Puisi: Syair Menyamar Jadi Hulubalang (Karya Raja Ali Haji)

Salah satu bagian menarik dalam syair Syair Abdul Muluk adalah "Syair Menyamar Jadi Hulubalang" yang memperlihatkan betapa Raja Ali Haji bukan ...

Syair Menyamar Jadi Hulubalang


Alkisah tersebutlah suatu cerita
Seorang raja di atas tahta
Berham negerinya nama dikata
Puteranya dua khabarnya nyata

Putera yang tua yaitu laki-laki
Bernama Jamaluddin Adamani
Yang muda perempuan putera sultani
Bernama Sitti Rahatulhayani

Adapun saudaranya yang dipertuan
Seorang laki-laki bernama Bahsan
Saudara sebelah bundanya sultan
Ialah memerintah di bawah kerajaan

Tiada berapa lamanya ada
Laki isteri hilanglah baginda
Tinggal Jamaluddin bangsawan muda
Mufakatlah sekalian menteri biduanda

Putus bicara wazir sekalian
Jamaluddin menggantikan ayahanda sultan
Setelah sudah ia dirajakan
Masuklah dengki pada hati Bahsan

Pikir Bahsan di dalam dada
Aku pun patut menggantikan baginda
Jamaluddin itu orang yang muda
Salah mufakat menteri biduanda

Duduklah Bahsan dengan dengkinya
Kepada Jamaluddin sakit hatinya
Negeri Barham diharu-birunya
Dagang senteri habis dimufakatinya

Bahsan membuat pabean sendiri
Jadilah hura-hura di dalam negeri
Kepada Jamaluddin tiada diberi
Tempat berniaga dagang dan senteri

Beberapa lamanya yang demikian
Banyaklah orang ke sebelah Bahsan
Yang ada pada Jamaluddin sultan
Duduklah dengan sukar kesakitan

Sungguhpun demikian itu adanya
Bahsan nin sakit juga hatinya
Jamaluddin juga hendak dibunuhnya
Supaya tetap kebesarannya

Senantiasa bertanyalah Bahsan
Kepada isi negeri sekalian
Di dalam sunyi tiada digemparkan
Siapakah yang cakap membunuh sultan

Wazir hulubalang menteri belaka
Mana yang hampir kepadanya mereka
Dagang senteri pun ditanya juga
Seorang pun tiada mau durhaka

Kembali pula perkataan nalam
Kepada Rafiah yang menaruh dendam
Siang berjalan berhenti malam
Lalulah sampai ke negeri Barham

Orang dusun berlari datang
Melihat Rafiah wajah gemilang
Serta berkata berulang-ulang
Dari manakah tuan anakku datang

Ada yang tertawa berkata-kata
Apakah nama orang muda belia
Sedap manis di mata sahaya
Seperti laku orang yang mulia

Rafiah menjawab malu-maluan
Petah majelis barang kelakuan
Hamba nin sesat mengejar perburuan
Duri hamba nama nin tuan

Berkata seorang laki-laki tua
Ayuhai anakku utama jiwa
Marilah tuan bapa nin bawa
Pulang ke rumah minum kahwa

Tersenyum manis Duri bangsawan
Serta bangkit lalu berjalan
Bersama dengan pak tua nin tuan
Sampai ke rumah dijamunya makan

Sudah makan muda yang sabar
Kepada pak tua Duri berkhabar
Hamba nin hendak pergi sebentar
Membeli buah-buahan di kedai pasar

Sudah berkata yang demikian
Duri pun turun lalu berjalan
Hendak melihat pasar dan pekan
Termasuklah ia pada kaum Bahsan

Dilihatnya terlalu sangat ramainya
Bersuka-sukaan mereka sekaliannya
Segala kedai penuh dengan isinya
Berbagai jenis ada semuanya

Sekaliannya sudah dilihatnya rata
Berjalanlah Duri muda yang pokta
Ke sebelah kaum Jamaluddin mahkota
Terlalu heran di dalam cita

Dilihatnya terlalu sangat sunyinya
Segenap tempat sedikit orangnya
Duduklah dengan kesakitannya
Kedainya banyak tiada isinya

Kembalilah Duri muda bestari
Ke rumah bapa angkat sendiri
Ia bertanya berperi-peri
Bapa wai betapa perintah negeri

Hamba melihat di pasar pekan
Antara dua kaum bersalah-salahan
Setengah kaum ramai kesukaan
Yang setengah kaum sukar kesakitan

Orang tua menjawab sabda
Ketahui olehmu hulubalang muda
Selama hilang duli baginda
Negeri Barham porak-peranda

Sekaliannya habis diceritakannya
Daripada hal-ihwal sultannya
Kerajaan hendak diambil mamaknya
Duduklah baginda dengan masygulnya

Akan Sultan Jamaluddin bestari
Hanyalah yang beserta lima orang menteri
Tiga ribu juga laskar sendiri
Yang menurut perintahnya kanan dan kiri

Setelah Duri mendengarkan warta
Ia pun diam tiada berkata-kata
Sambil berpikir di dalam cita
Aniaya Bahsan terlalu nyata

Pak tua berkata dengan sempurna
Kepada Duri yang bijaksana
Aduhai anakku muda teruna
Dengar juga bapak berbahana

Jikalau anakku hendak berjalan
Hendak mencari sahabat dan tolan
Pergilah ke sebelah kaumnya Bahsan
Senanglah tuan mencari kehidupan

Duri tersenyum mendengarkan madah
Sambil berkata terlalu petah
Hamba tak mau kepada yang salah
Jamaluddin itu asalnya khalifah

Pak tua berkata perlahan-lahan
Bapak nin tuan sekadar mengingatkan
Jikalau tak kena yang demikian
Perbuatlah mana yang dikehendakkan

Mendengarkan pak tua sambil bertutur
Lalulah tertawa sedikit dur
Hari malam iapun tidur
Gemuruhlah bunyi pak tua mendengkur

Datang kepada keesokan hari
Berjalan Duri muda bestari
Masuk ke kota sultan negeri
Lalulah ke rumah perdana menteri

Duri berjalan dengan lemah-gemulai
Usul majelis sederhana lampai
Ke kampung menteri ia pun sampai
Datuk perdana ada di balai

Kepada abdi menteri berkata
Hulubalang dari mana mendapatkan kita
Parasnya elok bagai dipeta
Sedap manis dipandang mata

Sudah berkata-kata kepada kawan
Menteri menegur Duri bangsawan
Ayuhai anakku hulubalang pahlawan
Naik duduk ke marilah tuan

Mendengar sabda datuk perdana
Duri pun naik tiadalah lena
Lalu duduk muda teruna
Memberi hormat dengan sempurna

Berkata pula perdana menteri
Apakah nama muda bestari
Di manakah tuan desa negeri
Apakah hajat datang ke mari

Duri tersenyum sedikit juga
Terlalu manis warnanya muka
Hamba nin tuan hendak bersuka
Kepada sultan seri paduka

Duri nama hamba nin tuan
Sesat mengejar perburuan
Jikalau ada mudah-mudahan
Hendak menghadap yang dipertuan

Menteri tertawa lalu berkata
Sudah tuan mendengar warta
Akan sultan duli mahkota
Namanya saja di atas tahta

Duri menjawab lakunya tentu
Sudah diketahui dari hal itu
Sahaja hajat hamba begitu
Hendak memperhambakan diri ke situ

Berkatalah pula perdana menteri
Serta bangkit lalu berdiri
Jikalau sudah demikian peri
Marilah menghadap mahkota negeri

Setelah Duri mendengarkan kata
Ia pun bangkit pergilah serta
Berjalan datuk wazir yang pokta
Masuk menghadap duli mahkota

Akan Jamaluddin muda teruna
Ada di balai duli yang gana
Semayam di atas singasana
Lakunya masygul gundah-gulana

Baginda melihat menteri datang
Seorang hulubalang dari belakang
Wajahnya persih gilang-gemilang
Sultan tercengang seketika memandang

Sampai ke balai perdana menteri
Hidmat menyembah menghampiri
Bersamalah dengan Duri bestari
Ditegur sultan durja berseri

Lalu bertitah duli yang gana
Ayuhai mamanda seri perdana
Orang muda ini datang dari mana
Sikapnya elok amat sempurna

Wazir menjawab tangan diangkat
Ia nin seorang dagang yang sesat
Menghadap tuanku karena hajat
Minta diperhamba ke bawah hadirat

Sultan bertitah seraya memandang
Kepada Duri muda terbilang
Apalah yang diharapkan oleh hulubalang
Hamba nin papa bukan kepalang

Duri tersenyum berdatang sembah
Terlalu manis mengeluarkan madah
Jangan demikian tuanku bertitah
Yang patik cari miskin itulah

Bertitah pula duli mahkota
Jikalau begitu hulubalang berkata
Terlebih pula sukanya beta
Hulubalang diam bersama beta

Jika sudah tutus dan sudi
Duduklah hulubalang bersama menteri
Seratus laskar engkau kuberi
Serta lagi tempat sendiri

Mendengarkan titah yang manis merdu
Duri pun suka di dalam kalbu
Berdatang sembah tertiblah laku
Menjunjung kurnia patik tuanku

Seketika duduk hari pun petang
Berangkat naik sultan terbilang
Mana yang ada menteri hulubalang
Masing-masing ke tempatnya pulang

Adapun akan Jamaluddin bestari
Baginda itu tiada beristeri
Berbinikan anak perdana menteri
Kasih baginda tiada terperi

Namanya Sitti Lela Mengerna
Putih kuning sedang sederhana
Akal dan budi amat sempurna
Terlalu kasih duli yang gana

Sumber: Syair Abdul Muluk (1847)

Analisis Puisi:

Raja Ali Haji merupakan seorang pujangga besar dari Kepulauan Riau-Lingga yang menghasilkan karya-karya penting dalam bidang bahasa, sejarah, dan sastra. Salah satu karya monumentalnya adalah Syair Abdul Muluk, sebuah syair naratif panjang yang memadukan unsur sejarah, hikayat, kepahlawanan, dan moral Islam.

Salah satu bagian menarik dalam syair ini adalah "Syair Menyamar Jadi Hulubalang". Bagian ini memperlihatkan kecerdikan tokoh perempuan (Puteri Rafiah) yang menyamar sebagai seorang hulubalang bernama Duri untuk menyelidiki keadaan negeri Barham yang sedang kacau akibat perebutan kekuasaan.

Ringkasan Isi Syair

Kisah dimulai dengan kemelut di Negeri Barham setelah wafatnya raja. Tahta digantikan oleh putera sulung, Jamaluddin, namun pamannya, Bahsan, iri hati dan ingin merebut kekuasaan. Bahsan menimbulkan kekacauan, memecah belah rakyat, hingga ekonomi terganggu.

Di tengah konflik itu, muncul tokoh Duri, yang sebenarnya adalah Puteri Rafiah (istri Abdul Majid). Ia menyamar sebagai seorang pemuda hulubalang gagah. Dalam penyamarannya, Rafiah menyaksikan langsung kondisi negeri: pihak Bahsan hidup mewah, sedangkan pihak Jamaluddin menderita.

Duri kemudian mencari jalan untuk menghadap Sultan Jamaluddin. Dengan kecerdikan dan sikapnya yang sopan, ia berhasil mendapatkan kepercayaan Sultan serta perdana menteri. Bahkan Sultan menghadiahkan seratus laskar kepadanya dan menempatkannya di bawah perlindungan kerajaan. Penyamarannya sukses: ia tidak hanya menyusup, tetapi juga memperoleh kedudukan strategis untuk membantu perjuangan melawan Bahsan.

Tema

Tema utama dalam syair ini adalah kecerdikan dan keberanian dalam menghadapi penindasan. Selain itu, tema-tema lain yang dapat diidentifikasi:

  • Perebutan kekuasaan dan politik istana – menggambarkan intrik, iri hati, dan ambisi kekuasaan.
  • Kekuatan perempuan – meski dianggap lemah, Rafiah mampu menyamar, bertindak strategis, dan memainkan peran penting.
  • Keadilan melawan kedzaliman – Jamaluddin sebagai sultan sah harus menghadapi kezaliman Bahsan dengan dukungan setia rakyat dan tokoh bijak.

Nilai Moral dan Pendidikan

Syair ini mengandung sejumlah pesan moral:

  • Kebijaksanaan lebih berharga daripada kekuatan fisik: penyamaran Rafiah menunjukkan kecerdikan mengalahkan ambisi kasar Bahsan.
  • Kesetiaan kepada yang sah: rakyat yang enggan mendurhakai Jamaluddin memperlihatkan penghargaan pada legitimasi kepemimpinan.
  • Perempuan sebagai agen perubahan: tokoh Rafiah menunjukkan bahwa perempuan juga dapat berperan dalam politik dan strategi perang.
  • Larangan dengki dan tamak: Bahsan menjadi contoh buruk tentang bagaimana iri hati menghancurkan negeri.

Budaya dan Pandangan Masyarakat Melayu

Syair ini mencerminkan pandangan masyarakat Melayu abad ke-19:

  • Marwah dan legitimasi politik: seorang pemimpin sah harus dihormati, sementara perebutan kuasa dengan cara zalim dianggap mencederai tatanan.
  • Nilai kesopanan: meski menyamar, Rafiah tetap menampilkan budi bahasa, sehingga diterima oleh Sultan dan menteri.
  • Perempuan cerdik sebagai teladan: budaya Melayu memberi ruang untuk menghargai perempuan yang berani sekaligus menjaga kehormatannya.

Gaya Bahasa

Syair ini menggunakan gaya bahasa khas Melayu klasik:

  • Rima a-a-a-a dengan bentuk empat baris setiap bait.
  • Kiasan dan pengulangan – menegaskan suasana hati tokoh atau keadaan negeri.
  • Dialog formal – percakapan antara Rafiah (sebagai Duri) dengan tokoh lain memperlihatkan sopan santun serta kecerdikannya.
  • Kontras – antara kebaikan Jamaluddin dengan kedzaliman Bahsan, juga antara keperkasaan Duri dengan kelembutan Rafiah sebagai perempuan.

Simbolisme

  • Rafiah/Duri → simbol kecerdikan, ketabahan, dan kekuatan moral perempuan.
  • Bahsan → simbol kerakusan, dengki, dan ambisi buta akan kekuasaan.
  • Jamaluddin → simbol pemimpin sah yang adil, meskipun lemah dalam jumlah pendukung.
  • Pasar yang ramai dan sepi → simbol ketidakadilan sosial akibat perebutan kuasa.

Relevansi Kontemporer

Meskipun syair ini ditulis abad ke-19, isinya tetap relevan hingga kini:

  • Kepemimpinan yang sah harus dihormati: politik modern pun masih menghadapi perebutan kekuasaan yang tidak sehat.
  • Perempuan mampu berperan dalam strategi dan kepemimpinan: kisah Rafiah/Duri bisa dibaca sebagai representasi feminisme Melayu-Islam.
  • Kecerdikan lebih penting daripada kekerasan: strategi, penyamaran, dan diplomasi lebih ampuh daripada kekuatan fisik semata.
  • Bahaya iri hati politik: perebutan kuasa dengan cara zalim akan menghancurkan negara.

"Syair Menyamar Jadi Hulubalang" memperlihatkan betapa Raja Ali Haji bukan hanya menulis tentang kepahlawanan, tetapi juga tentang strategi, kecerdikan, dan peran penting perempuan dalam sejarah dan budaya Melayu.

Melalui tokoh Rafiah yang menyamar sebagai Duri, syair ini mengajarkan bahwa perjuangan melawan kezaliman tidak selalu dengan pedang, tetapi juga dengan akal, kesabaran, dan budi pekerti. Pesan moralnya tetap abadi: kekuatan sejati terletak pada kesetiaan, kecerdikan, dan keadilan.

Raja Ali Haji
Puisi: Syair Menyamar Jadi Hulubalang
Karya: Raja Ali Haji

Biodata Penulis:

Raja Ali Haji (nama pena dari Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad) adalah seorang ulama, sekaligus pujangga abad 19 keturunan Bugis dan Melayu.

© Sepenuhnya. All rights reserved.