Oleh Lailatul Mufidah
Pendidikan adalah kata sakral tentang bagaimana suatu proses sosial dan budaya sejalan beriringan guna meningkatkan harkat dan martabat manusia dalam mencapai titik pemahaman tertentu, sehingga bisa mempraktikkannya dalam pemenuhan hajat hidup.
Dalam lingkup yang lebih luas, pendidikan adalah proses mengubah sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pendewasaan dengan pelatihan yang terorganisir dan sistematis.
Siapa yang tak kenal Ki Hajar Dewantara? Tokoh pahlawan nasional, tokoh penting bagi kemajuan pendidikan Indonesia sejak masa penjajahan. Perjalanan yang begitu hebat dalam kisah panjang pendidikan Indonesia menuntun beliau untuk menghadirkan pendidikan yang bermutu tinggi bagi bangsa tercinta.
Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah memerdekakan manusia untuk bisa selamat dan bahagia sebagai tujuan akhir. Poin penting yang bisa kita ambil adalah sejatinya pendidikan itu harus menghasilkan manusia yang sehat hingga mampu mengimplementasikan ilmu yang didapat dalam kehidupan yang bahagia.
Namun, kurang afdal jika kita generasi muda, generasi pendidik masa depan, hanya diam dan berpangku tangan mengikuti pola pendidikan yang ada. Sedangkan aliran perkembangan zaman menuntun kita untuk bisa semaksimal mungkin mencurahkan ide-ide cemerlang guna menyongsong Indonesia Emas 2045.
Lalu 2045 Perlu Guru yang Bagaimana?
Menyoroti peran penting guru dalam masyarakat, perlunya menghargai serta memberikan insentif yang layak karena pada hakekatnya kualitas guru lebih vital daripada kurikulum itu sendiri. Sehingga dalam upaya meningkatkan pendidikan di Indonesia menuju tahun 2045, diperlukan perubahan dalam seleksi guru, pemberian fokus pada pola pikir pertumbuhan, dan jadwal yang lebih fleksibel dalam sistem pendidikan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ada 3,37 juta guru di Indonesia pada tahun ajaran 2022/2023. Terlihat jelas bahwa Indonesia itu tidak kekurangan tenaga ajar.
Namun, jika dilihat dengan seksama ternyata pendidikan di negeri ini pada tahun 2023, berdasarkan data yang dirilis oleh Worldtop, Indonesia menduduki peringkat ke-67 dari total 209 negara di seluruh dunia. Sehingga dalam upaya peningkatannya perlu adanya kualitas, kontribusi, dan relevansi yang lebih bagi kita calon-calon guru masa depan.
Selain itu, permasalahan lain mengenai pendidikan di Indonesia adalah rendahnya pendidikan karakter yang berkelanjutan. Padahal hal ini selalu ditekankan di setiap poster visi dan misi sekolah, tapi realitanya ini belum sepenuhnya diterapkan.
Sedangkan sekarang pendidikan di Indonesia juga masih generalis atau kurang fokus. Namun, pada kenyataannya hal inilah momentum yang pas untuk membangun fondasi yang kuat.
Dengan memahami potensi atas penguasaan manusia terhadap bidang tertentu, kemudian dapat dikembangkan secara berkelanjutan seiring dengan tingkatan sekolah.
Selain itu, di tengah gencarnya proses peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, adanya simpang siur mengenai anggapan bahwa kurikulum tidak relevan dengan masa sekarang adalah masalah yang diakui di banyak sistem pendidikan di seluruh dunia.
Pendidikan di Indonesia seharusnya bisa lebih inklusif agar mudah diakses meski dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda.
Kita tahu bahwa pemerintah memiliki satu kurikulum yang berstandar nasional sehingga memudahkan siswa-siswa dari Sabang sampai Merauke untuk bisa memiliki standar pendidikan yang sama, meski pada kenyataannya, fasilitas yang ditawarkan berbeda, juga kompetensi guru dalam penyampaian materi pun berbeda-beda pula. Untuk itu adanya perubahan yang cepat dalam teknologi, ekonomi, budaya, dan kebutuhan masyarakat telah menyebabkan kebutuhan untuk secara kontinyu meninjau dan memperbarui kurikulum secara teratur agar tetap relevan dan memadai.
Dengan demikian kurikulum yang saya harapkan adalah kurikulum yang mampu memberikan ruang lebih kepada peserta didik untuk bisa mengerti diri, mengolah diri dan tahu batasan-batasan atas diri mereka sendiri sehingga paham dengan apa yang diinginkan, sehingga tidak ada penyesalan saat merealisasikan pada kehidupan nyata nantinya.
Karena yang biasanya terjadi akibat dari standarisasi kurikulum yang sudah ditetapkan adalah peserta didik harus menerima apa yang guru biasanya berikan tanpa tahu porsi mana yang seharusnya diajarkan.
Untuk itu penting bagi tenaga pengajar memahami potensi perkembangan peserta didik sesuai bidang yang diminati. Selain itu perlu menjadi guru yang antusias sehingga bisa menjadi inspirasi bagi peserta didik dalam mencapai prestasi.
Beberapa alasan yang dapat menyebabkan kurikulum mungkin dianggap tidak relevan dengan masa sekarang meliputi:
1. Perubahan Cepat yang Terjadi dalam Bidang Teknologi
Teknologi berkembang dengan cepat, dan kurikulum harus memastikan bahwa siswa dilengkapi dengan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan pasar kerja yang terus berubah.
2. Keterampilan dalan Menghadapi Era Digital
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah meningkatkan permintaan akan keterampilan seperti literasi digital, pemecahan masalah, kritis, dan kreativitas. Kurikulum harus memasukkan fokus pada pengembangan keterampilan ini.
3. Keragaman dan Inklusivitas
Masyarakat yang semakin beragam membutuhkan pendekatan pendidikan yang mempromosikan inklusivitas, toleransi, dan pemahaman budaya yang lebih dalam.
4. Keberlanjutan dan Lingkungan
Kurikulum harus mencerminkan kebutuhan untuk membimbing generasi mendatang dalam memahami dan menanggapi tantangan lingkungan, termasuk isu-isu keberlanjutan dan perubahan iklim.
5. Pengalaman Kerja dan Kewirausahaan
Kurikulum perlu mempersiapkan siswa untuk dunia kerja yang dinamis dan mempromosikan kewirausahaan, kreativitas, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan.
Perbaikan dan peninjauan terus-menerus terhadap kurikulum adalah kunci dalam memastikan pendidikan memenuhi kebutuhan dan ekspektasi masyarakat dan menyediakan siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan masa sekarang.
Sebagai contoh jika kita menilik sistem pendidikan Finlandia, negara ini adalah contoh nyata dalam keberhasilan pelaksanaan pendidikan. Finlandia tidak hanya dikenal sebagai negara paling bahagia di dunia, tetapi juga salah satu negara dengan pendidikan terbaik di dunia.
Sistem pendidikan Finlandia dikenal dengan fokus pada kesejahteraan siswa, memberi kesempatan yang sama, dan pembelajaran individual. Kunci kesuksesan pertama di Finlandia adalah kesejahteraan antara siswa dan pendidiknya.
Bisa dengan membiarkan peserta didik untuk berpikir terbuka sehingga menumbuhkan dan menghidupkan jiwa keingintahuannya. Hal ini selaras dengan apa yang telah diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara bahwasanya bahagia adalah hal akhir yang harus dicapai dalam pendidikan.
Secara garis besar dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia perlu adanya peningkatan interest dalam citra guru, baik itu melalui pendapatan yang diberikan, atau pemberian hal ekslusif yang hanya didapatkan seorang guru yang benar-benar menaruh dedikasi penuh terhadap profesinya.
Dengan begitu minat untuk menjadi seorang guru akan terus naik di kalangan anak muda jaman sekarang.
Seharusnya hak itu juga akan meningkatkan quantity seorang guru. Karena mereka yang sudah masuk ke jurusan atau prodi berbasis pendidikan itu pastinya didasari oleh niat yang sebenarnya, bukan hanya untuk menjadi pilihan kedua.
Dari uraian tersebut, dapat kita simpulkan bahwa sistem pendidikan yang baik akan menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan membuat suatu negara menjadi maju. Jika semakin tinggi kualitas pendidikan suatu negara maka negara tersebut juga semakin maju.
