Poco Leok dan Candriwasah: Aksi Tolak Proyek Geothermal di Bumi Congka Sae

Dengan hadirnya aktus Candriwasah bisa membongkar ketidaktahuannya kita terhadap berbagai konflik di bumi Congka Sae. Sekarang momen yang tepat ...

Oleh Yulianus Risky Agato

Belakangan ini publik Manggarai digemparkan dengan problem tolak proyek geothermal yang dilakukan oleh warga Poco Leok. Poco Leok merupakan gugusan perkampungan mencakup tiga desa yakni Desa Lungar, Desa Golo Muntas, dan Desa Mocok, yang masuk wilayah Kabupaten Manggarai Provinsi NTT dikutip dari FLORESA pada Sabtu, 24 Mei 2023.

Dalam bahasa Yunani kata “Geo” memiliki arti bumi dan kata “Thermal” memiliki arti panas jadi ketika digabungkan kata geothermal memiliki arti panas bumi.

Aparat pemerintah setempat mengklaim bahwa selain untuk memenuhi kebutuhan listrik warga Flores (Manggarai), energi panas bumi di wilayah Poco Leok juga bisa memaksimalkan potensi ekonomi, namun hasilnya warga tetap bersikeras untuk menolak proyek geothermal itu. Dalam realitasnya, konsep pemerintah untuk menggolkan pengembangan listrik tenaga panas bumi tidak diterima begitu saja oleh warga di wilayah Poco Leok.

Sudah beberapa kali kasus penolakan yang dilakukan warga Poco Leok saat para petugas mengadakan pematokan pengeboran. Sebagai misal dilansir dari Beritabaru.co pada Jumat pagi, tanggal 9 Juni 2023, puluhan warga di Poco Leok, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, tetap bertahan di jalan meskipun hujan deras. Mereka menghadang kendaraan milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang hendak mematok lahan untuk proyek geothermal.

Selain itu, aksi protes yang berlangsung Rabu (21/6/2023) mengakibatkan dua orang peserta aksi mendapat pertolongan karena pingsan. Seorang ibu yang tidak sadarkan diri langsung dievakuasi keluar dari lokasi keributan. Menurut Floressmart aksi penolakan ini merupakan aksi penolakan yang ke-11.

Kendati warga Poco Leok menggagalkan proyek goethermal karena mereka beranggapan bahwa proyek geothermal dapat merusak lingkungan. Apalagi Poco Leok dikelilingi oleh bukit yang curam sehingga memiliki kemungkinan besar terjadinya longsor.

Selain itu, penolakan ini juga muncul dari persoalan proyek geothermal di Mataloko. Warga Poco Leok Agustinus Sukarno mengaku baru pulang dari Mataloko dan di sana sumurnya masih memiliki semburan. Lebih dari itu beliau juga mencontohkan kerusakan lingkungan sebagaimana yang terjadi di Ulumbu. “Lihat juga longsor dan tanah turun yang terjadi di Tantong,” jelasnya, terkait lokasi terdampak PLTP Ulumbu dikutip dari Mongabai.co.id.

Aksi protes proyek geothermal ini juga dilakukan oleh kaum perempuan yang berasal dari kawasan Poco Leok sebagaimana dikutip dari FLORESA Elisabeth Lahus menyatakan “tana hitu ende dami” (tanah adalah ibu kami).

Selain itu Yustina Nunjung yang merupakan ibu yang berasal dari kampung Mocok menyatakan “Jika tanah itu terluka, hati kami kaum ibu juga terluka” cetusnya. Realitasnya saat ini, warga di kawasan Poco Leok saling bahu-membahu demi menggagalkan proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Tentu konsep dari pemerintah ini berorientasi pada kesejahteraan masyarkat NTT (Manggarai). Bukan untuk melecehkan keanggunan lingkungan di kawasan Poco Leok. Namun kita mesti waspada jangan sampai konsep ini bisa menimbulkan dampak yang buruk bagi lingkungan dan masyarakat Poco Leok sebagimana yang sudah terjadi di Mataloko.

Candriwasah

Candriwasah adalah judul aktus yang dipentaskan oleh siswa-siswi SMAK Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo pada 7 April 2023 yang silam di aula Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo. Aktus ini disutradarai oleh Yulianus Risky Agato yang merupakan siswa kelas XI sekarang.

Poco Leok dan Candriwasah

Awalnya tujuan dari pementasan aktus ini merupakan sebuah refleksi praktis tentang kisah sengsara dan wafat Yesus Kristus dalam konteks paskah. Namun lebih dari itu, aktus Candriwasah juga sebuah tanggapan dari sutradara atas lika-liku hidup di bumi Congka Sae.

“Aktus Candriwasah ini bertolak dari realitas kehidupan masyarakat Manggarai lebih khusus masyarakat yang berada di kawasan Poco Leok yang pada saat ini berjuang menolak proyek geothermal” ungkap Risky pada 7 April 2023 malam hari.

Narasi dan plot aktus Candriwasah sangat jelas. Sutradara membagi aktus ini menjadi lima part dan masing-masing part memiliki ketegangannya. Sebagaimana yang telah dikonsepkan sutradara, di dalam aktus Candriwasah memiliki beberapa kelompok plakon yakni: kaum kapitalis (5 orang) yang menjadi pemilik modal, aparat pemerintah (bupati, wakil bupati, camat, dan kades), suara rakyat (3 orang), anak sekolah (2 orang), kaum misionaris (3 orang) selebihnya warga desa Candriwasah (9 orang).

Pada part I terlihat kelima kaum kapitalis sedang membangun rencana guna untuk menambah cuan.

K1 (kapitalis 1): “Sahabat-sahabatku yang amat baik. Lihatlah potretan gila ini, penuh dengan warna-warni money. Kita harus beranjak ambil bagian dalam wilayah ini.”

K3 (kapitalis 3): “Kalau urusan money saya lakukan apa saja. Yang penting uang tidak lari jauh dari dompet.

K1 (kapitalis 1): “Sudah-sudah. Tertawa seperti ini tidak penting sama sekali. Sekarang kita pikirkan bagaimana selanjutnya semua rencana ini? Jangan sampai berhenti begini saja.”

K3 (kapitalis 3): “Oke. Dalam benak saya, secepatnya kita harus mulai mencari perhatian. Agar semuanya lancar dan encer berjalan pada jalan rencana.”

K2 (kapitalis 2): “Itu tepat sekali !! Tetapi sebelum berangkat ke rakyat kita harus menemui pemimpin rakyat misalnya kita harus menemui bapak bupati. Biasa, bincang-bancing sedikit supaya bisa dapat hatinya” (tersenyum sinis). 

Dalam part I aktus Candriwasah, sutradara menampilkan niat busuk dari kaum kanan (kapitalis) secara telanjang. Bahwa kaum kapitalis ingin menjadikan kecantikan desa Candriwasah sebagai barang komoditas. Tidak berlebihan jika penulis mengatakan kaum kapitalis berusaha untuk melecehkan keperawanan desa Candriwasah. Maka mereka sepakat untuk menemui bapak bupati setempat untuk menggolkan rencana busuk yang sedang mereka bangun. Namun di situ, K5 ( kapitalis 5) tidak sejalan dengan kapitalis lainnya. K5 mengambil jalannya sendiri dan berusaha membendung rencana busuk dari rekan kerjanya.

B (bapak bupati): “Aku selalu bimbang ketika memikirkan kesejahteraan desa Candriwasih.”

WB (wakil bupati): “Bung saya rasa kita tak jauh berbeda. Tetapi sudahlah kesejahteraan dan kebaikan desa Candriwasah adalah tugas kita dan rekan-rekan kita yang lain.”

Pada waktu yang sama bapak Bupati bersama rekan-rekannya sedang berusaha memikirkan benang merah dalam rangka memajukan dan menyejahterakan desa Candriwasah.

C (Camat): “Bung dengarkan saya. Saat ini keadaan di desa Candriwasah begitu-begitu saja. Semua rakyat hidup dengan cara yang sangat terbelakang atau jauh dari kemajuan zaman. Atau, bukankah begitu bapak kades?”

Kad (Kades): “Itu benar! Itulah tujuanku datang kemari untuk membawa desa Candriwasah dan semua rakyatnya ke dalam ruang yang lebih dekat dengan kemajuan zaman.”

Part II mengisahkan kaum kapitalis yang sudah menyiapkan taktik agar misi mereka berjalan dengan mulus. Dalam part II rencana busuk dari para kapitalis pelan-pelan merangkak ke bapak bupati. Namun terjadi bentrokan antara K5 (Kapitalis 5) dengan kapitalis lainnya.

K3 (Kapitalis 3): “Tuan-tuan. Mari coba perhatikan lagi potretan yang gila ini (sambil menunjukkan sebuah gambar desa Candriwasah ).”

K1 (Kapitalis 1): “Itu tepat sekali. Sebaiknya kita bahas potretan yang gila ini. Bagaimana kalau esok, kita temui bapak bupati setempat untuk sekedar mendapat perhatian. Bila perlu sekaligus dengan hatinya. Hhhhh... (sambil tertawa).”

K3 (Kapitalis): “Itulah yang aku tunggu bung. Segera mungkin kita harus menjalankan tugas yang mulia ini. Jangan sia-siakan kesempatan yang penuh rupiah ini.”

Perbincangan itu dibuat ricuh oleh K5 (Kapitalis 5) yang tidak sejalur dengan K1-K4.

K4 (Kapitalis 4): “Hei bung, kau hendak ke mana lagi?”

K2 (Kapitalis 2): “Jangan dulu pergi!!!”

K5 (Kapitalis 5): “Saya mau menemui bapak bupati !!!.” (nada marah)

Opening part III dimulai dengan ketiga kaum misionaris yang sedang menebarkan wejangan dari Tuhan kepada warga desa Candriwasah. Para misionaris mengajak warga desa Candriwasah untuk tetap menjaga keperawanan Candriwasah.

MII (Misionaris II): “Keindahan dan kecantikan desa Candriwasah ini merupakan bukti kalau Tuhan mencintai dan mengasihani kita. Ia berikan ini semua kepada kita dengan cuma-cuma, tidak seperti janji manis para pemimpin negri ini. Jadi sebagai balas cinta kita kepada Tuhan yang mati di kayu salib adalah harus merawat keindahan dan keutuhan ciptaan-Nya. Jangan sampai kecantikan desa Candriwasah ini diwarnai oleh noda-noda dari duniawi yakni noda yang tidak baik atau keberdosaan.” Tegasnya.

Selain itu dalam part III juga diperlihatkan kaum kapitalis (K1-K4) mulai berdiri dan berjalan untuk menggolkan misi mereka. Kaum kapitalis (K1-K4) meluluhlantakkan hati bapak bupati dengan rayuan maut. Dalam bagian ini kentara sekali bapak bupati digodai dengan kata-kata basi dari kaum kapitalis.

K2 (Kapitalis 2): “Bapak bupati yang terhormat dan terkasih, kami datang kemari untuk sekedar ingin mengetahui keadaan desa yang lebih lagi desa Candriwasah yang mempesona itu.”

K1 (Kapitalis 1): “Apa yang dikatakan tadi, itu benar bapak, kami sepenuh hati bangga dengan semuanya ini.”

K3 (Kapitalis 3): “Kami memiliki niat untuk memajukan dan menyejahterakan desa Candriwasah. Kami berjanji akan memberikan sebagian dari harta kami untuk menjaga dan membantu semua masyarakat. Kami yakin kami akan membawa desa Candriwasah dan semua rakyatnya ke jalan yang penuh dengan kebaikan.”

K4 (Kapitalis 4) : “Itu benar. Kami akan memberikan sekian persen modal ( sambil terbata-bata ).”

B (Bupati): “Tawaran dan segala niat baik itu saya ucapkan terimakasih. Tuan-tuan memang orang-orang yang tahu betul dengan kekurangan dan keadaan kami di sini ( sambil tersenyum ).”

Ending dari part III ditutup dengan keraguan dari istri bapak bupati. Istri bapak bupati sempat memikirkan yang tidak-tidak tentang sesuatu yang baru saja terjadi. Namun hati bapak bupati sudah kenyang dibekali oleh kata-kata basi dan busuk dari kaum kapitalis.

Kericuhan mulai memanas dalam part IV ketika K5 (Kapitalis 5) bertemu dengan wakil bapak bupati di kediaman wakil bapak bupati. K5 (Kapitalis 5) membongkar semua rencana busuk dari K1-K4 (Kapitalis 1-Kapitalis 4) dan beliau mencoba membendung semua taktik dari rekan-rekannya.

K5 (Kapitalis 5): “Ada yang perlu aku katakan kepadamu selaku wakil di daerah ini. Ini tentang kebaikan Candriwasah. Kalau kita terlena, Candriwasah akan jatuh di tangan parasit dari dunia ini.”

P (Pemudi): “Apa ? Apa yang terjadi dengan desa kami?” (sambil mengerut kening)

W B (Wakil Bupati): “Sabar-sabar ini ada apa?”

K5 (Kapitalis 5): “Sekarang ini keadaan Candriwasah sedang tidak baik-baik saja. Desa Candriwasah sedang diincar oleh para predator ganas karena rupiah. Mereka ini akan menggunakan kecantikan dan keindahan Candriwasah untuk menambah recehan dompet. Ini bahaya kalau tidak segera dicegah. Dengarkan saya bung dengarkan. Dengarkan dengan baik-baik demi kebaikan rakyat dan desa Candriwasah. Mereka ingin sekali memiliki desa Candriwasa bahkan memanfaatkan kecantikannya sebagai barang yang komoditas.”

Di sini niat mulia dari K5 (Kapitalis 5) sudah terlihat jelas bahwa K5 (Kapitalis 5) berusaha untuk menutup corong kecantikan Candriwasah agar tidak dilecehkan oleh rencana busuk kaum Kapitalis.

K5 (Kapitalis 5): “Bung, jangan kau kira apa yang mereka lakukan ini demi kepentingan dan kesejahteraan desa serta masyarakat. Tidak bung tidak, sama sekali tidak!! Tidak samasekali mereka lakukan untuk orang lain apalagi masyarakat.”

K5 (Kapitalis 5): “Dengarkan, mereka melakukan hal seperti ini agar mereka semakin tinggi menjulang dan semakin kaya raya serta jauh dari kekurangan duniawi ini. Sementara rakyat akan mati melarat dan kecantikan Candriwasah akan dilunturi dengan lipstik yang licik yang mereka bawakan.”

WB (Wakil Bupati): “Apa?” (sambil mengeritkan kening dan penuh keraguan)

K5 (Kapitalis 5): “Jangan bung kira saya ini seperti yang ada dalam pikirannya bung. Saya hanya ingin Candriwasah tetap indah dan rakyatnya baik-baik saja. Jangan sampai jatuh di orang yang salah. Singkatnya begini bung, kalau bung mencintai rakyat dan Candriwasah, dengar omongan saya jika tidak jangan dengarkan.”

Suasana semakin memanas saat wakil bupati pergi ke kediaman bapak bupati untuk memberitahu tentang semua yang terjadi. Sayangnya hati bapak bupati sudah menjadi benteng yang tertutup bahkan beliau tidak samasekali mempercayai apa yang disampaikan oleh tangan kanannya itu.

WB (Wakil Bupati): “Jangan bung kira Candriwasah aman-aman saja. Asalkan bung tahu, Candriwasah sedang dalam incaran para predator yang ganas. Saya tidak sanggup. Apalagi membayangkan jika nantinya Candriwasah jatuh di tangan mereka. Bung, engkau pemimpin. Tuntunlah rakyatmu sebagaimana Tuhan membimbing umat Israel.”

B (Bupati): “Ha? Me-re-ka?”

WB (Wakil Bupati): “Iya bung, mereka kaum kapitalis.”

B (Bupati): “Kau jangan salah bicara. Mereka itu orang-orang baik. Mereka sudah berjanji denganku akan memberikan modal sebagai bantuan untuk desa Candriwasah sekaligus dengan rakyatnya. Kau jangan salah tanggap. Ingat !! Hati-hati dengan kata-kata.” (mulai marah)

WB (Wakil Bupati): “Justru bung yang harus hati-hati dengan kata-kata. Kata-kata mereka renyah dikunyah dan manis di mulut. Namun hati mereka penuh dengan kebusukan.”

Part IV diakhiri dengan posisi pro-kontra antara bapak bupati dengan tangan kanannya (wakil bupati). Rupa-rupanya bapak bupati masih sepakat dengan apa yang disampaikan oleh kaum kapitalis. Beliau tidak bisa tergiur dengan tawaran mulia dari tangan kanannya.

Klimaks dari aktus Candriwasah terdapat dalam part V yang sekaligus dijadikan bagian penutup. Kedatangan wakil bupati ke desa Candriwasah untuk memberitahu semua yang terjadi menjadi bagian pembuka dalam part V.

C (Camat): “Bung apa yang terjadi sampai-sampai datang kemari. Pasti membawa kabar baru dan saya yakin itu pasti baik adanya.”

WB (Wakil Bupati): “Tidak perlu. Kita harus waspada!!”

SI (Suara rakyat I): “Apa waspada!!! Apa yang terjadi?”

WB (Wakil Bupati): “Dengar, ada serigala-serigala kelaparan yang melirik akan keelokan Candriwasah. Dan para serigala itu akan berusaha dengan berbagai cara agar mendapatkannya.”

SIII (Suara rakyat III): “Ah sudahlah. Jangan biarkan tangan-tangan penjahat itu menyentuh kecantikan desa apalagi menodainya.”

WB (Wakil Bupati): “Sebaiknya kita siap sedia, agar kegilaan dan kelicikan mereka itu hanya terdampar dalam pikiran-pikiran yang dangkal dan tidak memiliki cinta kasih.”

 Di lain tempat desa Candriwasah ketiga para misionaris kembali mengadakan rekoleksi singkat dengan semua warga desa Candriwasah. Lagi-lagi misionaris membahas tentang kebaikan Tuhan dengan para pemimpin duniawi.

MII (Misionaris II): “Berani berteriak berani bertindak. Begitulah yang Tuhan lakukan. Kristus tidak hanya berkata-kata, tetapi Dia juga mewujudkan dalam tindak-tanduknya hingga wafat di kayu salib demi suatu kebenaran dan cinta akan umat-Nya. Kristus tidak seperti para pemimpin di dunia ini. Yang banyak janji manis tapi banyak yang tak ditepati. Itu sadis sekali saudara/i. Itu harus segera dibrantas agar di bumi ini tidak ada penjahat.”

Dalam suasana bersamaan kaum kapitalis (K1-K4) datang ke desa Candriwasah bersama dengan bapak bupati.

Pada kesempatan yang satu ini terciptanya konflik yang sangat gemuruh dan perang kata-kata kotor antara kaum kapitalis (K1-K4) dengan seluruh pelindung (wakil bupati, camat, kepala desa, suara rakyat I-suara rakyat III, para misionaris, para pelajar) desa Candriwasah. Mereka juga dibantu oleh K5 (Kapitalis 5) yang mulanya rekan kerja dari K1-K4 (Kapitalis 1-Kapitalis 4) dan kini malah menjadi oposisi yang keras.

B (Bupati): “Rakyatku lihatlah!! Inilah para pejuang yang berbaik hati, yang akan membawa Candriwasah ke depan pintu gerbang kemudahan dari kesulitan dan kesejahteraan dari kemiskinan.”

K1 (Kapitalis 1): “Rakyatku tercinta dan terkasih. Jangan sia-siakan ciptaan Tuhan yang tiada tara ini. Jangan biarkan Candriwasah begini-begini saja. Kita harus membawanya ke dalam perubahan yang lebih sejahtera.”

SIII (Suara rakyat III): “Saudara/i, jangan terlena dengan kata-kata dari para keparat ini!!.” (marah)

K5 (Kapitalis 5): “Itu benar sekali. Jangan percaya terhadap mereka-mereka ini. Mereka-mereka ini parasit dan orang-orang Farisi yang kita lihat.” (sambil berjalan dari belakang)

K3 (Kapitalis 3): “Hey tolol!!! Jangan hancurkan kesempatan yang mulia ini untuk kebaikan Candriwasah.”

B (Bupati): “Iya, ini demi kebaikan dan kesejahteraan Candriwasah bersama dengan rakyatnya.”

WB (Wakil Bupati): “Saya kira, bapak sudah lupa akan tugas bapak.”

C (Camat): “Tugas bapak melindungi rakyat dari semua serangan ganas yang seperti ini. Bukan malah menyetujui!!!”

Kini suasana tidak bersahabat lagi semakin memanas bahkan ledakan dan tembakan dari K1 (Kapitalis 1) mendarat di kening SI (suara rakyat I).

K2 (Kapitalis 2): “Diam keparat!!!”

SII (Suara rakyat II): “Anda akan terlihat bodoh jika diam. Membiarkan tujuan dan rencana mulia itu harus menodai dan membuat kami semua menderita.”

M1 (Misionaris 1): “Ini merupakan anugerah Tuhan untuk semua uma-Nya bukan untuk para keparat ini!!”

Tiba-tiba terdengar ledakan senjata dari kaum kapitalis sebagai tanda peringatan kepada semua orang di desa Candriwasah untuk tunduk kepadanya.

K1 (Kapitalis 1): “Turuti apa kataku!!! Siapa yang bantah berarti nyawa melayang!!”

SI (Suara rakyat I): “Setajam apapun senjata itu tidak akan mampu meluluhlantakkan kami. Kami kuat dalam ikatan cinta Tuhan.”

Amarah dari kaum kapitalis tidak dapat dibendung lagi sehingga terjadilah konflik hebat di desa Candriwasah antara kaum kapitalis dan semua pelindung desa Candriwasah. Konflik ini diakhiri dengan badai yang dahsyat dan menghanyutkan desa Candriwasah bersama dengan penghuninya. Konon, menurut sutradara badai dahsyat ini muncul sebagai amarah dari Tuhan Maha Esa, bahwa keindahan dan keanggunan bumi ini tidak boleh dilecehkan oleh siapapun dan demi kepentingan apapun apalagi demi cuan.

Candriwasah dan Penolakan Proyek Geothermal di Kawasan Poco Leok

Melalui aktus Candriwasah kita dapat melihat dengan jeli di mana para aktor dan artis menggambarkan keresahan terhadap proyek geothermal di kawasan Poco Leok. Tidak berlebihan jika penulis mengatakan penolakan proyek geothermal di kawasan Poco Leok adalah wujud nyata dari aktus Candriwasah. Aparat pemerintah memberi sentuhan-sentuhan magis untuk memanfaatkan tenaga panas bumi di kawasan Poco Leok. Namun sebaliknya ada tendensi yang dapat merusak lingkungan Poco Leok dan bisa mengakibatkan kerugian terhadap warga Poco Leok.

Besar harapan penulis dengan hadirnya aktus Candriwasah bisa memberi wawasan yang baru bagi kita semua warga Manggarai dan pemerintah setempat. Bahwasanya tidak semua ghoetermal itu ramah lingkungan dan pada dasarnya keperawanan alam dan keanggunan lingkungan tidak boleh dilecehkan dengan alasan apapun.

Dengan hadirnya aktus Candriwasah bisa membongkar ketidaktahuannya kita terhadap berbagai konflik di bumi Congka Sae. Sekarang momen yang tepat bagi kita untuk bahu-membahu menjaga keperawanan dan keanggunan alam ini. Kita harus bersatu untuk menemukan benang merah dan melawan segala bentuk penindasan dan perilaku ketidakadilan yang masih merajalela.

Keterangan:

Congka Sae adalah sebutan untuk tanah Manggarai.

Biodata Penulis:

Yulianus Risky Agato merupakan siswa SMAK Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo. Beberapa karyanya juga telah terbit di berbagai media online.

© Sepenuhnya. All rights reserved.