Intoleransi Keberagaman Agama: Satu Tapi Tak Sama?

Intoleransi beragama adalah sebuah masalah serius yang mempengaruhi kehidupan sosial dan harmoni antarindividu. Hal ini sangat merugikan bagi bagi ...

Oleh Anastasya Trisna Delita

Agama saat ini menjadi candu yang rentan terhadap perpecahan sebab tidak menerimanya keyakinan atau pemahaman kebenaran yang lain. Keyakinan menuntut persamaan yang beberapa di antaranya dipaksakan kepada orang lain.

Akar keinginan masyarakat untuk melakukan sesuatu yang militan demi memperjuangkan kebenaran adalah persoalan kepercayaan metafisik (gaib). Bahkan dalam keadaan tertentu, siap mengorbankan seluruh hidupnya demi mempertahankan keyakinannya. Karena tidak bisa menerima kebenaran keyakinan lain, agama menjadi dogma dan doktrin yang mengakar pada kemanusiaan.

Pernahkah kita berpikir mengapa perpecahan itu terjadi, dan mengapa banyak yang tidak bisa menerima pada perbedaan keyakinan?

Seperti misalnya, ada suatu agama yang terpecah menjadi beberapa golongan. Maka antar golongan tersebut pasti memiliki konflik padahal satu agama. Walaupun agama tersebut identik dengan persatuan, toleransi dan kedamaian, tidak menutup kemungkinan adanya perpecahan.

Satu agama yang terpecah menjadi beberapa golongan memicu terjadinya banyak komplikasi dalam kehidupan beragama. Setiap golongan pasti merasa menjadi yang paling benar dan akan menjatuhkan golongan lain. Komplikasi yang terjadi akan sangat merugikan bagi setiap golongan tersebut.

Perpecahan agama bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perbedaan interpretasi teks suci, ketidak setujuan dalam praktek keagamaan, perbedaan budaya. Tidak jarang, perpecahan ini dipicu oleh ketegangan sosial atau politik yang lebih luas di masyarakat. Hal ini sering kali kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berbeda di setiap tempat dan komunitas.

Intoleransi Keberagaman Agama

Sikap toleransi sudah seharusnya diterapkan di manapun serta oleh siapapun. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari toleransi tersebut masih jarang ditemukan. Masih banyak tantangan dan perbedaan pendapat yang menjadikan minimnya toleransi.

Perpecahan agama memiliki dampak yang sangat merusak dalam kehidupan bermasyarakat. Karena mengakibatkan terjadinya konflik antar kelompok, penurunan rasa saling percaya dan kerjasama, serta terjadinya diskriminasi dan isolasi terhadap kelompok minoritas. Selain itu, perpecahan agama juga dapat menghalangi proses pembangunan sosial, ekonomi, dan politik yang inklusif dan berkelanjutan, serta merusak iklim sosial yang harmonis dan toleran.

Di Indonesia sendiri yang katanya “Bhineka Tunggal Ika” masih diperlukan upaya yang cukup besar untuk mencapai masyarakat yang lebih inklusif dan beradab secara keseluruhan. Sudah berbagia upaya dilakukan guna mengurangi intoleransi. Namun masih banyak masyarakat yang belum bisa menerima akan perbedaan yang ada.

Indonesia juga merupakan negara yang membebaskan warganya untuk beragama. Tidak menutup kemungkinan untuk membebaskan memilih golongan sesuai dengan keyakinan setiap individu. Hanya saja kurangnya pemahaman tentang toleransi dari masyarakat mengakibatkan perbedaan tersebut sebagai sebuah konflik.

Intoleransi beragama merupakan sikap yang ketidakmenerimaan terhadap keyakinan atau praktik agama lain. Bisa berupa diskriminasi, pelecehan, atau bahkan kekerasan terhadap individu atau kelompok berdasarkan agama mereka. Banyak terjadi diskriminasi pada masyarakat di Indonesia.

Mirisnya dalam dunia pendidikan sekalipun perbedaan golongan agama menjadi pemicu terjadinya bullying. Akibat dari bullying sendiri sangat merugikan bagi para pelajar karena bisa mempengaruhi kondisi mental pada korban bullying. Selain itu radikalisasi juga mungkin terjadi karena bullying akibat intoleransi beragama.

Pengimplementasian toleransi di Indonesia melibatkan berbagai upaya, termasuk pendidikan multikultural, dialog antaragama, kebijakan inklusif, dan kerja sama lintas budaya. Selain itu, kegiatan sosial dan acara budaya juga berperan penting dalam memperkuat kesadaran akan pentingnya toleransi di tengah masyarakat.

Dalam mengatasi intoleransi beragama berarti melibatkan berbagai aspek kehidupan, seperti pendidikan, komunikasi, kebijakan publik, dan pembangunan Masyarakat. Mengatasi intoleransi beragama memerlukan perlakuan yang intens. Mulai dari mendidik diri sendiri tentang beragam keyakinan, menghargai perbedaan, berkomunikasi secara terbuka, dan mempromosikan toleransi dalam masyarakat. Selain itu, memperkuat nilai-nilai persaudaraan, kesetaraan, dan kerjasama antar umat beragama juga penting.

Intoleransi beragama adalah sebuah masalah serius yang mempengaruhi kehidupan sosial dan harmoni antarindividu. Hal ini sangat merugikan bagi bagi masyarakat secara keseluruhan. Dalam Masyarakat yang toleran, setiap individu memiliki hak untuk menjalankan keyakinannya tanpa takut diskriminasi atau penindasan. Sudah seharusnya bahwa masyarakat Indonesia memiliki sikap yang toleran atar sesama.

Biodata Penulis:

Anastasya Trisna Delita lahir pada tanggal 7 Juli 2005 di Magetan.

© Sepenuhnya. All rights reserved.