Oleh Andhika Christian Jati
Roller Dealer merupakan sebuah usaha bisnis dari salah satu sosok perintis yang memiliki ambisi untuk bisa melawan sebuah keinginan yang selalu ditabrak dengan realita. Memulai sebuah usahanya, Muhammad Ridwan Fathan sebagai pemilik brand berusaha untuk menurunkan gengsi dari dirinya sendiri. Pada awal usahanya, ia membuka dengan mengeluarkan artikel berupa celana pendek. Keputusan ini terbentuk karena berawal dari hobi si pemilik yang selalu menggunakan celana pendek dalam aktivitas sehari-hari.
Ia memulai usahanya dengan mencoba membeli salah satu produk celana pendek dari brand lain sebagai referensi untuk langkah yang akan ia lakukan selanjutnya. Setelah melakukan beberapa riset yang cukup menguras waktu, tenaga, bahkan uang, pemilik sudah menemukan keputusan akhir dimana produk tersebut harus diproduksi, bagaimana pengelolaannya, hingga bagaimana cara dia untuk mengembangkan produk tersebut. Pada waktu itu, ia belum terlalu menaruh ekspektasi lebih dari produk yang ia buat. Mencoba memulai proses branding ternyata tidak semudah dari yang dipikirkan pada tahap sebelumnya. Fathan memulai tahap ini dengan mengandalkan relasi yang ada dilingkungan sekitarnya.“Aku ini terbentuk dari sebuah relasi yang selalu support setiap keputusan dan sebuah usaha yang sedang dibangun. Aku sangat bangga memilikinya.”, merupakan sebuah kalimat yang dilontarkan pada awal prosesnya. Dalam hal ini ia memiliki harapan agar khalayak umum dapat mengetahui dan berharap mencari tahu lebih dalam mengenai produk dan brand yang dibuatnya.
Setelah menemukan titik nyaman pada proses itu, sebuah hal yang bisa dibilang merugikan secara tiba-tiba menimpanya. Kain yang dipesan lewat online diterima dalam kondisi yang tidak selayaknya. Bukan kain bentuknya, melainkan sebuah potongan dari keping-keping batu bata bangunan dan beberapa pakaian bekas yang kotor dan bau. Paket tersebut diterima dengan kemasan kardus rusak dan lembab. Modal awal sebanyak Rp 2.500.000 menghasilkan sebuah barang yang tidak berguna untuk membantu proses produksi pada tahap selanjutnya. “Bukan sebuah kerugian menurutku, pengalaman dan pembelajaran yang sangat besar dapat aku rasakan dengan membayar sebanyak dua juta lima ratus ribu.”, sebuah respons dari Fathan terhadap dirinya sendiri dalam menyikapi kondisi tersebut. Mencoba kembali untuk fokus dari apa yang ia butuhkan saat itu merupakan sebuah prinsip yang selalu ia tekankan dalam dirinya. Berusaha untuk mengabaikan banyak hal yang sekiranya tidak membantu prosesnya juga merupakan sebuah niat baik bagi dirinya untuk mengendalikan emosinya.
Proses selanjutnya, ia sudah merasakan bahwa perputaran produknya sudah sampai pada posisi yang jauh lebih nyaman. Celana pendek dengan bahan nylon yang dijual dengan harga Rp50.000 mampu menggugah gairah banyak masa. Memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram, Shopee, dan TikTok menjadi sebuah faktor pendukung yang sangat berpengaruh baginya. Setelah itu, ia mencoba untuk membuat iklan TikTok yang ternyata menghasilkan sebuah hasil yang jauh dari ekspektasinya. Dalam jangka waktu dekat, penjualan online melalui akun Shopee-nya naik secara berkala. Bertahan kurang lebih selama 5 bulan, ia merasa kewalahan untuk mengelola 1 produk tersebut. Setelah itu, beberapa waktu selanjutnya ia merasakan sedikit penurunan yang tidak terlalu spesifik namun dapat dirasakan katanya. Kondisi ini membuat ia harus melakukan usaha yang lebih untuk meningkatkan intensitas terhadap umum.
Tahap ini Fathan mengusahakan untuk menampilkan foto produk dengan kualitas yang lebih baik dari sebelumnya. Waktu itu, ia mencoba untuk mengandalkan skill teman-temannya yang dirasa mampu untuk membantu. Ia juga memanage dan memposisikan setiap kepribadian temannya. Hal ini dilakukan dengan menjadi model, fotografer, hingga membuat konten yang dirasa dapat menggaet khalayak luar. Sudah dirasa membaik, ia tak kunjung diam. Ia mencoba membuat produk baru berupa Workshirt untuk menambah kuantitas artikel brandnya. Pada prosesnya hingga sekarang, ia melakukan dan mengembangkan artikel ini dengan cara yang tidak jauh berbeda dari artikel sebelumnya.
Dari pengalaman dan pergumulan yang dihadapi oleh Fathan sebagai pemilik Brand Roller Dealer dapat dilihat bagaimana cara dan usaha kita untuk menghadapi sebuah tantangan besar yang bisa dikatakan merugikan, namun kita memiliki banyak solusi lain untuk menghadapinya. Mempertahankan dan berusaha untuk mengembangkan juga merupakan prinsip baik yang bisa diambil dari pengalaman ini. Memiliki sebuah relasi yang baik dapat menjadi sebuah faktor pendorong bagi kita untuk menentukan sebuah keputusan yang akan kita lakukan.