Pasti kalian pernah merasa sangat mudah tersulut emosi, kan? Bahkan terhadap persoalan kecil, seperti jalanan macet dan ketinggalan barang penting. Kalian pun jadi merasa emosi dan tanpa sengaja membuat orang di sekitar kalian merasa tidak nyaman.
Saya pun sering sekali mudah tersulut emosi, bahkan dengan hal-hal kecil. Tetapi saat saya mengetahui tentang teori kecerdasan emosional di laman media sosial, saya merasa lebih mudah mengontrol emosi saya, dan mengidentifikasi setiap permasalahan serta energi negatif dengan baik.
Yuk, simak pembahasan tentang kecerdasan emosional.
Kecerdasan emosional merupakan cara seseorang mengontrol emosi, mengendalikan amarah, dan kemampuan seseorang dalam mengontrol dirinya sendiri. Teori kecerdasan emosional ini pertama kali dikemukakan oleh Peter Salovey dan John Mayer pada tahun 1990, dan konsepnya kembali diangkat melalui buku oleh Daniel Goleman.
Kecerdasan emosional, merupakan hal yang sangat penting diterapkan pada diri sendiri. Diri kita tentunya butuh untuk terus mendapatkan energi positif, yang entah itu dari diri sendiri ataupun dari hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Memang terdengar sulit, tapi kita justru bisa memanfaatkan salah satunya, yaitu dengan mengontrol diri kita sendiri.
Mengontrol diri sendiri tentu bukanlah hal yang mudah. Terkadang, banyak hal di luar kendali kita yang dapat membuat kita marah bahkan kesal. Hal-hal tersebut tentunya sangat wajar dialami oleh manusia. Tetapi, jika hal-hal negatif tersebut dihadapi dengan perasaan negatif juga, lama-kelamaan pasti akan berdampak negatif terhadap kesehatan fisik hingga mental kita.
Menaruh perasaan positif, tentunya dapat membuat diri kita merasa lebih baik. Tetapi, yang perlu diingat adalah kita tidak perlu memaksakan diri sendiri untuk berpikir positif setiap saat, karena di luar sana pun terdapat banyak sekali hal-hal jahat yang akan membahayakan diri sendiri. Kamu dapat menghindari hal-hal negatif tersebut, ya!
Orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi dapat dengan mudah mengidentifikasi perasaan yang dimilikinya lalu mengelola perasaan tersebut. Mereka pun dapat berpikir lebih tenang dan bertindak dengan kepala dingin. Dengan ini, mereka dapat dengan mudah mencairkan suasana yang tegang menjadi lebih kondusif.
Mengontrol emosi kita merupakan hal yang harus dipelajari, bukan untuk dipaksakan. Menurut pengalaman saya, mengontrol diri dan menerapkan kecerdasan emosional merupakan hal yang sulit untuk dilakukan bagi saya. Saya sendiri pun belum bisa 100% menerapkan teori kecerdasan emosional ini pada diri saya. Banyak sekali pemikiran negatif yang sulit untuk dikendalikan. Tetapi, kesulitan itulah yang membuat saya belajar untuk mengendalikan emosi saya.
Tips yang saya terapkan saat tidak bisa mengontrol amarah saya adalah dengan mengenali diri saya dahulu, dan perlahan menelaah energi negatif yang sedang saya hadapi. Biasanya saya selalu berpikir bahwa apapun energi negatif yang sedang saya hadapi pasti akan terlewati cepat atau lambat.
Kelebihan lain yang dimiliki oleh orang dengan kecerdasan emosional tinggi adalah mereka dapat membuat pasangan mereka merasa lebih nyaman dan bahagia. Mengapa demikian? Karena mereka akan lebih peka terhadap perasaan pasangan mereka.
Tips dari saya dalam hal ini adalah dengan mencoba memahami apa yang dipikirkan oleh pasangan kalian, dan alasan mengapa pasangan kalian berpikir seperti itu. Lalu, kalian bisa mengajak pasangan kalian untuk membahas masalah ini dengan saling menukar pendapat, dan di akhir kalian tinggal memutuskan apa yang terbaik untuk kalian berdua. Hubungan pun terasa lebih tenang dan mudah, karena pasangan merasa di validasi akan perasaannya. Setiap permasalahan dalam hubungan pun dilalui tanpa terburu-buru, selalu dipikirkan sebab-akibatnya sebelum bertindak.
Nah, itu dia pembahasan singkat dari saya tentang kecerdasan emosional. Bagaimana menurut kalian? Cocok banget kan untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari? Selain membawa hal positif untuk kalian, kecerdasan emosional juga bisa membuat orang di sekitar kamu merasa nyaman dengan kepribadian kamu. Jangan lupa menerapkan teori ini dalam kehidupan sehari-hari!
Biodata Penulis:
Aurelia Ivana Naomi lahir pada tanggal 24 Oktober 2004 di Jakarta. Saat ini ia aktif sebagai mahasiswa, program studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, di Universitas Sebelas Maret Surakarta.
