Oleh Marzella Intan Permatasari Nugraheni
Karanganyar, daerah penuh pesona alam di kaki Gunung Lawu, namun Karanganyar bukan hanya soal alamnya yang indah dan hawanya yang sejuk. Di balik pesonanya itu, Karanganyar menyimpan banyak warisan sejarah luar biasa yang menjadi saksi perjalanan masa lalu. Mulai dari peninggalan Hindu-Buddha, jejak perjuangan kemerdekaan, hingga sisa kejayaan masa Orde Baru.
Tapi siapa sangka ternyata warisan leluhur ini dapat menjadi konten yang instagramable dan juga kini berperan dalam menggerakkan ekonomi lokal. Ayo, kita cari tahu tentang 4 tempat wisata bersejarah di Karanganyar, yang bukan hanya punya cerita, tapi juga punya manfaat nyata!
1. Candi Cetho
Siapa sangka di ketinggian 1400mdpl di lereng Gunung Lawu, tepatnya di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, terdapat sebuah situs bersejarah yaitu Candi Cetho, candi bercorak agama Hindu peninggalan masa akhir era Majapahit, sekitar abad ke-15 Masehi. Keunikan arsitekturnya pun menjadi daya tarik tersendiri, dengan berbentuk sembilan teras berundak mirip piramida ala Suku Maya yang memiliki makna filosofis serta dilengkapi dengan dua pasang arca penjaga di gapura besarnya yang berbentuk candi bentar yang menambah kesan mistis dan sakral.
| Sumber: Instagram | @masriyahtan |
Candi Cetho dikenal bukan hanya menjadi salah satu situs bersejarah paling terkenal di Karanganyar, namun candi ini juga instagenic. Bentuk arsitekturnya yang unik dan filosofis dipadukan dengan kabut tipis yang sering kali menyelimuti kawasan ini menciptakan suasana dramatis sekaligus menjadi latar sempurna untuk foto-foto Instagramable. Tak heran jika situs bersejarah ini menjadi primadona wisata Karanganyar.
Selain menyimpan nilai sejarah dan estetika, Candi Cetho ini juga dapat menjadi penggerak sektor ekonomi kreatif bagi masyarakat sekitar. Mulai dari kulinernya seperti kopi lawu cetho, wedang uwuh dan jahe merah, opak, dan makanan tradisional, penyewaan kain jarik untuk berkunjung ke area candi, jasa ojek lokal, hingga penginapan rumahan (homestay).
Selain itu, masyarakat sekitar juga banyak yang menjual hasil pertanian lokal atau kerajinan tangan dengan motif relief candi sebagai oleh-oleh khasnya. Candi Cetho ini yang dulunya hanya menjadi situs sakral, kini turut berperan dalam penggerak roda perekonomian kreatif di wilayah Karanganyar.
2. Candi Sukuh
Tak jauh dari Candi Cetho, tepatnya di Desa Berjo, Kecamatan Matesih, berdirilah Candi Sukuh, salah satu situs bersejarah unik di Karanganyar yang hadir dengan pesonanya yang tak kalah menarik. Bentuknya yang berbeda dari kebanyakan candi di Jawa yang dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit. Kesederhanaan dan bentuk arsitekturnya yang menyerupai piramida membuat masyarakat menyamakan Candi Sukuh dengan peninggalan budaya Maya di Meksiko atau Inca di Peru. Bahkan ada yang menyebutnya “candi paling eksentrik” di Indonesia.
Uniknya lagi, batuan penyusunnya berwarna agak kemerahan karena terbuat dari batu andesit, semakin memperkuat kesan eksotis dan mistis di mata pengunjung. Candi Sukuh di sini bukan hanya menyimpan misteri sejarah saja, tetapi juga menjadi surga konten bagi para pencari spot foto unik dan visual dramatis.
| Sumber: Instagram | @candi_sukuh |
Gerbang piramida megahnya menjadi latar favorit untuk berfoto, ditambah dengan relief sengkala memet yang khas dan penuh simbolisme, menciptakan kesan magis yang tak biasa. Salah satu momen terbaik untuk berkunjung di sini adalah saat pagi hari, ketika kabut tipis turun menyelimuti area candi yang menghasilkan suasana surreal, yang seolah membawa pengunjung ke dimensi lain. Kombinasi antara keunikan bentuk, detail arca yang nyentrik, dan alami inilah yang membuat Candi Sukuh tak hanya berkesan historis, tetapi juga sangat Instagramable.
Keunikan ini menjadikan Candi Sukuh bukan hanya situs sejarah dan spot foto Instagramable, tetapi juga penggerak ekonomi kreatif yang menghidupkan masyarakat sekitar. Kehadiran wisatawan membuka peluang bagi masyarakat sekitar untuk menciptakan berbagai kuliner khas seperti wedang uwuh Sukuh Rasa dan tempe kemul pedas dengan cita rasa tradisional.
Tak hanya itu, aktivitas budaya seperti pertunjukan tari dalam Sukuh World Dance Day event juga mampu menambah nilai ekonomi sekaligus memperkaya pengalaman wisatawan. Dengan perpaduan antara daya tarik visual dan nilai sejarah, Candi Sukuh telah menjadi contoh nyata bagaimana warisan budaya dapat menginspirasi dan mendukung pergerakan ekonomi lokal.
3. Grojogan Sewu
Berbeda dengan candi-candi yang sebelumnya dibahas, di balik rimbunnya hutan Karanganyar terdapat wisata alam bersejarah yang menawarkan pesona eksotisnya, Grojogan Sewu. Air terjun setinggi 81 meter ini bukan hanya memukau dengan deburan airnya yang deras, tetapi juga menyimpan kisah dan mitos yang melekat di masyarakat sekitar.
Nama “Grojogan Sewu” sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang mana grojogan berarti air terjun dan sewu berarti seribu yang merujuk pada banyaknya pecak atau undakan yang dilalui air saat mengalir dari atas tebing. Namun bukan hanya soal nama, tempat ini juga menyimpan cerita mistis yang sudah lama berkembang di kalangan masyarakat. Konon, pasangan kekasih yang belum menikah dan berani menyeberangi jembatan di depan air terjun dipercaya akan berpisah dan tak berjodoh. Meski terdengar menyeramkan, justru mitos ini menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik sebagai cerita turun-temurun maupun sebagai latar konten yang instagramable.
Grojogan Sewu juga menawarkan berbagai spot foto menakjubkan, mulai dari tirai air terjun sebagai background dramatis, jembatan bambu yang instagenic dengan kisah mitosnya, bebatuan besar di dasar air terjun untuk pose ala model alam bebas, serta hamparan pepohonan hijau yang menyelimuti area, menciptakan nuansa alam yang segar dan asri. Tak heran jika tempat ini jadi buruan wisatawan dan konten kreator.
Tak hanya menawarkan keindahan alamnya yang memikat, Grojogan Sewu juga membawa pergerakan bagi roda ekonomi masyarakat sekitar. Ramainya pengunjung membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar, mulai dari warung yang menjajakan makanan khas seperti sate kelinci dan minuman tradisional wedang jahe, hingga kios souvenir dan produk kerajinan tangan bertema alam. Bahkan, hadirnya pemandu lokal dan fotografer dadakan juga menunjukkan bagaimana sektor pariwisata ini menciptakan lapangan kerja secara langsung. Grojogan Sewu pun bukan hanya jadi tempat healing dan berburu foto keren, tapi juga jadi sumber penghidupan dan penggerak ekonomi kreatif yang nyata.
4. De Tjolomadoe
Berbeda dengan destinasi sebelumnya, De Tjolomadoe menawarkan nuansa berbeda yang terkesan lebih modern, artsy, dan kekinian. Dulunya ini adalah pabrik gula bernama Pabrik Gula Colomadu yang dibangun pada masa pemerintahan Mangkunegara IV tahun 1862, kini bangunan bersejarah ini telah diubah menjadi pusat seni, budaya, dan wisata yang sangat menarik. Terletak di Kecamatan Colomadu, Karanganyar, kawasan ini kini menjadi tempat berbagai acara, konser, pameran, hingga tempat nongkrong bergaya industrial dengan suasana klasik kolonial yang dipertahankan.
| Sumber: Instagram | @detjolomadoe_official |
Banyak spot foto menarik di sini, mulai dari stasiun pengolahan gula, jembatan dan lorong pabrik, hingga area outdoor dan taman yang menarik untuk dijadikan konten instagrammu. Area ini pun ramai dikunjungi anak muda, keluarga, hingga wisatawan luar kota. Kehadiran De Tjolomadoe menjadi bukti nyata akan suksesnya revitalisasi bangunan bersejarah sebagai ruang ekonomi kreatif. Di mana tidak hanya menghadirkan sejarah dalam bentuk yang modern dan estetik, tempat ini juga memberi ruang bagi pelaku UMKM, seniman, dan pelaku industri kreatif lokal untuk berkembang. De Tjolomadoe bukan hanya destinasi Instagramable, tapi juga representasi bagaimana sejarah bisa hidup berdampingan dengan tren masa kini dan menghasilkan nilai ekonomi yang nyata.
***
Karanganyar tidak pernah kehabisan akan ceritanya, mulai dari peninggalan era-era masa lalu seperti Candi Cetho dan Candi Sukuh yang bermakna filosofis, pesona alam Grojogan Sewu yang memukau, hingga keindahan De Tjolomadoe dengan nuansa kolonialnya. Semua menyimpan sejarah, mempunyai daya tarik, dan memiliki spot-spot foto yang instagramable. Jadi, jika kalian ingin mencari destinasi yang tidak hanya instagramable tapi juga penuh makna, Karanganyar adalah jawabannya. Yuk, jelajahi, abadikan momen, dan dukung terus pelaku usaha di sekitarnya! Siapa tahu, kunjunganmu tak hanya meninggalkan kenangan, tapi juga rezeki untuk masyarakat sekitar.
Biodata Penulis:
Marzella Intan Permatasari Nugraheni lahir pada tanggal 4 Maret 2006 di Karanganyar. Ia memiliki ketertarikan pada bidang pariwisata, ekonomi, dan bisnis. Penulis bisa disapa di Instagram @mrzella.intan