Budaya Flexing: Ketika Gengsi Menjadi Bahasa Baru Masyarakat

Yuk, telusuri fenomena flexing dan bagaimana budaya pamer kekayaan memengaruhi cara kita berkomunikasi, bersosialisasi, dan menilai kebahagiaan.

Oleh Putri Rahma Yanti

Beberapa tahun belakangan, istilah flexing sering terlihat di mana-mana. Fenomena ini menggambarkan kebiasaan orang untuk memperlihatkan kekayaan, pencapaian, atau gaya hidup mewah, baik di media sosial maupun di dunia nyata. Pada era modern ini, flexing bukan sekadar pamer, tetapi sudah menjadi semacam “bahasa sosial” yang digunakan untuk menunjukkan status dan citra diri.

Budaya Flexing

Sebagai bagian dari masyarakat digital, saya hampir setiap hari menyaksikan bentuk-bentuk flexing di sekitar saya entah teman kuliah yang rutin memposting foto di kafe mahal, tetangga yang berlomba membuat pesta megah, atau influencer lokal yang menampilkan hidup glamor seolah tanpa cela. Dari situ saya mulai berpikir, apakah gengsi kini telah berubah menjadi bentuk komunikasi baru yang lebih berpengaruh daripada kata-kata?

Bahasa sebenarnya tidak hanya berbentuk kata, tapi juga cara kita menunjukkan diri. Dulu, orang menilai kesopanan dan kedalaman seseorang dari tutur katanya, kini dinilai dari simbol seperti gaya berpakaian, tempat nongkrong, atau barang yang dipakai. Flexing pun menjadi cara berbahasa baru, di mana seseorang tidak perlu berbicara untuk menyatakan “aku berhasil.” Misalnya, cukup dengan mengunggah foto di tempat mewah dengan caption sederhana “butuh istirahat,” orang lain sudah tahu pesan yang ingin disampaikan: bahwa ia mampu, punya waktu, dan “berkelas.”

Fenomena ini memperlihatkan betapa budaya konsumtif telah mengubah cara kita berkomunikasi. Kosa kata seperti sultan, healing, crazy rich, dan cuan kini menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Sebagai penikmat sastra, saya melihat hal ini menarik, tetapi juga menyedihkan. Bahasa yang dulunya penuh makna dan nilai kini cenderung menjadi alat pembeda status sosial. Sastra, sebagai cermin masyarakat, tentu tidak lepas dari perubahan zaman. Saat ini, banyak karya fiksi digital menyoroti kehidupan mewah, kisah percintaan penuh glamor, dan tokoh-tokoh “sultan muda.” Kisah seperti ini sering viral karena menggambarkan impian banyak orang: hidup bergelimang harta.

Saya pernah menonton film drama singkat di media sosial tentang seorang gadis sederhana yang jatuh cinta pada anak konglomerat. Ceritanya sederhana, tapi banyak yang menyukai karena seolah menghadirkan fantasi “naik kelas sosial.” Padahal, nilai-nilai seperti kerja keras, kejujuran, dan kesetiaan justru semakin jarang disorot. Sastra kini tidak hanya menjadi alat kritik sosial, tapi juga kadang tanpa sadar ikut memperkuat budaya pamer. Saya pribadi merasa senang bahwa sastra terus berkembang, tapi khawatir bila isinya hanya mengulang pesan-pesan kosong tentang kemewahan.

Kita tidak perlu melihat ke dunia selebritas untuk menemukan budaya flexing. Cukup lihat di sekitar kita, budaya itu sudah menjamur. Di kampus, misalnya, ada tren “pamer halus.” Teman-teman suka update story sedang belajar sambil memamerkan laptop mahal dan minuman kopi mahal. Caption-nya terdengar inspiratif, tapi yang sebenarnya ditunjukkan adalah simbol status.

Di lingkungan tempat tinggal, flexing hadir dalam bentuk lain: pesta ulang tahun mewah, arisan dengan dekorasi seperti acara televisi, atau perlombaan tak tertulis antar keluarga untuk terlihat paling makmur. Bahkan dalam kegiatan adat, nilai kesederhanaan mulai tergeser. Acara yang dulu dilakukan dengan gotong royong kini berubah menjadi ajang gengsi. Saya sering merasa lelah melihat tren ini. Masyarakat seolah berlomba menunjukkan siapa yang paling berhasil, bukan siapa yang paling bahagia. Dan di balik semua itu, yang muncul hanyalah rasa iri dan keinginan untuk meniru.

Salah satu kasus yang sempat ramai di media sosial adalah influencer lokal yang menampilkan gaya hidup super mewah, mulai dari mobil sport hingga liburan luar negeri. Namun, belakangan diketahui bahwa sebagian besar kontennya adalah hasil pinjaman dan manipulasi. Kasus seperti ini membuka mata kita bahwa budaya flexing bisa menipu. Masyarakat mudah terpesona dengan tampilan luar dan lupa menilai kebenaran di baliknya. Menurut saya, fenomena ini menunjukkan bagaimana bahasa sosial kita berubah: dari ucapan ke tampilan visual. Orang tidak perlu berkata “saya sukses,” cukup dengan menunjukkan simbol-simbol kemewahan. Akibatnya, makna kejujuran dan kerja keras memudar.

Budaya seperti ini juga menciptakan kelas sosial semu antara yang benar-benar kaya dan yang sekadar “tampak kaya.” Realitas pun menjadi kabur, karena apa yang ditampilkan belum tentu sesuai dengan kenyataan. Meski tampak serius, fenomena flexing juga memunculkan sisi lucu. Banyak warganet yang menanggapinya dengan cara kreatif, lewat parodi dan sindiran. Misalnya, video “flexing versi rakyat jelata” yang memamerkan nasi Padang dengan gaya elegan, atau seseorang yang menulis caption “dinner fancy” di warung kaki lima.

Bagi saya, humor seperti ini adalah bentuk perlawanan lembut terhadap tekanan sosial. Dengan menertawakan flexing, masyarakat seolah berkata, “Kami juga bisa bahagia dengan cara sederhana.” Saya pribadi sering menikmati konten parodi semacam itu. Rasanya menyegarkan, karena di tengah budaya pamer yang melelahkan, kita masih bisa menertawakan diri sendiri. Tawa menjadi bahasa yang menyeimbangkan gengsi.

Saya harus jujur, saya pun pernah ikut-ikutan. Pernah suatu kali saya memposting foto di kafe terkenal hanya karena ingin terlihat keren. Saat notifikasi like masuk, saya merasa senang tapi hanya sebentar. Setelah itu, saya sadar bahwa kepuasan semacam itu tidak benar-benar membuat bahagia. Dari pengalaman itu, saya menyimpulkan bahwa flexing sebenarnya muncul dari rasa tidak percaya diri. Ketika seseorang merasa belum cukup diakui, ia mencoba menutupinya dengan tampilan luar. Gengsi menjadi pelindung dari rasa kurang.

Namun, menolak sepenuhnya budaya ini juga tidak mudah. Dunia digital memang menuntut kita untuk “terlihat aktif.” Tantangannya adalah bagaimana tetap tampil di media sosial tanpa kehilangan keaslian. Saya rasa, kuncinya ada pada kesadaran: apakah yang kita tunjukkan itu jujur atau hanya demi validasi?

Fenomena flexing memperlihatkan hubungan erat antara bahasa, sastra, dan budaya.

  1. Bahasa berkembang melalui istilah baru yang mencerminkan perilaku sosial masa kini. 
  2. Sastra menjadi ruang untuk mengkritik, menertawakan, atau merefleksikan gaya hidup palsu.
  3. Budaya menjadi lahan tumbuhnya nilai baru, di mana kemewahan dianggap ukuran kebahagiaan.

Namun, bagi saya, sastra masih memiliki peran penting menjaga manusia agar tidak sepenuhnya kehilangan makna. Sastra bisa mengingatkan kita bahwa di balik gemerlap gaya hidup modern, ada nilai-nilai lama yang tetap relevan kejujuran, kesederhanaan, dan rasa syukur.

Budaya flexing adalah cermin dari masyarakat yang sedang mencari identitas di tengah dunia serba cepat. Ia memperlihatkan bagaimana manusia ingin diakui, meskipun terkadang dengan cara yang berlebihan. Melalui bahasa, sastra, dan budaya, kita bisa melihat betapa gengsi kini telah menjadi “bahasa baru” dalam pergaulan sosial. Namun, di balik semua itu, ada pelajaran penting: tidak semua yang tampak bersinar itu benar-benar berharga.

Menurut saya, yang perlu kita pelajari bukanlah cara untuk tampil lebih mewah, tapi cara untuk tetap jujur dalam hidup. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling terlihat berhasil, tetapi siapa yang benar-benar merasa cukup. Barangkali sudah saatnya kita berhenti sibuk memamerkan kebahagiaan, dan mulai benar-benar merasakannya.

Putri Rahma Yanti

Biodata Penulis:

Putri Rahma Yanti, lahir pada tanggal 25 Maret 2006 di Pangian. Penulis memiliki hobi travelling, mengunjungi berbagai tempat untuk melihat keadaan sekitar serta menganalisis hal-hal menarik yang ditemukan, termasuk tempat-tempat yang bernuansa kebudayaan. Selain itu, ia juga gemar menonton sebagai sarana hiburan dan menambah wawasan.

© Sepenuhnya. All rights reserved.