Keajaiban Mindful Parenting dalam Mendidik Anak: Tidak Perlu Kekerasan

Mindful parenting merupakan pola pengasuhan pada anak, orang tua mendidik dengan berfokus pada menjadi pendengar yang baik, memahami maksud sang ...

Oleh Amara Violetta

Ternyata saat ini masih banyak anak yang dididik dengan menggunakan kekerasan oleh orang tua mereka. Kekerasan yang dilakukan dapat berupa kekerasan secara fisik maupun verbal. Terkadang anak tersebut hanya mengetahui bahwa alasan di balik orang tua melakukan kekerasan tersebut demi kebaikan si anak. Tetapi semakin bertumbuh dewasa anak mulai berpikir itu tidak benar dan memberontak. Alhasil tak jarang anak tersebut mengalami gangguan pada kejiwaannya seperti stres pasca trauma (PTSD), anxiety (gangguan kecemasan), depresi, bahkan hingga keinginan untuk bunuh diri. Orang tua mengatakan kekerasan digunakan agar sang anak merasa jera dan tidak mengulangi kesalahan yang telah dilakukan namun nyatanya kekerasan tidak efektif dalam mendidik seorang anak maupun membuat anak merasa jera. Kekerasan dalam mendidik anak justru hanya menimbulkan rasa takut dan kepatuhan yang bersifat sementara.

Keajaiban Mindful Parenting dalam Mendidik Anak

Beberapa kasus yang terjadi, anak yang dididik dengan kekerasan oleh orang tuanya malah membuat sang anak semakin membangkang bahkan sulit diatur, contohnya pengalaman dari seorang teman semasa SMP, ayahnya merupakan seorang patriarki. Patriarki merupakan sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam berbagai kehidupan. Sehingga sang anak dituntut harus mengikuti segala keinginan ayahnya tanpa bisa menolak. Terkadang jika ayahnya lelah sepulang kerja lalu sang anak melakukan kesalahan ia akan dipukul menggunakan sapu. Ada masa sang anak merasa lelah hingga sering pergi hingga larut malam bahkan tidak segan untuk meninggikan suaranya di depan orang tuanya.

Selain itu ada pengalaman dari seorang ayah, pada saat kecil beliau mendapatkan pendidikan keras dari ibunya seperti jika melakukan kesalahan akan dipukul menggunakan sendok sayur, sandal, bahkan muka beliau pernah diberi angus yang tersisa di belakang wajan, beliau pun diwajibkan mencuci baju dan jika belum memasak makanan untuk sekeluarga tidak diperbolehkan untuk bersekolah.

Saya sendiri pun mengalami hal seperti itu pada saat kecil seperti dikunci di luar kamar, dipukul menggunakan tangan, dimasukkan ke dalam gudang yang gelap seharian hingga tangan saya tergores besi yang ada di dalam gudang.

Mengapa orang tua harus mendidik anak menggunakan kekerasan? Bukankah orang tua merupakan contoh bagi anak mereka. Lalu mendidik dengan kekerasan apa itu patut untuk ditiru? Biasanya bentuk pendidikan menggunakan kekerasan dapat terjadi turun-temurun karena anak melihat orang tua mereka mendidik dengan kekerasan maka sang anak saat dewasa dan sudah berkeluarga pun dapat mencontoh cara orang tua mereka mendidik.

Di era sekarang sudah banyak orang tua muda yang memberikan tips cara mendidik anak tanpa perlu menggunakan kekerasan salah satunya adalah mindful parenting. Apa itu mindful parenting? Mindful parenting merupakan pola pengasuhan pada anak, orang tua mendidik dengan berfokus pada menjadi pendengar yang baik, memahami maksud sang anak dengan tidak menghakimi, mempunyai kesadaran emosional yang berarti orang tua dituntut mampu mengontrol emosi mereka dan tidak melampiaskan pada sang anak. Sehingga orang tua tidak perlu menggunakan kekerasan pada anak dengan kata-kata untuk kepentingan pendidikan dalam bersikap pada anak. Orang tua menjadi contoh bagi anak mereka dalam segi bersikap, berbicara, beragama, dan lain-lain. Karena waktu tumbuh kembang anak dimulai dari lingkungan keluarga sehingga orang tua menjadi pilar dalam hidup bagi sang anak.

Contoh dari penerapan pola pengasuhan anak seperti mindful parenting dapat dilihat dari salah satu artis yaitu Nikita Willy. Ia mendidik sang anak tanpa berbicara dengan intonasi yang tinggi ataupun melakukan kekerasan fisik pada anak. Cara mendidiknya berfokus pada memberikan pemahaman pada sang anak dengan intonasi suara yang tidak meninggi sama sekali.

Contoh lainnya dari seorang teman yang orang tua mereka menerapkan mindful parenting, orang tuanya tidak membatasi ia dalam mengutarakan pendapatnya. Jika memang sang anak salah, akan diberitahu dalam bentuk nasihat tanpa perlu paksaan ataupun menghakimi. Sehingga memungkinkan anak untuk belajar dari kesalahan dan tumbuh menjadi anak yang memiliki rasa tanggung jawab. Orang tuanya tidak memaksakan harus sesuai seperti yang mereka inginkan melainkan memberikan kebebasan kepada sang anak dalam memilih hal yang memang ia sukai serta mendukung penuh keputusan sang anak selama itu memberikan dampak positif baginya.

Tidak adanya kekerasan dalam mendidik bukan berarti tidak dapat membuat sang anak jera melainkan dapat membuat sang anak lebih membuka diri dengan dunianya dalam sisi yang positif, tidak merasakan trauma atau bahkan keinginan untuk bunuh diri. Anak dapat mempelajari banyak hal dan berkembang menuju arah yang positif tanpa adanya tekanan saat menjalani dunianya. Seperti anak dapat mengeksplorasi apa yang dia suka dan minati, bakatnya didukung penuh oleh orang di sekitarnya, aktif dalam bersosialisasi membangun relasi yang mendukung masa depannya.

Banyak pola pengasuhan anak tanpa perlu adanya kekerasan dalam membuat sang anak tidak membangkang. Salah satunya dengan mindful parenting yang memberikan suasana rumah sebagai tempat sang anak berkembang dan orang tua yang ikut berkontribusi dan melihat perkembangan tersebut tanpa adanya rasa yang memperburuk suasana hati.

Semuanya tergantung pada orang tua dalam mendidik sang anak, bagaimana cara menyelesaikan suatu masalah jika sang anak berbuat salah, bagaimana memberikan pengarahan tanpa terkesan menyudutkan ataupun menghakimi sang anak, berikan sang anak hak untuk mengutarakan pendapatnya juga, dukung apapun yang dilakukan sang anak selama itu bermanfaat positif baginya, jangan mengekang bahkan menutup akses untuk sang anak menjelajahi dunia luar karena tidak sepenuhnya dunia luar buruk baginya.

Dengan memilih kasih sayang dan kesadaran daripada kekerasan, orang tua dapat menciptakan dunia sang anak lebih baik tanpa adanya rasa takut. Oleh karena itu, tolak kekerasan pada anak!

Amara Violetta

Biodata Penulis:

Amara Violetta lahir pada tanggal 28 Mei 2006.
© Sepenuhnya. All rights reserved.