Berat yang Tak Terlihat

Pernah merasa lelah hingga ingin menyerah? Baca kisah santri ini dan temukan bagaimana keikhlasan serta iman menuntunnya bangkit kembali.

Oleh Arina Fitriya Azhari

Ada masa dalam hidup, ketika kita merasa menanggung sesuatu yang tidak terlihat. Bukan barang, bukan pula beban fisik, tetapi entah itu apa, yang pasti itu sangat berat.

Aku merasakannya… berat… bahkan sangat berat. Rasanya aku tidak ingin hidup dengan semua hal ini. Aku lelah.

Kejadian ini di mulai, saat hari pertama aku ditinggal oleh sahabat karibku ke salah satu negara di Asia Tenggara, yaitu Singapura. Ia merupakan teman sekelasku, teman prodiku, teman susahku, senangku, partner setoranku dan juga teman satu divisi ketahfidhan di salah satu pondok tempat tinggal kami saat ini.

Ya… benar, aku ditinggal. Sakit sekali rasanya, bukan? Seseorang yang hampir setiap hari bersamamu, tiba-tiba pergi. Namun, sebenarnya bukan itu inti dari permasalahanku.

Berat yang Tak Terlihat

Aku merupakan salah satu anggota divisi ketahfidhan di pondok pesantren. Tapi untuk saat ini, aku adalah satu-satunya anggota yang tersisa. Kenapa? Karena semua anggota lain sedang berangkat PKL. Sedangkan aku… tinggal di sini seorang diri. Ya, nyesek sekali, bukan?

Dalam kesendirianku menjalani amanah ini, hanya satu kata yang bisa kuucapkan: berat.

Amanah yang seharusnya dipikul empat orang dengan berbagai program kerja, kini harus kutanggung sendiri.

Haaa… helaan napas yang terasa begitu dalam dan berarti. Apalagi aku teringat pesan saat diklat pengurus dulu: Bagian ketahfidhan itu bagaikan jantung pondok. Kalau jantungnya tidak ada, bagaimana pondok bisa hidup?

Berat, bukan? Apalagi dengan posisiku sekarang sebagai satu-satunya anggota ketahfidhan yang tersisa.

Belum juga selesai menata hati karena ditinggal sahabat dan rekan divisi, tiba-tiba datang amanah baru. Aku diminta menjadi panitia bagian co acara sekaligus bagian upacara Agustusan yang mencakup empat agenda besar: rihlah, ziarah, upacara 17 Agustus, dan pentas seni.

Haaah… rasanya kepalaku mau pecah. Tubuhku pun seperti menolak untuk bangkit. Kenapa semuanya dilimpahkan padaku? Geram sekali rasanya.

Hari-hari kujalani, seperti orang pada umumnya. Mungkin hanya bertambah beban, beban di pundak yang tak terlihat. Bercerita kembali tentang masa itu pun terasa berat.

Ya Allah… izinkan hamba menyelesaikan tulisan ini.

Pernah suatu hari aku bertanya dalam hati. Halo! Apa kabar? Haah… Lelah, sangat lelah dengan semua ini. Kenapa semuanya ini dilimpahkan kepadaku? Aku lelah… lelah.

Rasanya kata “lelah” pun tidak cukup untuk menggambarkan isi hatiku. Seolah tak ada kata yang benar-benar bisa menjelaskan kondisiku saat itu.

Amanah ini memang berat, tapi aku yakin aku bisa menjalaninya. Aku punya Allah.

Oh iya, sebelum temanku berangkat ke Singapura, kami baru saja kedatangan banyak santri baru. Mereka butuh pendampingan khusus dari kami, terutama bagian ketahfidhan, karena ketahfidhan adalah inti dari pondok ini.

Tapi tiga hari setelah itu, aku ditinggal. Betapa kacaunya pikiranku saat itu. Mengurus satu pondok sendirian, menangani anak-anak baru yang belum tahu apa-apa tentang pondok.

Belum lagi, beberapa hari kemudian aku mendapatkan amanah baru sebagai co acara Agustusan. Bisa kalian bayangkan, betapa lelahnya aku saat itu?

Semua ini terjadi saat liburan semester genap. Ketika orang lain menikmati masa libur di rumah masing-masing, aku justru menghabiskan waktu mengurus pondok. Miris? Mungkin.

Tapi aku yakin, semua yang terbaik akan kembali padaku. Barokah itu tak ada yang tahu, bukan?

Menjadi divisi ketahfidhan tunggal sekaligus co acara Agustusan dari 4 agenda itu tidak mudah kawan.

Yang paling berat sebenarnya bukan tenaga, tapi mental. Karena posisiku di sini masih junior, baru satu tahun di pondok, sedangkan banyak santri senior yang sudah lama dan lebih tua. Bisa dibayangkan, betapa mental benar-benar diuji.

Banyak yang bilang, acara di pondok tidak seheboh di kampus. Mungkin benar, tapi kalau di pondok, yang paling dijaga adalah mental dan kesabaran. Apalagi di pondok yang mayoritas santrinya perempuan, konflik perasaan kadang muncul, dan itu justru yang paling melelahkan.

Berat sekali, ternyata ya… Jangan ditanya, karena aku tidak menemukan kata yang pas untuk mengungkapkannya. Rasanya seperti pepatah: Jangan ajari ikan berenang. Sama halnya denganku, jangan ajari aku sabar, karena aku pun tak tahu, kesabaran seperti apa yang belum pernah aku lalui.

Jika ditanya apa aku pernah meledak, menangis, drop? Haaah… semuanya sudah pernah aku alami itu. Aku pernah marah besar setelah halaqah karena barisan santri berantakan. Aku juga pernah menangis berkali-kali menanggung semua ini.

Aku juga pernah drop, tepat setelah acara puncak pentas seni. Ada kesalahpahaman sebelum acara yang membuatku dibully habis-habisan oleh hampir satu pondok. Bagaimana rasanya? Tak bisa kuungkapkan.

Dengan posisi beban seberat itu, ternyata ujung-ujungnya aku justru disalahkan. Aku menangis tanpa henti, bahkan hampir kehilangan kendali. Hampir gila rasanya.

Tapi, kini aku menyadari. Seandainya, tidak ada kejadian itu, mungkin sampai sekarang aku belum tahu siapa yang bermuka dua, siapa yang datang saat dibutuhkan, dan siapa yang ikut menjatuhkan.

Justru dari sanalah mentalku menjadi semakin kuat.

Jadi, jangan bersedih. Badai pasti berlalu. Buktinya, aku masih bisa bertahan sampai sekarang, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Apapun yang kamu hadapi, percayalah, Allah selalu bersamamu. Dialah yang akan menguatkanmu, yang akan tetap ada saat semua orang berpaling darimu.

Arina Fitriya Azhari

Biodata Penulis:

Arina Fitriya Azhari saat ini aktif sebagai mahasiswa, Prodi Bahasa dan Sastra Arab, di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Penulis bisa disapa di Instagram @rien_riyaaz30

© Sepenuhnya. All rights reserved.