Mitos Gua Plato dan Media Sosial sebagai "Gua Baru"

Hari ini media sosial telah menjadi gua baru bagi para penggunanya. Media sosial melalui algoritma-algoritmanya menampilkan atau menyajikan ...

Seorang filsuf teknologi, Rafael Capurro menjelaskan eksistensi manusia mengalami evolusi dari homo sapiens (manusia berpikir) kepada homo digitalis (manusia digital). Di dalam bukunya Capurro menerangkan bahwa digitalisasi telah menjadi realitas manusia yang baru di mana eksistensi seseorang kini ditentukan oleh tindakan digital. Salah satunya yaitu melalui media sosial.

Media Sosial
Sumber: Freepik

Namun, benarkah media sosial sungguh mencerminkan realitas sejati? Pertanyaan ini menggelitik sekaligus menghantar penulis pada Mitos Gua Plato. Mitos ini menarasikan sekelompok tahanan yang terbelenggu di dalam gua sejak lahir dengan wajah hanya terarah pada dinding gua. Tepat di belakang mereka ada api yang menyala. Dan beberapa orang lalu lalang mengakibatkan bayangan di dinding gua. Para tahanan itu meyakini bahwa bayang itu merupakan realitas yang sesungguhnya dan tiada lagi realitas yang lain dari pada itu.

Sampai pada suatu hari, salah satu dari tahanan itu dibebaskan, ia melihat di belakang gua ada api dan menyadari bahwa bayang itu hanyalah pantulan bukan merupakan realitas murni. Lalu ia keluar dari gua dan di sana menyaksikan cahaya matahari yang menyilaukan. Realitas yang selama ini tersembunyi darinya. Ketika dia kembali ke dalam gua dan menjelaskan apa yang dilihatnya kepada para tahanan bahwa yang mereka lihat selama ini bukan merupakan realitas yang sebenarnya melainkan hanya bayang-bayang saja.

Makna dari mitos ini sangat relevan: Sering kali manusia terjebak dalam bayang-bayang realitas yang tampak meyakinkan namun sejatinya semu. Dalam konteks hari ini mitos ini bisa dibaca ulang apakah media sosial menjadi gua baru yang membuat manusia sulit membedakan realitas dan ilusi?

Gua Media Sosial

Hari ini media sosial telah menjadi gua baru bagi para penggunanya. Media sosial melalui algoritma-algoritmanya menampilkan atau menyajikan informasi dan konten menarik dan bahkan meyakinkan namun belum tentu menghadirkan kebenaran sejati. Apa yang disajikan kepada para pengguna media sosial adalah hasil kurasi sistem yang menyesuaikan dengan preferensi pribadi bukan kebenaran yang objektif.

Informasi yang hadir terus-menerus dan berulang-ulang membuat pengguna terpengaruh, bahkan menjadikan apa yang mereka lihat sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Padahal kemurnian informasi itu belum tentu terjamin. Dalam banyak kasus, algoritma justru memperkuat bias, memperbesar hoaks dan menyempitkan ruang untuk berpikir kritis.

Salah satu contoh konkret saat umat umat Katolik di seluruh diselimuti duka mendalam akibat wafatnya Paus Fransiskus pada Senin, 21 April 2025, di kediamannya di Domus Santae Marthae, Kota Vatikan (Hutapea, 2025). Tidak lama setelah kabar tersebut tersiar, diskursus di media sosial pun segera dipenuhi oleh spekulasi mengenai calon-calon yang dianggap berpotensi untuk menduduki posisi Paus selanjutnya. Namun, unggahan-unggahan ini tidak memiliki basis informasi yang valid. Nama-nama yang disebar dalam media sosial hanya berdasarkan asumsi, spekulasi pribadi atau kelompok yang memiliki kepentingan manis dibelakangnya yaitu akunnya ramai dikunjungi.

Dampak dari unggahan ini masif di kalangan umat awam yang tidak memiliki pengetahuan komprehensif tentang proses pemilihan Paus baru. Orang-orang yang bermedia dengan jarinya ramai membagikan unggahan-unggahan itu tanpa kritik dan tajam bertanya apakah informasi itu valid atau tidak bahkan kolom komentar dimeriahkan dan dipenuhi dengan nama-nama Paus baru menurut preferensi masing-masing. Hal ini merupakan cerminan yang jelas bahwa media sosial memiliki kapasitas untuk mempengaruhi serta membentuk opini publik, meskipun sering kali tidak didukung oleh dasar atau bukti yang kuat.

Oleh karena itu, harus diingat media sosial bukanlah media netral penyalur kebenaran karena informasi dan kontennya bisa mendegradasi dan melukai kebenaran yang sejati tergantung pada kepentingan penyalur dan kepada siapa informasi dan konten itu akan berpengaruh. Para pengguna media sosial perlu didorong untuk keluar dari ruang-ruang sempit persepsi mereka guna mencari dan menemukan kebenaran yang autentik, dengan menyadari bahwa informasi, berita, dan konten yang mereka konsumsi di media sosial tidak selalu merefleksikan realitas yang sebenarnya.

Exodus: Proses Jalan keluar dari Gua Media Sosial

Tidak dapat disangkal bahwa media sosial telah memberikan kontribusi signifikan bagi manusia modern dalam mempermudah proses penyebaran serta penerimaan informasi dan konten secara cepat dan efisien. Informasi dan konten yang disebar oleh media sosial tidak difilter sehingga sasarannya bisa menyentuh siapa saja dan pada akhirnya membuat orang terjebak dalam bayangan kebenaran semu. Oleh karena itu exodus atau proses perjalanan keluar dari gua adalah langkah tepat untuk bisa bertemu dengan realitas kebenaran yang sesungguhnya.

Terdapat tiga aspek utama yang dapat membantu individu untuk keluar dari gua media sosial, yaitu: berpikir kritis, melakukan verifikasi informasi, dan mengembangkan literasi digital.

1. Kritis

Sikap kritis adalah kemampuan untuk menganalisis informasi sebelum mempercayai dan membagikannya. Pengguna media sosial harus mengembangkan kemampuan berpikir kritis agar tidak menelan mentah-mentah informasi atau konten yang muncul di layar mereka. Menunda respons, bertanya dan membandingkan perspektif adalah kunci utama. 

2. Verifikasi

Verifikasi merupakan proses yang bertujuan untuk menguji keakuratan suatu informasi dengan cara membandingkannya terhadap fakta dan data yang relevan dan dapat dipercaya. Dalam konteks media sosial, ini bisa dilakukan dengan memeriksa sumber resmi dan membaca lebih dari satu sumber terkait dengan informasi atau konten yang diterima. Melalui proses verifikasi, para pengguna media sosial dibantu untuk bisa menyaring informasi atau konten yang disediakan oleh media sosial sehingga dengan itu para pengguna tidak mudah terjerembab dalam informasi atau konten palsu yang mengandung hoaks.

3. Literasi Digital

Kegiatan literasi digital tidak sekedar terampil dalam menggunakan media sosial melainkan mesti memiliki pemahaman yang mendalam terkait dengan cara kerja platform, dan algoritma serta dampaknya bagi cara kita berpikir dan berinteraksi. Kemampuan literasi ini berperan penting dalam membantu pengguna media sosial memahami konteks suatu informasi, mengidentifikasi adanya bias, serta mengembangkan sikap bijak dalam berinteraksi di ruang digital.

Dengan membekali diri dengan sikap kritis, kebiasaan verifikasi dan kemampuan literasi digital, setiap orang memiliki peluang untuk keluar dari gua digitalnya masing-masing. Melihat dunia luar, memahami kebenaran sejati dan membangun eksistensi yang lebih otentik di tengah derasnya arus informasi.

Oswaldus Abur

Biodata Penulis:

Oswaldus Abur saat ini aktif mahasiswa di UNWIRA Kupang.

© Sepenuhnya. All rights reserved.