Arsip dan naskah kuno sejatinya termasuk dalam sumber primer sejarah yang sangat menentukan keberhasilan produk historiografi Indonesia. Namun, keberhasilan itu menghadapi tantangan baru dengan adanya perubahan perspektif dari Indonesiasentris yang condong ke kolonialsentris karena dominannya penggunaan arsip kolonial daripada naskah Indonesia. Sejarah Indonesia yang seharusnya ditulis dengan sumber-sumber asli Indonesia malah kini lebih dominan ditulis dengan sumber-sumber dari pihak kolonial. Artikel ini bertujuan mengkritisi mana yang lebih dominan antara arsip dan naskah lokal dalam penggunaannya untuk merekonstruksi sejarah Indonesia. Tulisan ini juga bertujuan membuktikan bagian dari warisan budaya dan keagamaan masyarakat Minangkabau. Surau tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan Islam tradisional. Di sana, generasi muda dibina untuk memahami Al-Qur’an, ilmu fiqih, tasawuf, serta pembentukan akhlak.
Pada hari Selasa saat siang hari kami menjumpai sebuah surau tua, bernama Surau Baru, di Kecamatan Pauh, Kota Padang. Kami bersama-sama mendatangi surau tua tersebut dan memijakkan kaki dengan langkah yang berbunyi dikarenakan lantainya terbuat dari papan kayu. Di dalam Surau Baru itu tersimpan naskah kuno berusia lebih dari 150 tahun, ditulis tangan oleh Syekh Muhammad Thaib sepulangnya dari menuntut ilmu di Arab. Saat membuka lembarannya, aroma kertas Eropa yang tua bercampur dengan keindahan hiasan iluminasi, rubrikasi merah, dan watermark yang menyerupai lebah. Naskah itu berisi ilmu fiqih tentang salat, puasa, pujian kepada Allah dan Rasul, hingga tata cara ziarah bagi laki-laki dan perempuan. Meski usianya sudah berabad, pesan yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan relevan bagi kehidupan kita hari ini.
Surau dan naskah penting untuk dikaji karena keduanya merupakan bagian dari warisan budaya dan keagamaan masyarakat Minangkabau. Surau tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan Islam tradisional. Di sana, generasi muda dibina untuk memahami Al-Qur’an, ilmu fiqih, tasawuf, serta pembentukan akhlak. Kajian terhadap surau membantu kita melihat bagaimana Islam ditanamkan secara turun-temurun melalui lembaga sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Naskah yang ditulis oleh ulama seperti Muhammad Syekh Thaib juga memiliki peran penting. Isinya mencakup ajaran-ajaran pokok Islam seperti salat, puasa, tata cara ziarah, serta puji-pujian kepada Allah dan Rasul. Naskah ini bukan hanya teks keagamaan, tetapi juga bukti perjalanan intelektual seorang ulama yang pernah menimba ilmu di Arab lalu menyebarkannya ke Indonesia. Dengan demikian, naskah tersebut dapat menjadi sumber autentik untuk memahami bagaimana ajaran Islam dipraktikkan dan berkembang di Minangkabau.
Selain itu, isi naskah maupun peran surau masih relevan dengan kehidupan umat Islam masa kini. Ajaran di dalamnya tetap menjadi pedoman ibadah, sementara surau tetap menjadi ruang pembelajaran dan pengamalan ilmu agama. Oleh karena itu, mengkaji surau dan naskah tidak hanya berarti melestarikan warisan budaya, tetapi juga memperkuat identitas keislaman yang hidup dalam masyarakat Minangkabau hingga sekarang.
Sebanyak sejumlah 10 mahasiswa dan mahasiswi program studi Sastra Indonesia yang didampingi asisten dosen yang bernama Novri berkunjung ke Surau di Kecamatan Pauh, Padang, tepatnya di Jalan Muhammad Hatta Nomor 5, Kelurahan Cupak Tangah. Di sana, mereka disambut dengan penjelasan mengenai koleksi berharga berupa naskah kuno, kitab khawaqib tentang ilmu alat, sebuah tongkat peninggalan zaman Belanda, serta mushaf Al-Qur’an lama.
Mahasiswa kemudian diajak mendekati naskah yang berusia lebih dari 150 tahun itu. Tulisan tangannya masih sangat jelas terbaca, menggunakan kertas Eropa, dilengkapi rubrikasi merah, iluminasi bingkai kecil, serta watermark berbentuk lebah. Dari penjelasan pengurus, diketahui bahwa isi naskah mencakup ilmu fiqih tentang salat, puasa, pujian kepada Allah dan Rasul, hingga tata cara ziarah bagi laki-laki maupun perempuan. Naskah ini ditulis oleh Syekh Muhammad Thaib, seorang ulama Minangkabau yang pernah menuntut ilmu di Arab.
Suasana semakin hidup ketika mahasiswa menyadari bahwa surau ini dahulu, sekitar tahun 1910, pernah dijadikan tempat musyawarah tokoh adat dan masyarakat. “Melihat langsung naskah kuno ini membuat saya merasa seakan tersambung dengan sejarah panjang keislaman Minangkabau,” ungkap salah seorang mahasiswa dengan penuh rasa takjub.
Melalui penelitian lapangan sederhana ini, mahasiswa mencoba melihat huruf Arab-Melayu di atas kertas rapuh yaitu terbuat dari kertas Eropa. Saya dan teman-teman mencatat perbedaan ejaan, tinta yang mulai memudar, hingga isi teks yang berisi ilmu fiqih, yaitu salat dan puasa serta pujian-pujian kepada Allah dan Rasul temuan populer naskah ini sangat dikenal, disukai, dan diterima oleh banyak orang atau masyarakat umum.
Saat melihat naskah kuno, terdapat juga temuan lain, yaitu tongkat yang sudah berumur lama, bahkan tongkat ini sudah ada sebelum jaman Belanda. selain itu, saya dan teman-teman juga menemukan kitab Kawakib beserta Al-Qur'an lama. Dari sini, mahasiswa belajar bahwa kritik teks bukan hanya tentang membaca huruf, tetapi juga tentang merawat ingatan kolektif masyarakat.
Naskah kuno karya Syekh Muhammad Thaib yang ditulis lebih dari 150 tahun lalu memiliki nilai penting sebagai jejak sejarah keagamaan dan intelektual masyarakat Minangkabau. Isinya mencakup ilmu fikih tentang salat, puasa, tata cara ziarah, serta puji-pujian kepada Allah dan Rasul yang hingga kini tetap relevan bagi kehidupan umat Islam. Naskah tersebut bukan sekadar teks, melainkan bukti nyata perjalanan ilmu dari Timur Tengah ke Nusantara, karena dibawa langsung oleh penulisnya setelah menuntut ilmu di Arab. Bahkan detail kecil seperti watermark berbentuk lebah pada kertas Eropa menjadi bukti otentik bahwa manuskrip ini menyimpan nilai budaya, sejarah, dan spiritual yang tidak ternilai.
Namun, merawat naskah kuno bukan perkara mudah. Tinta yang mulai memudar, kertas yang rapuh, serta bau khas buku lama menjadi tanda bahwa manuskrip ini menghadapi tantangan pelestarian. Apalagi, naskah tersebut hanya disimpan dalam kotak kayu atau ditutup kain putih di atas meja, tanpa perlindungan modern dari kelembaban, debu, dan serangga. Kondisi ini membuat perawatannya membutuhkan perhatian khusus, mulai dari pengaturan suhu hingga penyimpanan di ruang arsip yang layak. Jika tidak, warisan berharga ini bisa rusak dan hilang, padahal di dalamnya tersimpan pengetahuan serta identitas sejarah yang penting bagi generasi mendatang.
Kunjungan ke surau dan naskah kuno memberi mahasiswa pengalaman nyata untuk memahami warisan sejarah, budaya, dan keilmuan Islam yang tidak hanya terbaca di buku, tetapi juga bisa dilihat dan dirasakan langsung. Dari kegiatan ini, mahasiswa belajar pentingnya menghargai peninggalan ulama sekaligus menyadari tantangan dalam merawatnya. Harapannya, kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut agar semakin banyak generasi muda yang terlibat dalam pelestarian naskah kuno. Sebab, menjaga warisan leluhur berarti menjaga cahaya pengetahuan yang akan terus menerangi masa depan.
Daftar Referensi
- Mulyanto, H. (2022). Penggunaan naskah kuno dan arsip dalam historiografi Indonesia: Suatu tinjauan kritis. https://share.google/gfOIXDbCk3vufKthX
Biodata Penulis:
Ara Belia Rhamadani, perempuan kelahiran Padang, pada 23 Oktober 2005. Ia merupakan seseorang mahasiswi aktif jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Penulis bisa disapa di Instagram @ararhamadani_