Pendidikan Kebutuhan Penting bagi Setiap Individu

Pendidikan adalah kebutuhan yang sangat penting bagi individu dan masyarakat. Ini memainkan peran utama dalam meningkatkan kualitas hidup dan ...

Apa yang ada dipikiran seorang anak tentang pendidikan? Bukankah setiap anak sudah mendapatkan pendidikan, walaupun bukan pendidikan formal? Menurut saya pendidikan adalah hal utama dalam hidup, entah itu pendidikan formal maupun pendidikan non-formal.

Lalu bagaimana pandangan saya terhadap pendidikan yang ada di Indonesia? Pandangan dari kacamata seorang mahasiswa tentunya berbeda dengan pandangan dari orang lain. Lalu harapan apa yang saya inginkan dari pendidikan di Indonesia ini? Untuk itu, kontribusi apa yang dapat dan akan saya lakukan demi tercapainya harapan-harapan tersebut.

“Pentingkah pendidikan itu?”, pertanyaan tersebut mewakili seluruh pertanyaan yang akan saya jelaskan dalam esai ini. Menurut saya pendidikan itu penting, alasan yang mendasari adalah dari pendidikan terbentuklah nilai sosial moral dalam berkehidupan.

Terbentuknya nilai sosial moral dari pendidikan yang mana? Ada dua jenis pendidikan yang saya tahu, yaitu pendidikan formal dan pendidikan non-formal. Dan kedua pendidikan tersebut sama pentingnya dalam hidup.

Saya sering ditanya yang pertanyaanya mengenai apa yang saya pikirkan tentang pendidikan formal. Apakah itu adalah pendidikan yang bersifat wajib ataukah tidak. Lalu tanggapan saya tentang pertanyaan tersebut adalah, pendidikan formal menurut saya adalah pendidikan yang wajib. Bahkan pemerintah sudah mewajibkan pendidikan formal selama 12 tahun. Lalu alasan apa yang melatarbelakangi ketidakmampuan anak dalam berpendidikan formal. Bukankah sebuah hal yang wajib harus dilakukan?

Pendidikan Kebutuhan Penting bagi Setiap Individu

Pertanyaan kedua yang sering saya dapatkan, yaitu mana yang lebih penting antara pendidikan formal dan pendidikan non-formal. Ada masa saya berpikir bahwa pendidikan non-formal lebih penting daripada pendidikan formal. Karena menurut saya, lingkup keluarga dapat lebih membimbing seorang anak daripada lingkup sekolah. Namun, setelah beranjak dewasa saya merasa bahwa kedua pendidikan tersebut sama pentingnya. Karena pendidikan non-formal lebih mengarah kepada sikap dan perilaku.

Lalu apa beda dari pentingnya pendidikan formal dan non-formal? Menurut kacamata saya, pendidikan formal lebih mengarahkan pada bagaimana cara kita untuk survive atau menyesuaikan diri dalam hidup bermasyarakat. Sedangkan pendidikan non-formal lebih mengarah kepada bagaimana sikap dan karakter kita dalam bermasyarakat. Bukankah kedua hal tersebut terlihat seimbang? Seperti halnya kita bersikap dalam bermasyarakat, maka cara orang lain pun akan menyesuaikan diri untuk bersikap kepada kita.

Lalu bagaimana jika seorang anak tidak mendapatkan salah satu pendidikan atau bahkan keduanya? Menurut saya anak tersebut akan kesulitan dalam hidupnya, karena tidak ada hal mendasar yang dapat mengarahkannya dalam hidup. Arahan orang tua adalah pendidikan non-formal bagi saya, bagaimana jika seorang anak tidak mendapatkan arahan dari orang tuanya? Pasti anak tersebut akan kesulitan dalam hidupnya. Sedangkan dalam pendidikan formal, seorang anak mendapatkan ilmu pengetahuan dan cara untuk survive dalam bermasyarakat.

Bagaimana jika seorang anak tidak memiliki ilmu pengetahuan? Bukankah dia dapat dikucilkan dari lingkungannya? Dia pun akan merasa sendiri atau dalam artian merasa insecure sepanjang hidupnya.

Namun, banyak alasan para orang tua yang merasa anaknya tidak perlu dididik secara formal, atau dalam artian mereka lebih mementingkan pendidikan non-formal. Beberapa alasan tersebut seperti terbatasnya ekonomi, lalu orang tua merasa pendidikan formal hanya membuang-buang waktu, ada juga yang merasa bahwa pendidikan formal malah membuat seorang anak melupakan tata kramanya karena lebih mementingkan ilmu pendidikannya.

Lalu, harapan apa yang saya miliki terhadap pendidikan di Indonesia? Sebenarnya banyak sekali harapan-harapan saya mengenai pendidikan di indonesia. Mulai dari harapan-harapan kecil hingga harapan yang menurut saya cukup sulit atau bisa dikatakan harapan yang sangat besar terhadap pendidikan.

Apa saja harapan-harapan saya? Saya berharap bahwa pendidikan di Indonesia lebih digalakkan lagi akan kewajibannya. Mengapa? Saya berpikir bahwa pemerintah hanya mewajibkan pendidikan secara tersurat.

Yang saya harapkan tentang digalakkannya pendidikan yaitu tentang bagaimana pendidikan bagi masyarakat yang memiliki paham bahwa pendidikan itu tidak wajib atau tidak penting. Saya berharap bahwa pendidikan akan dianggap penting oleh semua orang, tetapi bagaimana caranya? Dari pemikiran itulah saya berharap bahwa pendidikan akan digalakkan lagi oleh pemerintah baik secara tersurat maupun tersirat.

Bukan hanya pendidikan formal saja, pendidikan non-formal pun harus digalakkan juga. Namun dalam kadar yang sama.

Harapan saya selanjutnya, yaitu meratanya pendidikan di Indonesia. Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan, dengan banyak daerah-daerah pedalamannya. Harapan saya agar pendidikan di Indonesia ini merata sampai ke pedalaman-pedalaman juga.

Saya tahu harapan ini tidak mudah, tetapi bisa direalisasikan mulai dari daerah-daerah kecil di mana pendidikan belum tersentuh di dalamnya. Dari yang saya tahu, pusat pendidikan di Indonesia berada di Pulau Jawa. Yang saya harapkan bahwa pendidikan bisa merata di pulau-pulau lain. Walau saya tahu, banyak sekolah-sekolah yang terbengkalai di sana.

Harapan saya selanjutnya yaitu tersedianya sarana prasarana yang memadai di tiap-tiap sekolah di Indonesia. Seperti halnya ruang kelas yang layak, meja kursi, lalu buku-buku penunjang dalam pembelajaran.

Tidak memadainya sarana prasarana juga menjadi salah satu alasan pendidikan dipandang sebelah mata oleh para orang tua yang berpikir bahwa pendidikan itu tidak penting. Namun, ada juga alasan lain mengapa sarana prasarana yang seharusnya tersedia tidak memadai. Yaitu adanya rasa keberatan dalam diri orang tua terhadap biaya pendidikan anak.

Saya berharap pemerintah dan masyarakat saling bahu-membahu dalam penyediaan sarana prasarana di tiap-tiap sekolah. Sekolah yang memiliki sarana prasarana yang memadai pasti akan diminati oleh anak-anak, karena sejatinya mereka memerlukan pendidikan.

Harapan saya selanjutnya yaitu, berkaitan dengan kurikulum yang berlaku. Walau hal ini agak sedikit berbeda konteksnya, tetapi menurut saya ini perlu untuk ditindaklanjuti. Saya berharap pemerintah mengkaji ulang terkait kurikulum yang saat ini sedang berjalan.

Menurut saya, kurikulum saat ini belum menunjukkan atensi siswa yang seharusnya dapat ditangkap oleh rasa bersemangat mereka dalam belajar. Dari beberapa observasi yang saya lakukan, kurikulum ini hanya menunjukkan adanya kreativitas dan inovasi saja.

Kurangnya rasa percaya diri dan mau berkembang, membuat saya merasa kurikulum saat ini kurang dalam hal pembelajaran. Sistem kerja kurikulum saat ini adalah kerja kelompok, di mana dalam tahap nanti anak-anak bekerja, mereka akan lebih mengarah bekerja secara individu.

Dari sistem kerja kelompok tersebut saya dapat melihat bahwa dalam satu kelompok tersebut, tidak semua anak memiliki kereaktifan yang sama. Ada yang aktif tetapi ada juga yang hanya membantu tanpa berpikir, bahkan ada yang cenderung diam tanpa melakukan apapun. Hal itu yang membuat saya berpikir bahwa kerja sistem di kurikulum saat ini kurang efektif.

Saya berharap pemerintah akan mengkaji ulang kurikulum yang saat ini sedang berjalan, mengevaluasi hasil dari kurikulum yang ada saat ini, juga dapat membandingkan kurikulum yang ada di Indonesia dengan kurikulum yang ada di negara-negara lain.

Selanjutnya yaitu kontribusi yang dapat dan seharusnya dilakukan demi merealisasikan harapan-harapan tersebut. Dalam berkontribusi, menurut saya, tidak hanya kontribusi dari pemerintah, tetapi juga dari masyarakat, dan juga diri sendiri. Mungkin pemerintah akan memegang kontribusi terbanyak dan terbesar dalam terealisasikannya harapan-harapan tersebut. Namun, di samping itu peran masyarakat dan individu juga diperlukan.

Kontribusi yang dapat dilakukan pemerintah yaitu menggalakkan lagi adanya wajib belajar hingga 12 tahun. Mengapa hanya sampai 12 tahun, menurut saya, usia pendidikan selama 12 tahun agar dapat menciptakan generasi bangsa yang paham akan segala aspek. Baik itu aspek moral, sosial, agama, hukum, dan aspek bermasyarakat.

Wajib belajar 12 tahun jika ditilik lagi, maka anak tersebut merupakan tamatan siswa sekolah menengah atas atau SMA dan sederajatnya.

Pada umur tersebut anak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Lalu bagaimana jika hanya wajib belajar kurang dari 12 tahun? Menurut saya, anak tersebut belum mampu membedakan mana yang baik dan buruk untuk dirinya. Mungkin sudah untuk dirinya, tetapi bagaimana untuk kehidupan bermasyarakatnya? Anak tersebut akan merasa kesulitan dalam menghadapi hal tersebut, di mana perkembangan intelektualnya belum sesempurna anak yang wajib belajar 12 tahun.

Kontribusi selanjutnya yaitu pemerintah dapat menyalurkan sumbangan entah dalam bentuk uang maupun barang demi tercapainya harapan akan sarana prasarana yang memadai.

Sebenarnya hal tersebut tidak hanya tanggung jawab dari pemerintah saja, tetapi tanggung jawab antara pemerintah dengan masyarakat. Dari yang saya tahu, pemerintah sudah membangun sekolah-sekolah, baik itu Sekolah Dasar maupun hingga Sekolah Menengah. Dan pemerintah juga sudah dengan sebisa mungkin menyediakan sarana prasarana yang memadai.

Jika begitu, maka kontribusi masyarakatlah yang diperlukan. Seperti penjagaan sarana prasarana tersebut, dikarenakan pemerintah tidak bisa turun langsung untuk mengecek ketersediaan sarana prasarana, maka hal tersebut merupakan tanggung jawab masyarakat sekitar. Karena sarana dan prasarana dalam sekolah juga merupakan kebutuhan penting dalam pendidikan ana-anak di lingkungan tersebut.

Selanjutnya adalah kontribusi saya sebagai individu, yaitu saya mungkin akan berkontribusi dengan menyumbangkan bakat saya dalam hal mengajar di sekolah-sekolah tersebut. Saya akan menyumbangkan ilmu yang saya miliki untuk saya bagikan ke anak-anak tersebut. Saya juga akan berusaha ikut serta dalam pemenuhan sarana prasarana yang memadai bagi sekolah dengan cara ikut dalam suatu organisasi seperti penggalangan dana untuk pemenuhan sarana prasarana di sekolah-sekolah terpencil maupun di pedalaman. Saya juga akan ikut berkontribusi penuh dalam meratanya pendidikan dengan mengikuti organisasi penyuluhan tentang pentingnya belajar dan bersekolah.

Dalam berkontribusi, saya juga mengharapkan dukungan dari pihak-pihak terkait agar kontribusi yang saya lakukan dapat terealisasikan secara menyeluruh. Saya juga memohon akan kesadaran masyarakat dan pemerintah agar terwujudnya pendidikan yang merata dan pendidikan yang berkualitas hingga mampu menyaingi pendidikan-pendidikan di negara lain. Saya berharap pendidikan indonesia bisa lebih berkembang hingga lebih maju bahkan dari pendidikan negara lain.

Sebagai kesimpulan, pendidikan adalah kebutuhan yang sangat penting bagi individu dan masyarakat. Ini memainkan peran utama dalam meningkatkan kualitas hidup dan perkembangan sosial moral. Oleh karena itu, semua orang memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa pendidikan yang berkualitas tersedia untuk semua, sehingga setiap individu dapat mencapai potensi mereka dan memberikan kontribusi positif pada masyarakat.

Selain itu juga harus mengusahakan agar pendidikan di Indonesia merata di setiap lapisan masyarakat maupun lapisan daerah. Alangkah baiknya jika pendidikan di Indonesia menjadi semakin maju, hingga ke anak cucu nanti.

Biodata Penulis:

Destri Ainurisma lahir pada 19 Desember 2004 di Pati. Saat ini ia aktif sebagai mahasiswa di Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

© Sepenuhnya. All rights reserved.