Pantun Anak Cina Bermain Wayang
(Pantun Sitti Nurbaya)
Anak Cina bermain wayang,
anak Keling bermain api.
Jika siang terbayang-bayang,
jika malam menjadi mimpi.
Terbang melayang kunang-kunang,
anak balam mati tergugur.
Jatuh ke tanah ke atas kembang,
kembang kuning bunga cempaka.
Jika siang tak dapat senang,
jika malam tak dapat tidur.
Pikiran kusut hati pun bimbang,
teringat kakanda Samsu juga.
Analisis Puisi:
Puisi "Pantun Anak Cina Bermain Wayang" karya Marah Roesli adalah sebuah karya yang memanfaatkan bentuk pantun, dengan struktur yang khas dan mengandung banyak lapisan makna. Puisi ini menggunakan simbol-simbol yang kaya untuk mengungkapkan kompleksitas perasaan batin, kerinduan, dan kebingungan yang dialami oleh sang pembicara. Melalui penggunaan simbolisme yang cermat dan pola yang repetitif, Marah Roesli mengajak pembaca untuk menyelami perasaan yang muncul di tengah interaksi sosial yang penuh warna dan beragam identitas.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah kerinduan, kebingungan batin, dan kompleksitas hubungan antar individu, khususnya dalam konteks budaya yang berbeda. Dengan menyebutkan berbagai elemen budaya seperti "Anak Cina bermain wayang" dan "Anak Keling bermain api," puisi ini menggambarkan keragaman sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Namun, di balik itu semua, ada perasaan rindu dan kebingungan yang datang dari pertemuan dua dunia yang berbeda.
Selain itu, tema lain yang muncul adalah ketidakpastian dan keresahan yang terkait dengan waktu, dilihat dari berbagai pernyataan tentang siang dan malam yang seolah memengaruhi keadaan emosional seseorang.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini mengungkapkan perasaan keterasingan dan kebingungan batin. Frasa seperti "jika siang terbayang-bayang, jika malam menjadi mimpi" menunjukkan adanya ketidakpastian dalam kehidupan sehari-hari. Perasaan terbayang-bayang dan mimpi menggambarkan keadaan yang tidak jelas, seolah-olah pikiran dan emosi terombang-ambing antara kenyataan dan khayalan.
Salah satu bagian yang menarik adalah "teringat kakanda Samsu juga", yang memberi kesan bahwa perasaan rindu atau kehilangan terhadap seseorang (mungkin saudara atau orang yang terpisah jauh) berperan penting dalam menggerakkan perasaan batin si pembicara.
Selain itu, keberadaan simbol seperti kunang-kunang, balam, dan kembang cempaka memperkuat makna tentang perasaan yang melayang dan penuh kerinduan, serta menggambarkan perasaan yang tak dapat digapai dengan mudah.
Unsur Puisi
Beberapa unsur puisi yang dominan antara lain:
- Diksi: Pilihan kata yang digunakan cukup kuat dan penuh simbolisme. Misalnya, kata "terbayang-bayang", "kunang-kunang", "balam", dan "kembang cempaka" menciptakan gambaran visual dan emosional yang mendalam.
- Rima dan Irama: Puisi ini mengikuti pola pantun dengan rima ABAB yang khas, memberikan irama yang mudah diingat dan berulang, serta memperkuat kesan kesederhanaan dan keharmonisan dalam ekspresi perasaan.
- Simbolisme: Banyak simbol yang digunakan untuk menggambarkan perasaan batin. "Anak Cina bermain wayang" dan "anak Keling bermain api" adalah simbol dari kehidupan yang penuh warna dan kontras, sementara "kunang-kunang", "balam", dan "kembang cempaka" menjadi metafora untuk kerinduan dan kesepian.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasakan kerinduan dan kebingungan batin yang terkait dengan identitas sosial, perasaan, dan waktu. Anak-anak yang disebutkan dalam puisi—seperti "anak Cina bermain wayang" dan "anak Keling bermain api"—menunjukkan keberagaman budaya dan sosial yang ada di sekelilingnya. Namun, perasaan yang dominan dalam puisi ini lebih banyak berkisar pada kerinduan terhadap seseorang (terutama kakanda Samsu), yang mengarah pada perasaan tergugur dan bingung saat merenung di tengah keramaian.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang tercipta dalam puisi ini adalah melankolis dan penuh kerinduan. Meski terdapat elemen-elemen ceria seperti “kunang-kunang” dan “kembang cempaka,” suasana keseluruhan tetap dipenuhi oleh kebingungan dan keresahan batin. Perasaan terombang-ambing antara kenyataan siang hari dan mimpi malam menunjukkan betapa terganggunya kondisi emosi sang pembicara.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Puisi ini mengandung pesan bahwa keraguan dan kebingungan adalah bagian dari perjalanan batin manusia, yang datang dari pertemuan antara realitas sosial yang beragam dengan perasaan pribadi yang mendalam. Meskipun perasaan tersebut seringkali tidak mudah dipahami, penting untuk menerima kenyataan bahwa setiap orang dapat terjebak dalam kegalauan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata, seperti dalam perasaan rindu yang datang tanpa henti.
Imaji
Imaji yang digunakan dalam puisi ini sangat kuat, memberikan gambaran visual yang hidup dan beragam:
Imaji visual
- “Terbang melayang kunang-kunang” — memberikan kesan keindahan yang datang dalam sekejap, seperti halnya kerinduan yang muncul secara tiba-tiba.
- “Kembang kuning bunga cempaka” — menggambarkan keindahan yang mendalam dan sekaligus ketenangan yang mengalir dalam pikiran.
- “Anak balam mati tergugur” — sebuah gambaran yang melambangkan kesedihan atau kehilangan.
Majas
Puisi ini memanfaatkan beberapa majas untuk memperkuat makna:
Metafora:
- “Anak Cina bermain wayang” dan “anak Keling bermain api” adalah metafora yang menggambarkan kehidupan yang penuh kontras dan konflik sosial budaya.
- “Terbang melayang kunang-kunang” — kunang-kunang menjadi simbol dari sesuatu yang indah namun mudah hilang.
Personifikasi:
- “Pikiran kusut hati pun bimbang” — pikiran dan hati digambarkan sebagai entitas yang bisa kusut dan bimbang, seolah-olah mereka memiliki perasaan.
Simile:
- “Jatuh ke tanah ke atas kembang” — memberikan gambaran visual yang sangat mendalam dan memadai tentang bagaimana sesuatu yang indah bisa dihancurkan atau terjatuh.
Puisi "Pantun Anak Cina Bermain Wayang" karya Marah Roesli adalah puisi yang padat dengan simbolisme, menggambarkan keraguan, kebingungan, dan kerinduan dalam kehidupan sosial yang penuh warna dan kontras. Melalui pemilihan kata dan penggunaan majas, puisi ini menyampaikan perasaan yang rumit namun sangat nyata—tentang bagaimana hidup bergerak antara kenyataan yang penuh keraguan dan kenangan yang penuh kerinduan. Sebuah karya yang mengajak kita untuk merenung lebih dalam tentang perasaan yang kadang tidak bisa dijelaskan, namun selalu hadir dalam kehidupan kita.
Puisi: Pantun Anak Cina Bermain Wayang
Karya: Marah Roesli
Biodata Marah Roesli:
- Marah Roesli (dieja Marah Rusli) lahir di Padang, Sumatra Barat, pada tanggal 7 Agustus 1889.
- Marah Roesli meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 17 Januari 1968 (pada usia 78 tahun).
- Marah Roesli adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka.
- Pantun di atas merupakan bagian dari buku Sitti Nurbaya (1920).
