Oleh Riyadlotul Janah
Di sebuah desa kecil yang terletak di desa terpencil, bulan Ramadan selalu datang dengan kegembiraan dan kehangatan tersendiri. Di sinilah kisahku dimulai.
Perkenalkan saya Riyadlotul Janah biasa dipanggil Riya, seorang gadis berusia 20 tahun yang tinggal bersama keluarga di desa. Ramadan merupakan salah satu hari yang paling ditunggu-tunggu bagi saya. Suasana di desa saya berubah menjadi lebih tenang dan penuh kebersamaan.
Ketika bulan Ramadan tiba, suasana desa berubah. Udara penuh dengan aroma makanan yang lezat, dan masjid desa menjadi pusat kegiatan bagi masyarakat. Saya sangat menyukai bulan Ramadan, meskipun saya tahu bahwa mereka tidak mampu menyediakan hidangan yang istimewa.
Setiap pagi pukul jam 02.30 ada yang membangunkan sahur menggunakan alat musik, dan saya pun bangun untuk sahur dan selajutnya saya tidak langsung tidur untuk bersiap-siap ke masjid desa untuk menunaikan salat Subuh bersama. Setelah salat subuh saya dan teman-teman melakukan kegiatan olah raga seperti jalan-jalan di pagi hari.
Setelah olah raga saya biasanya langsung mandi karena berangkat kuliah, kadang kuliah dari pagi sampai sore tapi juga biasanya cuma sebentar tergantung mata kuliah. Setelah pulang kuliah saya langsung mandi jika pulang sore dan setelah itu saya menunggu berbuka puasa.
Salah satu momen yang paling saya nantikan adalah saat berbuka puasa bersama-sama keluarga. Setiap hari, kami berkumpul di rumah untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan dengan oleh ibu. Meskipun hidangan yang tersedia sederhana, namun kebersamaan keluarga membuatnya menjadi begitu istimewa.
Setelah berbuka saya pun bersiap-siap untuk menunaikan ibadah salat tarawih di masjid bersama ibu saya dan adik saya. Di sana banyak sekali orang-orang yang mau salat juga. Setelah salat tarawih saya tidak langsung pulang, saya tadarus sama teman saya.
Namun, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ini juga tentang berbagi dengan sesama. Seperti membagi makanan buat orang-orang yang membutuhkan dan mungkin seperti sembako-sembako gratis.
Tetapi, tahun ini, Ramadan menjadi berbeda menurut saya. Desa saya tidak ramai seperti dulu mungkin karena saya sudah mulai dewasa jadi teman-teman saya sudah pada sibuk dengan urusannya masing-masing.
Itulah kisah Ramadan di desa saya, sebuah kisah tentang kebersamaan dan ketabahan dalam menghadapi perubahan. Semoga Ramadan di tahun-tahun mendatang akan tetap membawa berkah dan kebahagiaan bagi kita semua.
Biodata Penulis:
Riyadlotul Janah saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.
