Tersebutlah pula suatu perkataan
Sultan Hindi yang berdukaan
Senantiasa dengan percintaan
Karena malu belum terbalaskan
Adalah kepada suatu hari
Baginda semayam di balairung seri
Di hadap sekalian hulubalang menteri
Serta kedua saudara sendiri
Lalu bertitah duli baginda
Kepada kedua paduka adinda
Serta dengan menteri berida
Beberapa hulubalang yang muda-muda
Kepada Syamsuddin baginda bertitah
Kakanda mendengar khabarnya sudah
Akan Sultan Abdul Hamid Syah
Sudah kembali ke rahmatullah
Adapun yang menggantikan kerajaannya
Abdul Muluk nama anaknya
Tujuh belas tahun konon umurnya
Dua orang konon khabar isterinya
Adapun hajat beta nin tuan
Jikalau kiranya Allah sampaikan
Mamanda dahulu ayahnya penjarakan
Sekarang kepadanya kita balaskan
Kepada bicara kakanda sendiri
Adapun kita menyerang Barbari
Tak usah surut kita nin beri
Serbu saja masuk ke negeri
Jikalau kita berkirim surat
Pastilah ia bermusyawarat
Menghimpunkan segala hulubalang rakyat
Akhirnya kita mendapat mudarat
Mendengar titah sultan perwira
Berdatang sembah keduanya saudara
Serta wazir hulubalang tentara
Benarlah tuanku seperti bicara
Kata orang yang menceritakan
Adalah dua orang wazir pilihan
Wazir zaman ayahnya sultan
Umurnya tua sudahlah uban
Mendengarkan titah duli baginda
Diam berpikir wazir berida
Tiada berkenan di dalam dada
Berdatang sembah lakunya syahda
Mohonkan ampun yang kelimpahan
Adalah sedikit patik sembahkan
Jikalau dibenarkan tuanku dengarkan
Jikalau salah tuanku buangkan
Titah baginda raja bestari
Bagaimana pendapat mamanda menteri
Mamanda jangan takut dan ngeri
Supaya boleh kita dengari
Berdatang sembah keduanya perdana
Daulat tuanku duli yang gana
Pada pendapat patik yang hina
Bicara tuanku tiadalah kena
Adapun adat raja yang garang
Jikalau hendak pergi menyerang
Surat dahulu kepada orang
Tiada diterimanya baharulah perang
Jikalau seperti titah tuanku
Tidaklah patut demikian itu
Jikalau diperbuat juga begitu
Jadilah kita bermain tipu
Jikalau menyerang demikian peri
Bukannya adat raja yang bari
Itulah akal orang pencuri
Menantikan khilaf maka didatangi
Belumlah habis berdatang sembah
Baginda pun murka durja berubah
Warna mukanya seperti darah
Karena hatinya sangatlah marah
Sultan bertitah tiada memandang
Pergilah engkau keduanya pulang
Janganlah masuk bicara orang
Engkau nin tua akalmu kurang
Bicara baik manakan dapat
Umurmu tua akalmu singkat
Matamu kabur tiada melihat
Pulang ke rumah berbuat ibadat
Tercengang diam wazir yang pokta
Terkelip-kelip kelopak mata
Sepatah pun tidak lagi berkata
Pulanglah ia keduanya serta
Sudah kembali wazir keduanya
Sultan menitahkan segala pahlawannya
Mengerahkan sekalian laskar rakyatnya
Hadir dengan alat senjatanya
Hulubalang pahlawan laut dan darat
Disuruh berhimpun segera cepat
Serta raja-raja takluk yang dekat
Mana yang jauh dikirim surat
Dengan segera disuruhkan datang
Bawa serta alat berperang
Meriam berkereta panah senapang
Ikutlah sultan dari belakang
Tiada berapa lama antaranya
Hadirlah sudah kelengkapannya
Baginda pun memakai dengan sepertinya
Naik kuda dengan perhiasannya
Berangkatlah sultan raja yang syahda
Serta dengan keduanya adinda
Diiringkan menteri pahlawan biduanda
Ada yang berjalan ada yang berkuda
Angkatan besar tiada terperi
Berjalan menuju negeri Barbari
Selang antara beberapa hari
Sampailah sudah ke pinggir negeri
Dititahkan oleh duli baginda
Empat orang hulubalang berida
Pergi menghadap sultan muda
Membawa surat tulis perada
Adapun akan sultan Hindustan
Merampas membakar dusun sekalian
Anak bini orang dipertarikkan
Geger gempar tiada berketahuan
Orang dusun habislah lari
Masing-masing membawa diri
Setengahnya masuk ke dalam negeri
Mendapatkan Mansur wazir jauhari
Abdul Muluk wajah gemilang
Sedang ramai dihadap orang
Penuh sesak menteri hulubalang
Penghulu dusun berlari datang
Berdatang sembah ke bawah duli
Mohonkan ampun mahkota negeri
Musuh besar datang ke mari
Khabarnya datang dari Hindi
Syihabuddin nama rajanya
Dari Hindustan konon datangnya
Sekalian dusun dibinasakannya
Ada yang dibakar ada yang dirampasnya
Tersenyum manis baginda sultan
Melihat amir sangat ketakutan
Tiadalah tentu kopiah dan serban
Entah pun di mana jatuh bertaburan
Lalu bertitah sultan yang muda
Kepada Mansur wazir berida
Serta sekaliannya menteri yang ada
Apakah kesalahan kita nin mamanda
Tiada mendengar khabar dan peri
Sekonyong musuh masuk ke negeri
Apakah bicara mamanda menteri
Baiklah mamanda suruh ke luari
Wazir Mansur berkata tentu
Sultan Hindi mengapa begitu
Suratnya haram barang suatu
Tiba-tiba datang hendak melutu
Mengapa begitu raja yang besar
Seperti bukan laki-laki pendekar
Suratnya haram barang secakar
Tiba-tiba datang merampas membakar
Baginda tengah bermusyawarat
Penunggu pintu datangnya cepat
Mengatakan ada hulubalang berempat
Hendak menghadap ke bawah hadirat
Mansur bersabda durja berseri
Suruhlah ia masuk ke mari
Penunggu pintu segera berlari
Titah dipanggil hulubalang wai mari
Hulubalang pun masuk keempatnya
Membawa surat dari tuannya
Kepada sultan dipersembahkannya
Disambut Mansur lalu dibacanya
Inilah surat sultan Hindi
Datang kepada sultan Barbari
Adapun aku datang ke mari
Hendak memiliki seisi negeri
Sebab pun aku berbuat demikian
Mamakku dahulu ayahmu penjarakan
Sekarang padamu aku balaskan
Baik-baik kamu bertahan
Jikalau engkau takutkan aku
Isterimu keduanya hantarkan kepadaku
Jikalau disalahi seperti kataku
Tahan olehmu bekas tanganku
Telah didengar paduka sultan
Bunyinya surat raja Hindustan
Terlalu sangat kasar perkataan
Baginda pun marah tiada tersebarkan
Sungguh tersenyum warna cemerlang
Mukanya merah gilang-gemilang
Laksana bunga raya yang kembang
Disinar matahari yang sedang rembang
Lalu bertitah sultan bestari
Hai hulubalang katakan kembali
Jikalau sekadar sultan Hindi
Tiadalah aku takut dan ngeri
Mendengarkan titah yang dipertuan
Segeralah pulang hulubalang pahlawan
Ke luar kota ia berjalan
Menuju khemah raja Hindustan
Abdul Muluk mahkota negeri
Setelah pulang hulubalang Hindi
Baginda musyawarat pikir dicari
Serta sekalian hulubalang menteri
Wazir Mansur lalu bersabda
Kepada menteri hulubalang yang muda
Baik berhadir sekalian adinda
Himpunkan laskar gajah dan kuda
Mendengar sembah wazir jauhari
Hulubalang pahlawan turun berlari
Mengerahkan laskar ke sana ke mari
Sambil menunjuk kanan dan kiri
Tidak berapa lena antara
Berhimpunlah laskar dengan segera
Penuh sesak pekan pasara
Berkibaran rupanya tunggul bendera
Beberapa raja-raja yang pilihan
Mana yang dekat datang sekalian
Penuh sesak di balai penghadapan
Mana yang jauh tiada bersempatan
Masing-masing berdatang sembah
Daulat tuanku duli khalifah
Patik sekalian hadirlah sudah
Apa juga titah perintah
Sultan bertitah seraya memandang
Suruhkan hulubalang pahlawan di padang
Sepuluh orang daripada hulubalang
Seribu laskar yang biasa berperang
Hulubalang di padang datanglah cepat
Tubuhnya hitam berkilat-kilat
Janggut dan misai terlalu lebat
Memberi dahsyat mana yang melihat
Serta datang mencium kaki
Berdatang sembah dengan sungguh hati
Patik yang hina hamba yang jati
Mengerjakan tuanku sehingga mati
Berkat daulat paduka ayahanda
Serta dengan paduka nenenda
Patik mengerjakan duli seri pada
Sehingga mati undur tiada
Abdul Muluk berkata perlahan
Halus manis barang kelakuan
Aku terimalah kasihmu sekalian
Kepada Allah engkau kuserahkan
Mendengar titah sultan putera
Pahlawan menyembah pergi bersegera
Diiringkan rakyat serta tentara
Gegak-gempita bunyi suara
Sampailah ke luar kota negeri
Terpandang kepada laskar Hindi
Banyak tiada lagi terperi
Gentar sedikit orang Barbari
Akan pahlawan laki-laki yang garang
Gagah berani sangat terbilang
Melihat laskar penuh dipasang
Usahkan gentar bertambah berang
Kedua pihak telah berhadapan
Sama menempuh beramuk-amukan
Hulubalang pahlawan berlompatan
Seperti harimau lepas tangkapan
Gemuruhlah bunyi tempik soraknya
Kedua pihak banyak matinya
Orang Barbari susah lakunya
Terlalu sangat banyak lawannya
Telah petang sudahlah hari
Pecahlah perangnya orang Barbari
Matinya banyak tiada terperi
Ada yang setengah undur dan lari
Demi dilihat pahlawan berida
Sangatlah marah di dalam dada
Melihatkan laskar banyak berbeda
Ia pun segera menggertakkan kuda
Seketika mengamuk bagai pahlawan
Banyaklah mati orang Hindustan
Menetakkan pedang kiri dan kanan
Seperti menebang kayu di hutan
Telah dilihat hulubalang Hindi
Akan kelakuan pahlawan Barbari
Marahnya tiada lagi terperi
Empat orang masuk menyerbukan diri
Hulubalang hampir keempatnya
Pahlawan Barbari segera ditangkapnya
Terlalu sangat teguh ikatnya
Pahlawan tak dapat berlepas dirinya
Setelah sudah tertangkap pahlawan
Dibawanya pulang ke tempat perhentikan
Kepada sultan dipersembahkan
Oleh baginda disuruh penjarakan
Adapun akan laskar Barbari
Mana yang hidup habislah lari
Masing-masing membawa diri
Ada yang setengah masuk ke negeri
Serta sampai ke balai penghadap
Hidmat menyembah sujud meniarap
Ampun tuanku yang patik harap
Pahlawan di padang sudah tertangkap
Baginda mendengar khabar yang demikian
Lalu bertitah paduka sultan
Kepada Mansur wazir pilihan
Siapa lagi kita suruhkan
Mansur berdatang sembah yang tentu
Terlalu hormat rupanya laku
Pahlawan di bukit baik tuanku
Ia pun banyak kaum dan suku
Mendengar sembah wazir terala
Pahlawan di bukit dititahkan pula
Ia pun suatu hulubalang kepala
Sedikit tak mau nama yang cela
Pahlawan pergi dengan laskarnya
Berperang dengan sungguh hatinya
Sampai kepada esok harinya
Pahlawan di bukit pecah perangnya
Orang yang mati tiada menderita
Pahlawan tertangkap sudahlah nyata
Laskar yang lari masuk ke kota
Persembahkan khabar ke bawah tahta
Abdul Muluk mendengarkan pekerti
Pahlawan kedua tewaslah pasti
Beberapa banyak hulubalang yang mati
Sultan pun panas rasanya hati
Bertitah kepada Mansur terbilang
Apakah bicara mamanda sekarang
Banyaklah mati laskar hulubalang
Barang yang keluar tiadalah pulang
Baiklah hadir mamanda Mansuri
Himpunkan laskar hulubalang menteri
Mana yang ada di dalam negeri
Beta nin hendak ke luar sendiri
Mansur pun tunduk diam seketika
Melihat anakanda lakunya murka
Merah padam warnanya muka
Akan menambahi manisnya juga
Seketika diam Mansur yang hebat
Bangkit ia menghampiri dekat
Beberapa pengajar dengan nasehat
Janganlah dahulu tuanku berangkat
Mendengarkan sembah wazir yang pokta
Tunduk berpikir duli mahkota
Bicara nin benar kepada cita
Baginda pun diam tiada berkata
Berdatang sembah seorang wazirnya
Empat belas tahun baharu umurnya
Wazir Suka konon namanya
Baharu digelar menggantikan bapanya
Berdatang sembah suaranya merdu
Mohonkan ampun di bawah cerpu
Jikalau ada izin duli tuanku
Patik mengeluari musuhnya itu
Mendengarkan titah wazir terbilang
Baginda tersenyum sambil memandang
Baginda bertitah berulang-ulang
Engkau nin belum patut berperang
Sembah wazir muda yang petah
Daulat tuanku duli khalifah
Janganlah demi kian tuanku bertitah
Seboleh-bolehnya patik mohonlah
Bertitah pula baginda sultan
Jikalau sudah dengan keredaan
Kepada Allah engkau kuserahkan
Ialah juga yang memeliharakan
Terlalu suka wazir yang muda
Sujud di kaki duli baginda
Bersalaman dengan menteri yang ada
Sekalian mendoakan di dalam dada
Ayuhai anakku muda teruna
Baik-baiklah jangan lena
Anakku mengerjakan duli yang gana
Nama laki-laki biarlah sempurna
Suka tertawa berkata ia
Berkat nabi saidul anbia
Serta berkat duli yang mulia
Luput daripada segala bahaya
Sudah berkata turun berjalan
Laskar tiga ribu hadir sekalian
Sepuluh orang hulubalang pilihan
Pergi bersama baginda titahkan
Naiklah kuda wazir yang pokta
Sedap manis dipandang mata
Terkembanglah payung batang bergenta
Terdirilah bendera kurnia mahkota
Sekalian hulubalang yang sertanya
Masing-masing naik kudanya
Serta dengan alat senjatanya
Berbagai-bagai jenis benderanya
Sekalian kelengkapan sudah terdiri
Laskar berbaris kanan dan kiri
Berjalan Suka wazir bestari
Ke luar dari dalam kota negeri
Telah dilihat orang Hindustan
Dari dalam kota ke luar angkatan
Ia pun segera bersaf-saf di medan
Masing-masing dengan ketumbukan
Wazir Suka muda yang garang
Serta sampai ke sisi padang
Tiada lagi mengikut perang
Lalu mengerahkan laskar hulubalang
Telah bertemu keduanya pihak
Lalu berperang riuh dan gegak
Parang-memarang tetak-menetak
Gemuruh bunyi tempik dan sorak
Adapun akan wazir yang cura
Pada hari itu belumlah bermara
Laskar Hindi banyaklah cedera
Matinya tidak lagi terkira
Sebab pun maka demikian peri
Keras amuknya orang Barbari
Berperang tidak ingatkan diri
Datang menerkam ke sana ke mari
Sungguh pun demikian hal perangnya
Orang Barbari tewas lakunya
Orang Hindi bertambah bantunya
Yang mati seratus seribu datangnya
Telah petang sudahlah hari
Banyaklah mati orang Barbari
Wazir yang mengamuk menterbukakan diri
Sedikit tidak takut dan ngeri
Adapun akan laskar Hindustan
Melihatkan amuk wazir pilihan
Tiada yang berani mara ke hadapan
Undurlah ia perlahan-lahan
Telah dilihat hulubalang Hindi
Akan kelakuan wazir Barbari
Mengamuk tiada sadarkan diri
Sedikit tidak takut dan ngeri
Marahnya Hindi bukan kepalang
Kepada tolannya ia memandang
Sambil berkata berulang-ulang
Kanak-kanak ini sangat terbilang
Sedang kecil lagikan sekian
Tiada sekali membilang lawan
Baiklah tangkap nin ia tuan
Kepada baginda kita sembahkan
Telah sudah berura-ura
Hulubalang menggertak kudanya segera
Empat orang sama setara
Mendapatkan Suka wazir perwira
Berkata hulubalang yang pilihan
Ayuhai anakku muda pahlawan
Marilah menghadap raja Hindustan
Baginda nin banyak buah-buahan
Telah didengar wazir yang pokta
Terlalu amarah di dalam cita
Hulubalang keempat dihampiri serta
Janganlah kamu berbanyak kata
Wazir Suka sudah diikatnya
Dibawanya menghadap kepada sultannya
Baginda pun melihat sangat sukanya
Kanak-kanak nin sangat besar hawanya
Akan titah duli yang dipertuan
Palu belakangnya dengan rotan
Seratus kali jangan dikurangkan
Demikianlah hukumnya diderakan
Seratus kali cukuplah sudah
Lalu dipenjarakan Suka yang petah
Raja Hindi hatinya sukalah
Makan dan minum riuh rendah
Lalu bertitah raja mahkota
Kepada Syamsuddin muda yang pokta
Esoklah kita melanggar kota
Menteri hulubalang sekalian rata
Sembah Syamsuddin dengan sempurna
Benarlah titah duli yang gana
Pekerjaan ini tak boleh lena
Akhirnya kita juga terkena
Adapun akan Negeri Barbari
Taklunya banyak beberapa negeri
Sementara belum berhimpun ke mari
Baiklah segera kita langgari
Apabila sudah berhimpun sekalian
Hampirlah kita pada kekalahan
Abdul Muluk arif pahlawan
Gagah berani sukar dilawan
Kepada adinda empunya bicara
Dinihari sekarang mengerahkan tentera
Mengepung kota sultan perwira
Supaya dianya ke luar segera
Jikalau tidak kita serkah
Negeri Barbari alahnya payah
Abdul Muluk bijak termegah
Akhirnya kita mendapat susah
Mendengarkan sembah adinda
Tersenyum bertitah duli baginda
Benarlah tuan seperti sabda
Demikian juga pikiran kakanda
Raja Ali Haji, seorang ulama dan sastrawan Melayu abad ke-19, dikenal sebagai pengarang besar yang bukan hanya menghasilkan karya keilmuan tetapi juga karya sastra yang sarat nilai moral dan politik. Syair Abdul Muluk merupakan salah satu karya terkenalnya yang menggambarkan perjalanan hidup tokoh Sultan Abdul Muluk, termasuk berbagai peristiwa penting dalam kerajaan Barbari.
"Syair Raja Hindustan Menyerang Barbari" adalah salah satu episode dramatik yang menggambarkan konflik politik dan militer antara Kerajaan Hindustan dan Barbari. Syair ini bukan hanya menghadirkan kisah peperangan, tetapi juga mencerminkan adat politik, nilai kepemimpinan, serta strategi peperangan yang berlaku dalam tradisi Melayu-Islam.
Syair ini menceritakan Sultan Hindustan, Syihabuddin, yang merasa malu karena dendam ayahnya kepada Sultan Abdul Hamid Syah (ayah Abdul Muluk) belum terbalaskan. Setelah mendengar bahwa Abdul Hamid wafat dan tahta diwarisi oleh Abdul Muluk yang masih muda, ia melihat kesempatan untuk menyerang Barbari.
Para wazir tua Hindustan menasihati agar penyerangan dilakukan sesuai adat, yaitu dengan mengirim surat pernyataan perang lebih dahulu. Namun, nasihat itu ditolak mentah-mentah; sang Sultan malah memarahi wazir tua dan menganggap mereka lemah. Ia lalu memutuskan untuk menyerang secara tiba-tiba, membakar dusun, merampas penduduk, dan membuat negeri gempar.
Sultan Abdul Muluk, meski masih muda, menerima kabar tersebut dengan tenang. Bersama wazir Mansur dan para hulubalang, ia mempersiapkan pasukan. Beberapa pertempuran terjadi: hulubalang Barbari yang gagah berani sempat mengamuk, tetapi akhirnya ditangkap. Wazir muda bernama Suka, meski baru berusia empat belas tahun, tampil berani memimpin perang. Namun, ia pun tertangkap dan dihukum oleh Sultan Hindustan.
Syair ditutup dengan keputusan Sultan Hindustan untuk mengepung kota Barbari, sementara Abdul Muluk terus menyusun strategi untuk mempertahankan negerinya.
Tema utama syair ini adalah konflik politik dan peperangan yang dilatarbelakangi oleh dendam lama antar kerajaan. Namun, di balik itu, syair juga menyingkap tema-tema penting lainnya, seperti:
"Syair Raja Hindustan Menyerang Barbari" bukan sekadar kisah peperangan, melainkan juga cermin nilai-nilai kepemimpinan, adat istiadat Melayu, serta pendidikan moral.
Raja Ali Haji dengan piawai menghadirkan tokoh-tokoh yang mewakili sifat-sifat manusia: yang sombong, yang bijak, yang berani, dan yang berhati-hati. Melalui syair ini, ia menegaskan bahwa kejayaan suatu negeri hanya dapat dipertahankan dengan kepemimpinan yang arif, keberanian yang terarah, serta kesetiaan rakyat yang dilandasi adab dan agama.