Puisi: Syair Raja Hindustan Menyerang Barbari (Karya Raja Ali Haji)

Syair Raja Hindustan Menyerang Barbari adalah salah satu episode dramatik yang menggambarkan konflik politik dan militer antara Kerajaan Hindustan ...

Syair Raja Hindustan Menyerang Barbari


Tersebutlah pula suatu perkataan
Sultan Hindi yang berdukaan
Senantiasa dengan percintaan
Karena malu belum terbalaskan

Adalah kepada suatu hari
Baginda semayam di balairung seri
Di hadap sekalian hulubalang menteri
Serta kedua saudara sendiri

Lalu bertitah duli baginda
Kepada kedua paduka adinda
Serta dengan menteri berida
Beberapa hulubalang yang muda-muda

Kepada Syamsuddin baginda bertitah
Kakanda mendengar khabarnya sudah
Akan Sultan Abdul Hamid Syah
Sudah kembali ke rahmatullah

Adapun yang menggantikan kerajaannya
Abdul Muluk nama anaknya
Tujuh belas tahun konon umurnya
Dua orang konon khabar isterinya

Adapun hajat beta nin tuan
Jikalau kiranya Allah sampaikan
Mamanda dahulu ayahnya penjarakan
Sekarang kepadanya kita balaskan

Kepada bicara kakanda sendiri
Adapun kita menyerang Barbari
Tak usah surut kita nin beri
Serbu saja masuk ke negeri

Jikalau kita berkirim surat
Pastilah ia bermusyawarat
Menghimpunkan segala hulubalang rakyat
Akhirnya kita mendapat mudarat

Mendengar titah sultan perwira
Berdatang sembah keduanya saudara
Serta wazir hulubalang tentara
Benarlah tuanku seperti bicara

Kata orang yang menceritakan
Adalah dua orang wazir pilihan
Wazir zaman ayahnya sultan
Umurnya tua sudahlah uban

Mendengarkan titah duli baginda
Diam berpikir wazir berida
Tiada berkenan di dalam dada
Berdatang sembah lakunya syahda

Mohonkan ampun yang kelimpahan
Adalah sedikit patik sembahkan
Jikalau dibenarkan tuanku dengarkan
Jikalau salah tuanku buangkan

Titah baginda raja bestari
Bagaimana pendapat mamanda menteri
Mamanda jangan takut dan ngeri
Supaya boleh kita dengari

Berdatang sembah keduanya perdana
Daulat tuanku duli yang gana
Pada pendapat patik yang hina
Bicara tuanku tiadalah kena

Adapun adat raja yang garang
Jikalau hendak pergi menyerang
Surat dahulu kepada orang
Tiada diterimanya baharulah perang

Jikalau seperti titah tuanku
Tidaklah patut demikian itu
Jikalau diperbuat juga begitu
Jadilah kita bermain tipu

Jikalau menyerang demikian peri
Bukannya adat raja yang bari
Itulah akal orang pencuri
Menantikan khilaf maka didatangi

Belumlah habis berdatang sembah
Baginda pun murka durja berubah
Warna mukanya seperti darah
Karena hatinya sangatlah marah

Sultan bertitah tiada memandang
Pergilah engkau keduanya pulang
Janganlah masuk bicara orang
Engkau nin tua akalmu kurang

Bicara baik manakan dapat
Umurmu tua akalmu singkat
Matamu kabur tiada melihat
Pulang ke rumah berbuat ibadat

Tercengang diam wazir yang pokta
Terkelip-kelip kelopak mata
Sepatah pun tidak lagi berkata
Pulanglah ia keduanya serta

Sudah kembali wazir keduanya
Sultan menitahkan segala pahlawannya
Mengerahkan sekalian laskar rakyatnya
Hadir dengan alat senjatanya

Hulubalang pahlawan laut dan darat
Disuruh berhimpun segera cepat
Serta raja-raja takluk yang dekat
Mana yang jauh dikirim surat

Dengan segera disuruhkan datang
Bawa serta alat berperang
Meriam berkereta panah senapang
Ikutlah sultan dari belakang

Tiada berapa lama antaranya
Hadirlah sudah kelengkapannya
Baginda pun memakai dengan sepertinya
Naik kuda dengan perhiasannya

Berangkatlah sultan raja yang syahda
Serta dengan keduanya adinda
Diiringkan menteri pahlawan biduanda
Ada yang berjalan ada yang berkuda

Angkatan besar tiada terperi
Berjalan menuju negeri Barbari
Selang antara beberapa hari
Sampailah sudah ke pinggir negeri

Dititahkan oleh duli baginda
Empat orang hulubalang berida
Pergi menghadap sultan muda
Membawa surat tulis perada

Adapun akan sultan Hindustan
Merampas membakar dusun sekalian
Anak bini orang dipertarikkan
Geger gempar tiada berketahuan 

Orang dusun habislah lari
Masing-masing membawa diri
Setengahnya masuk ke dalam negeri
Mendapatkan Mansur wazir jauhari

Abdul Muluk wajah gemilang
Sedang ramai dihadap orang
Penuh sesak menteri hulubalang
Penghulu dusun berlari datang

Berdatang sembah ke bawah duli
Mohonkan ampun mahkota negeri
Musuh besar datang ke mari
Khabarnya datang dari Hindi

Syihabuddin nama rajanya
Dari Hindustan konon datangnya
Sekalian dusun dibinasakannya
Ada yang dibakar ada yang dirampasnya

Tersenyum manis baginda sultan
Melihat amir sangat ketakutan
Tiadalah tentu kopiah dan serban
Entah pun di mana jatuh bertaburan

Lalu bertitah sultan yang muda
Kepada Mansur wazir berida
Serta sekaliannya menteri yang ada
Apakah kesalahan kita nin mamanda

Tiada mendengar khabar dan peri
Sekonyong musuh masuk ke negeri
Apakah bicara mamanda menteri
Baiklah mamanda suruh ke luari

Wazir Mansur berkata tentu
Sultan Hindi mengapa begitu
Suratnya haram barang suatu
Tiba-tiba datang hendak melutu

Mengapa begitu raja yang besar
Seperti bukan laki-laki pendekar
Suratnya haram barang secakar
Tiba-tiba datang merampas membakar

Baginda tengah bermusyawarat
Penunggu pintu datangnya cepat
Mengatakan ada hulubalang berempat
Hendak menghadap ke bawah hadirat

Mansur bersabda durja berseri
Suruhlah ia masuk ke mari
Penunggu pintu segera berlari
Titah dipanggil hulubalang wai mari

Hulubalang pun masuk keempatnya
Membawa surat dari tuannya
Kepada sultan dipersembahkannya
Disambut Mansur lalu dibacanya

Inilah surat sultan Hindi
Datang kepada sultan Barbari
Adapun aku datang ke mari
Hendak memiliki seisi negeri

Sebab pun aku berbuat demikian
Mamakku dahulu ayahmu penjarakan
Sekarang padamu aku balaskan
Baik-baik kamu bertahan

Jikalau engkau takutkan aku
Isterimu keduanya hantarkan kepadaku
Jikalau disalahi seperti kataku
Tahan olehmu bekas tanganku

Telah didengar paduka sultan
Bunyinya surat raja Hindustan
Terlalu sangat kasar perkataan
Baginda pun marah tiada tersebarkan

Sungguh tersenyum warna cemerlang
Mukanya merah gilang-gemilang
Laksana bunga raya yang kembang
Disinar matahari yang sedang rembang

Lalu bertitah sultan bestari
Hai hulubalang katakan kembali
Jikalau sekadar sultan Hindi
Tiadalah aku takut dan ngeri

Mendengarkan titah yang dipertuan
Segeralah pulang hulubalang pahlawan
Ke luar kota ia berjalan
Menuju khemah raja Hindustan

Abdul Muluk mahkota negeri
Setelah pulang hulubalang Hindi
Baginda musyawarat pikir dicari
Serta sekalian hulubalang menteri

Wazir Mansur lalu bersabda
Kepada menteri hulubalang yang muda
Baik berhadir sekalian adinda
Himpunkan laskar gajah dan kuda

Mendengar sembah wazir jauhari
Hulubalang pahlawan turun berlari
Mengerahkan laskar ke sana ke mari
Sambil menunjuk kanan dan kiri

Tidak berapa lena antara
Berhimpunlah laskar dengan segera
Penuh sesak pekan pasara
Berkibaran rupanya tunggul bendera

Beberapa raja-raja yang pilihan
Mana yang dekat datang sekalian
Penuh sesak di balai penghadapan
Mana yang jauh tiada bersempatan

Masing-masing berdatang sembah
Daulat tuanku duli khalifah
Patik sekalian hadirlah sudah
Apa juga titah perintah

Sultan bertitah seraya memandang
Suruhkan hulubalang pahlawan di padang
Sepuluh orang daripada hulubalang
Seribu laskar yang biasa berperang

Hulubalang di padang datanglah cepat
Tubuhnya hitam berkilat-kilat
Janggut dan misai terlalu lebat
Memberi dahsyat mana yang melihat

Serta datang mencium kaki
Berdatang sembah dengan sungguh hati
Patik yang hina hamba yang jati
Mengerjakan tuanku sehingga mati

Berkat daulat paduka ayahanda
Serta dengan paduka nenenda
Patik mengerjakan duli seri pada
Sehingga mati undur tiada

Abdul Muluk berkata perlahan
Halus manis barang kelakuan
Aku terimalah kasihmu sekalian
Kepada Allah engkau kuserahkan

Mendengar titah sultan putera
Pahlawan menyembah pergi bersegera
Diiringkan rakyat serta tentara
Gegak-gempita bunyi suara

Sampailah ke luar kota negeri
Terpandang kepada laskar Hindi
Banyak tiada lagi terperi
Gentar sedikit orang Barbari

Akan pahlawan laki-laki yang garang
Gagah berani sangat terbilang
Melihat laskar penuh dipasang
Usahkan gentar bertambah berang

Kedua pihak telah berhadapan
Sama menempuh beramuk-amukan
Hulubalang pahlawan berlompatan
Seperti harimau lepas tangkapan

Gemuruhlah bunyi tempik soraknya
Kedua pihak banyak matinya
Orang Barbari susah lakunya
Terlalu sangat banyak lawannya

Telah petang sudahlah hari
Pecahlah perangnya orang Barbari
Matinya banyak tiada terperi
Ada yang setengah undur dan lari

Demi dilihat pahlawan berida
Sangatlah marah di dalam dada
Melihatkan laskar banyak berbeda
Ia pun segera menggertakkan kuda

Seketika mengamuk bagai pahlawan
Banyaklah mati orang Hindustan
Menetakkan pedang kiri dan kanan
Seperti menebang kayu di hutan

Telah dilihat hulubalang Hindi
Akan kelakuan pahlawan Barbari
Marahnya tiada lagi terperi
Empat orang masuk menyerbukan diri

Hulubalang hampir keempatnya
Pahlawan Barbari segera ditangkapnya
Terlalu sangat teguh ikatnya
Pahlawan tak dapat berlepas dirinya

Setelah sudah tertangkap pahlawan
Dibawanya pulang ke tempat perhentikan
Kepada sultan dipersembahkan
Oleh baginda disuruh penjarakan

Adapun akan laskar Barbari
Mana yang hidup habislah lari
Masing-masing membawa diri
Ada yang setengah masuk ke negeri

Serta sampai ke balai penghadap
Hidmat menyembah sujud meniarap
Ampun tuanku yang patik harap
Pahlawan di padang sudah tertangkap

Baginda mendengar khabar yang demikian
Lalu bertitah paduka sultan
Kepada Mansur wazir pilihan
Siapa lagi kita suruhkan

Mansur berdatang sembah yang tentu
Terlalu hormat rupanya laku
Pahlawan di bukit baik tuanku
Ia pun banyak kaum dan suku

Mendengar sembah wazir terala
Pahlawan di bukit dititahkan pula
Ia pun suatu hulubalang kepala
Sedikit tak mau nama yang cela

Pahlawan pergi dengan laskarnya
Berperang dengan sungguh hatinya
Sampai kepada esok harinya
Pahlawan di bukit pecah perangnya

Orang yang mati tiada menderita
Pahlawan tertangkap sudahlah nyata
Laskar yang lari masuk ke kota
Persembahkan khabar ke bawah tahta

Abdul Muluk mendengarkan pekerti
Pahlawan kedua tewaslah pasti
Beberapa banyak hulubalang yang mati
Sultan pun panas rasanya hati

Bertitah kepada Mansur terbilang
Apakah bicara mamanda sekarang
Banyaklah mati laskar hulubalang
Barang yang keluar tiadalah pulang

Baiklah hadir mamanda Mansuri
Himpunkan laskar hulubalang menteri
Mana yang ada di dalam negeri
Beta nin hendak ke luar sendiri

Mansur pun tunduk diam seketika
Melihat anakanda lakunya murka
Merah padam warnanya muka
Akan menambahi manisnya juga

Seketika diam Mansur yang hebat
Bangkit ia menghampiri dekat
Beberapa pengajar dengan nasehat
Janganlah dahulu tuanku berangkat

Mendengarkan sembah wazir yang pokta
Tunduk berpikir duli mahkota
Bicara nin benar kepada cita
Baginda pun diam tiada berkata

Berdatang sembah seorang wazirnya
Empat belas tahun baharu umurnya
Wazir Suka konon namanya
Baharu digelar menggantikan bapanya

Berdatang sembah suaranya merdu
Mohonkan ampun di bawah cerpu
Jikalau ada izin duli tuanku
Patik mengeluari musuhnya itu

Mendengarkan titah wazir terbilang
Baginda tersenyum sambil memandang
Baginda bertitah berulang-ulang
Engkau nin belum patut berperang

Sembah wazir muda yang petah
Daulat tuanku duli khalifah
Janganlah demi kian tuanku bertitah
Seboleh-bolehnya patik mohonlah

Bertitah pula baginda sultan
Jikalau sudah dengan keredaan
Kepada Allah engkau kuserahkan
Ialah juga yang memeliharakan

Terlalu suka wazir yang muda
Sujud di kaki duli baginda
Bersalaman dengan menteri yang ada
Sekalian mendoakan di dalam dada

Ayuhai anakku muda teruna
Baik-baiklah jangan lena
Anakku mengerjakan duli yang gana
Nama laki-laki biarlah sempurna

Suka tertawa berkata ia
Berkat nabi saidul anbia
Serta berkat duli yang mulia
Luput daripada segala bahaya

Sudah berkata turun berjalan
Laskar tiga ribu hadir sekalian
Sepuluh orang hulubalang pilihan
Pergi bersama baginda titahkan

Naiklah kuda wazir yang pokta
Sedap manis dipandang mata
Terkembanglah payung batang bergenta
Terdirilah bendera kurnia mahkota

Sekalian hulubalang yang sertanya
Masing-masing naik kudanya
Serta dengan alat senjatanya
Berbagai-bagai jenis benderanya

Sekalian kelengkapan sudah terdiri
Laskar berbaris kanan dan kiri
Berjalan Suka wazir bestari
Ke luar dari dalam kota negeri

Telah dilihat orang Hindustan
Dari dalam kota ke luar angkatan
Ia pun segera bersaf-saf di medan
Masing-masing dengan ketumbukan

Wazir Suka muda yang garang
Serta sampai ke sisi padang
Tiada lagi mengikut perang
Lalu mengerahkan laskar hulubalang

Telah bertemu keduanya pihak
Lalu berperang riuh dan gegak
Parang-memarang tetak-menetak
Gemuruh bunyi tempik dan sorak

Adapun akan wazir yang cura
Pada hari itu belumlah bermara
Laskar Hindi banyaklah cedera
Matinya tidak lagi terkira

Sebab pun maka demikian peri
Keras amuknya orang Barbari
Berperang tidak ingatkan diri
Datang menerkam ke sana ke mari

Sungguh pun demikian hal perangnya
Orang Barbari tewas lakunya
Orang Hindi bertambah bantunya
Yang mati seratus seribu datangnya

Telah petang sudahlah hari
Banyaklah mati orang Barbari
Wazir yang mengamuk menterbukakan diri
Sedikit tidak takut dan ngeri

Adapun akan laskar Hindustan
Melihatkan amuk wazir pilihan
Tiada yang berani mara ke hadapan
Undurlah ia perlahan-lahan

Telah dilihat hulubalang Hindi
Akan kelakuan wazir Barbari
Mengamuk tiada sadarkan diri
Sedikit tidak takut dan ngeri

Marahnya Hindi bukan kepalang
Kepada tolannya ia memandang
Sambil berkata berulang-ulang
Kanak-kanak ini sangat terbilang

Sedang kecil lagikan sekian
Tiada sekali membilang lawan
Baiklah tangkap nin ia tuan
Kepada baginda kita sembahkan

Telah sudah berura-ura
Hulubalang menggertak kudanya segera
Empat orang sama setara
Mendapatkan Suka wazir perwira

Berkata hulubalang yang pilihan
Ayuhai anakku muda pahlawan
Marilah menghadap raja Hindustan
Baginda nin banyak buah-buahan

Telah didengar wazir yang pokta
Terlalu amarah di dalam cita
Hulubalang keempat dihampiri serta
Janganlah kamu berbanyak kata

Wazir Suka sudah diikatnya
Dibawanya menghadap kepada sultannya
Baginda pun melihat sangat sukanya
Kanak-kanak nin sangat besar hawanya

Akan titah duli yang dipertuan
Palu belakangnya dengan rotan
Seratus kali jangan dikurangkan
Demikianlah hukumnya diderakan

Seratus kali cukuplah sudah
Lalu dipenjarakan Suka yang petah
Raja Hindi hatinya sukalah
Makan dan minum riuh rendah

Lalu bertitah raja mahkota
Kepada Syamsuddin muda yang pokta
Esoklah kita melanggar kota
Menteri hulubalang sekalian rata

Sembah Syamsuddin dengan sempurna
Benarlah titah duli yang gana
Pekerjaan ini tak boleh lena
Akhirnya kita juga terkena

Adapun akan Negeri Barbari
Taklunya banyak beberapa negeri
Sementara belum berhimpun ke mari
Baiklah segera kita langgari

Apabila sudah berhimpun sekalian
Hampirlah kita pada kekalahan
Abdul Muluk arif pahlawan
Gagah berani sukar dilawan

Kepada adinda empunya bicara
Dinihari sekarang mengerahkan tentera
Mengepung kota sultan perwira
Supaya dianya ke luar segera

Jikalau tidak kita serkah
Negeri Barbari alahnya payah
Abdul Muluk bijak termegah
Akhirnya kita mendapat susah

Mendengarkan sembah adinda
Tersenyum bertitah duli baginda
Benarlah tuan seperti sabda
Demikian juga pikiran kakanda

Sumber: Syair Abdul Muluk (1847)

Analisis Puisi:

Raja Ali Haji, seorang ulama dan sastrawan Melayu abad ke-19, dikenal sebagai pengarang besar yang bukan hanya menghasilkan karya keilmuan tetapi juga karya sastra yang sarat nilai moral dan politik. Syair Abdul Muluk merupakan salah satu karya terkenalnya yang menggambarkan perjalanan hidup tokoh Sultan Abdul Muluk, termasuk berbagai peristiwa penting dalam kerajaan Barbari.

"Syair Raja Hindustan Menyerang Barbari" adalah salah satu episode dramatik yang menggambarkan konflik politik dan militer antara Kerajaan Hindustan dan Barbari. Syair ini bukan hanya menghadirkan kisah peperangan, tetapi juga mencerminkan adat politik, nilai kepemimpinan, serta strategi peperangan yang berlaku dalam tradisi Melayu-Islam.

Ringkasan Isi Syair

Syair ini menceritakan Sultan Hindustan, Syihabuddin, yang merasa malu karena dendam ayahnya kepada Sultan Abdul Hamid Syah (ayah Abdul Muluk) belum terbalaskan. Setelah mendengar bahwa Abdul Hamid wafat dan tahta diwarisi oleh Abdul Muluk yang masih muda, ia melihat kesempatan untuk menyerang Barbari.

Para wazir tua Hindustan menasihati agar penyerangan dilakukan sesuai adat, yaitu dengan mengirim surat pernyataan perang lebih dahulu. Namun, nasihat itu ditolak mentah-mentah; sang Sultan malah memarahi wazir tua dan menganggap mereka lemah. Ia lalu memutuskan untuk menyerang secara tiba-tiba, membakar dusun, merampas penduduk, dan membuat negeri gempar.

Sultan Abdul Muluk, meski masih muda, menerima kabar tersebut dengan tenang. Bersama wazir Mansur dan para hulubalang, ia mempersiapkan pasukan. Beberapa pertempuran terjadi: hulubalang Barbari yang gagah berani sempat mengamuk, tetapi akhirnya ditangkap. Wazir muda bernama Suka, meski baru berusia empat belas tahun, tampil berani memimpin perang. Namun, ia pun tertangkap dan dihukum oleh Sultan Hindustan.

Syair ditutup dengan keputusan Sultan Hindustan untuk mengepung kota Barbari, sementara Abdul Muluk terus menyusun strategi untuk mempertahankan negerinya.

Tema

Tema utama syair ini adalah konflik politik dan peperangan yang dilatarbelakangi oleh dendam lama antar kerajaan. Namun, di balik itu, syair juga menyingkap tema-tema penting lainnya, seperti:

  • Kebijaksanaan vs keangkuhan: Sultan Hindustan digambarkan sombong dan tidak menghargai nasihat, sementara Abdul Muluk tenang dan bermusyawarah.
  • Keberanian generasi muda: munculnya wazir muda Suka menunjukkan peran penting pemuda dalam mempertahankan negeri.
  • Adat kepemimpinan Melayu: perang seharusnya dilakukan dengan cara terhormat, bukan secara curang.

Nilai Moral dan Pendidikan

Syair ini sarat dengan pesan moral, antara lain:

  • Nasihat orang tua harus dihargai – wazir tua memberi petuah bijak, tetapi ditolak Sultan Hindustan, yang akhirnya menjerumuskan pasukannya ke dalam kesombongan.
  • Pemimpin sejati bijak bermusyawarah – Abdul Muluk selalu mendengar pendapat wazir dan hulubalangnya sebelum bertindak.
  • Keberanian harus diiringi kebijaksanaan – meskipun wazir muda Suka gagah berani, tetapi ketergesaannya berakhir dengan penangkapan.
  • Perang tidak hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga adab – adat Melayu menekankan pentingnya mengirim surat tantangan sebelum perang.

Adat dan Budaya Melayu

Syair ini mencerminkan adat politik Melayu:

  • Musyawarah dalam kerajaan – sebelum bertindak, seorang sultan wajib mendengar wazir dan menterinya.
  • Adat peperangan – perang harus didahului dengan surat sebagai tanda kehormatan, bukan dengan serangan mendadak.
  • Kesetiaan rakyat kepada raja – rakyat Barbari digambarkan rela berkorban demi sultan mereka.
  • Kedudukan wazir – wazir berperan penting sebagai penasihat, bahkan yang muda sekali pun diberi ruang untuk membuktikan diri.

Gaya Bahas

  • Menggunakan bentuk syair empat baris berima a-a-a-a, khas karya Melayu klasik.
  • Kaya dengan ungkapan perasaan dan emosi: misalnya wajah merah "seperti bunga raya kembang" untuk menggambarkan kemarahan Abdul Muluk.
  • Banyak perbandingan dan simbolisme alam: peperangan diibaratkan harimau lepas dari tangkapan, menegaskan keganasan pertempuran.

Simbolisme

  • Wazir tua Hindustan → simbol kebijaksanaan yang diabaikan.
  • Wazir muda Suka → simbol keberanian pemuda, meski masih penuh risiko.
  • Serangan mendadak Hindustan → simbol keserakahan dan keangkuhan penguasa.
  • Keteguhan Abdul Muluk → simbol kepemimpinan ideal: muda, bijak, berani, dan adil.

Relevansi Kontemporer

Syair ini meski berasal dari abad ke-19, tetap relevan untuk dibaca saat ini:

  • Mengingatkan pentingnya kepemimpinan yang bermusyawarah dalam politik modern.
  • Memberi teladan bahwa nasihat orang tua dan pengalaman senior tetap berharga dalam pengambilan keputusan.
  • Menunjukkan bahwa generasi muda harus berani tampil, tetapi juga perlu dibekali kebijaksanaan.
  • Mengajarkan bahwa konflik harus diselesaikan secara terhormat, bukan dengan tipu daya.

"Syair Raja Hindustan Menyerang Barbari" bukan sekadar kisah peperangan, melainkan juga cermin nilai-nilai kepemimpinan, adat istiadat Melayu, serta pendidikan moral.

Raja Ali Haji dengan piawai menghadirkan tokoh-tokoh yang mewakili sifat-sifat manusia: yang sombong, yang bijak, yang berani, dan yang berhati-hati. Melalui syair ini, ia menegaskan bahwa kejayaan suatu negeri hanya dapat dipertahankan dengan kepemimpinan yang arif, keberanian yang terarah, serta kesetiaan rakyat yang dilandasi adab dan agama.

Raja Ali Haji
Puisi: Syair Raja Hindustan Menyerang Barbari
Karya: Raja Ali Haji

Biodata Penulis:

Raja Ali Haji (nama pena dari Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad) adalah seorang ulama, sekaligus pujangga abad 19 keturunan Bugis dan Melayu.

© Sepenuhnya. All rights reserved.