Media sosial adalah salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kalangan anak muda. Media sosial juga memiliki platform yang tentunya digunakan hampir setiap hari oleh kaum muda mudi di era digital saat ini, penyebaran informasi, isu-isu yang tengah terjadi dan lain sebagainya. Fenomena ini tentunya dapat membantu mereka, untuk mengetahui berita atau hal-hal yang tengah terjadi, dengan begitu mereka tidak akan tertinggal mengenai berita yang tengah menjadi berita hangat saat itu.
Namun, dari berbagai hal yang terjadi, tentunya ada tantangan yang banyak dihadapi, ada beberapa contoh hal yang menjadi hubungan media sosial dengan tantangan moderasi beragama di kalangan anak muda:
1. Paparan Informasi yang Tidak Tersaring
- Media sosial memungkinkan siapa saja untuk menyebarkan konten keagamaan tanpa filter.
- Banyak akun atau influencer yang menyebarkan paham ekstrem tanpa landasan ilmu yang kuat.
- Anak muda yang minim literasi digital dan keagamaan rentan menyerap informasi mentah-mentah.
2. Tumbuhnya Polarisasi dan Fanatisme
- Algoritma media sosial cenderung membentuk echo chamber, di mana pengguna hanya melihat konten yang sesuai dengan pandangannya.
- Hal ini memperkuat fanatisme dan memicu konflik antar kelompok dengan tafsir keagamaan yang berbeda.
3. Minimnya Figur Keagamaan yang Moderat di Media Sosial
- Tokoh agama yang mengusung moderasi beragama seringkali kalah pamor dengan konten yang bersifat provokatif atau viral.
- Anak muda lebih tertarik pada konten yang cepat, ringkas, dan emosional, dibandingkan ceramah panjang yang reflektif dan moderat.
Beberapa hal tersebut tentu saja menjadi PR bagi para generasi muda untuk dapat memposisikan diri agar tidak salah kaprah dalam bermedia sosial.
Mengahadapi permasalahan tersebut, tentunya anak muda juga berperan sebagai agen moderasi beragama di media sosial. Mereka juga dapat memberikan pesan-pesan damai ketika perseteruan terjadi di media sosial, atau bahkan membuat komunitas digital yang inklusif, yang berperan mencegah terjadinya perseteruan dan selalu membagikan konten yang bijak serta informatif.
Perlu kita garis bawahi, jika media sosial bisa jadi pisau, sesuatu yang bisa kapan saja menjadi perantara perpecahan antar satu sama lain, sehingga kita atau lebih tepatnya para anak muda lebih bisa menciptakan gerakan bermedia sosial dengan positif, agar nantinya di kemudian hari tidak terjadi perdebatan bahkan perpecahan antar sesama manusia.
Biodata Penulis:
Azkia Ladunni Puspajanti saat ini aktif sebagai mahasiswa, Pendidikan Agama Islam, di Universitas K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.