Menelusuri Jejak Peninggalan Intelektual di Surau Baru

Ayo jelajahi Surau Baru yang sarat sejarah dan budaya! Temukan naskah-naskah kuno, pelajari warisan intelektual Minangkabau, dan rasakan langsung ...

Surau tua yang tetap berdiri kokoh hingga hari ini dengan model dan nuansa lamanya. Pastilah surau ini sangat megah pada zamannya. Namun, ketika kami melangkahkan kaki masuk ke dalam surau, mesti hati-hati dan perlahan. Terdengar derit suara kayu ketika kaki dipijakkan. Terlihat gulungan-gulungan kasur di sisi kanan belakang, cat dinding yang sudah berjamur dan memudar, serta setumpuk naskah yang terletak di atas lemari kecil di dekat tempat imam ketika salat. Bau kertas tua yang khas menambah kesan masa lalu yang sakral.

Surau bagi masyarakat Minangkabau bukan hanya sebagai tempat ibadah, melainkan memiliki peran dan fungsi yang lebih dari itu. Surau telah memainkan peran yang sangat penting, yaitu sebagai pusat pendidikan agama, pelestarian kesenian tradisional, serta pembentukan karakter. Surau di Minangkabau telah menghasilkan tokoh-tokoh penting dalam perjuangan bangsa. Di antaranya Buya Hamka, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Tuanku Imam Bonjol serta ulama-ulama lainnya.

Di atas lemari kecil berwarna coklat gelap yang sudah berumur, tampaklah setumpuk kertas yang sudah usang. Warnanya kuning kecoklatan, baunya apik, dan ditutup dengan kain yang sudah kecoklatan pula. Namun ada satu kitab yang kondisinya lebih baik daripada yang lain, dibungkus kain putih yang lebih terang. Naskah tersebut dibawa dari Mekah oleh seorang syekh yang mendirikan surau itu.

Naskah Kuno

Kritik teks pada naskah dibutuhkan untuk memulihkan dan menetapkan bentuk dari teks asli suatu naskah. Memastikan keaslian dan akurasi serta memahami kebudayaan, sejarah, dan pemikiran-pemikiran di balik naskah kuno yang ditemui. Tanpa kritik teks, naskah yang ditemukan akan sulit dibaca, ditafsirkan dan dilestarikan secara akurat.

Pada kunjungan pertama, 10 orang mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia berkunjung ke Surau Baru yang terletak di Kecamatan Pauh, Kota Padang. Kedatangan mahasiswa disambut dengan hangat oleh pengurus surau yang bersemangat memperlihatkan koleksi naskah tua yang disimpannya. Mahasiswa disilakan duduk melingkar mengelilingi naskah tua itu. Beberapa orang mewawancarai penjaga surau, dan lainnya mendokumentasikan kegiatan, memotret koleksi naskah kuno serta sekeliling surau itu.

Penjaga surau dengan seksama menjelaskan asal-usul dari naskah tersebut serta sejarah berdirinya Surau Baru. Para mahasiswa menyimak dan menuliskan beberapa poin penting dari penjelasan penjaga surau. Berdasarkan informasi yang diberikan oleh Penjaga Surau (Zahar, 69 tahun), Surau Baru berdiri pada tahun 1910. Didirikan oleh Syekh Muhammad Taib yang baru saja kembali dari Mekkah. Saat itulah beliau membawa beberapa naskah ketika pulang ke Padang.

Tidak hanya sekali, beberapa orang yang tergabung dalam tim kunjungan yang pertama kembali berkunjung ke Surau Baru. Kali ini didampingi oleh Asisten Dosen mata kuliah Filologi yang juga tertarik dengan keberadaan naskah di Surau Baru. Dengan ilmu yang lebih mendalam beliau dapat dengan mudah membaca dan memperkirakan usia dari naskah. “Kertas yang digunakan ini berasal dari Eropa, dapat dilihat dari cap atau watermark pada kertas, kita dapat memperkirakan berapa usia dari naskah ini,” tutur Nofri, Asisten Dosen.

Kritik teks merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan suatu teks. Menurut Siti Baroroh Baried, kritik teks adalah suatu kegiatan filologis untuk menganalisis, membandingkan, dan merekonstruksi teks agar mendekati bentuk aslinya. Melalui kegiatan ini diharapkan berbagai permasalahan atau penyimpangan yang muncul dapat dipaparkan dan diperbaiki melalui suntingan teks naskah sebagai bentuk kajian filologis.

Melalui kunjungan sederhana ini, mahasiswa mencoba mencari tahu apa yang dituliskan pada naskah yang sudah rapuh. Tidak semua teks bisa dibaca, beberapa sudah mengalami kerusakan parah seperti bolong pada bagian tengah naskah. Setelah kunjungan kedua barulah diketahui naskah tersebut berisi tentang puji-pujian kepada Allah, ilmu fikih dan ajaran moral, salah satunya adalah tata cara ziarah kubur bagi laki-laki dan perempuan.

Naskah di surau bukan hanya setumpuk kertas tua yang tidak ada artinya. Namun, naskah di surau memuat pengetahuan intelektual yang masih sangat relevan dengan kehidupan sekarang. Bisa berisi doa, puji-pujian kepada pencipta, dan pengetahuan ilmu fikih yang sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia.

Namun, kondisi fisik naskah yang terdapat banyak kerusakan, beberapa halaman yang tintanya mulai memudar, serta tempat penyimpanan yang tidak mumpuni menjadi tantangan. Tanpa perawatan yang baik dan benar naskah bisa saja mengalami kerusakan yang lebih berat lagi dan khazanah yang berharga bisa hilang. Perlunya peran dari pemerintah setempat dan mahasiswa untuk menjaga naskah yang minim perhatian ini. Dengan penyimpanan yang ala kadar naskah dapat dicuri atau dimusnahkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Penelitian sederhana dalam bentuk kunjungan ke surau tidak hanya membuat mahasiswa belajar secara teori, tetapi juga melihat dan berhadapan langsung dengan warisan budaya. Kegiatan seperti ini diharapkan terus dilakukan agar generasi muda memiliki kepedulian yang tinggi terhadap peninggalan sejarah. Melalui naskah di surau, kita tidak hanya menggali jejak peninggalan intelektual saja, tetapi juga merawat peninggalan yang berharga.

Noor Alifah

Biodata Penulis:

Noor Alifah saat ini aktif sebagai mahasiswi, Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, di Uneversitas Andalas.

© Sepenuhnya. All rights reserved.