Pudunan: Menjaga Keimanan dan Nilai Kerukunan pada Penghujung Ramadhan

Tradisi Pudunan merupakan bentuk pelestarian budaya dan perwujudan dari nilai-nilai keagamaan dan sosial, seperti gotong royong dan kerukunan pada ...

Dalam menyambut bulan Ramadan, masyarakat Jawa memiliki berbagai tradisi yang masih sampai kini dilaksanakan, salah satunya adalah tradisi Pudunan. Dalam Bahasa Jawa, Pudunan berasal dari kata “mudun” yang artinya turun. Tradisi Pudunan biasanya dilakukan pada 10 malam terakhir Ramadan. Maksud dari tradisi ini adalah sebagai ungkapan syukur bahwasanya sudah memasuki akhir bulan Ramadan. Para kaum muslim diingatkan untuk memperbanyak amal ibadah, meningkatkan keimanan sehingga saat Lebaran nanti diri kita kembali seperti sebuah kertas putih yang bersih sampai nanti pada Ramadan yang akan datang kembali.

Pudunan
sumber: strategi.id

Tradisi Pudunan tidaklah berdiri sendiri, melainkan ada keterkaitannya dengan tradisi Punggahan. Pudunan dilakukan untuk melepas Ramadan, sedangkan Punggahan dilakukan untuk menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi pudunan dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur bahwa saat ini telah memasuki akhir Ramadan.Tradisi ini juga bermakna sebagai pengingat bagi para muslim untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan dengan memperbanyak ibadah, bukan malah hanya sibuk dengan kegiatan menyambut lebaran. Masyarakat yang mlakukan tradisi Pudunan ini berdoa agar ibadah yang dilakukan di bulan suci Ramadan seperti taraweh, tadarus, sedekah, iktikaf dan amal kebaikan lainnya diterima oleh Allah SWT. Tradisi ini memiliki nilai-nilai yang sangat tinggi. Selain untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, tradisi ini juga sebagai salah satu bentuk cara manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai tersebut antara lain yaitu nilai kerukunan dan kebersamaan.

Pudunan dilaksankan di mushola ataupun masjid dan diikuti oleh jama’ah masjid tersebut maupun warga sekitar untuk melakukan pembacaan tahlil dan doa, diakhiri dengan selametan. Tradisi ini dilaksanakan setelah salat taraweh dan sebelum salat witir. Masyarakat membawa makanan untuk jaburan. Kekhasan Di Desa Rogoselo, lebih tepatnya di Dukuh Sandong, masyarakatnya menyediakan makanan berupa serabi. Sebelum makan bersama dilaksanakan, imam salat akan memimpin tahlil terlebih dahulu. Momen ini menjadi sebuah simbol kebersamaan dan kerukunan antar warga. Selain itu, dalam tradisi makan bersama ini sebagai wujud syukur telah diberikan kelancaran selama menjalankan ibadah puasa hingga di akhir Ramadan.

Salah satu rangkaian yang termasuk dalam tradisi Pudunan ini adalah ziarah kubur. Masyarakat mengunjungi makam para keluarga maupun para leluhur. untuk mendoakan mereka yangb telah meninggal. Mereka semua yang telah mninggal dunia turun atau kembali ke bumi untuk diberi pengampunan dari Tuhan Yang Maha Esa. Ziarah memiliki makna yang sacral dan keduniawian. Secara religius, ziarah merupakan bentuk dari penghormatan kepada leluhur dengan cara berdoa dan memohonkan ampunan bagi mereka. Dari perspektif antropolgi simbolik, ziarah melambangkan keterhubungan antar generasi dalam masyarakat agraris yang menjunjung tinggi nilai gotong royong dan kekeluargaan” (Biandro Wisnuyana SAnt MA, 2025). Sepeti pada umumnya, ziarah ini diiringi dengan pembacaan doa-doa seperti Surah Yasin dan tahlil. Kegiatan ini merupakan momen spiritual sekaligus menjadi momen bagi keluarga untuk berkumpul dan mempererat hubungan antargenerasi.

Secara keseluruhan, tradisi Pudunan merupakan bentuk pelestarian budaya dan perwujudan dari nilai-nilai keagamaan dan sosial, seperti gotong royong dan kerukunan pada masyarakat di Jawa. Melalui kegiatan makan bersama di masjid maupun mushola, dapat mempererat hubungan antarwarga. Dengan kegiatan tersebut masyarakat menjadi guyub rukun. Dan melalui kegiatan ziarah ke makam para leluhur dan keluarga merupakan perwujudan dari nilai religius. Jadi, intinya Pudunan ini sebagai pengingat bagi para muslim bahwasanya Ramadan segera berakhir, dan segera meningkatkan ibadah kita agar nantinya saat hari lebaran kita menjadi suci seperti kertas putih yang bersih hingga nanti bertemu Ramadan selanjutnya.

Biodata Penulis:

Anindya Apsari saat ini aktif sebagai mahasiswa, Program Studi Tadris Bahasa Inggris, di Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

© Sepenuhnya. All rights reserved.