Harmoni dalam Perbedaan: Toleransi dalam Bingkai Idul Fitri dan Nyepi di Linggo Asri, Pekalongan

Implementasi pada toleransi beragama di Linggo Asri salah satunya adalah saat perayaan Idul Fitri oleh umat Islam dan hari raya Nyepi oleh umat ...

Linggo Asri merupakan sebuah desa yang terletak di dataran tinggi Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan. Terdapat keberagaman etnis, budaya dan agama yang dianut oleh masyarakat. Sehingga, perlu adanya peran besar dari penerapan moderasi beragama dalam kesadaran penerimaan keberagaman dan kebebasan kepercayaan agar terjalin masyarakat yang harmoni dalam perbedaan. Desa Linggo Asri dominan dengan penduduk yang beragama Islam dan Hindu selain itu juga terdapat masyarakat yang beragama kristen dan Budha.

Toleransi adalah sikap yang diterapkan oleh penduduk desa Linggo Asri dalam menjembatani perbedaan dari keberagamaan yang ada. Sehingga masyarakat tetap dapat melestarikan budaya yang sudah turun temurun dari nenek moyang seperti tradisi gunungan Megono dan Ogoh-Ogoh yang selalu dilaksanakan setiap tahunnya sampai sekarang ini. Selain itu, aspek paling mencolok adalah sikap inklusivisme yaitu menganggap bahwa kebenaran tidak hanya terdapat pada satu kelompok saja dan keyakinan bahwa setiap agama membawa ajaran keselamatan, sikap terbuka dan saling menghargai perbedaan yaitu pada kehadiran berbagai tempat ibadah yang saling berdampingan dengan rasa nyaman dan damai.

Perayaan Parade Ogoh-Ogoh Linggo Asri
sumber: Perayaan Parade Ogoh-Ogoh Linggo Asri

Perbedaan justru memberikan warna yang indah dalam kehidupan yaitu dengan menjalin kerukunan, gotong royong dan saling menghormati. Karena setiap individu mempunyai hak masing-masing dalam memilih jalan kehidupannya. Di balik itu terdapat tantangan masyarakat dalam moderasi agama yaitu kewaspadaan adanya paham radikal yang pastinya hal ini mengancam adanya moderasi beragama di Linggo Asri. Sehingga kesadaran dalam bertoleransi sangat penting untuk mempertahankan kedamaian dalam bermasyarakat.

Implementasi pada toleransi beragama di Linggo Asri salah satunya adalah saat perayaan Idul Fitri oleh umat Islam dan hari raya Nyepi oleh umat Hindu pada Maret 2025. Pada hal ini umat hindu merayakan hari raya nyepi dengan diadakannya parade Ogoh-Ogoh pada Jumat, 28 Maret 2025 dan masyarakat muslim ikut serta dalam membantu pengamanan agar perayaan berjalan dengan lancar. Selain itu, pada puncak nyepi umat muslim juga mengurangi aktivitas yang berpotensi mengganggu hari Nyepi yaitu seperti tidak menggunakannya pengeras suara saat adzan di mushola dan masjid dan tidak menyalakan petasan yang telah menjadi tradisi saat Idul Fitri. Sehingga umat Hindu dapat dengan khusyu menjalankan ibadah pada hari raya Nyepi.

Pada saat umat muslim merayakan hari raya Idul Fitri yakni Senin, 31 Maret 2025. Masyarakat beragama Hindu ikut serta dalam mempersilahkan rumah mereka untuk bersilaturahmi dan menyiapkan makanan untuk disuguhkan. Bahkan ada umat hindu yang ikut keliling ke rumah tetangga dengan niat untuk menjalin silaturahmi.

Dalam mempertahankan dan menguatkan rasa toleransi maka Desa Linggo Asri kerap melaksanakan sosialisasi moderasi beragama yang dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti Workshop, Mapping Religious and Culture, Tradisi dan Budaya Linggo Asri. Selain itu, Linggo Asri sukses dalam mempraktekkan moderasi beragama, hidup rukun kebersamaan di tengah keberagaman dan keberagamaan. Sehingga, Linggo Asri telah diakui sebagai Kampung Moderasi oleh Kementerian Agama.

Sikap moderasi beragama pada masyarakat Linggo Asri diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat lain yang hidup pada keberagaman sehingga menciptakan kehidupan yang damai dan sejahtera.

Biodata Penulis:

Irsilawati Dewi saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

© Sepenuhnya. All rights reserved.