Oleh Fathya Sekar Arum Sarasvathi
Diadaptasi dari film Jepang yang berjudul 3ft Ball & Souls, Kembang Api mengisahkan empat karakter dengan latar belakang berbeda yang berkumpul di satu tempat dengan misi yang sama—mengakhiri hidup. Masing-masing dari mereka mempunyai alasan yang berbeda untuk mengakhiri hidup, tetapi keempatnya sama-sama merasa terjebak dalam keputusasaan. Mereka menjalankan misinya dengan mengandalkan bola berisi kembang api rakitan Fahmi, karakter yang umurnya paling tua. Dengan harapan mampu keluar dari penderitaan yang mereka alami, mereka meledakkan bola kembang api tersebut. Di sinilah jalan ceritanya dimulai. Bukannya mati, setiap kali bola kembang apinya diledakkan, mereka justru kembali ke titik sebelum ledakan. Keempatnya terjebak dalam time loop (lingkaran waktu). Bagi saya, adegan pengulangan ini seperti menggambarkan perasaan gundah tak berujung yang dirasakan oleh empat karakter tersebut, perasaan yang terus membawa mereka kembali pada situasi yang ingin mereka hindari.
Lingkaran Waktu: Simbol Penderitaan Tak Berujung
Lingkaran waktu dalam film Kembang Api menjadi simbol yang kuat dari kondisi batin para karakter yang terjebak dan terperangkap dalam masalah batin berulang dan tak kunjung usai. Menariknya, siklus tanpa akhir ini menjadi sarana yang memaksa keempat karakter untuk menyelami luka dan trauma masing-masing. Mereka tidak bisa melarikan diri darinya; mereka juga tidak bisa melupakannya begitu saja meskipun ingin. Pilihan yang mereka miliki adalah menghadapi diri mereka sendiri. Rasa sakit yang mereka alami perlu diterima dan dihadapi karena itulah bagian dari proses penyembuhan.
Urip iku Urup: Hidup Haruslah Menyala
Di tengah alur cerita yang cukup menegangkan ini, ada satu frasa dalam bahasa Jawa yang menarik perhatian saya. Urip iku Urup. Frasa yang dituliskan di bola kembang api itu memiliki arti “Hidup itu menyala”. Hidup haruslah menyala, memberi penerangan bagi diri sendiri dan orang lain. Frasa ini nantinya menjadi titik balik yang mengubah cara pandang karakter tentang hidup dan mengurungkan niat untuk mengakhiri hidup.
Saat menonton Kembang Api, saya merasakan bagaimana frasa Urip iku Urup ini berpengaruh pada perjalanan batin para karakternya. Setelah saling membuka diri, membagi luka dan ketakutan, mereka yang awalnya hanya fokus pada luka pribadi, pada akhirnya berhasil mencapai pemahaman bahwa hidup memiliki arti yang lebih besar. Hidup mereka bisa saja berdampak besar bagi kehidupan orang lain. Penonton juga seperti diajak untuk merenungi makna keberadaan mereka–mungkin hidup kita bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk menerangi kehidupan orang lain. Di tengah permasalahan yang berat, terkadang yang kita perlukan hanyalah mencari alasan sederhana untuk terus hidup–bisa jadi demi orang lain atau sesuatu yang lebih besar dari sekadar diri sendiri.
Pentingnya Dukungan dari Lingkungan
Film ini juga menegaskan betapa pentingnya dukungan dari orang lain saat diri kita mengalami permasalahan hidup. Kehadiran seseorang, meski hanya mendengarkan permasalahan, akan sangat berarti bagi mereka yang sedang dilanda masalah batin tak berujung seperti yang dialami oleh karakter-karakter di Kembang Api. Bercerita memang tak lantas menyelesaikan masalah. Namun, hal itu bisa saja meringankan beban seseorang dan membantu mereka menuangkan emosi yang terpendam. Selain itu, hal tersebut bisa saja membuat seseorang menemukan alasan untuk tetap hidup, seperti halnya yang dialami oleh karakter-karakter dalam Kembang Api. Perasaan terdengar dan didukung menjadi titik awal mereka untuk memulai kembali dengan semangat dan makna hidup yang baru.
Hal lain yang menjadi kekuatan utama dari film Kembang Api adalah kualitas akting dari keempat pemeran utama. Mereka berhasil menghidupkan masing-masing karakter dan membuat penonton memahami latar belakang masing-masing karakter yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Kecakapan mereka dalam menyampaikan emosi yang kompleks dan dalam, juga membuat penonton merasa terhubung secara emosional dengan karakter-karakter yang ada. Saya turut merasakan keputusasaan, ketakutan, ketidakberdayaan, dan kegelisahan karakter melalui akting mereka.
Latar yang Sederhana Namun Menonjol
Film ini hanya berfokus pada satu latar tempat, yaitu ruangan kosong dan tertutup, tempat bola kembang api disimpan. Suasana yang digambarkan dalam ruangan ini sangat sederhana. Mungkin saja kesederhanaan ini sengaja dibuat untuk menonjolkan keputusasaan yang dirasakan setiap karakter. Meskipun begitu, suasana yang cenderung sederhana ini tidak mengurangi kualitas film dan justru memberikan kesan unik dan otentik pada film.
Film ini mungkin bukanlah film yang mudah dinikmati oleh semua orang. Selain karena temanya yang kompleks dan jarang diangkat di perfilman Indonesia, adegan pengulangan dalam Kembang Api bisa saja membuat sebagian penonton sulit menikmati film ini. Namun, secara keseluruhan, film ini sudah cukup baik dalam mengemas tema yang kompleks ini ke dalam film simpel dengan cara yang bijak dan penuh makna. Film ini menambah wawasan perspektif bagi penonton yang mencintai film bermuatan emosional.
Saya mengkategorikan film ini sebagai film Indonesia yang bagus. Film ini cocok untuk ditonton mereka yang suka tontonan yang menyentuh hati dan menggugah pikiran. Kembang Api menawarkan pengalaman menonton yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi pelajaran berharga tentang hidup. Hidup adalah tentang menerima diri, menghadapi luka, dan pada akhirnya menjadi cahaya untuk diri sendiri dan orang lain.