Moderasi Beragama dalam Bingkai Pagelaran Wayang Santri

Pagelaran wayang santri menunjukkan prinsip moderasi beragama yang kental. Pagelaran ini secara lugas menghargai dan menerima budaya lokal dalam ...

Budaya lokal mampu menjadi media yang tepat untuk menyebarkan pesan moderasi beragama dengan mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan kerukunan antarumat beragama. Salah satu kebudayaan lokal yang ada di Indonesia ialah wayang. Wayang di Indonesia memiliki sejarah yang panjang. Kesenian ini diyakini berasal dari Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur. Wayang telah ada sejak zaman pemerintahan Prabu Airlangga pada abad ke-10. Wayang awalnya digunakan dalam ritual keagamaan dan pemerintahan, hingga akhrinya berkembang menjadi sebuah media hiburan yang sarat akan nilai seni dan budaya.

Moderasi Beragama dalam Bingkai Pagelaran Wayang Santri

Seiring berjalannya waktu, wayang memiliki banyak inovasi baik dari bentuk maupun cerita yang dibawakan. Salah satu bentuk inovasi dalam budaya pewayangan yaitu adanya wayang santri yang diciptakan oleh Ki Enthus Susmono. Wayang santri adalah pewayangan yang lahir dan berkembang di Tegal. Ciri khas yang lekat dengan pewayangan ini adalah tokoh utamanya yaitu lupit dan slentheng. Wayang santri sebenarnya adalah jenis wayang golek pada umumnya, namun isi ceritanya diganti dengan cerita-cerita bernafaskan dakwah ajaran Islam. Jenis wayang ini dibuat untuk menyebarkan ajaran agama Islam dengan tetap mempertahankan budaya daerah. 

Nilai moderasi beragama dapat terlihat dalam budaya wayang santri karya Ki Enthus Susmono. Beliau mampu memasukkan unsur dakwah Islam dalam budaya wayang yang pada zaman dahulu identik dengan ritual keagamaan agama lain. Namun, perbedaan profil agama itu tidak membuat masyarakat menunjukkan sikap intoleransi terhadap fenomena tersebut. Selain itu, media wayang santri dapat menjadi metode dakwah yang efektif karena disampaikan dengan kesenian yang menarik dan diselipi humor yang mengundang gelak tawa.

Pagelaran wayang santri menunjukkan prinsip moderasi beragama yang kental. Pagelaran ini secara lugas menghargai dan menerima budaya lokal dalam konteks keagamaan dengan sikap yang terbuka, dan toleran. Hal ini dapat dilihat dari media hingga praktiknya yang mengakomodasi budaya lokal ke dalam praktik keagamaan. Proses akomodasi budaya lokal adalah salah satu prinsip moderasi beragama yang dapat menciptakan harmoni dan kerukunan antar umat beragama. Budaya lokal harus tetap dilestarikan dan dapat dimanfaatkan untuk menginternalisasikan elemen positif yang berakar dari nilai-nilai keagamaan.

Adanya wayang santri dapat menumbuhkan toleransi yang kuat dalam susunan masyarakat. Hal ini karena wayang santri mampu menjangkau seluruh lapisan usia penonton, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Internalisasi sikap toleransi yang diberikan sejak usia kanak-kanak dapat mengakar dengan kuat dalam diri individu. Anak yang tumbuh dengan nilai toleransi yang baik akan menjadi manusia yang moderat dan berbudi luhur. Begitu pula orang dewasa, ia akan cenderung menghargai perbedaan serta menjauhi sikap intoleransi.

Penting bagi generasi penerus untuk dapat melestarikan wayang santri sebagai bentuk apresiasi keberhasilan Ki Enthus dalam mengakomodasi kebudayaan lokal dengan nilai-nilai keagamaan Islam. Dengan wayang santri, pesan-pesan keagamaan dapat disampaikan melalui cara yang menarik dan mudah dimengerti. Jika generasi muda mampu untuk terus melestarikan wayang ini, maka budaya dan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya tidak akan hilang. Sebaliknya, jika generasi muda tidak peduli dan tidak mau melestarikan budaya ini, maka warisan wayang santri Ki Enthus bisa hilang dan tergerus waktu.

Biodata Penulis:

Sausan Zahra saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

© Sepenuhnya. All rights reserved.