Surau Baru: Identitas Minangkabau yang Terlupakan

Ikuti jejak mahasiswa menelusuri Surau Baru di Minangkabau, tempat tersimpannya naskah kuno berusia ratusan tahun. Temukan warisan fiqih, sejarah, ...

Jejak kaki mahasiswa terdengar di lantai-lantai surau itu. Saat kaki melangkah ke dalam surau itu, terlihat oleh indra penglihatan betapa luasnya surau itu. Terlihat setumpuk naskah di atas lemari kecil yang ditutupi oleh seikat kain lusuh. Ketika dibuka, terlihat naskah-naskah yang lusuh dan rapuh itu. Itulah rahasia Minangkabau yang tersimpan erat di dalam Surau Baru.

Gambar Surau Baru
Gambar Surau Baru

Di tanah Minangkabau, surau sudah ada semenjak agama Hindu-Buddha datang ke Nusantara. Surau digunakan sebagai tempat pemujaan arwah nenek moyang dan tempat para anak muda berbagi ilmu pengetahuan. Masuknya Islam ke Minangkabau mengubah surau menjadi tempat beribadah umat Islam sekaligus tempat belajar berkat jasa Syekh Burhanuddin dari Ulakan, Pariaman. Di bawah bimbingan Syekh Abdurra'uf Singkil dari Aceh, Syekh Burhanuddin berhasil mengubah surau menjadi tempat para pemuda dari seluruh tanah Minangkabau untuk menuntut ilmu (Suryani, Syahfitri, Tryana, Rangkuti, & Khairiyyahni dalam Lativa Husna, 2024).

Selain menjadi tempat belajar dan menuntut ilmu, surau menjadi tempat disimpannya naskah-naskah kuno sebagai bukti besarnya minat para pemuda di Minangkabau dalam menuntut ilmu. Namun seiring perkembangan zaman, naskah-naskah itu mulai terabaikan dan hanya dijadikan sebagai pajangan sehingga membuat naskah-naskah itu rusak. Oleh karena itu, diperlukan sebuah metode untuk mempelajari isi dari naskah-naskah tersebut.

Dalam upaya untuk mengetahui isi naskah-naskah kuno, diperlukan berbagai tahapan untuk menganalisis naskah tersebut. Salah satu tahapan terpenting yaitu kritik teks. Kritik teks merupakan tahapan terpenting dalam memahami isi naskah secara mendalam. Dengan menggunakan kritik teks, naskah-naskah yang notabene ditulis menggunakan aksara Jawi bisa dipahami oleh khalayak umum (Pramono, 2025, hal. 332).

Pada hari Senin 1 September 2025, sebanyak 10 mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas berkunjung ke Surau Baru yang berlokasi di Jalan Surau Baru, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Zahar Malik, pengurus sekaligus imam Surau Baru. Setelah masuk ke Surau, para mahasiswa diarahkan ke tumpukan naskah kuno yang ditutupi oleh kain dan diletakkan di atas lemari kecil. Para mahasiswa kagum karena baru pertama kali melihat naskah kuno secara langsung. “Jadi begini yah naskah kuno itu,” ujar Afny, salah satu mahasiswi.

Mahasiswa-mahasiswa di sana melakukan wawancara terhadap Zahar Malik dan keluarganya yang tinggal di Surau Baru. Selain itu, mereka juga melakukan observasi di sekitar Surau itu dan menemukan kuburan, sungai, dan kolam ikan yang berisi ikan Nila. Dari hasil wawancara dan observasi, diketahui bahwa naskah-naskah di Surau Baru berusia 180 tahun yang dibawa oleh Syekh Muhammad Thaib Umar (1874-1920) setelah menuntut ilmu di kota Mekkah, Arab Saudi. Setelah itu, Syekh Thaib mendirikan Surau Baru pada tahun 1920. Kertas naskah-naskah yang dibawa Syekh Muhammad Thaib Umar berasal dari Eropa dan membahas tentang fiqih.

Sayangnya semenjak Syekh Muhammad Thaib Umar wafat, tidak ada yang tahu pasti apa yang tertulis di setiap huruf naskah-naskah itu. Zahar Malik, pengurus Surau Baru hanya mengetahui bahwa hal utama yang dibahas naskah-naskah itu adalah fiqih. Karena itu, kritik teks dibutuhkan agar naskah-naskah itu bisa dibaca kembali. Kritik teks merupakan tahapan penting dalam penelitian filologis, yaitu menerjemahkan dan mentransliterasikan naskah untuk mengetahui konteks dari teks tersebut dengan tepat. (Nofrizal, N., & Yudha, G, 2021).

Melalui kritik teks, mahasiswa belajar mencoba menerjemahkan dan mentransliterasikan tulisan Arab-Melayu yang pada naskah-naskah yang rapuh tersebut, dimulai dari mencatat perbedaan ejaan, tinta yang mulai memudar, huruf berwarna merah pada naskah, dan mengaitkan penjelasan Zahar Malik dengan isi dari naskah-naskah tersebut. Kegiatan ini mengajarkan mahasiswa untuk merawat dan menjaga ingatan kolektif masyarakat.

Naskah-naskah di Surau Baru menjelaskan tentang fiqih, yaitu membahas tentang salat dan puasa yang akan tetap relevan bagi umat Islam di setiap generasi dan zaman. Sayangnya naskah-naskah ini memiliki kondisi yang kurang baik. Beberapa naskah memiliki kondisi kertas yang sobek yang parah. Tinta-tinta dalam naskah ini juga sudah dalam kondisi memudar. Selain itu, naskah-naskah ini juga hanya dibaluti kain dan diletakkan di atas meja sehingga mempercepat kerusakan naskah-naskah tersebut.

Oleh karena itu, kepedulian masyarakat harus ditingkatkan mengenai pentingnya menjaga peninggalan leluhur mereka. Selain itu, pemerintah juga harus bertindak untuk melestarikan naskah-naskah ini. Dengan demikian, warisan yang ada dalam naskah-naskah tersebut tetap bisa dibaca dan disampaikan ke generasi mendatang

Kunjungan mahasiswa ke Surau Baru menjadi pembelajaran untuk tidak hanya belajar secara teoritis saja, namun juga ikut berpartisipasi dalam melestarikan peninggalan leluhur. Kegiatan seperti ini harus selalu dilakukan oleh generasi sekarang untuk memunculkan rasa kepedulian terhadap naskah-naskah ini. Melalui naskah-naskah di Surau Baru ini, kita tidak hanya diajak untuk menelusuri masa lalu, namun juga melestarikan identitas bangsa.

Daftar Referensi:

  • Husna, L. (2024). Dampak pemudaran fungsi surau di Minangkabau. Maliki Interdisciplinary Journal, 2(8), 284.
  • Nofrizal, N., & Yudha, G. (2021). Nasihat-nasihat Kehidupan: Kajian Filologis dan Hermeneutika terhadap Naskah Nazam Nasihat Kehidupan. Journal Tapis: Journal Teropong Aspirasi Politik Islam, 17(2), 99-115.
  • Pramono, P. (2018). Potensi Naskah-Naskah Islam Minangkabau untuk Industri Kreatif sebagai Pendukung Wisata Religi Ziarah di Sumatera Barat. IBDA: Jurnal Kajian Islam dan Budaya, 16(2), 332.

Muhammad Zakwan Rizaldi

Biodata Penulis:

Muhammad Zakwan Rizaldi, atau kerap disapa Zakwan, adalah mahasiswa aktif Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Pemuda asal Bengkalis ini juga aktif di UKMF Labor Penulisan Kreatif dan telah menerbitkan berbagai artikel di Scientia Indonesia. Penulis bisa disapa melalui akun Instagram @zakwan_rizaldi

© Sepenuhnya. All rights reserved.