalah biang dari kematianmu. Sedangkan Arini selalu menanyakan keberadaanmu.

"Aku harus jawab apa mas? Bagaimana cara menjelaskan kepada Arini jika kakak lelakinya tidak akan pernah kembali, meski hanya untuk sekedar memeluk sejenak" Aku bertanya pada bayangku sendiri.

Semur ayam, sop dan tempe goreng yang aku masak pagi tadi, masih utuh sampai malam ini. Angin mengibaskan sedikit aroma basi dari semangkuk sop di atas meja makan. Aku mengambilnya lalu bergegas untuk membuangnya. Air mataku menetes tak sengaja. Rasanya aku ingin marah dengan kondisiku sekarang.

Perutku masih saja mual. Kepalaku sedikit sakit.

"Aku harus gimana mas?" ucapku lirih, air mataku terjun bebas dan membelai pipiku dengan halus.

Aku berjalan menuju dapur, meraih kotak obat kecil yang kamu buat kala itu. Menilik paracetamol, mungkin bisa meredakan sakitku.

"Mala?" Ibu menyapaku lirih.

Aku menengok ke arah suara itu berasal, raut wajahnya berubah menjadi khawatir setelah melihat mataku sembab dan pipiku basah. Ibu tidak mengeluarkan sepatah kata pun, berjalan ke arahku kemudian memelukku erat.

"Maafkan Ibu, Sayang, Ibu teramat lama membisu, terlalu larut dalam aliran duka yang teramat dahsyat" ucap Ibu dengan nada bergetar karena tangisan.

Tangisku semakin menjadi. Aku teramat merindukan pelukmu, yang sebenarnya aku harapkan saat aku teramat rapuh kala itu.

Ibu melepaskan peluknya. Menatapku dan menarik pelan lenganku, langkahnya menuntunku untuk duduk. Ibu menuangkan segelas air lalu menyodorkannya untukku.

"Kenapa?" Tanya Ibu padaku.

Aku melempar senyum tipis, menggelengkan kepala. Meyakinkan ibu jika aku baik-baik saja.

"Udah lama banget Ibu ga liat kamu haid, besok coba cek dokter, siapa tau Allah kasih kita rejeki" ucap Ibu.

Aku mencoba mengingat memori beberapa bulan belakangan. Sejak suamiku sakit 5 bulan yang lalu. Aku tidak begitu memperhatikan diriku sendiri.

"Aku hamil, Bu?" tanyaku pada Ibu.

Ibu menjawab pertanyaanku dengan senyuman, lalu mengusap perutku sebelum meninggalkan aku yang termenung memikirkan nasibku.

"Aku hamil, Mas?" Aku bertanya pada benakku sendiri.

"Kenapa aku terlambat menyadari ini, Mas, bukankah kabar kehamilanku adalah hal yang paling kita nantikan setelah pernikahan kala itu?" Aku menghela nafasku.

"Kenapa kamu meninggalkan aku secepat ini? Kamu terlalu terburu-buru, Mas. Bahkan aku belum sempat memberimu kabar gembira ini, Mas."

Pipiku sudah basah. Sejak kepergianmu, air mata tak pernah meminta ijin untuk terjun bebas di pipiku, bahkan hanya sekedar menyapaku saja tidak.

Aku masih tidak menyangka, kabar gembira ini justru menjadikan beban yang lebih untukku. Andai saja aku menjalani ini bersamamu, bukankah ini akan menjadi kabar yang teramat membahagiakan?

Mataku menyusur seisi ruangan, 'Apa aku kuat?', 'Bagaimana caraku membesarkan titipanmu ini sendirian tanpa seorang suami?', 'Jika anak ini lahir, bagaimana caraku memberi pengertian jika dirinya terlahir yatim bahkan sejak dalam kandungan?' Pertanyaan-pertanyaan itu, terus saja berputar di otakku saat ini. 

Ibu menyodorkan segelas air kepadaku, kedatangannya sedikit membuatku tersentak.

"Allah itu maha baik, Sayang, kemarin Allah mengambil Amar dari kita. Sekarang Allah berikan pelipur laranya" ucap Ibu.

"Bayi ini adalah obat bagi kita" sambungnya.

Aku masih saja terpaku.

"Kita jalani semua ini bersama ya, kita besarkan titipan ini dengan kasih sayang penuh seperti Amar menyayangi kita" ucap Ibu.

Aku yang hanya meneteskan air mata tadinya, sekarang tak kuasa untuk menahan tangisan. Ibu memelukku erat, air matanya jatuh ke tanganku yang Ibu genggam kuat.

Arina datang menghampiri kami. Memeluk aku dan ibu.

Arina Humayaroh, adik perempuan suamiku. Yang bernasib sama seperti bayi dalam rahimku. Bahkan dia terlebih dahulu merasakan getirnya dilahirkan tanpa diadzankan oleh ayahnya, tumbuh dan berkembang tanpa sosok ayah idola seperti teman-teman sebayanya.

Aku menarik napas panjang.

"Aku ikhlas, Bu, Mas Amar meninggalkan aku, aku ikhlas membesarkan bayi ini tanpa Mas Amar" ucapku lirih pada Ibu dengan nada bicara yang bergetar.

Ibu memelukku semakin erat, kemudian melepaskan pelukan itu dan meninggalkanku untuk mengantar Arina sekolah.

Aku meninggalkan dapur, menuju kamar meraih bingkai foto di sebelah ranjang besar yang kini aku tinggali sendirian.

"Kamu begitu manis di foto ini, Mas" ucapku sambil memandangi parasmu yang begitu manis.

Aku mengusap perutku, menunjukkan foto itu ke bayi dalam rahimku, aku berharap dia paham akan maksudku.

"Assalamualaikum, Sayang, lihat laki-laki di foto ini, bukankah dia sangat tampan?" Aku berandai berbicara dengan yang ada di rahimku. Memberi pemahaman kepadanya sejak dalam kandungan.


Ayah


"Laki-laki itu Amar, dia ayahmu. Jangan khawatir ya, Sayang, meskipun ayah tidak bisa memelukmu nantinya, Ibu akan selalu berusaha menghadirkan pribadi ayah dalam pribadi ibu. Agar kamu tidak merasa sepi dan rapuh."

Aaa... Lagi-lagi aku tak kuasa membendung air mataku. Rasanya sakit sekali, tapi aku harus kembali hidup normal. Banyak manusia yang harus aku perhatikan. Termasuk bayi mungil yang ada di dalam rahimku sekarang.

Amar adalah cahaya bagi kami, saat cahaya itu padam. Menghidupkan kembali cahaya itu adalah tugasku sekarang.

Aku, Ratna Kumala, merasa beruntung pernah menjadi bagian penting dalam hidup manusia bernama Amar. Kelak, aku akan mengajarkan pribadi sepertimu kepada bayi yang ada dalam rahimku sekarang. Aku akan berusaha untuk menghidupkan pribadimu dalam pribadiku. Aku juga akan mengajarkan anak kita untuk terus menyelipkan namamu dalan setiap doanya. Mencintai kamu dalam setiap denyut nadinya. Dan dia akan terus memanggilmu "AYAH".


Penulis:

Mulia Sagesti saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN SAIZU Purwokerto.

Bacaan Menarik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar