Di Minangkabau, keberadaan sebuah surau tidak hanya dijadikan sebagai tempat ibadah, dan mempelajari ilmu-ilmu tentang Islam. Namun, juga dijadikan sebagai sarana pendidikan karakter untuk nagari (desa) yang dikemas melalui berbagai macam kegiatan positif. Surau sangat melekat dengan budaya masyarakat Sumatera Barat. Hal ini tergambar dalam kehidupan masyarakatnya, di mana setiap nagari ada masjid dan setiap kampung serta kaum mempunyai surau. Surau sepintas dapat dilihat seperti musala tempat melakukan ibadah dan kegiatan-kegiatan keagamaan.
Semenjak awal pertumbuhannya, surau turut memberikan andil yang sangat besar dalam penyiaran agama Islam, surau muncul dan bertebaran di seluruh pelosok nagari Minangkabau, sehingga surau menjadi sebuah lembaga pribumi yang telah menjadi pusat pengajaran Islam yang menonjol. Surau dalam sistem adat Minangkabau didirikan oleh suatu kaum tertentu sebagai bangunan pelengkap rumah gadang, tempat keluarga yang saparuik (berasal dari satu keturunan) berdiam. Biasanya dibangun di atas tanah matrilineal atau disebut dengan tanah ulayat yang disediakan nagari, atau tanah wakaf yang diberikan penduduk desa. Surau merupakan lembaga pendidikan tertua di Minangkabau.
Dalam fungsinya yang terakhir, surau pernah menjadi institusi penting dalam proses transmisi berbagai pengetahuan Islam. Di surau itulah para ulama dari masing-masing kubu membangun jaringan guru-murid sehingga tercipta hubungan Islam yang kompleks dan memberikan gambaran bahwa surau bukan hanya dijadikan sebagai tempat belajar Al-Qur’an melainkan sebagai pusat cendekiawan. Di antara ratusan surau yang ada di Minangkabau, beberapa surau yang ada di kota Padang adalah Surau Baru, Surau Paseban, Surau Piai dan Surau Tarok, yang memberikan andil besar dalam menghasilkan ulama dan proses transformasi ilmu-ilmu keagamaan terutama di kota Padang.
Berada di kawasan pinggiran Kota Padang, sebuah Masjid kayu berumur ratusan tahun dengan nama Surau Tarok masih kokoh berdiri hingga saat ini. Masjid yang didirikan sejak Tahun 1872 tersebut masih digunakan warga untuk melaksanakan ibadah salat dan mengaji. Inilah Surau Tarok yang berada di kawasan pinggiran Kota Padang, tepatnya di Jalan Tarok Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji Kota Padang.
Surau yang berdiri di atas tanah yang memiliki luas tanah 500 persegi ini masih tampak kokoh berdiri hingga saat ini. Meski telah berumur lebih kurang 142 Tahun, Surau Tarok ini masih digunakan warga setempat untuk melakukan ibadah salat dan mengaji. Surau Tarok ini memiliki struktur atap bergonjong dengan ukiran adat Minang selayaknya dengan rumah gadang yang menjadi ciri khas bangunan rumah di Provinsi Sumatera Barat dahulunya. Surau ini memiliki struktur bangunan yang unik dengan 12 kayu tiang penyanggahnya yang bengkok. Ada segitiga di bawah runcing gonjong yang dinamakan singkok. Dinding surau berwarna kuning, namun setinggi 1 meter dari tanah diberi warna hijau muda. Bangunan ini memiliki enam jendela yang tersebar di keempat sisi bangunan. Tangganya terbuat dari keramik sehingga kelihatan lebih elegan dan bersih.
Keunikan surau ini dibanding dengan surau lain di daerahnya dapat dilihat dari beberapa sisi, yakni: Pertama struktur bangunannya yang masih mempertahankan gaya arsitektur Minangkabau. Kedua, Surau Tarok sebagai salah satu pusat pengembangan ilmu-ilmu keislaman di kota Padang. Ketiga, terdapat beberapa naskah klasik hasil karya ulama-ulama dahulu. Sebagai lembaga yang hadir dalam perkembangan Islam di kota Padang dan memiliki nilai historis.
Salah seorang warga Tarok, Hidruk Aswat mengatakan, bengkoknya tiang-tiang penyanggah surau tersebut sebagai bukti keahlian tukang kayu dahulunya yang bisa memanfaatkan kondisi alam yang menyediakan kayu yang tidak lurus, untuk digunakan mendirikan sebuah bangunan. Pada zamannya, Surau Tarok ini selain berfungsi sebagai tempat ibadah dan menuntut ilmu agama Islam, juga sering digunakan sebagai tempat kerapatan adat dan di halaman surau dijadikan tempat berlatih silat anak nagari setempat. Agar bangunan Surau Tarok tetap kokoh, bagian bawah lantai surau dilakukan pengerasan. Surau Tarok hingga kini kurang mendapat perhatian dalam penelitian-penelitian ilmiah. Sehingga eksistensinya tidak begitu kelihatan dalam studi keislaman di kota Padang, padahal fungsinya dalam perkembangan Islam di kota Padang pada masa lalu sangat besar.
Keberadaan Surau Tarok di Kuranji, Kota Padang, bukan hanya menyimpan nilai historis semata, tetapi juga menjadi bukti nyata bagaimana warisan budaya, arsitektur, dan perkembangan keislaman di Minangkabau terjaga hingga kini. Meski berusia lebih dari seabad, bangunan kayu ini masih berdiri kokoh dan terus difungsikan sebagai pusat ibadah, pembelajaran agama, sekaligus aktivitas sosial kemasyarakatan. Keunikan struktur bangunan, peranannya dalam pendidikan Islam, serta nilai adat yang melekat menjadikan Surau Tarok sebagai salah satu peninggalan berharga yang layak mendapat perhatian lebih dalam kajian ilmiah maupun pelestarian budaya. Dengan demikian, Surau Tarok tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga simbol ketahanan dan keberlanjutan tradisi Islam di Kota Padang.
Daftar Referensi
- Saputra, I. I. (2019). Studi tentang transformasi ilmu-ilmu keagamaan di Kota Padang (Studi tentang sejarah Surau Tarok Simpang Tui Kuranji Kota Padang) [Skripsi, Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang]. Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Imam Bonjol Padang.
- Yusfita, R. D. (2019, Mei 6). Mengenal surau tertua di Kota Padang, Surau Tarok masih berdiri kokoh meski sudah berusia 1,5 abad. Tribunnews.com.
- TVRI Sumatera Barat. (n.d.). Artikel berita tentang Surau Tarok Kuranji: Lokasi, arsitektur unik, dan fungsi sosial masyarakat. TVRI Sumatera Barat.
Biodata Penulis:
Tesa Maika Putri lahir pada tanggal 25 Mei 2005 di Pesisir Selatan. Saat ini ia aktif sebagai mahasiswi jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, di Universitas Andalas.