Quarter Life Crisis: Masa yang Membingungkan

Menginjak usia 20-an hingga awal 30-an sering kali menjadi fase penuh tantangan dan kebingungan bagi banyak orang. Fase ini, yang sering disebut ...

Oleh Risa Alfansi

Quarter life crisis sudah bukan menjadi hal yang asing saat ini. Riset LinkedIn menunjukkan bahwa hampir 75 persen orang pada usia 25-33 tahun pernah berada pada fase ini. Banyak hal yang dapat menjadi pemantik, apalagi kalau dihadapkan dengan berbagai problematika dunia kerja yang pada akhirnya membuat kita berpikir ‘mungkin, pekerjaan ini bukan hal yang tepat untukku’ atau bahkan lebih jauh lagi ‘duh, resign aja kali?

Masa yang Membingungkan

Menginjak usia 20-an hingga awal 30-an sering kali menjadi fase penuh tantangan dan kebingungan bagi banyak orang. Fase ini, yang sering disebut sebagai “quarter life crisis” yang ditandai dengan perasaan cemas, ragu, dan pencarian makna hidup. Banyak yang mulai mempertanyakan pilihan karier, hubungan pribadi, dan finansial.

Proses perjalanan kehidupan pada masa ini tidak selalu berjalan dengan mulus atau lancar bisa juga tidak sesuai harapan yang sudah mereka planning dari awal, dan berpotensi mengalami gejala kecemasan dan depresi yang di akibatkan oleh gangguan dan hambatan yang timbul, Menurut analisis data resmi oleh Royal College of Psychiatrists, terdapat 32,521 rujukan darurat dan mendesak ke tim krisis layanan kesehatan mental anak dan remaja pada tahun 2022-2023. Angka ini meningkat dari 21.242 pada tahun 2019-2020, sebelum pandemi Covid. Dengan peningkatan ini, lebih dari 600 anak-anak dengan kondisi kesehatan mental yang semakin memburuk setiap minggunya telah mencapai titik krisis.

Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), survei kesehatan mental nasional pertama yang mengukur prevalensi gangguan mental pada remaja berusia 10 – 17 tahun di Indonesia, menemukan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental sementara satu dari dua puluh remaja Indonesia mengalami gangguan mental dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Jumlah ini setara dengan sekitar 15,5 juta remaja yang mengalami masalah kesehatan mental dan sekitar 2,45 juta remaja yang didiagnosis mengalami gangguan mental. Remaja dalam kategori ini adalah mereka yang terdiagnosis dengan gangguan mental sesuai dengan kriteria yang tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Edisi Kelima (DSM-5), yang menjadi pedoman untuk diagnosis gangguan mental di Indonesia.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membantu masa quarter life crisis adalah dengan adanya dukungan sosial. Peran positif orang-orang di sekitar seperti orang tua, pasangan, teman, keluarga akan mempermudah individu dalam menyelesaikan masalah. Dukungan sosial secara umum adalah bantuan yang diterima individu dari orang di sekitar berupa rasa aman, kepedulian, atau penghargaan. Keadaan tersebut akan membuat individu merasa dihargai, dicintai dan diperhatikan.

Selain itu, menurut Chaplin dukungan sosial adalah melakukan sesuatu yang dapat membantu memenuhi kebutuhan orang lain, memberikan dorongan atau pengobatan berupa ucapan semangat dan nasihat. Dukungan sosial berupa dukungan emosional, dukungan instrumental, maupun informasi yang baik akan memberikan pengaruh terhadap tingkat stress dan gejala depresi yang lebih rendah dalam menghadapi permasalahan.

Adanya dukungan sosial yang diterima pastinya, akan mempermudah seseorang dalam menghadapi quarter life crisis. Dukungan sosial tersebut akan menimbulkan rasa nyaman, percaya diri, dan akan membentuk karakter-karakter baik dalam diri seseorang. Semakin banyak dukungan sosial yang diterima seseorang, maka semakin kecil kemungkinan untuk mengalami stres atau depresi, begitu juga sebaliknya semakin sedikit dukungan sosial yang diterima, maka kemungkinan untuk stres akan semakin besar.

© Sepenuhnya. All rights reserved.