Oleh Suchi Nofryanti Fitry
Minangkabau adalah salah satu suku bangsa di Indonesia yang terkenal dengan kekayaan tradisi lisan, seni suara, dan sastra rakyatnya. Salah satu bentuk pertunjukan tradisional yang mencerminkan nilai-nilai budaya tersebut adalah bakucapi seni bertutur dengan iringan musik kecapi, yang menyampaikan kaba, atau cerita rakyat Minang. Dalam suasana yang sarat makna dan emosional, bakucapi menjadi medium komunikasi, ekspresi seni, dan pelestarian nilai-nilai lokal.
Sebuah pertunjukan bakucapi dengan kaba ditampilkan di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang oleh dosen dan beberapa mahasiswa. Pertunjukan ini menjadi lebih dari sekadar hiburan-ia tampil sebagai bentuk nyata pendidikan seni tradisi. Dalam cahaya temaram dan suasana hening yang penuh takzim, dua pendendang saling bersahut dengan syair-syair khas Minangkabau. Tulisan ini merefleksikan pertunjukan tersebut dalam perspektif budaya, pendidikan, dan pelestarian seni.
Bakucapi berasal dari dua kata: bakua (berkata, bertutur) dan capi (alat musik petik, seperti kecapi). Dalam tradisinya, bakucapi adalah bentuk komunikasi sastra lisan yang sarat dengan simbol, perumpamaan (mamang), dan sindiran halus (pasambahan). Umumnya, pertunjukan ini dilakukan dalam suasana informal namun penuh penghormatan terhadap nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau.
Kaba yang dituturkan dalam bakucapi bukan sekadar cerita. Ia mengandung nilai sejarah, petuah, kritik sosial, hingga kisah moral yang diturunkan dari generasi ke generasi. Gaya penyampaian yang halus, indah, dan berirama membuat bakucapi bukan sekadar seni bercerita, melainkan juga menjadi 'ensiklopedia hidup' yang memuat pengetahuan dan nilai-nilai masyarakat Minangkabau.
| Gambar Pendendang 1 |
| Gambar Pendendang 2 |
Dalam pertunjukan yang disaksikan di ISI Padang Panjang, dua orang pendendang menyampaikan syair-syair berikut:
Pendendang 1
Tuan lai juo danga denai langik pasannyo Payokumbuah lahia den anak koto nanNanti aia nan sadang pukuaRuik lo takalok titik tabang gaduah Diisiko pauik lah tak baulekPauik di sawah aii kok puloo.
Syair ini sarat dengan simbolisme alam dan kehidupan kampung. Kata-kata seperti langik pasannyo (langit berpesan), aia nan sadang pukua (air tengah pasang), hingga pauik tak baulek (umpan tak kembali) mencerminkan realitas sosial yang tidak menentu dan ketidakpastian nasib. Kemudian, pendendang 2 menyahut.
Pendendang 2
Tuan lai juo dango ramai Badarak aia di balai baru Taranak kadai urang cino
Banyak malabuah karugian sayang kanduang oi bila tau,Bauramang baok taraso angek balapehkan.
Di sini terlihat adanya keluhan sosial: tentang ekonomi, relasi sosial lintas etnik (kadai urang cino), hingga keresahan yang mendalam atas perubahan yang terjadi di masyarakat. Teks ini membawa kita pada sebuah renungan: apakah pembangunan dan modernisasi membawa manfaat atau justru menciptakan luka sosial yang tak tampak?
Salah satu hal yang menarik dari pertunjukan ini adalah keterlibatan dosen dan mahasiswa ISI Padang Panjang. Dalam konteks ini, seni tradisi bukan hanya menjadi objek kajian atau bahan kuliah, tetapi dipraktikkan dan dihidupkan secara langsung di ruang pertunjukan. Ini memperlihatkan bahwa pendidikan seni di ISI tidak sekadar teoritis, tetapi juga praksis berbasis komunitas, budaya, dan lokalitas.
Mahasiswa yang terlibat tidak hanya menjadi pelaku seni, tetapi juga perpanjangan tangan dari warisan budaya Minangkabau. Mereka belajar menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam kaba, memperhalus rasa melalui lantunan syair, dan meresapi filosofi kehidupan yang terkandung di dalamnya. Instrumen kecapi dalam pertunjukan bakucapi bukan sekadar alat musik pendamping. Dentingnya membawa suasana tertentu: tenang, reflektif, bahkan kontemplatif. Setiap petikan menjadi resonansi batin yang memperdalam makna syair yang dituturkan. Nada-nada minor yang mendominasi menciptakan nuansa rindu, duka, dan pengharapan emosi yang universal dan mudah diterima siapa pun yang menyaksikan.
Penggunaan musik secara minimalis tapi efektif menunjukkan bahwa dalam seni tradisi, tidak dibutuhkan orkestra besar atau efek suara digital untuk membangun kedalaman emosi. Cukup dengan satu kecapi dan dua suara manusia, lahirlah panggung puitik yang menggugah jiwa.
Apa yang disampaikan para pendendang bukanlah cerita kosong. Mereka sedang mengomentari kehidupan, menyuarakan keluhan masyarakat, dan menyampaikan kritik secara halus tapi tajam. Kata-kata seperti malabuah karugian (menanggung kerugian) dan bila tau kanduang oi (wahai ibu, bila akan sadar) adalah ekspresi frustrasi kolektif yang disampaikan dalam bentuk indah.
Dalam konteks Minangkabau yang demokratis, seni tutur seperti ini menjadi kanal penting untuk menyampaikan suara-suara yang mungkin tak terdengar dalam wacana resmi. Ia adalah bentuk oral, yang merekam denyut kehidupan dari pinggiran, dari masyarakat biasa, dari suara hati yang mungkin tidak tertulis di media massa.
Sebagai institusi seni tertua dan terkemuka di Sumatera, ISI Padang Panjang memainkan peran penting dalam menjaga dan mewariskan seni tradisi. Pertunjukan seperti ini bukan sekadar acara hiburan atau kegiatan kampus biasa, tetapi bagian dari proses pelestarian kebudayaan. Dengan menjadikan dosen dan mahasiswa sebagai aktor utama, seni tradisi seperti bakucapi mendapatkan ruang aktualisasi yang sehat dan berkelanjutan.
Lebih dari itu, ISI Padang Panjang juga menjembatani antara dunia tradisi dan dunia akademik. Kaba tidak hanya dipentaskan, tetapi juga diteliti, dikaji, ditulis, dan didokumentasikan. Dalam era digital saat ini, bentuk pertunjukan seperti ini bahkan bisa direkam dan dibagikan ke platform digital, menjangkau audiens yang lebih luas dan lintas generasi.
Bakucapi dengan kaba bukanlah sekadar bentuk seni lama yang tinggal nostalgia. la adalah warisan yang terus hidup, bernapas bersama masyarakat, dan tumbuh dalam ruang-ruang seperti ISI Padang Panjang. Melalui pertunjukan yang disaksikan, tampak bagaimana seni tradisi mampu menjembatani masa lalu dan masa kini, serta menghidupkan kembali nilai-nilai, emosi kolektif, dan kebijaksanaan lokal.
Di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang sering menggulung identitas lokal, pertunjukan seperti ini adalah bentuk perlawanan yang elegan. Ia tidak berteriak, tapi menyentuh. Ia tidak memaksa, tapi meresap. Dan melalui syair demi syair yang dilantunkan dengan hati, budaya Minangkabau kembali bersuara, menyapa, dan mengingatkan kita semua: bahwa dalam bunyi kecapi dan kata-kata tua itu, ada masa depan yang sedang dititipkan.
Biodata Penulis:
Suchi Nofryanti Fitry lahir pada 12 November 2005 di Bandung. Saat ini ia aktif sebagai mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Andalas.