Masa Orientasi: Ajang Balas Dendam

Tujuan utama Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus ialah untuk menuntun mahasiswa baru untuk mengenali dan beradaptasi dengan lingkungan kampus dan ..

Oleh Astrid Ridzkyani Gunawan

Pertengahan tahun ini linimasa kembali dipenuhi oleh cuitan-cuitan siswa kelas 12, juga dua angkatan sebelumnya yang kini berubah statusnya menjadi seorang mahasiswa baru. Tidak memandang nama universitas, tiap-tiap mahasiswa baru harus mengikuti serangkaian kegiatan dalam rangka mengesahkan label “mahasiswa” pada mereka sebelum mengikuti kegiatan perkuliahan.

Ospek
Sumber gambar: https://www.quipper.com/id/blog/quipper-campus/campus-life/apa-itu-ospek/

Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) merupakan serangkaian kegiatan yang harus dilalui mahasiswa baru tersebut dengan kebijakan dan jangka waktu yang berbeda-beda.

Umumnya, ospek merupakan wadah bagi para mahasiswa baru untuk mendapatkan informasi seputar kampus dan segala isinya yang akan sangat membantu mereka untuk mempersiapkan diri menghadapi transisi dari budaya sekolah ke budaya perkuliahan.

Sayang sekali, dalam praktiknya ospek sering kali berlawanan dengan tujuannya. Sudah banyak diketahui bahwa sejak dahulu, ospek banyak dijadikan sebagai ajang balas dendam oleh generasi terdahulunya kepada generasi di bawahnya.

Perpeloncoan terjadi, membekali trauma pada mahasiswa baru dengan dalih melatih mental. Yang artinya, apa yang dilakukan di lapangan berbanding terbalik dengan tujuan utama diadakannya orientasi tersebut.

Waktu terus berjalan, pikiran masyarakat mulai terbuka seiring perkembangan zaman. Saat ini, sudah banyak mahasiswa yang mulai menyadari penyimpangan pada ospek yang harus mereka hentikan dan mengusahakan supaya kegiatan dalam masa orientasi kembali pada rangkaian kegiatan yang seharusnya dilakukan.

Akan tetapi, benarkah zaman sudah berubah? Benarkah pikiran orang-orang kini sudah terbuka? Benarkah aksi balas dendam itu sudah hilang?

Tanpa melupakan perubahan yang benar-benar terjadi, faktanya, segelintir orang masih berpegang teguh pada prinsip dan pikiran lama yang menjadikan masa orientasi sebagai tempat untuk membalaskan dendam atas apa yang mereka alami sebelumnya dari kakak tingkatnya.

Orang-orang itu menganggap aktivitas perpeloncoan dalam kegiatan orientasi merupakan tradisi yang harus diturunkan kepada adik-adiknya dengan dalih agar mentalnya siap menghadapi dunia luar yang lebih keras.

Kalimat-kalimat seperti, “Baru segitu doang. Dulu kami lebih parah!” atau “Jangan lemah! Ini masih belum ada apa-apanya!” sering sekali dilontarkan oleh mereka yang enggan menghentikan tradisi buruk itu, mereka memelihara pemikiran bahwa “jika aku sakit, orang lain harus sakit. Jika aku tersiksa orang lain juga harus tersiksa”.

Sebagai seorang mahasiswa, tentunya kita harus mengetahui mana yang benar serta baik untuk dilakukan dan mana yang harus kita tinggalkan, terutama jika itu menyangkut orang lain. Sebagai manusia yang beradab, kita sepatutnya mengetahui bagaimana cara memperlakukan orang lain dengan baik.

Meninjau ulang tujuan utama Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus ialah untuk menuntun mahasiswa baru untuk mengenali dan beradaptasi dengan lingkungan kampus dan segala isinya. Pertanyaannya, apakah perpeloncoan seperti membuat aturan untuk mahasiswa baru menggunakan atribut yang tidak masuk akal bahkan melakukan kekerasan fisik dan verbal relevan dengan tujuan utama ospek dilakukan? Jawabannya, tidak.

Sering kali ospek dilakukan dalam suasana yang menegangkan, suara keras saling bersahutan membuat keadaan menjadi sama sekali tidak nyaman dan menyenangkan. Terdengar wajar hal tersebut dilakukan apabila hal itu terjadi ketika aturan-aturan yang telah dibuat banyak dilanggar. Namun, sudah seharusnya yang lebih dewasa paham bagaimana caranya untuk bertindak tegas dan membedakannya dengan “wadah pelampiasan emosi”.

Tidak sedikit yang lebih tua memanfaatkan kegiatan ospek untuk menindas yang lebih muda, mencari-cari kesalahan yang sebenarnya tidak ada, menggunakan nada tinggi dalam berbicara hanya demi meninggalkan kesan “galak” kemudian merasa apa yang dilakukannya luar biasa.

Lalu, adakah cara lain untuk berlaku tegas dalam menegakkan aturan dan mendisiplinkan orang yang tengah beradaptasi? Ada.

Sebetulnya, jika mampu menggunakan akal untuk berpikir dan menggunakan hati untuk memahami perasaan sesama manusia, juga mampu mengimplementasikan nilai dari sila Pancasila, mungkin menyadari bahwa salah satu hal yang dapat dilakukan untuk menegakkan aturan ialah dengan menentukan aturan melalui musyawarah.

Mengambil keputusan bersama-sama, bernegosiasi dan saling mengutarakan pendapat, kemudian menyetujui sanksi yang sesuai apabila terjadi pelanggaran sebab aturan itu diciptakan untuk kepentingan bersama-sama pula.

Untuk mengatasi pelanggaran yang sudah terjadi, sepatutnya yang lebih dewasa memahami bahwa nada tinggi dan sikap superior tidak akan menyelesaikan masalah sama sekali.

Cukup banyak catatan yang harus diperbaiki oleh generasi selanjutnya dalam melaksanakan kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus yang sejalan dengan tujuan utamanya.

Perlu diingat bahwa tidak ada frasa “balas dendam” dalam akronim ospek. Ubahlah sistem yang tidak sesuai dan ubahlah pemikiran bahwa “jika aku sakit, orang lain harus sakit” dengan “jika aku sakit, maka yang selanjutnya jangan”.

Hilangkan rasa dendam dan hentikan tradisi yang tidak seharusnya kita pelihara. Jika tidak berhenti pada generasi kita, sampai kapan tradisi ini harus terus berjalan?

Astrid Ridzkyani Gunawan

Biodata Penulis:

Astrid Ridzkyani Gunawan lahir pada tanggal 3 Maret 2004 dBandung. Saat ini ia aktif sebagai mahasiswa, Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, di Universitas Padjadjaran.

© Sepenuhnya. All rights reserved.