“Maaf, itu cuma bercanda kok!”
Kalimat ini sering kali terdengar ketika seseorang ditegur karena menjadikan agama sebagai bahan candaan. Di balik senyum atau gelak tawa yang tampak biasa saja, sering kali tersimpan luka, rasa tersinggung, bahkan potensi perpecahan.
Fenomena anak muda yang kerap menjadikan agama sebagai bahan bercanda di media sosial entah di kolom komentar, meme, atau video bukan lagi hal baru. Yang menjadi masalah bukan hanya karena itu menyangkut hal sensitif, tetapi karena banyak di antara mereka yang belum memahami batas antara bercanda dan melecehkan. Lebih parahnya, candaan ini kadang datang dari ketidaktahuan, bukan dari niat jahat. Tapi, bukankah ketidaktahuan juga bisa membahayakan?
Moderasi Beragama di Era Digital
Dalam podcast Login yang dibawakan Habib Ja'far, hadir enam pemuka agama dari berbagai kepercayaan di Indonesia. Satu panggung, satu momen lebaran, dan satu pesan besar: kita bisa berbeda tanpa harus saling merendahkan.
Momen ini bukan sekadar simbolik. Di tengah dunia digital yang makin gaduh, podcast tersebut menjadi oase: menunjukkan bahwa perbedaan bisa dirayakan, dan dialog bisa menjadi jembatan. Para tokoh lintas agama tersebut tidak saling membantah, tidak menyindir, tidak menyalahkan. Mereka saling mendengar.
Pertanyaannya: kalau para pemuka agama bisa saling menghormati, mengapa justru banyak anak muda yang mudah terpancing emosi, bahkan ikut-ikutan menyebar gurauan yang berbau SARA?
Mengapa Ini Terjadi?
Ada beberapa kemungkinan:
- Kurangnya literasi digital dan agama. Banyak yang aktif di dunia maya, tapi belum paham etika dasar komunikasi, apalagi ketika menyangkut hal sakral.
- Ingin terlihat lucu dan diterima. Budaya viral kadang mendorong seseorang untuk lebih mengutamakan ‘like’ daripada ‘hikmah’.
- Tidak sadar dampak. Mereka mungkin tidak tahu bahwa candaan mereka bisa menyakitkan bahkan mengancam keharmonisan sosial.
Pelajaran untuk Anak Muda: Dewasa di Dunia Maya
Anak muda adalah agen perubahan. Namun perubahan tidak akan pernah berarti tanpa kedewasaan. Bercanda boleh, tetapi tidak dengan mengorbankan hal yang suci bagi orang lain.
Belajar dari dialog Habib Ja’far dan para tokoh agama, kita bisa simpulkan satu hal penting: moderasi bukan tentang mencairkan prinsip, tapi tentang menempatkan diri secara bijak dalam perbedaan.
Moderasi mengajarkan:
- Bahwa iman bukan alat untuk membenarkan ejekan.
- Bahwa dunia maya bukan ruang bebas nilai.
- Bahwa perbedaan bukan ancaman, tapi kekayaan bangsa.
Jadilah Generasi yang Menyejukkan
Tugas anak muda hari ini bukan hanya menjadi kreatif, tapi juga menjadi bijak. Dalam Islam, kita diajarkan “qaulan layyinan” bertutur kata yang lembut. Dalam agama lain pun, nilai-nilai kasih, welas asih, dan kesantunan sangat dijunjung tinggi.
Jangan sampai jari yang kita gerakkan di layar, menjadi sebab lahirnya luka dan perpecahan.
Indonesia tidak kekurangan orang cerdas. Tapi yang kita butuhkan sekarang adalah orang-orang bijak.
Dan semoga kamu, ya kamu yang membaca ini, menjadi bagian dari generasi yang menyejukkan, bukan yang memecah-belah.
Biodata Penulis:
Anjani Dzikry Ilahana saat ini aktif sebagai mahasiswi di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Program Studi Pendidikan Agama Islam.