Salat adalah praktik utama dalam Islam yang mengandung aspek spiritual dan fisik. Sebagai rukun Islam yang kedua, salat dilaksanakan lima kali setiap hari dengan serangkaian gerakan yang teratur, seperti berdiri, ruku’, sujud dan duduk. Selain itu, salat juga tidak menjadi keharusan, akan tetapi gerakan-gerakan salat mempunyai banyak manfaat dalam kesehatan tubuh.
Sebagai kegiatan yang dilakukan secara rutin, salat bisa dipandang sebagai suatu bentuk latihan fisik yang berguna jika dilihat dari sudut pandang medis. Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna. Karena ibadah memiliki peran penting bagi manusia, hal ini terbukti bahwa beribadah juga bisa meningkatkan tingkat keimanan bagi manusia.
Di sini kita akan membahas manfaat salat untuk meningkatkan kesehatan dan ketenangan jiwa menurut perspektif sains dan agama.
Dalam surah Al-Baqarah (1:21), Allah SWT berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَا لَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”
Ayat ini menggunakan redaksi “wahai manusia” yang memiliki arti ibadah adalah kebutuhan bagi seluruh manusia. Di sisi lain, ibadah merupakan salah satu cara seorang hamba untuk mendekatkan diri dan membangun koneksi kepada Sang Pencipta.
Karena salat merupakan salah satu bentuk ibadah paling penting dalam agama Islam, tidak hanya memiliki makna spiritual tetapi juga mengandung berbagai keuntungan bagi kesehatan yang telah dibuktikan melalui penelitian ilmiah.
Pandangan ilmiah mengenai salat memberikan pemahaman bahwa setiap gerakan dan doa dalam beribadah dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan fisik dan mental, hal ini menjadi metode holistik untuk mempertahankan keseimbangan antara tubuh dan jiwa.
Setiap tahapan gerakan dalam salat, mulai dari berdiri (qiyam), ruku’, sujud, hingga duduk tasyahud, hal ini bisa melibatkan hampir semua otot dan persendian tubuh. Gerakan ini dapat merangsang berbagai otot besar dan kecil, untuk meningkatkan fleksibilitas serta memperkuat daya tahan dan kekuatan tubuh.
Dari perspektif kesehatan mental, salat memiliki dampak terapeutik yang sangat besar. Di tengah kehidupan modern yang penuh dengan tekanan, kecemasan, dan stres, salat hadir sebagai relaksasi alami yang dapat membantu menenangkan pikiran.
Proses berwudhu sebelum salat melaksanakan salat memberikan sensasi yang menyegarkan, karena melibatkan pencucian area wajah, tangan, dan kaki yang memiliki banyak saraf sensorik. Aktivasi ini terbukti dapat menurunkan tingkat stres, meningkatkan perasaan tenang, serta memberikan dampak menangkan pada pikiran.
Pada saat seseorang berdiri menghadap ke arah kiblat dan mulai melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dalam salat, ia secara tidak langsung terlibat dalam aktivitas yang mirip dengan meditasi.
Bacaan dalam salat yang memiliki nada lembut dapat merangsang gelombang otak alfa yang berhubungan dengan keadaan relaksasi dan konsentrasi. Proses ini dapat menurunkan kadar horman stres seperti kortisol, serta meningkatkan hormon serotinin dan endorfin yang menciptakan perasaan bahagia dan nyaman.
Keselarasan antara agama dan sains ini ditekankan oleh sejumlah intelektual muslim berpendapat bahwa keduanya tidak bertentangan, akan tetapi saling mendukung. Banyak teks dalam Al-Qur’an yang sejalan dengan penemuan ilmiah terkini, menunjukan bahwa ajaran Islam mendorong kemajuan ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan manusia.
Oleh karena itu, salat menjadi contoh bagaimana ajaran agama dan kaidah ilmiah dapat saling melengkapi dan saling memperkuat. Dengan demikian dari sudut pandang sains, salat terbukti memiliki hubungan yang kuat dengan kesehatan fisik dan mental.
Ritual dan doa dalam salat tidak hanya merupakan bentuk ibadah, melainkan juga sekaligus berfungsi sebagai latihan jasmani yang bermanfaat bagi tubuh, serta terapi mental yang membawa ketenangan bagi jiwa.
Dengan kata lain, salat menjadi contoh konkret bagaimana ajaran agama dapat berharmonisasi dengan prinsip kesehatan modern, yang mendukung terciptannya individu yang sehat secara jasmani dan rohani.
Pandangan agama terkait manfaat salat ada beberapa macam, di antaranya adalah:
- Salat sebagai pengingat yang konsisten maksudnya adalah dalam kehidupan yang sibuk dan penuh tekanan, salat bertindak sebagai pengingat harian bahwa ada kekuatan lebih besar yang mengatur dunia ini. Salat lima waktu tidak hanya menjadi kewajiban, tetapi juga waktu untuk berhenti sejenak dari aktivitas duniawi dan mengarahkan perhatian kepada Allah. Rutinitas ini mengajarkan kita untuk tetap ingat bahwa segala hal di dunia ini hanyalah sementara, sementara tujuan akhir kita dalah untuk mendapatkan rida Allah. Hal ini membantu seorang Muslim dalam menjalani hidup dengan fokus dan tujuan yang jelas.
- Meningkatkan hubungan dengan Tuhan maksudnya adalah melalui ibadah salat, seorang Muslim dapat berkomunikasi langsung dengan Tuhan, menyampaikan rasa terimakasih, harapan, dan doa-doa yang tulus. Salat merupakan momen untuk merenung dan melakukan refleksi spiritual. Dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an, kita semakin dekat dengan Tuhan dan merasakan kehadiran-Nya. Sensasi ini memberikan ketenangan jiwa yang sukar ditemukan ditempat lain. Salat juga mengajarkan kita bahwa Tuuhan selalu mendengar dan memahami, membuat kita merasa tidak pernah sendirian dalam menghadapi berbagai ujian hidup.
- Menjaga keseimbangan emosi yaitu salat memiliki dampak yang signifikan dalam mempertahankan keseimbangan emosi. Saat kita melakukan berdiri, ruku’, dan sujud, tubuh kita mendapatkan jeda dari tekanan hidup sehari hari, dan jiwa kita memperoleh kesempatan untuk menjadi tenang. Berbagai penelitian telah menunjukan bahwa gerakan dalam salat dapat meredakan stres dan memperbaiki kesehatan mental. Khususnya sujud, memberikan rasa relaksasi, yang membuat aliran darah menjadi lebih baik ke otak, sehingga dapat mengurangi ketegangan emosional. Dengan melaksanakan salat sepenuh hati, kita dapat menghadapi hari-hari yang penuh tantangan dengan ketenangan dan ketulusan.
Ritual salat memainkan peran yang sangat penting dalam mengatasi perasaan bersalah yang menimbulkan kecemasan dan menjadi faktor utama dalam munculnya masalah kejiwaan. Ini terjadi karena ritual salat mampu menghapus kesalahan seseorang, menyucikan jiwa dari segala dosa, dan menumbuhkan harapan untuk memperoleh ampunan serta keridaan dari Allah SWT.
Salat adalah kewajiban utama untuk seorang muslim, sesudah ia mengucapkan dua kalimat syahadat yang menjadi syarat masuk Islam. Salat merupakan ibadah yang sangat mulia, dicintai, dan disukai oleh Allah SWT. Salat menempati kedudukan tertinggi dalam islam sebagai tiang agama, sebagai penunjukan identitas seseorang yang beriman atau kafir, dan juga merupakan ibadah pertama yang diwajibkan oleh Allah SWT.
Salat memiliki manfaat yang sangat luas, baik dari perspektif agama maupun sains. Dalam pandangan agama Islam, salat merupakan bentuk ketaatan kepada Allah, sarana mendekatkan diri kepada-Nya, serta media pembentukan akhlak dan pengendalian diri. Salat juga mencegah perbuatan keji dan mungkar serta menjadi penyejuk jiwa bagi seorang Muslim.
Sementara itu, dalam perspektif sains, gerakan salat terbukti memberikan efek positif bagi kesehatan fisik dan mental. Salat dapat meningkatkan fleksibilitas tubuh, memperlancar peredaran darah, menenangkan sistem saraf, serta mengurangi stres dan kecemasan.
Dengan demikian, salat tidak hanya berfungsi sebagai ibadah ritual, tetapi juga sebagai terapi spiritual dan fisik yang mendukung keseimbangan hidup manusia secara holistik.
Referensi:
- Milatina Kholisna, Shalat dalam Perspektif Sains: Menggali Keterkaitan antara Ibadah dan Kesehatan https://mahasiswaindonesia.id/shalat-dalam-perspektif-sains-menggali-keterkaitan-antara-ibadah-dan-kesehatan/
- Warto, Ibadah Kesehatan dalam Derspektif Islam dan Sains, Vol. 15, no.2 file:///C:/Users/ADVAN/Downloads/1809-4177-1-SM%20(1).pdf
- Yudi, Pengaruh Shalat dalam Kehidupan Seorang Muslim, https://www.islampos.com/pengaruh-shalat-dalam-kehidupan-seorang-muslim-293031/
- Zaini Ahmad, Shalat Sebagai Terapi Bagi Pengidap Gangguan Kecemasan Dalam Perspektif Psikoterapi Islam, https://doi.org/10.35905/ijic.v6i1.10719
- Fajrussalam Hisny, Pandangan Sains Terhadap Shalat Untuk Kesehatan, https://ejournal.uika-bogor.ac.id/index.php/jpg/article/view/7366/3757
Biodata Penulis:
Fitriani saat ini aktif sebagai mahasiswa, Program Studi Manajemen Dakwah, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, di Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.