Tahu nggak sih gimana rasanya tinggal di daerah bantaran yang sering banjir?
Pengalaman selama tinggal di daerah bantaran. Aku sudah menghabiskan lebih dari separuh hidupku untuk tinggal di daerah bantaran sungai. Kalau musim hujan tiba, sudah pasti sekampung takut kebanjiran. Gimana nggak takut? Hujan deras yang turun sampai berhari-hari itu membuat Sungai Bengawan Solo meluap-luap.
Berbagai upaya udah dilakukan untuk mencegah banjir. Pemasangan pompa air merupakan salah satu upayanya. Tapi banjir masih saja melanda daerah tempat tinggalku. Kalau sudah begini siapa yang salah?
Penyebab Banjir
Ap asih sebenarnya penyebab banjir? Masalah utama penyebab banjir tidak lain adalah sampah. Sampah yang dibuang sembarang seringkali menghambat aliran air. Sampah yang menumpuk ditambah volume air yang terus menerus meningkat menyebabkan terjadinya banjir.
Tersumbatnya aliran air akibat sampah. Sampah yang menumpuk, menyebabkan tersumbatnya aliran air di beberapa titik. Terutama titik aliran air yang hanya berupa lubang kecil. Sudah menumpuk dan akan semakin menumpuk jika tidak segera dibersihkan.
Tantangan Saat Banjir
Tantangan yang harus dihadapi saat banjir tidaklah sedikit. Gigitan hewan, berbagai penyakit, dan keadaan sekitar yang berubah drastis. Keadaan saat banjir sangat berbeda dengan hari-hari biasa, kami sebagai korban banjir harus meninggalkan rumah dan tidur di pengungsian. Selama di pengungsian kami selalu was-was dengan kehadiran hewan-hewan yang tidak pernah kami harapkan kedatangannya, bahkan ketika berada di tengah-tengah air banjir sekalipun kami harus tetap waspada. Hewan seperti ular yang paling sering menyerang kami. Mereka bisa dengan bebas berenang di dalam air, bahkan sering tidak terlihat.
Penyakit dadakan yang banyak menyerang korban banjir biasanya yaitu gatal-gatal. Air yang kotor membuat kami para korban banjir harus mengalami hal ini. Penyakit ini menyerang tidak pandang bulu, rasanya sangat gatal dan panas. Walau sudah mandi dengan air sabun, rasa gatalnya tetap tidak menghilang.
Pengungsi biasanya hanya bisa beristirahat di tempat seadanya. Itupun hasil dari kebaikan orang-orang sekitar yang mau menolong kami. Kedinginan, ya saat malam tiba kami para pengungsi pasti kedinginan. Suhu malam yang dingin ditambah dengan keadaan banjir membuat keadaan terasa semakin dingin. Tidur dilantai beralaskan tikar dan makan makanan seadanya. Kami tidak bisa berharap lebih dari bantuan yang datang, ada bantuan saja kami sudah sangat bersyukur.
Tantangan banjir tidak hanya sampai di situ. Setelah banjir surut, kami masih harus membersihkan rumah yang kotor. Bau amis menguar di mana-mana. Lumpur dan sampah yang terseret air banjir ada di sudut manapun. Rumah yang belum mulai dibersihkan ketika banjir mulai surut akan bertambah kotor dan sulit dibersihkan.
Setiap banjir pasti listrik padam, jadi kami tidak punya persediaan air bersih. Maka ketika banjir mulai surut, kami harus segera membersihkan rumah dengan memanfaatkan air banjir itu. Jadi jam berapapun banjir mulai surut, kami harus siap. Ketika listrik menyala, saat itulah kami mulai membersihkan rumah dengan air bersih. Beruntung jika memiliki genset, tanpa harus menunggu listrik menyala mereka bisa membersihkan rumah dengan air bersih.
Solusi?
Sampai saat ini, sudah banyak cara dilakukan untuk mencegah banjir. Sebenarnya gagal atau berhasilnya sistem pencegahan banjir adalah cerminan dari masyarakat di sekitarnya. Walau sudah ada larangan agar tidak membuang sampah di sungai. Masih banyak orang yang membuang sampah ke sungai. Inilah yang menyebabkan banjir saat musim hujan tiba.
Pengairan air yang baik. Pemerintah sekitar sudah mengupayakannya. Pemasangan penyedot air tetap kurang efektif. Walau sudah dipasangi penyedot air, daerah tempat tinggalku tetap banjir. Bahkan dibeberapa titik, hujan deras saja sudah ada genangan air yang cukup dalam. Ini membuat terblokir akses jalan utama.
Ada cara untuk mengatasi gatal yang timbul karena air banjir. Kami biasanya mengoleskan minyak atau krim anti nyamuk di bagian-bagian yang kemungkinan akan terkena air banjir. Cara ini lumayan efisien, karena aku sendiri sudah mencobanya. Walau kadang rasa gatal masih ada, tapi tidak akan separah saat tidak diolesi minyak ataupun krim anti nyamuk.
Jadi pada akhirnya, masyarakat juga turut bertanggung jawab. Membiasakan tidak membuang sampah sembarangan, bisa menjadi langkah awal.
Biodata Penulis:
Angger Ajeng Widya Paramesti lahir pada tanggal 4 November 2004.
