Oleh Galang Eka Radito
Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki keragaman agama, suku, dan budaya yang melimpah. Dalam menghadapi perbedaan ini, penting untuk menjaga keharmonisan dan saling menghormati agar masyarakat dapat hidup dengan damai. Salah satu cara yang efektif untuk merawat harmoni ini adalah dengan mengembangkan sikap moderat, yaitu sikap yang adil, seimbang, dan tidak ekstrem dalam beragama. Contoh nyata dari sikap moderat ini dapat dilihat dalam tradisi saling memberikan THR antar umat beragama.
Tunjangan Hari Raya (THR) biasanya identik dengan perayaan hari besar keagamaan, seperti Idulfitri, Natal, Nyepi, Waisak, atau Hari Raya lainnya. Umumnya, THR diberikan kepada karyawan atau rekan kerja sesuai agama yang merayakan. Namun, ketika THR dibagikan juga kepada rekan kerja atau tetangga lintas agama, hal itu menjadi wujud nyata dari moderasi beragama—dimana kebahagiaan dibagi tanpa sekat keyakinan.
Namun apa yang paling utama dari bagi-bagi THR antar agama?
Saling memberikan THR antar pemeluk agama lebih dari sekadar berbagi materi; ini adalah simbol dari kepedulian, empati, dan penghormatan terhadap keberagaman. Ketika seorang Muslim memberikan THR kepada non-Muslim saat Lebaran, atau seorang Kristen membagikan bingkisan Natal kepada tetangga Muslim, hal ini menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk berbagi kebaikan. Sebaliknya, ini adalah wujud nyata dari nilai-nilai moderat: tidak terikat pada batas identitas, tetapi terbuka untuk membangun rasa kebersamaan.
Selain itu, pembagian THR antaragama juga bisa berfungsi sebagai alat pendidikan sosial yang efektif, terutama untuk generasi muda. Mereka akan memahami bahwa agama tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan, tetapi juga mendorong umatnya untuk menjadi individu yang peduli, toleran, dan dermawan terhadap orang lain.
Oleh karena itu, penanaman sikap moderat melalui kegiatan pembagian THR antar agama merupakan langkah yang sederhana tetapi sangat berarti. Ini bukan sekadar tentang berbagi, melainkan tentang menciptakan jembatan kemanusiaan di tengah perbedaan. Jika nilai-nilai ini terus diterapkan dan dijaga, kehidupan beragama di Indonesia akan semakin harmonis, inklusif, dan dipenuhi dengan rasa saling menghormati.
Biodata Penulis:
Galang Eka Radito saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN Gusdur.