Puisi: Syair Negeri Barbari (Karya Raja Ali Haji)

Syair Negeri Barbari bukan hanya kisah tentang kelahiran Abdul Muluk dan Rahmah, melainkan juga potret masyarakat Melayu ideal menurut pandangan ....

Syair Negeri Barbari


Bismi'llah itu permulaan kata
Dengan nama Tuhan alam semesta
Akan tersebut sultan mahkota
Di Negeri Barbari baginda bertahta

Kata orang yang empunya peri
Akan baginda sultan Barbari
Gagah berani bijak bestari
Khabarnya masyhur segenap negeri

Abdul Hamid Syah konon namanya
Terlalu besar kerajaannya
Beberapa negeri takluk kepadanya
Sekalian itu di bawah perintahnya

Adapun akan duli baginda
Ada seorang saudaranya yang muda
Abdul Majid namanya adinda
Memerintah di bawah hukum kakanda

Akan isteri sultan yang bahari
Ada seorang saudaranya laki-laki
Bernama Mansur bijak bestari
Menjadi wazir besar sekali

Beberapa pula menteri perdana
Di bawah Mansur yang bijaksana
Mufakatnya baik dengan sempurna
Tetaplah kerajaan duli yang gana

Masyhur khabar segenap negeri
Abdul Hamid Syah Sultan Barbari
Adil dan murah bijak bestari
Sangatlah mengasihi dagang senteri

Beberapa lamanya duli mahkota
Baginda semayam di atas tahta
Permaisuri hamillah nyata
Sultan pun sangat suka cita

Sampailah sudah bulannya puteri
Sembilan bulan sepuluh hari
Geringlah konon permaisuri
Masuklah sekalian bini menteri

Abdul Majid raja yang muda
Laki isteri masuklah baginda
Diiringkan oleh anak biduanda
Pergi ke istana paduka kakanda

Seketika duduk adinda saudara
Permaisuri lalu berputera
Seorang laki-laki tiadalah cedera
Parasnya elok tiada bertara

Segera disambut oleh bidannya
Dikerat pusat dimandikannya
Kepada sultan dipersembahkannya
Disambut baginda dengan sukanya

Baginda bertitah anakanda dipeluk
Sangatlah manis laku dan khuluk
Dipandang baginda tiada bertolok
Lalu dinamakan Abdul Muluk

Tiga tahun selang umurnya anakanda
Lalulah hamil isteri adinda
Sangatlah suka dulu baginda
Jika perempuan puteranya ada

Dua bulan hamilnya sudah
Abdul Majid kembali ke rahmatullah
Lalu berangkat duli khalifah
Dimakamkan baginda dengan selesailah

Adapun akan isteri baginda
Dipeliharakan oleh duli baginda
Sebarang kehendak semuanya ada
Sedikit tiada diberi berbeda

Sampailah sudah ketika masanya
Puteri bersalin dengan selesainya
Seorang perempuan baik parasnya
Segera disambut oleh bidannya

Setelah sudah dimandikan
Kepada baginda dipersembahkan
Baginda pun sangat betas kasihan
Sitti Rahmah anakanda dinamakan

Baginda pun kasih tiada terperi
Akan anakanda Rahmah puteri
Sampailah kedua laki isteri
Diperbuat seperti anak sendiri 

Dengan sepertinya dipeliharakan
Inang pengasuh dilengkapkan
Dengan Abdul Muluk disamakan
Sedikit pun tidak dibedakan

Tiada berapa antara selangnya
Rahmah pun wafat pula bundanya
Sultan sangat belas kasihannya
Makin bertambah kasih sayangnya

Adapun akan permaisuri
Kasihnya tidak lagi terperi
Memeliharakan Rahmah dia sendiri
Cerdiklah sudah tuan puteri

Pandailah sudah berkata-kata
Parasnya elok bagai dipeta
Lemah lembut sendi anggota
Memberi betas di dalam cita

Abdul Muluk putera nin tuan
Besarlah sudah emas tempawan
Elok majelis tiada berlawan
Suka bermain cara pahlawan

Dititahkan oleh duli baginda
Kepada pendekar pahlawan berida
Disuruh mengajar paduka anakanda
Bermain pedang di atas kuda

Terkadang sendiri duli mahkota
Mengajar anakanda cahaya mata
Habis diajarkan sekalian rata
Kebal penimbul jangan dikata

Duduklah baginda raja bestari
Bersuka-sukaan sehari-hari
Terlalu ramai Negeri Barbari
Penuh sesak dagang sentari

Sumber: Syair Abdul Muluk (1847)

Analisis Puisi:

"Syair Negeri Barbari" merupakan bagian awal dari karya besar Syair Abdul Muluk yang ditulis oleh Raja Ali Haji, seorang pujangga, ulama, sekaligus budayawan Melayu abad ke-19. Dalam syair ini, penyair membuka kisah dengan doa (basmalah), pengenalan tokoh utama, serta latar kehidupan di Negeri Barbari.

Sebagai bagian dari tradisi sastra Melayu klasik, syair ini bukan hanya berfungsi sebagai hiburan, melainkan juga sarat nilai moral, politik, dan budaya. Kehidupan tokoh-tokohnya digambarkan ideal, penuh dengan tata nilai Islam, serta menampilkan konsep kepemimpinan dan pendidikan dalam masyarakat.

Tema Utama

Tema utama dari "Syair Negeri Barbari" adalah kepemimpinan yang adil dan kasih sayang dalam keluarga kerajaan. Sultan Abdul Hamid Syah ditampilkan sebagai raja yang gagah, bijak, adil, dan dicintai rakyat. Ia mampu menjaga keharmonisan kerajaan, memelihara keluarganya, serta mendidik anak-anak dengan penuh perhatian.

Selain itu, tema lain yang menonjol adalah kelahiran dan pendidikan generasi penerus, yaitu Abdul Muluk dan Sitti Rahmah. Kelahiran mereka menandakan kesinambungan kekuasaan, sementara pendidikan mereka mencerminkan nilai moral dan budaya yang harus diwariskan.

Ringkasan Cerita

Isi syair secara garis besar dapat dirangkum sebagai berikut:

  • Syair dibuka dengan pujian kepada Tuhan, lalu memperkenalkan tokoh utama, Sultan Abdul Hamid Syah dari Negeri Barbari.
  • Sultan digambarkan sebagai raja adil, gagah, dan bijaksana, dengan kerajaan yang luas serta pemerintahan yang tertib berkat para menteri dan wazir.
  • Permaisuri Sultan mengandung dan melahirkan seorang putera, Abdul Muluk, yang kelak menjadi tokoh utama kisah.
  • Saudaranya, Abdul Majid, wafat ketika istrinya sedang mengandung. Anak perempuan yang dilahirkan kemudian dinamakan Sitti Rahmah.
  • Sultan dan permaisuri dengan kasih sayang membesarkan Abdul Muluk dan Rahmah seperti anak kandung sendiri.
  • Kedua anak ini tumbuh dengan baik: Abdul Muluk menjadi seorang pemuda gagah, gemar belajar ilmu kepahlawanan, sementara Rahmah tumbuh menjadi puteri yang cantik, cerdas, dan berbudi.
  • Negeri Barbari digambarkan makmur, penuh pedagang, dengan suasana kerajaan yang damai.

Makna Tersirat

Di balik kisah awal ini, terdapat beberapa makna mendalam:

  • Kepemimpinan ideal → Sultan Abdul Hamid Syah digambarkan sebagai pemimpin yang adil, murah hati, dan dekat dengan rakyat serta pedagang. Ini adalah cerminan harapan Raja Ali Haji terhadap penguasa Melayu.
  • Kasih sayang dan solidaritas keluarga → Abdul Muluk dan Sitti Rahmah diperlakukan setara, meskipun Rahmah adalah anak dari adinda Sultan yang telah wafat. Hal ini menekankan pentingnya asuhan yang adil dan kasih sayang dalam keluarga bangsawan.
  • Pendidikan generasi penerus → Abdul Muluk diajarkan ilmu kepahlawanan dan kepemimpinan, Rahmah dididik menjadi puteri yang cerdas dan santun. Makna tersiratnya adalah pentingnya menyiapkan anak-anak sebagai penerus bangsa.
  • Peran gender → Menariknya, syair ini sejak awal sudah menampilkan tokoh perempuan (Rahmah) yang kelak tidak hanya menjadi pelengkap, melainkan tokoh penting dalam alur cerita.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang tergambar dalam syair ini adalah:

  • Damai dan tenteram → Negeri Barbari digambarkan sebagai negeri yang makmur, penuh dengan pedagang, dan masyarakat hidup aman.
  • Bahagia dan harapan → Kelahiran Abdul Muluk dan Rahmah disambut dengan penuh sukacita, menghadirkan harapan bagi masa depan kerajaan.
  • Keluarga harmonis → Kasih sayang Sultan dan permaisuri menciptakan suasana hangat dalam keluarga kerajaan.

Amanat / Pesan Moral

Beberapa amanat yang dapat dipetik:

  • Seorang pemimpin harus adil, bijaksana, dan dekat dengan rakyat.
  • Kasih sayang dan perlakuan yang adil dalam keluarga sangat penting bagi tumbuh kembang anak.
  • Pendidikan sejak kecil, baik dalam ilmu agama, adab, maupun kepahlawanan, adalah dasar pembentukan karakter generasi penerus.
  • Kehidupan duniawi yang makmur tetap harus diimbangi dengan nilai moral dan spiritual.

Imaji dalam Syair

Syair ini kaya dengan imaji yang menghadirkan suasana kerajaan dan kehidupan bangsawan:

  • Imaji visual: gambaran istana, kelahiran anak raja, perayaan, latihan berkuda dan bermain pedang.
  • Imaji emosional: kebahagiaan Sultan menyambut kelahiran anak, kesedihan ketika Abdul Majid wafat, kasih sayang terhadap Rahmah.
  • Imaji sosial: keramaian negeri, pedagang yang memenuhi pasar, serta menteri yang setia mengabdi.

Majas yang Digunakan

Raja Ali Haji memperindah syair dengan berbagai majas, antara lain:

  • Metafora: “Parasnya elok tiada bertara” → menggambarkan keindahan wajah tanpa bandingan.
  • Hiperbola: “Kasih tiada terperi” → melebih-lebihkan rasa sayang Sultan terhadap anak-anaknya.
  • Simile: “Parasnya elok bagai dipeta” → membandingkan kecantikan Rahmah dengan gambar indah.

Kedudukan dalam Sastra Melayu

Sebagai bagian dari Syair Abdul Muluk, "Syair Negeri Barbari" menempati posisi penting:

  • Menjadi pembuka cerita yang memperkenalkan tokoh dan latar.
  • Menunjukkan gaya naratif Raja Ali Haji yang khas, menggabungkan sejarah, nasihat, dan hiburan.
  • Memperlihatkan visi Raja Ali Haji tentang negeri ideal: raja adil, rakyat makmur, generasi penerus terdidik.

"Syair Negeri Barbari" bukan hanya kisah tentang kelahiran Abdul Muluk dan Rahmah, melainkan juga potret masyarakat Melayu ideal menurut pandangan Raja Ali Haji. Syair ini sarat dengan nilai moral, pendidikan, dan pesan kepemimpinan yang relevan hingga kini.

Melalui syair ini, Raja Ali Haji mengingatkan bahwa kemakmuran negeri tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau kekayaan, tetapi juga oleh keadilan pemimpin, kasih sayang dalam keluarga, serta pendidikan yang baik bagi generasi penerus.

Raja Ali Haji
Puisi: Syair Negeri Barbari
Karya: Raja Ali Haji

Biodata Penulis:

Raja Ali Haji (nama pena dari Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad) adalah seorang ulama, sekaligus pujangga abad 19 keturunan Bugis dan Melayu.

© Sepenuhnya. All rights reserved.