Tahukah kamu sepotong lupis bisa menyampaikan pesan toleransi dam harmoni? Bagaimana caranya?
Ya, hal itu sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Pekalongan, khususnya di daerah Krapyak. Pekalongan tak hanya terkenal dengan batiknya, tetapi juga terkenal dengan tradisi uniknya yang digelar setelah lebaran, yaitu Syawalan dengan lupis raksasa. Tradisi ini selalu menjadi momen yang ditunggu setiap tahun. Bukan cuma soal makanan, tapi juga soal makna tentang syukur, silaturahmi, dan kebersamaan.
Syawalan di Krapyak ini adalah tradisi lokal masyarakat Pekalongan yang biasanya diadakan pada hari ke tujuh setelah Idul Fitri. Salah satu cirinya adalah membuat lupis raksasa (makanan khas berbahan ketan dan parutan kelapa) yang proses pembuatannya membutuhkan waktu 4-5 hari dengan menggunakan dandang yang berukuran besar. Setelah matang, lupis didinginkan selama dua hari sebelum akhirnya dipotong dan dibagikan kepada warga. Pemindahan lopis raksasa pun bukan hal mudah harus menggunakan katrol agar tetap utuh. Tahun ini, lopis mencapai ketinggian 230 cm, menjadikannya salah satu tertinggi dalam sejarah tradisi ini.
Yang menarik, semua orang boleh datang dan ikut menikmati, tak peduli latar belakang agama atau suku. Tradisi ini menunjukan bahwa agama dan budaya bisa berjalan berdampingan. Islam sebagai agama mayoritas hadir dalam bentuk yang ramah budaya, terbuka dan inklusif. Dalam tradisi ini warga non-muslim juga turut andil dalam pelaksanaannya, termasuk dalam proses persiapan, menyaksikan prosesi dan menikamati hasilnya bersama-sama. Hal tersebut adalah salah satu modal sosial yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia yaitu budaya gotong royong yang sejak lama telah melekat pada setiap lapisan masyarakat. Dengan demikian, meskipun tidak ada bukti konkret mengenai partisipasi individu non-Muslim dalam tradisi Syawalan Lopis Raksasa, sifat acara yang inklusif dan nilai-nilai yang diusungnya mencerminkan semangat moderasi beragama dan toleransi antarumat beragama di masyarakat Krapyak.
Selain seru dan penuh makana, syawalan juga menggerakan ekonomi warga setempat, megapa? Karena selama perayaan banyak pedagang lokal yang menjajakan berbagai produk kepada pengunjung yang datang, entah itu produk makanan, minuman, batik dan produk kerajinan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi tersebut tidak hanya memperkuat ikatan sosial, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi komunitas. Jadi, ini bukan cuma soal perayaan tepi juga keberkahan bersama.
Di tengah zaman yang makin modern ini, tradisi tersebut menjadi pengingat pentingnya budaya dan nilai kebersamaan. Tradisi ini bukan hanya sekadar warisan, tapi energi sosial yang menyatukan dan menghidupkan masyarakat Krapyak. Konon lupis raksasa pertama kali dibuat karena masyarakat ingin membuat perayaan yang beda dan bisa dinikamati semua. Kini tradisi tersebut menjadi ikon lokal yang mendunia.
Tradisi syawalan ini lahir dari masyarakat, tumbuh dari kebiasaan dan dirawat oleh semangat kebersamaan. Di sinilah moderasi bergama menemukan bentuk paling aslinya, bukan lewat ceramah tapi lewat tindakan nyata yaitu berbagi, bekerja sama saling menjaga. Tradisi ini mengajarkan bahwa agama bukan tembok pemisah tapi jembatan penghubung. Dan selama ada semangat saling menghargai, perbedaan akan selalu jadi kekuatan bukan ancaman.
Tradisi Syawalan bukan sekadar warisan, tapi jembatan yang menghubungkan agama dan budaya dalam harmoni. "Ayo datang ke Krapyak, Pekalongan! Saksikan kemeriahan Syawalan dan nikmati serunya berbagi lupis raksasa. Rasakan hangatnya tradisi, manisnya kebersamaan, dan indahnya moderasi!"
Biodata Penulis:
Nurul Awwaliyatus Saadah, lahir pada tanggal 5 September 2005, saat ini aktif sebagai mahasiswa, program studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, di Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.