Oleh Qhasdinna Syifa Alfiyanni
Kala itu, suasana sedang gegap gempita. Gemuruh reformasi menggelora melingkupi setiap jengkal negeri. Seorang wanita yang tumbuh dan dibesarkan oleh gores dan asa berdiri di antara gemuruh itu. Tangguh dan tak gentar. Tahun 1988 menjadi pengamat yang setia, saksi bisu atas segala keras perjuangan hidupnya; baik sebagai manusia, maupun sebagai wanita.
Ya, memang ada kalanya harus diperjelas seperti itu. Sebab, terkadang seorang wanita lupa dimanusiakan oleh manusia lainnya. Dalam situasi yang serupa, kisah ini tidak berdiri sendiri. Masih ada banyak lagi, wanita-wanita di sisi lain dunia yang tumbuh dalam bayang ketidakadilan dan pahitnya hidup.
Duri, nama samarannya mulai saat ini. Di keluarga itu, ia lahir sebagai bungsu dari empat bersaudara. Lalu, bagian apa yang menjadi milik anak termuda? Sekadar sisa. Ia selalu menjadi yang terakhir dalam setiap hal. Kalau sedang hujan dan kantung teh celup hanya tersisa satu saja, gelasnya yang tidak akan pernah coklat pekat; bahkan seperti tidak sedang meminum teh.
Kalau dalam setiap tahunnya, Ulang Tahun hanya dirayakan sekali, ketiga saudaranya berhak memilih hadiah. Perayaan setahun sekali, katanya. Lalu, tiba saatnya ia mengulang tanggal kelahirannya. Selamat Ulang Tahun, Duri! Ucapan itulah satu-satunya yang menjadi miliknya. Ada kalanya disambung dengan: Uangnya tidak ada, kamu nanti pakai barang lama kakakmu saja. Entah uangnya memang benar tidak ada, atau sudah lebih dulu bertuan. Sudah santapan sehari-hari, ini telah menjadi bagian tak terelakkan dalam rutinitasnya.
Bagai disempurnakan oleh hidup yang menempanya sedemikian rupa, ia tumbuh menjadi sosok wanita yang mandiri dan kokoh. Ia berhasil menginjakkan kakinya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Kampusnya begitu jauh dari rumah, dan dahulu hanya ada bis kota sebagai fasilitas transportasi yang bisa ia pakai. Ibunya memang sempat berkata: Aku tidak bisa membiayai pendidikan dan ongkosmu itu, uangnya cuma cukup sampai mengantarkanmu ke gerbang saja. Dan ia mengerti. Atau mungkin, telah terbiasa?
Sudah hampir menyentuh kepala dua saat itu, bukan lagi masanya ia untuk merajuk seperti anak kecil. Malah, ia merasa bersyukur. Dalam keadaan keluarganya yang seperti itu, serba tidak ada, ia berterima kasih karena masih diberikan kesempatan untuk menimba ilmu di bangku perkuliahan.
Nyatanya, ia bisa membiayai dirinya sendiri. Walaupun ia harus tinggal di lingkungan kampus, tidur dari satu ruangan kosong ke ruangan kosong lainnya bersama dengan teman-temannya. Namun, ia selalu mendapatkan cara untuk menghasilkan uang. Semua berkat usahanya, dan juga kemampuannya untuk mengejar kesempatan.
Benar kata prinsip hidupnya: kesempatan ada untuk dikejar, bukan untuk ditunggu kedatangannya.
Sedari awal, rasa takut tidak pernah menjadi sahabatnya. Ialah pribadi yang senantiasa berani; berani bicara dan berani bertindak. Hidupnya dijalani dengan penuh keyakinan terhadap prinsip hidupnya sendiri. Ia percaya pada kemampuan dirinya, untuk melalui segala rintangan yang menunggunya di kemudian hari walaupun ia harus berjalan seorang diri di setapak yang berduri.
Oleh sebab itulah, nama samarannya adalah Duri. Ia memang kecil, tumbuh di sekitar bunga yang indah. Namun, bukan berarti eksistensinya tidak berarti. Ialah yang paling perlu diwaspadai oleh manusia yang mengagumi keindahan bunga itu. Ia tumbuh dengan penuh gores, menjadi sesuatu yang mampu menggores.
Fase bangku perkuliahan merupakan perputaran takdir dalam perjalanan hidupnya. Memang tetap naik turun, namun setidaknya ia menemukan celah untuk bersinar. Sejak awal, ia sudah tertarik dengan Resimen Kemahasiswaan. Menwa, sebutan yang lebih akrab di telinga orang awam. Saat itu ia melihat sekumpulan mahasiswa terlihat gagah dalam balutan pakaian dinas lapangan berwarna hijau yang mirip dengan seragam tentara, tak lupa dengan baret ungu yang senantiasa melekat di rambut. Dalam pandangannya, mereka sungguh mengagumkan. Ia menginginkan dirinya menjadi salah satu bagian dari mereka. Dan ia berhasil. Ia berhasil berjalan tegap dalam balutan pakaian yang sama, terlihat gagah dalam segala momen. Ada kalanya, ia harus masuk ke kelas menggunakan pakaian tersebut. Ia menyukainya; terlihat mencolok di antara kerumunan.
Namun, ternyata tidak semudah itu menjadi seorang wanita dengan pakaian yang gagah. Sebab, diskriminasi tidak memedulikan dimensi ruang dan waktu. Nyatanya ia tidak pernah benar-benar diterima di lingkungan tersebut, yang memang wanita adalah minoritas. Bahkan bisa dihitung jari, setengah tangan pun tidak sampai.
Waktu terus berlalu, hingga tiba saatnya pemilihan ketua baru bagi Menwa. Kandidatnya hanya tiga, termasuk dirinya. Namun ia tidak terpilih. Alasannya? Karena bukan lelaki. Ia telah mengenyam pelajaran yang cukup. Kini, ia merasa tak lagi perlu untuk berada di lingkungan tersebut. Maka dari itu, ia mengundurkan diri sesaat setelah periode pemilihan berakhir.
Pada saat itu, bertepatan dengan periode pencarian anggota Senat yang baru. Kalau saat ini, Senat setara dengan BEM fakultas. Tentunya, ia menganggap bahwa momen ini adalah kesempatan baru baginya untuk bertumbuh. Ia mendaftarkan dirinya menjadi anggota. Tanpa ia sangka, ia mendapatkan perlakuan yang sungguh dihormati dan disegani sebagai anggota di sana.
Memang, itu pun karena ada sedikit bantuan dari latar belakangnya yang dahulu adalah anggota Menwa. Nasib baik, pikirnya.
Perjalanan kariernya sebagai anggota Senat berjalan dengan mulus. Ia selalu vokal; dan selalu didengarkan pula oleh anggota lainnya. Sampai pada akhirnya, waktu kembali memasuki ke periode pemilihan ketua. Kali ini, ia kembali mencalonkan diri menjadi ketua Senat. Dan baru kali ini pun, ia mendapat respons yang baik dari publik. Tersematlah gelar ketua Senat di pundaknya.
Pada saat itu, belum banyak terdapat pemimpin wanita. Namun, pembawaan dirinya yang tegas dan berwibawa sudah cukup untuk membungkam mulut orang-orang yang gemar membual. Bisa saja, orang melontarkan kalimat buruk kepadanya karena ia seorang wanita. Bisa saja, namun tidak ada yang berani. Sebab di sini, kuasa berada dalam kendali dirinya. Seperti apa yang dikemukakan oleh Max Weber, bahwa kekuasaan serupa dengan dominasi. Gelarnya sebagai ketua Senat-lah yang memberikan dominasi kepada dirinya terhadap orang lain. Namun, ia tak serta-merta kalap. Ia menggunakan kekuasaan itu dengan baik.
Ia selalu pandai dalam berbicara dan menjalin relasi baru. Di saat anggotanya mengalami kesulitan mencairkan dana untuk program kerja baru, barulah di situ ia bertindak memakai kuasanya. Ia sangat dekat dengan rektor kampusnya di masa itu. Orang lain memanggil rektor dengan sebutan ‘Pak’, ia memanggil rektor dengan sebutan ‘Abah’. Ia hanya cukup berbicara sebentar dengan Abah, dengan secangkir kopi yang dinikmati sambil bergurau tipis; dana cair di kemudian hari. Eksistensinya menjadi sangat krusial bagi Senat. Satu momen saja dirinya absen, pasti ada yang tidak terselesaikan dengan baik.
Kuasanya tidak hanya bermanfaat bagi kelompok, namun juga bagi dirinya sendiri. Kala itu sedang riuh, suasana rapat dalam skala besar untuk sebuah acara. Ia duduk di jajaran tengah, tempat di mana para ketua dari berbagai organisasi duduk. Saat ia ingin mengemukakan opininya, yang memang isinya kontra dengan beberapa pihak, ia dicegah dan diprotes. Memangnya kamu siapa! Begitu pertanyaan yang masih selalu menggaung di dalam pikirannya. Namun, kuasa lagi-lagi menyelamatkan harga dirinya. Ia ketua Senat, tentu saja. Bisa ia teriakkan kata-kata tersebut dengan lantang, setiap saat. Satu ruangan diam, namun seluruh orang tampak berisik dalam pikirannya masing-masing. Sekali lagi, pada saat itu masih belum banyak pemimpin wanita.
Sampai akhir dari kisahnya di masa perkuliahan, hidupnya selalu penuh dengan rasa hormat dan disegani oleh orang banyak. Dinamika takdir ini menjadikannya bercahaya. Satu yang tidak pernah berubah, ia masih tetap sebuah duri. Hati-hati! Ia bisa menggores.
Ini kisah Ibuku di tahun '98. Widuri, orang memanggilnya.
Biodata Penulis:
Qhasdinna Syifa Alfiyanni (kerap disapa Syifa) lahir di Bandung pada tanggal 9 Oktober 2004. Ia merupakan seorang mahasiswa program sarjana Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran.

