Kalian mesti tidak samar lagi dengan desa yang bernama Makamhaji? Makamhaji adalah suatu desa yang berada di kecamatan Kartasura dan berkabupaten di Sukoharjo dan di provinsi Jawa Tengah. Nama Desa Makamhaji berasal dari nama Makam dan Haji, yang awalnya Makam (bahasa Arab) yang artinya domisili/tempat tinggal dan Haji atau tuan Haji, yang artinya rumah tuan haji. Pada waktu penjajahan Belanda, ada seorang tokoh agama yang masih keturunan Cina bernama Tuan Haji yang kebetulan sudah Haji dan berdomisili di wilayah Norowangsan yang wilayahnya mulai dari wilayah timur sampai dengan kelurahan Pajang (sekarang). Orang-orang di Makamhaji biasanya menjuluki Makamhaji, yang berarti makamnya para haji, dikarenakan Makamhaji memiliki wilayah yang luas sebesar 184.1543 ha yang di dalamnya terdapat kuburan yang sudah banyak orang tahu bernama TPU Pracimaloyo yang luasnya mencakup ⅛ dari luas desa Makamhaji. Dan hal tersebut tentu sangat menjadi ikonnya Makamhaji, orang-orang biasanya menyangkutkan dengan hal-hal yang mistis, angker maupun horor.
| sumber: radarsolo.jawapos.com |
Dalam hal ini kita akan menyampaikan bagaimana kok bisa Makamhaji bisa dibilang angker? Apakah karena ada kuburan yang sangat luas? Atau karena banyak hal-hal yang banyak dibicarakan orang-orang perihal banyak mitos yang beredar? Semua hal tersebut akan saya sampaikan cerita pengalaman saya di Makamhaji yang pernah saya alami di desa ini yang berkaitan dengan hal-hal mistis maupun horor.
Pada tahun 2017 pada saat puasa Ramadhan, saat itu saya masih usia 13 tahun yang menduduki SMP (Sekolah Menengah Pertama). Di saat libur sekolah pas puasa Ramadhan kegiatan saya setiap pagi setelah Sahur dan salat Subuh, yaitu memiliki agenda jalan-jalan bersama teman-teman saya ke arah rel kereta api di daerah underpass Makamhaji, dan kalau mau ke underpass kita selalu melewati tengah kuburan Makamhaji. Pada saat jalan menuju underpass mesti ada banyak kejadian yang susah untuk dijelaskan dan itu terjadi pada saat lewat tengah kuburan Makamhaji tersebut, contohnya seperti adanya suara-suara aneh, ada kaya bambu yang jatuh sendiri, dan adanya cahaya yang keluar dari dari tengah-tengah Candi Praci, dan konon katanya warga setempat kalau menemukan hal-hal tersebut, itu adalah keluarnya makhluk halus yang menjaga kuburan dan Candi Praci yang berada di Makamhaji.
Setiap lewat daerah situ saya dan teman-teman selalu lari dan langsung pergi dari daerah tersebut, akan tetapi teman-teman dan saya tidak akan pernah takut dan trauma akan hal-hal itu dan akan diulang kembali pada keesokan harinya. Pada tahun itu pada saat Ramadhan adalah suatu rutinitas pagi yang sangat menyenangkan yang dirasakan oleh saya dan teman-teman saya pada saat Bulan Ramadhan. Dan sekarang hanya dapat menjadi sebuah cerita yang hanya bisa diceritakan dan tidak dapat diulang.
Jadi semua hal-hal aneh di Makamhaji hanya ada di kuburan Makamhaji dan menjadi pengalaman yang sudah saya ceritakan. Pada hal ini saya beranggapan bahwasanya hal tersebut ada sebuah mitos belakangan yang bukan menjadi hal yang faktual, semua hal itu hanyalah cerita yang disampaikan oleh warga setempat agar saya dan teman-teman saya tidak bermain ke daerah tersebut dikarenakan kita sebagai anak-anak pada waktu itu selalu merusak dan mengotori daerah kuburan tersebut.
Dari pertanyaan judul esai tentang katanya Makamhaji angker itu adalah hal bohong atau palsu, orang-orang yang beranggapan kalau Makamhaji angker itu ialah orang-orang yang takut akan kematian dikarenakan mereka bilang angker padahal mereka sendiri yang takut dengan kuburan Makamhaji yang luas dan membentang.
Biodata Penulis:
M. Ar Rosyid, lahir pada tanggal 5 November 2005 di Surakarta, saat ini aktif sebagai mahasiswa.