Formula E merupakan balapan inovasi baru untuk masa depan dengan menggunakan mobil berdaya listrik sehingga meminimalisir pencemaran lingkungan seperti polusi sehingga balapan ini dapat dikategorikan ramah lingkungan. Ide Formula E dicetuskan oleh mantan Presiden FIA yaitu Jean Todt dan pengusaha dari Spanyol Alejandro Agag. Formula E melakukan debut pertamanya pada tahun 2014 di Olympic Park, Beijing, China. Formula mengalami perkembangan pesat saat tahun 2020 dan menjadi salah satu balapan yang bergengsi setelah mendapatkan kejuaraan dunia yang mengubah namanya menjadi ABBA Formula E World Championship. Kompetisi Formula E diikuti oleh 12 tim dengan masing-masing tim memiliki 2 pembalap. Formula E memiliki spesifikasi mobil yang berbeda dengan Formula 1, peraturan, dan sirkuit yang berbeda juga. Formula E memiliki kecepatan hingga 280 kilometer per jam dengan tenaga maksimal 250 KW, jelas sangat berbeda dengan kecepatan mobil Formula 1.
Formula 1 sendiri sudah ada lebih awal dibandingkan dengan Formula E yang baru muncul beberapa tahun terakhir. Formula 1 melakukan debutnya pada tahun 1950 dimulai setelah Perang Dunia II usai. Mobil yang digunakan pada era awal tersebut memiliki 1.500cc hingga 4.500cc. Perkembangan Formula 1 begitu cepat, terutama pada era tahun 1970. Pada era tersebut terdapat adanya perkembangan pada mobil F1 pada aerodinamika untuk meningkatkan kecepatan dan kestabilan mobil. Pada tahun 1980-an terciptanya mesin turbo dan pada tahun 1990-an mobil F1 mulai menggunakan sistem suspensi aktif agar mobil dapat melaju kencang dengan lebih stabil daripada sebelumnya. Pada era sekarang dalam kompetisi F1 mulai dikenali dengan beberapa tim yang terkenal seperti, RedBull, Ferrari, Mercedes, dan Mclaren.
Jika dibandingkan dengan sekilas memang Formula E pasti dipandang sebelah mata oleh penggemar Formula dikarenakan baru saja hadir pada era sekarang, tetapi juga ada beberapa faktor yang menyebabkan kenapa Formula E tidak begitu diminati oleh penikmat motorsport. Faktor pertama ada pada mesin yang digunakan pada mobil F1 dengan Formula E itu berbeda. F1 mobil mereka menggunakan mesin V6 turbocharged sedangkan Formula hanya menggunakan daya listrik yang jelas itu kurang diminati oleh penikmat motorsport terutama pria. Karena suara mobil yang dihasilkan dari mobil F1 dapat menjadi daya tarik sendiri oleh penggemarnya terutama pria. Terdapat jurnal yang diterbitkan oleh Frontiers in Psychology pada tahun 2024 menyatakan bahwa suara mobil dapat mempengaruhi cara mengemudi pengendara, semakin kencang suaranya maka pengendara akan semakin terpancing membawa kendaraan tersebut dengan cepat, sehingga semakin keras suara mesin kendaraan maka pengemudi akan terpengaruh dalam membawa kendaraanya. Lalu pada penelitian Current Issues in Personality Psychology menyatakan bahwa pria cenderung tertarik pada kendaraan dengan suara knalpot keras. Karena itu seringkali pria beranggapan jika mempunyai kendaraan dengan suara mesin yang keras menjadikan mereka merasa maskulin sebagai pria. Dari kedua penelitian tersebut dapat dikatakan kenapa F1 lebih diminati daripada Formula E ada pada suara mesin nya dimana suara mobil F1 lebih keras daripada Formula E yang berbasis daya listrik, bahkan Formula 2 sendiri lebih banyak penggemar dibandingkan Formula E.
Faktor selanjutnya F1 sudah terlebih dahulu dikenal daripada Formula E, karena F1 sudah ada lebih dahulu. Sudah dapat dipastikan bahwa penggemarnya sudah ada sejak dahulu dibandingkan Formula E yang baru muncul. Sejarah F1 begitu banyak dan melahirkan legenda pembalap yang banyak dikenali oleh penggemar motorsport dan juga banyaknya pembalap F1 yang dikenal banyak orang, baik itu penikmatnya maupun bukan. Tak hanya itu pada Formula 1 ini juga terdapat banyak tim ternama dibandingkan Formula E, ditambah lagi terdapat pembalap F1 yang sangat mendominasi kompetisi F1 yang menambah keseruan dalam ajang balapan tersebut. Contoh pembalap yang dominan di F1 ada Max Verstappen dan Sebastian Vettel. Jika dibandingkan dengan Formula E yang belum ada pembalap ternama dan kurangnya tim yang terkenal mengakibatkan kurang diminatinya Formula E untuk ditonton. Meskipun ada pembalap yang mendominasi di ajang kompetisi Formula E tetapi dominasinya di kompetisi tersebut tidak sebesar dominasi pembalap F1, seperti Max Verstappen pada tahun 2023 kemarin yang memenangkan 19 kompetisi F1 dari 24 balapan F1 dalam semusim.
Faktor terakhir yaitu peraturan yang ketat pada Formula E dibandingkan peraturan F1 yang mengakibatkan sepinya peminat pada Formula E. Salah satu peraturan yang menyebabkan Formula E sepi peminat yaitu pembatasan pengembangan pada bagian mobil sehingga dapat dinyatakan semua mobil tim di Formula E memiliki spesifikasi yang sama semua atau dapat dibilang semua mobil tim Formula E memiliki kecepatan yang sama. Berbeda dengan F1 yang boleh mengembangkan mobilnya tetapi tetap memperhatikan peraturan dari FIA sehingga setiap tim F1 memiliki spesifikasi mobil yang berbeda dan kecepatan yang berbeda sehingga memiliki daya saing tinggi dan memberikan daya tarik bagi penggemarnya.
Jadi kurangnya popularitas Formula E dibandingkan dengan F1 ada pada mesin mobil mereka, segi kompetitifnya, dan peraturannya. Padahal Formula E memiliki nilai plus dibandingkan F1, yaitu mereka menerapkan kompetisi dengan mobil ramah lingkungan. Kurangnya kesadaran individu terhadap lingkungan juga mengakibatkan sepi peminatnya Formula E. Tetapi jika dilihat dari segi kompetitifnya memang Formula E terasa kurang dan lebih terlihat seperti permainan arcade karena mobil setiap tim memiliki kecepatan yang sama sehingga kurang terasa kompetitif. Faktor suara mesin mobil juga menjadi daya tarik sendiri pada F1 dibandingkan Formula E yang berbasis daya listrik karena mobil Formula E tidak mengeluarkan suara yang keras dibandingkan F1 yang menjadikan daya tarik pada pria. Jadi, Formula E sebenarnya memiliki nilai positif dibandingkan F1 tetapi para peminatnya saja yang belum sadar akan lingkungan global.
Biodata Penulis:
Varel Hafiz Al Rashid Ramadhan, lahir pada tanggal 8 Oktober 2005 di Surakarta, saat ini aktif sebagai mahasiswa, prodi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Penulis bisa disapa di Instagram @varelhfz